
“Gimana, Mas Bro? Udah sukses bikin penangkaran ular?” tanya Rio disambungan telepon sambil terkekeh.
“Boro-boro! Sehelai rambut aja belum gue sentuh semenjak nikah,” keluh Arki.
“Hah? Kok bisa? Ular sawah lo beneran gak bisa bertarung?”
“Bukan gitu. Gue gak ada kesempatan dan Gita juga gak mau ngelakuin itu. Dia bilang masih trauma sama kelakuan gue di karaoke dan di kosannya dulu. Terus dokter kandungannya juga bilang kalau di trimester pertama, gue gak diperbolehkan dulu main ular-ularan,” ucap Arki menjelaskan mengenai kondisi dan keluhannya pada sahabatnya itu.
Rio tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Gagal deh lo. Sabar, Ki. Tunggu dua atau tiga bulan lagi baru lo bisa pembuktian kalau ular sawah lo matuk.” Rio mengejeknya dengan gembira. “Tapi keren juga si Gita bisa bikin lo nurut gini. Padahal sih terabas aja, Ki. Lo kan fearless," lanjut Rio memberi saran.
“Gila lo! Gue masih punya adab ya. Nanti kalau Gita sampe keguguran gimana dah.”
“Ya gampang. Tinggal bikin lagi.”
“Tol*l lo!” maki Arki kesal. “Gue sendiri bingung harus kayak gimana sama dia sekarang. Gue pikir dengan nikahin dia, urusan bakal beres. Gak pernah kepikiran kalau dia trauma sama kejadian itu. Sekarang gue bingung gimana cara ngedeketinnya.”
Arki sudah berusaha menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan mengerti mengenai kondisi Gita yang masih takut untuk berada di dekatnya. Tapi entah sampai berapa lama dia akan seperti itu.
Jika terus dibiarkan, rumah tangga mereka akan hancur begitu saja. Mereka seperti keluarga yang tidak harmonis, tidak saling mengenal dan mencintai. Saat ini mereka hanya menikah karena menuntaskan kewajiban untuk melindungi anak yang dikandung Gita.
“Ya, deketin kayak lo PDKT sama cewek-cewek lo dulu lah. Di chat tiap waktu, dikasih hadiah, diajak jalan-jalan, diperhatikan. Kayak lo biasanya aja, kok tiba-tiba jadi ga bisa mikir gini sih lo?”
“Ya beda lah. Gue gak pernah ngejar cewek yang trauma sama gue.”
“Sama aja, Ki. Percaya deh sama gue. Ini tuh udah teknik paling universal buat dapetin cewek. Dikasih perhatian dan rasa nyaman, gak akan lama pasti luluh. Lo pikir Gita tuh spesies asing, gitu? Lagian nih ya, dia anaknya juga sederhana dan gampang dibikin seneng.”
“Maksudnya? Contohnya kayak apa?”
__ADS_1
“Dia seneng banget ditemenin. Meskipun pendiem dan suka sendirian di kantor, dia selalu bilang makasih ga abis-abis, bikinin kopi, ngasih makanan, kalau gue bantuin kerjaan dia atau ikut lembur. Dia seneng banget dipuji, kayak dipuji kerjaan, outfit barunya, potongan rambutnya, pasti langsung senyum-senyum dan jadi baik seharian. Dia juga seneng dikasih hadiah, waktu gue pulang dari Thailand, gue kasih baju dan makanan khas sana. Selama sebulan dia gak berhenti bilang makasih sama gue. Padahal yang gue lakuin kan biasa aja. Dia ngehargain banget kebaikan orang, jadi lo lakuin aja hal-hal basic yang sering lo lakuin buat deketin para mantan lo.”
...****************...
Gita sudah menyiapkan makan malam untuk menyambut kepulangan Arki dari Surabaya. Rumah sudah bersih, makanan enak tersedia, dan Gita juga sudah mengenakan baju baru yang terlihat bagus dikenakan. Dia harus berupaya agar Arki tidak berpikir meninggalkan semua hal tidak terurus.
Aneh sekali rasanya melakukan hal ini dan merasa sangat berdebar menunggu kepulangan Arki. Semua ini bukan karena Gita menyukai Arki, apalagi menantikannya. Bukan itu. Hanya saja dia merasa bersalah karena sudah menghabiskan banyak uang selama beberapa hari kemarin untuk berfoya-foya. Apalagi beberapa ratus juta dari saldo rekening Arki sudah dipindahkan ke rekening pribadinya. Gita masih belum tahu apakah Arki akan marah atau tidak mengenai hal itu.
Semua ini salah Mia, dia yang terus menanyakan apakah Arki akan mengecek semua pengeluarannya dan menduga-duga reaksi seperti apa jika tahu istrinya boros sekali. Hal seperti itu membuat Gita menjadi ragu dan takut. Padahal saat memberikan kartu debitnya, Arki mengatakan gunakan itu semuanya.
