
Pertengkaran mereka tadi sore membawa Gita pada sebuah kesimpulan, Arki bukanlah target yang tepat dan pernikahan ini harus segera diakhiri.
Gita akan segera melunasi utangnya dengan uang bulanannya yang Arki berikan lewat debit card. Saat semuanya lancar, dia akan berpura-pura keguguran dan mengajukan cerai setelahnya.
Semalaman Gita berpikir dan menyusun ulang rencananya. Terutama mempertimbangkan bagaimana reaksi Arki nantinya. Hal yang selama ini luput Gita pertimbangkan, yang sekarang menjadi bumerang serta batu penghalang kesuksesan rencananya.
Gita tidak pernah menyangka bahwa Arki sangat posesif, mendominasi, tapi sekaligus perhatian dan penuh tanggung jawab. Membuatnya kesulitan untuk menjalankan setiap tipuan dan kebohongan yang sudah dipersiapkan.
Menemaninya periksa, menyarankan dokter kandungan baru, menyuruhnya berhenti berbicara pada atasan laki-lakinya? Benar-benar hal gila dan diluar dugaan.
Ya. Memang semua salah Gita. Dia berpikir bahwa apa yang selama ini dilihatnya dari laki-laki itu adalah sifat aslinya. Padahal semua orang punya kegelapan di dalam hatinya. Sesuatu yang membuatnya terlihat sangat manusia dan jahat pada waktu bersamaan.
Mungkin dalam diri Arki, sifat posesif dan mendominasi adalah salah satunya. Hal yang jelas sangat bertentangan dengan pribadi Gita. Bebas dan tanpa tekanan.
Seumur hidup, Gita pun hidup dengan aturan-aturan dan kuasa ibu tirinya. Setelah meninggalkan rumah, Gita merasa punya kendali pada dirinya sendiri. Tapi sekarang dia menikahi Arki yang sama mengekangnya seperti kehidupannya dulu, rasanya seperti jatuh ke lubang yang sama.
Gita ingin hidup bebas dan nyaman. Merasa cukup adalah tujuannya. Lagipula sekarang dia sudah memiliki pekerjaan. Seandainya pun harus meninggalkan segala kenyamanannya sekarang yang didapatkan dari Arki, dia masih bisa bertahan. Berbeda dari 2 bulan lalu, dimana dia sama sekali tidak memiliki pegangan.
Intinya, dia mengakui satu hal. Menikah dan menipu Arki adalah kesalahan. Dia harus secepat kilat meraih tujuannya dan mengakhiri semuanya. Memang sudah jelas menipu bukan keahliannya.
Gita keluar kamar untuk mencari minuman dingin di dapur, setelah memikirkan ulang rencananya terhadap Arki. Tanpa sengaja kakinya menyenggol sebuah kotak hadiah yang disimpan tepat di depan pintu kamarnya. Untung saja kotak itu tidak terinjak saat Gita melangkah.
Setelah melihat dan membukanya secara seksama, kotak hadiah tersebut adalah sekotak cokelat. Tulisan Godiva Truffles tercetak indah di kotak tersebut.
Gita terkagum melihat salah satu cokelat mahal yang sering rekan kerjanya dulu makan, sekarang ada dihadapannya. Baru kali ini Gita menyentuhnya sendiri.
Apakah ini untuknya?
Sepertinya, iya. Sebuah kertas jatuh saat Gita membuka isi kotak cokelat tersebut. Bertulisan rapi dan saat membaca kalimat singkat yang tertera disana, seulas senyum melengkung di wajah Gita.
“Tadi aku marahnya berlebihan ya, sampai bikin kamu takut? Aku minta maaf. Aku gak bermaksud kayak gitu. Aku beliin kamu cokelat biar gak sedih. Nanti pagi jangan cuekin aku ya! Jangan lupa bikinin aku bekal makan siang juga.”
Gita menggigit bibir bawahnya agar berhenti tersenyum seperti orang bodoh hanya karena membaca permintaan maaf dari Arki dan sekotak cokelat mahal. Tapi hatinya sulit dikendalikan, jujur merasa senang. Pertama kalinya, ada yang meminta maaf setelah memarahinya.
__ADS_1
Arki sepertinya menyadari bahwa perilakunya tadi sangat berlebihan. Sekarang dia bingung, apakah Arki memang orang sejahat tadi siang ataukah semanis sekarang? Gita merasa semakin tidak menyadari tidak mengenal baik laki-laki itu.
