
Arki membaringkan diri di kasur setelah seharian lelah bekerja. Merasakan kosong dihatinya semakin nyata saat dia sendirian di rumah. Ketika di kantor, dia banyak teralihkan oleh pekerjaan. Juga oleh kelakuan menyebalkan dan semaunya dari Aditya yang sering kali membuat naik darah. Atau seharian berdebat dengan Adrian, si kaku dan penuh perhitungan. Pasti ada saja hal yang membuat mereka berselisih paham.
Sekarang saat seperti ini, ketika malam menjelang. Hal yang dirasakannya hanya kesepian dan kesedihan. Arki menginginkan Gita kembali, bisa memeluknya lagi. Tapi perempuan itu bahkan sudah menyatu dengan tanah. Terkubur jauh bersama luka dan penyesalan yang dibawa Arki.
Arki bangkit dan berjalan ke dapur. Mengeluarkan susu dingin di kulkas dan meneguknya. Tidak ada makanan hangat yang tersaji di meja makan. Hanya roti tawar dan selai berbagai rasa berjajar. Dapurnya kembali seperti saat Arki masih lajang. Arki merindukan makanan hangat dan nikmat yang dibuat oleh Gita. Menatap istrinya yang duduk di sebrang meja, terlihat senang ketika dia memuji masakannya.
Arki benar-benar kehilangan semuanya. Entah penyesalan seperti apa lagi yang bisa dia rasakan sekarang. Rasanya semua kesakitan dihatinya sudah dia rasakan semua.
Suara ponsel membangunkan Arki dari lamunan. Nomor tidak dikenal tampil di layar. Arki ragu untuk mengangkatnya, tapi akhirnya dia menekan tombol diponsel dan berbicara pada orang di sebrang sana.
“Halo, Pak Arkian. Ini Danu, saya menggunakan nomor sekali pakai agar tidak mudah dilacak,” suara serak terdengar dibalik panggilan.
Arki mengingat siapa Danu, laki-laki bertubuh kurus dengan rambut keriting yang diperkenalkan Aditya. Selama hampir dua bulan Danu tidak pernah memberikan kabar lagi pada Arki terkait penyelidikan tentang kematian Gita.
Ketika mendapat panggilan telepon darinya, perasaan Arki menjadi sangat kacau. Tidak siap apa yang di dengarnya. Mengulang kembali memori tentang kepergian Gita yang sangat tragis sangat menyakitinya. Tapi Arki perlu tahu apa yang terjadi dan siapa pelaku dibalik kecelakaan Gita.
“Ya? Gimana soal penyelidikannya?” tanya Arki mencoba tenang.
“Saya sudah kirimkan beberapa bukti ke email Pak Arkian. Silakan buka dulu, baru saya akan menjelaskan.”
Arki segera berjalan ke ruang kerjanya. Menyalakan laptop dan membuka email yang beberapa menit kemudian sampai. Banyak sekali dokumen, bukti transaksi, dan foto-foto yang Danu kirim. Bahkan hingga ratusan tersimpan di folder yang sudah di compress dalam bentuk zip.
“Jelaskan ini apa?!”
“Itu adalah bukti-bukti yang Pak Arkian minta. Saya sudah mengawasi Basuki seperti yang diperintahkan selama dua bulan ini. Tidak ada yang aneh dengan dia. Sampai saya menemukan bahwa dalam 3 bulan terakhir ini adaseorang pengawal Basuki dan Arya yang berhenti bekerja. Namanya Wahyu. Dia mendapatkan transfer uang sebesar 500 juta dari rekening pribadi Basuki. Jumlah yang terlalu besar untuk pesangon pengawal yang bekerja bahkan kurang dari 4 bulan. Bia di rekrut 2 minggu sebelum Bu Gita hilang di Bali.”
“Terus hubungannya dengan Gita apa? Dia yang menculiknya?”
“Saya menelusuri rekam identitas Wahyu. Beberapa hari setelah di rekrut, dia menjadi penjamin untuk pembebasan kasus penipuan yang dilakukan oleh Ani Sumiati dan Risa Tiara Dewi, ibu dan adik tiri Bu Gita—”
__ADS_1
“Pembebasan? Maksudnya ibu dan adik tiri Gita sekarang sudah bebas dari penjara?”
