Istriku Penipu

Istriku Penipu
Pembatalan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Arya terbaring di kamarnya. Nabila kini bertugas merawat dan menjadi dokter pribadi selama ayahnya masih menyelesaikan kasus tuduhan korupsi.


Meskipun kondisinya sudah lebih baik, pemulihan Arya cukup lambat. Tubuhnya mungkin saja terlihat sehat, tapi dia tetap laki-laki yang tidak lagi muda. Beberapa bahan berbahaya saja yang masuk ke tubuh sudah membuatnya sakit seperti sekarang.


Nabila mengantarkan langsung dan mengawasi makanan yang masuk ke tubuh Arya. Setelah pembicaraannya dengan Adrian, Nabila benar-benar kaget dengan yang dilakukan olehnya. Tanpa sedikitpun perasaan bersalah, Adrian berniat mencelakakan ayahnya. Tentu saja permintaan Adrian itu seketika ditolaknya.


Selama ini Nabila merasa bukanlah dokter yang kompeten. Dia melakukan pekerjaan ini hanya karena tidak ingin dianggap tidak berguna oleh ayahnya. Tapi dia benar-benar menjunjung tinggi profesinya. Tidak akan bisa disogok dengan apapun untuk mencelakai pasiennya. Meskipun nama ayahnya sendiri sedang dalam pertaruhan.


“Harusnya aku punya anak perempuan. Bair bisa mengurusku dengan telaten kayak gini,” kata Arya. Dia terlihat lemah berbaring di ranjang. Karena pengaruh racun yang diberikan oleh Adrian, otot-ototnya seringkali sakit dan kemudian melemah. Membuatnya sulit bangun dari sana.


Jantungnya mengalami aritmia dan sedang dalam pengobatan. Berdasarkan rekam medisnya, Arya memang mengalami masalah jantung beberapa tahun terakhir. Tapi masih tergolong ringan dan bisa ditangani dengan pengobatan serta pola hidup sehat. Rupanya, keracunannya memperparah kondisi tersebut.


“Harusnya Pak Arya punya istri yang menemani sampai tua,” balas Nabila.


“Kamu ngejek, ya?” ucap Arya sambil terkekeh.


Nabila ikut tertawa. “Mungkin Pak Arya bisa minta Bu Salma buat datang ke sini buat menemani.”


“Salma jalan aja pakai kursi roda. Boro-boro ngurusin, kan kamu tahu sendiri calon ibu mertuamu kondisinya udah gak begitu sehat.”


“Buat menemani, biar Pak Arya ada teman mengobrol. Kalau buat mengurus, kan Pak Arya bisa panggil perawat khusus. Nanti aku kasih rekomendasi."


Arya hanya tertawa dan tidak membalasnya lagi. Dia tidak mengizinkan siapapun untuk sembarangan masuk ke kamarnya. Termasuk ketiga anaknya. Hanya Basuki, beberapa pengawal, pembantu yang bertugas membersihkan kamar, dan sekarang Nabila. Makanya ruangan besar itu terlihat sangat sepi. Membuat Nabila sedih melihat laki-laki tua itu digulung kesendirian saat sakit seperti sekarang.


“Kalau menghubungi Bu Ela, gimana? Siapa tahu dengan banyak mengobrol, Pak Arya bisa lebih cepat pulih dan gak kesepian.”


Nabila tanpa sengaja melihat ke ruangan yang tersambung ke kamar tidur Arya. Tempat semua pakaian tersimpan dan juga tempat untuk merias diri di dekat toilet. Ruangan yang luas itu banyak diisi oleh baju-baju perempuan. Awalnya Nabila berpikir bahwa semua itu milik Salma—istri sah Arya saat ini. Tapi dia salah, barang-barang itu milik Ela—ibu tiri Adrian.


Foto-foto yang di pajang di dinding dan di meja rias di sana pun adalah foto-foto Arya bersama Ela dan juga Arki. Tidak ada satupun foto Adrian atau Aditya disana. Nabila menjadi menduga-duga bahwa Arya masih punya tempat tersendiri untuk istri pertamanya. Pantas saja Adrian bersikukuh untuk memanfaatkan keadaan Arya yang lemah ini untuk mendesaknya menandatangani surat perceraian ibunya. Dia sejak dulu tahu, bahwa ibunya tidak begitu dicintai oleh Arya.


“Kalau Ela yang dihubungi, dia pasti kesini.”


“Kalau gitu aku telepon Bu Ela, nih?” kata Nabila sambil bercanda.

__ADS_1


“Jangan, biarin aja dia gak tahu.” Arya menahan Nabila. “Sudah bercandanya, Bu Dokter? Kakek tua ini udah pingin tidur lagi. Gampang capek ya sekarang,” lanjut Arya berseloroh.