Gita bisa mendengar suara mobil Arki yang sedang masuk garasi. Dengan perasaan berdebar dan takut, Gita bersiap menyambut. Tentu saja dengan senyuman yang canggung dan aneh. Memang seharusnya menyambut suami pulang dari perjalanan dinas itu seperti apa? Memeluknya? Menyapanya? Gita sendiri bingung dan pura-pura duduk di sofa ruang tamu sambil bermain ponsel saat Arki masuk ke rumah.
Arki tersenyum manis saat melihat Gita, ditangannya banyak sekali barang yang dia bawa. Gita memandang tentengan yang penuh di kedua tangan Arki dengan wajah bingung.
“Kamu bawa apaan banyak banget?”
Gita penasaran dengan isi barang bawaan yang Arki simpan di dekatnya. Beberapa makanan, seperti 2 kotak lapis Surabaya, 4 kotak almond crispy, 2 botol sirup mangrove, kerupuk ikan kenjeran, dan bandeng asap dibawakan oleh suaminya.
Di jinjingan lain beberapa baju batik khas Surabaya bermotif kembang semanggi, ujung galuh dan mangrove terlihat indah. Bahkan Arki membawakannya boneka maskot kota tersebut, berbentuk hiu dan buaya.
“Ini buat dibagi-bagi ke tetangga?” kata Gita heran melihat begitu banyak oleh-oleh yang Arki bawakan.
“Ngga, buat kamu semua kok,” jawab suaminya itu santai sambil mengistirahatkan tubuhnya di sofa.
“Hah?”
“Kenapa? Kamu gak suka ya yang kayak gini?”
__ADS_1
“Bukan gitu. Ini kebanyakan. Aku gak bisa ambil semua.” Gita bingung sendiri melihatnya. Rasanya aneh menerima begitu banyak oleh-oleh dari orang lain.
Seumur hidupnya dia tidak pernah dibawakan buah tangan sebanyak ini oleh siapapun. Bahkan ayah dan ibu tirinya jarang membawakannya sesuatu ketika pulang bepergian dari luar kota. Kalaupun mereka membawa sesuatu, pasti oleh-oleh itu hanya akan diberikan pada Risa.
Sewaktu masih sekolah, Gita merasa iri dan seringkali protes akan hal tersebut. Tapi tidak pernah ditanggapi dan lebih banyak dimarahi karena tidak pengertian terhadap adiknya yang masih kecil.
Gita belajar untuk tidak mengharapkan apapun dari orang lain. Apalagi mengharapkan oleh-oleh saat orang disekitarnya kembali dari suatu tempat. Dia akan sangat berterima kasih jika ada yang mengingatnya dan memberinya sedikit buah tangan. Walaupun hanya untuk basa-basi.
Sekarang Gita bingung menerima hal seperti ini untuk dirinya sendiri. Apakah boleh mengambil semua ini untuknya? Kenapa memberikan hadiah sebanyak ini untuknya?
Gita sangat asing menerima perhatian sejenis ini dari orang lain. Tiba-tiba air matanya turun dan Gita tidak bisa menahan dirinya untuk terisak. Hatinya benar-benar tersentuh dengan hal sederhana yang Arki lakukan.
“Kenapa … nangis?”
Giliran Arki yang bingung sekarang, melihat Gita tiba-tiba menangis hanya karena oleh-oleh yang dia bawakan. Padahal semua itu hanya barang-barang biasa, makanan, baju, atau pun suvenir yang akan dibawakan oleh orang terdekatnya saat berkunjung ke kota lain.
Tidak ada yang spesial dari semua hal itu. Malah sebenarnya Arki merasa bersalah karena hanya membelikan Gita hal-hal yang dia temui saat berhenti sejenak di pusat oleh-oleh sebelum penerbangan pulang. Arki saat ini tidak punya waktu untuk memilihkan Gita gaun cantik, sepatu mahal, atau tas keluaran terbaru seperti yang sering dia berikan pada kekasihnya dulu.
“Aku belum pernah … dapat oleh-oleh … sebanyak ini,” ucap Gita sambil terisak.
Arki kaget dengan jawaban Gita. Hal yang sama sekali tidak diduganya. Meskipun Arki mendengar dari Rio bahwa Gita adalah perempuan yang sederhana dan mudah dibuat senang oleh hal-hal kecil, dia tidak menyangka hal kecil seperti ini yang dimaksud hingga membuat perempuan tersebut terharu.
“Kamu gak perlu nangis buat hal-hal kayak gini. Aku bakal bawain kamu banyak hal yang kamu suka nanti,” ucap Arki lembut sambil memeluk Gita.
“Makasih.” Gita membalas pelukan hangat dari Arki.
Selama beberapa saat mereka terus berpelukan seperti itu di sofa. Arki masih berusaha menenangkan istrinya. Jika dipikirkan kembali, ini pertama kalinya mereka melakukan kontak fisik sedekat ini semenjak menikah. Perasaan hangat yang aneh kemudian muncul dihati keduanya.
__ADS_1