“Betul. Orang yang membebaskannya adalah Wahyu, yang tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Saya cukup kesulitan mendapatkan informasi ini. Sepertinya pihak berwajib telah disuap untuk menutupinya. Sama halnya seperti pencarian Bu Gita oleh Sanjaya dan laporan mengenai autopsi yang dilakukan mereka.”
Arki tertegun sesaat. “Jelaskan!”
“Setelah bebas, Ani dan Risa dibawa oleh Wahyu dan beberapa orang lainnya pergi. Tapi sepertinya Ani kabur dari mereka. Seorang tetangga pernah melihat Ani pulang ke rumahnya di Depok dan pergi kembali sambil meminjam uang untuk pergi ke Pluit ke rumah saudaranya. Sementara Risa dibawa ke Bogor. Hari itu bertepatan dengan menghilangnya jejak Bu Gita yang kembali ke Jakarta.”
“Kalau gitu, orang yang tertabrak di daerah Pluit seperti yang ditemukan Sanjaya kemungkinan adalah ibu tiri Gita?” tanya Arki menyimpulkan.
“Benar. Kecelakaan tersebut sepertinya memang tidak sengaja terjadi. Namun ada saksi yang mengatakan bahwa Ani sedang dikejar seseorang hingga panik dan tertabrak truk. Saya juga sudah menelusuri jejak Risa di Bogor. Hingga menemukan bahwa dia terdaftar disalah satu universitas swasta. Nama Ani masih menjadi walinya. Semua identitas Bu Ani juga masih aktif digunakan di Bogor, teridentifikasi membeli sebuah ruko dan mengajukan izin usaha kedai makan ke pihak berwenang dan ormas setempat.”
Arki terenyak mendengar semua penjelasan Danu. Tangannya gemetar karena dugaan yang berlarian di kepala. Jika Ani melarikan diri ke Pluit dan kecelakaan Gita terjadi disana, artinya yang mengalami kecelakaan tersebut bukanlah Gita, melainkan Ani.
Sepertinya Ani sama sekali tidak mengetahui bahwa Risa dibawa ke Bogor, sehingga dia tidak berusaha mencari dan berusaha melarikan diri seorang diri. Jika semua identitas Ani masih dipakai, pastilah Gita yang menggunakannya.
Kemungkinan besar Gita masih hidup dan Ani lah yang telah meninggal dalam kecelakaan itu.
“Gita masih hidup, kan?” kata Arki dengan suara bergetar.
“Jika perempuan yang bersama dengan Risa di kedai benar adalah Bu Gita, maka dugaan Pak Arkian benar. Bu Gita masih hidup. Saya juga merasa tidak yakin bahwa Ani adalah orang yang berada di kedai tersebut, usianya terlalu muda untuk menjadi ibu dari Risa.”
Arki kemudian menggulir mouse dan membuka foto-foto yang dikirim oleh Danu. Sebagian foto tersebut adalah Basuki, Arya, dan para pengawalnya. Baru setelah dia menggulir lebih jauh ke bawah. Terdapat beberapa foto yang diambil dari jauh, dari sebuah kursi pelanggan disana. Sebuah kedai makanan yang ramai dikunjungi pembeli. Sosok yang Arki lihat bahkan hanya dalam sebuah foto pun dia pasti kenali. Gita, berdiri mencatat pesanan dari seorang mahasiswi.
Air mata Arki luruh seketika. Perasaan lega, rindu, sedih, takut dan bahagia bercampur menjadi satu dihatinya. Dia bahkan kehilangan kata-kata dan tidak sadar terisak saat itu juga. Danu masih berada disambungan telepon saat Arki menangis karena melihat sosok Gita di dalam foto. Masih hidup dan sehat seperti yang diharapkannya.
“Saya sudah memastikan apakah Bu Gita diawasi atau tidak, sepertinya Beliau aman dari pengawasan Basuki. Mereka pindah dari rumah yang diberikan oleh Arya dan hanya tinggal beberapa minggu saja di sana. Namun, kabar buruknya. Pak Arkian gerak-geriknya sedang dipantau.”