“Istirahat yang banyak ya, Pak Arya. Nanti langsung panggil aja kalau ada keluhan, aku masih nginep di kamar tamu sampai Pak Arya sembuh.”


Nabila membereskan bekas makan Arya di nampan dan keluar dari kamar. Menyerahkannya pada salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu. Adrian sudah berdiri di dekat kamar Arya. Entah sejak kapan. Dia langsung menatap Nabila dan meminta penjelasan. Tapi Nabila memalingkan wajah, berjalan menuju koridor ke kamarnya.


“Nabila, kita perlu bicara sebentar.” Adrian terus memanggil Nabila dan lekas menyusulnya. Menahan lengan gadis tersebut untuk menghentikannya.


“Adrian, aku gak mau dengar kamu ngomongin rencana gilamu lagi di depanku. Aku bakal merawat ayah kamu sampai sembuh. Jangan pernah berpikir kamu bisa ngasih racun itu lagi sama dia atau mengintervensi proses pengobatannya,” tegas Nabila. Baru kali ini dia menantang Adrian.


“Jadi kamu lebih memilih ayahmu masuk penjara? Padahal aku bisa menawarkan bantuan biar dia bisa bebas segera,” ancam Adrian.


“Kalau ayahku salah, lebih baik dia masuk penjara. Mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Aku mungkin kelihatan jahat, dengan membiarkannya menderita dan nama keluargaku sendiri tercemar. Tapi yang lebih jahat itu kamu! Anak yang berusaha membunuh ayahnya sendiri. Aku mau kamu berhenti. Jangan lakukan ini lebih jauh lagi!”


Nabila menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. Kebingungan dan kemarahan bercampur dihatinya. Saat ini ayah dan kakaknya sedang berada diujung tanduk. Nabila punya kesempatan untuk membantu mereka dengan memanipulasi semua perawatan Arya dan membiarkannya meninggal ditangan kekasihnya. Nabila tidak mau. Nabila tidak ingin Adrian menjadi pembunuh. Dia terlalu menyayangi laki-laki itu hingga ingin melindunginya.


“Jangan sok bermoral di depanku, Nabila! Kamu hanya orang asing. Gak tahu apa-apa tentang hidupku dan apa yang aku serta ibuku alami karena Arya. Kamu juga gak pernah tahu dosa apa yang dia lakukan pada saudara-saudaraku. Aku bisa seret kamu keluar dari sini kalau kamu gak bisa diajak bekerjasama.”


Dia begitu kecewa dengan sifat keras hati Adrian hingga bisa berkata seperti itu padanya. Ternyata baginya Nabila hanya orang lain yang ikut campur. Dia melupakan bahwa mereka kini adalah pasangan yang telah bertunangan dan sebentar lagi akan segera menikah. Mungkinkah perasaan cinta diantara mereka memang benar hanya sepihak saja? Selama ini Adrian tetap mempertahankan hubungan mereka karena berencana menggunakan Nabila untuk ini.


“Jangan bikin aku berbuat kasar sama kamu, Nabila! Kalau kamu kayak gini terus percuma aku pertahankan hubungan kita. Aku kira kamu beda dari perempuan lain. Aku kira kamu bakal mendukungku dan mengerti semua perasaanku.”


“Kamu mengancam putus, gitu?” tanya Nabila tidak percaya. Baru saja hatinya begitu takut dan mempertanyakan mengenai hubungan mereka. Adrian langsung memperlihatkan intensinya selama ini padanya.


“Iya. Lebih baik kita gak usah berhubungan lagi. Kamu hanya mikir aku orang jahat, kan? Gak pernah mau lihat dari posisiku, gak pernah mau tahu apa yang aku rasakan, dan sebenarnya kamu gak peduli sama semua penderitaanku. Percuma aku cerita semua hal tentang kehidupanku sama kamu, kalau yang kamu bela pada akhirnya cuma Arya.” Adrian berbalik dan berjalan meninggalkan Nabila.


“Adrian!” panggil Nabila putus asa. Tidak menyangka Adrian semudah itu melepaskan hubungan mereka yang sebentar lagi menuju pernikahan.


“Aku cuma gak mau kamu jadi pembunuh! Kamu bisa membalas ayahmu, tapi bukan dengan ini caranya! Adrian!” teriak Nabila.


“Gak usah pedulikan aku! Mau aku jadi pembunuh atau bukan, itu bukan urusan kamu. Aku hari ini akan bicara dengan keluargamu. Membatalkan pertunangan kita. Bela terus Arya sesukamu,” pungkas Adrian lalu kembali berjalan dan menghilang dari pandangan.