“Aku tahu soal itu,” kata Arki yang akhirnya menguasai diri.
__ADS_1
“Saya bisa memastikan bahwa dugaan tentang keterlibatan Arya dengan menghilangnya Bu Gita adalah benar. Dia juga sepertinya menyusun semua rekayasa ini dengan rapi. Tapi saya belum menemukan bukti yang kuat tentang pemaksaan atau penculikan Bu Gita serta uang yang mengalir pada Sanjaya dan polisi. Jadi bukti untuk menuntut Arya masih sangat lemah.”
“Aku gak akan melaporkannya ke kepolisian, Arya bisa dengan mudah berkelit dari hukum. Dia punya lawyer hebat di belakangnya. Ini saja sudah cukup. Terima kasih untuk informasinya.”
Arki menutup panggilan dengan perasaan yang carut-marut. Tapi diantara semuanya kelegaan dan rasa rindunya pada Gita semakin bergejolak. Dia ingin sekali menemui Gita, menggenggamnya, memeluknya, dan menciumnya.
Lebih dari pada itu ada pertanyaan besar yang kini bersarang dikepalanya. Kenapa Gita sampai mau bekerjasama dengan Arya untuk melakukan skenario mengerikan untuk mengelabuinya? Kenapa Gita bisa semarah itu padanya hingga berpura-pura meninggal dan menipunya? Apakah Gita memang sebenci itu terhadapnya dan ingin lari memisahkan diri? Atau Arya lah yang memaksa Gita melakukannya?
Keraguan juga tak kalah subur tumbuh dihati Arki. Jika Gita hingga seniat itu kabur darinya, sampai mengorbankan ibu tirinya di tangan Arya. Mungkinkah Gita memang tidak menginginkan Arki lagi?Arki begitu terluka memikirkannya. Tapi dia harus memastikan itu sendiri pada Gita.
Jika hati Gita memang tidak punya sedikit pun perasaan padanya, dia akan merelakan Gita agar bercerai darinya. Dia hanya butuh tahu bahwa Gita masih hidup. Dia hanya ingin melihat Gita hidup dan beredar disekitarnya. Tidak menjadi masalah jika akhirnya mereka tidak bisa bersama. Begitu hal yang coba Arki yakinkan dalam hatinya.
Arki bergegas masuk ke kamarnya kembali. Mengganti baju kerjanya yang sudah berkeringat dengan kaos yang nyaman untuk bepergian. Dia juga mencari-cari kunci mobil yang tadi dilemparkan sembarang saat pulang. Saat akan berjalan ke luar rumah, ponselnya berdering kembali. Aditya meneleponnya. Arki menerima panggilan tersebut dan membuka pintu rumah
.
“Pasti mau pergi ke tempat istri kamu, kan? Karena udah dikasih tahu Danu,” kata Aditya di depan pintu rumah Arki.
“Udah aku bilang kalau urusan sama cewek, Arkian bakal jadi manusia paling b e g o sejagad raya,” tambah Adrian yang berdiri di belakang Aditya.
“Ngapain kalian kesini?” tanya Arki tidak senang melihat kedua adik tirinya ke rumah.
“Menghentikan kakak tercinta supaya gak merusak rencana kita dengan pergi ketemu istrinya. Kamu tahu lagi diawasi, kan? Rumah di depan dulu kosong, baru-baru ini ada yang menempati. Kemungkinan bawahan Basuki. Dia juga suka ngintilin kemana aja kamu pergi,” kata Aditya terdengar kesal.
“Aku udah tahu. Minggir!”
Adrian menghalangi langkah Arki. Mendorongnya hingga masuk kembali. Kedua adiknya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.
“Kalau kamu ketemu istrimu sekarang. Bayangkan dia bakal dalam bahaya seperti apa kalau Arya sampai tahu. Mikir gak sih?” kata Adrian kesal.
__ADS_1
“Gak bakal mikir, Dri. Si t o l o l ini bucin parah. Hadeeeh.” Aditya menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. “Sini, Bang! Kita ngobrol sebentar!” lanjutnya sambil melambai-lambai genit pada Arki dan Adrian.