“Adrian!” panggil Nabila lagi. Hatinya seketika hancur berantakan.

__ADS_1


Padahal Nabila sangat mencintainya, ingin melindunginya, dan ingin mengerti perasaan Adrian. Dia tidak pernah bermaksud untuk membela Arya dan membenarkan semua perilakunya pada Adrian.


Perasaan Adrian kini tidak karuan. Setelah mengucapkan kata-kata barusan, kenapa tiba-tiba saja hatinya tidak rela? Selama ini dia menjalin hubungan dengan Nabila karena perintah Arya dan juga memanfaatkan hubungan keluarga mereka agar ibunya mendapatkan perawatan medis yang terbaik. Hal yang selama ini selalu Arya abaikan.


Adrian tidak mencintai Nabila. Itu sudah jelas. Tidak ada yang memberatkan perpisahan mereka. Hanya karena gadis itu terus menemaninya selama beberapa waktu kebelakang dan menjadi tempatnya bercerita, bukan berarti Adrian menganggapnya spesial. Dia hanya orang lain, yang lagi-lagi tidak mengerti perasaannya. Lebih baik menyudahi sandiwara dan memutuskan hubungan sekarang juga.


“Ck ... Gila sih sampai bilang putus kayak gitu sama cewek sendiri,” ucap Aditya saat Adrian berjalan menuju pintu keluar. “Sorry tadi aku nguping,” katanya lagi ketika Adrian mendaratkan pandangan tajam padanya.


“Nabila udah gak berguna buat rencana kita. Nanti aku cari dokter lain buat Arya,” kata Adrian saat sampai di parkiran. Kemudian dia masuk ke mobil bersama Aditya.


“Kayaknya Arya bakal menolak. Dia udah suka sama cewekmu sepertinya.” Aditya duduk di samping kemudi. Melihat saudaranya yang biasanya berekspresi datar kini dipenuhi emosi yang tidak bisa dijelaskan. “Kamu yakin mau membatalkan pertunangan sama Nabila? Jarang lho ketemu cewek cakep, pinter, baik hati, kaya raya, dan mau sama kamu yang kaku kayak kanebo kering.”


“Aku bisa dapatkan cewek mana aja kalau aku mau. Emangnya kamu doang yang bisa gonta-ganti cewek? Lagian aku gak sayang sama dia. Pertunangan ini karena maunya Arya.”


“Ah masa sih?” goda Aditya. “Yakin gak ada dag-dig-dug gimana gitu sama Nabila?” katanya sambil tertawa.


Adrian sekali lagi langsung menatap tajam pada Aditya. Tidak ada perasaan apapun antara dirinya dengan Nabila. Mereka berdua dipaksa untuk menjalani perjodohan dan memilih tunduk pada orang tua saja. Hubungan ini tidak punya masa depan, selain untuk mempersatukan kedua keluarga dan kepentingan bisnis antara keduanya. Mereka juga selama ini hanya saling memanfaatkan.


“Jangan menyesal lho kalau Nabila digondol maling nanti. Atau, karena kamu bilang gak sayang sama dia. Boleh aku deketin, kan?” kata Aditya sambil tersenyum jahil.


Adrian seketika menjambak rambut gondrong Aditya. Membuat laki-laki itu mengaduh dan meminta ampun. Selama beberapa saat Adrian melampiaskan emosinya pada rambut Aditya dalam genggaman, sebelum akhirnya melepaskannya.


“Jangan banyak bacot dan ngelakuin hal-hal aneh!” ancam Adrian.


“Aduuh, Mas Kanebo Kering jahaaat!” rengek Aditya manja.


Laki-laki gondrong itu tertawa kencang sambil merapikan rambutnya. Ternyata bukan hanya Arki yang sangat bodoh urusan cinta. Adrian malah lebih parah bebalnya. Tapi bisa dimaklumi, Adrian bukan tipe orang yang mudah membuka hatinya. Pasti sulit mengakui bahwa dia juga memiliki perasaan pada Nabila dan cemburu ketika ada yang mendekatinya. Aditya jadi penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Adrian dan Nabila.


Sepertinya, diantara ketiga saudara itu, hanya Aditya lah yang paling jago dan ahli tentang cinta. Aditya tersenyum dan berbangga diri memikirkannya.


“Basuki gimana jadinya? Si Arkian gak mau balik?” tanya Adrian menjalankan kendaraan keluar dari kediaman Wibisana.


“Soal Basuki tenang aja. Besok berita dia yang bunuh diri bakal jadi headline news dimana-mana. Kalau soal si Arkian sih, dia pasti belum bakal balik dalam waktu dekat. Lagi ngebucin,” balas Aditya kemudian terkekeh geli.

__ADS_1


__ADS_2