Meskipun demikian, Gita tidak boleh gentar untuk melakukan rencana barunya. Dia menyimpan sekotak cokelat itu di kamarnya. Hanya karena itu saja, tidak boleh membuatnya berlama-lama keluar dari pernikahan palsu ini.
...****************...
Gita dengan gusar menunggu antrian bank. Hari ini dia meminta izin sebentar pada atasannya untuk pergi ke bank, melakukan pelunasan kredit yang selama ini membebaninya.
Tentu saja Arki tidak tahu. Dia merahasiakan semua utangnya pada Arki. Sekarang, dia akan melakukan pembayaran diam-diam dari uang yang Arki berikan untuknya. Masalah akan segera selesai. Tanpa banyak suara.
Nomor antrian Gita sudah dipanggil untuk berhadapan dengan CS bank, dengan ramah perempuan itu menyambut Gita dan menanyakan keperluannya. Gita segera mengatakan maksud tujuannya, kemudian mengeluarkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk pelunasan kredit.
“Mohon ditunggu sebentar. Saya cek statusnya terlebih dahulu,” ucap CS terdengar ramah. Tangannya dengan sigap mengetikkan sesuatu di komputernya. Sebelum akhirnya berbalik kembali pada Gita.
“Status kredit atas nama Gita Betari Putri sudah lunas 1 bulan yang lalu ya, Bu. Kami juga sudah menerbitkan dokumen pelunasan yang sudah di verifikasi.” CS tersebut menjelaskan dengan sopan.
Gita terdiam sejenak. “Lunas sebulan yang lalu? Maksudnya? Kok bisa? Perasaan saya gak pernah datang ke bank melakukan pelunasan,” ucap Gita bingung.
Perempuan di depannya ikut berkerut bingung dengan pernyataan Gita. “Uumm … di sistem kami sudah tidak ada kredit atas nama Bu Gita lagi. Semuanya sudah lunas sebulan yang lalu. Pengajuan pelunasan dilakukan secara online dan semua dokumen persyaratan sudah lengkap.”
Jangan-jangan ada yang salah dengan sistem di bank tersebut. Kenapa tiba-tiba utangnya lunas? Apakah ada orang yang tahu tentang utangnya selain dirinya, Mia, dan ibu tirinya? Tapi mereka tidak memegang dokumen persyaratan pengajuan pelunasan apapun. Kemungkinan kecil bagi orang-orang itu melunasi utang Gita. Atau jangan-jangan … Arki?
Gita menggeleng. Mengenyahkan praduga tersebut. Tapi, orang paling memungkinkan melakukan hal seperti ini adalah Arki.
Bagaimana dia bisa tahu tentang semua utang-utangnya? Kenapa dia tidak mengatakan apapun tentang ini? Kenapa Arki tidak marah padanya? Semua pertanyaan itu menggulung dalam pikiran Gita, menjadi kabut yang membuatnya pusing.
Disatu sisi, dia senang semua bebannya tiba-tiba hilang secara misterius. Disisi lain, Gita sangat khawatir dengan fakta dan kemungkinan bahwa yang melunasi utangnya adalah Arki. Jadi selama ini dia tahu tentang kondisi finansialnya yang bobrok itu? Kenapa Arki tidak pernah membahas apapun mengenai itu didepannya?
Pikiran lain berlarian seketika. Jika Arki tahu tentang kondisi finansialnya, utang-utangnya, dan diam-diam menyelesaikan masalahnya. Kemungkinan besar dia juga bisa tahu mengenai kehamilannya yang hanya pura-pura. Gita rasanya ingin pingsan saat itu juga karena ketakutan.
“Git, kamu dari tadi bengong terus. Kamu sakit? Mau aku antar pulang?” kata Tama yang sejak tadi melihat Gita tampak lesu setelah pulang dari bank.
“Nggak. Aku gak apa-apa. Aku pulang sendiri aja,” jawab Gita tersenyum menolak tawaran Tama, yang sepertinya hampir tiap hari menawarkan pulang bersama.
__ADS_1
Rupanya kekhawatiran tergambar jelas diwajahnya, hingga orang lain bisa tahu bahwa Gita sedang tidak baik-baik saja. Dia sangat takut Arki telah mengetahui semua kebohongan dan rencananya. Tapi kenapa dia sampai sekarang malah diam saja?
Sepanjang perjalanan pulang, Gita hanya termenung. Bingung, ragu, dan takut. Setelah sampai dan bertemu Arki nanti, dia harus tahu tentang semuanya. Dia juga harus tahu, seberapa jauh Arki mengetahui tentang rencananya dan apa yang diinginkannya hingga terus diam menutupi tindakannya?
Taksi online yang dia pesan sudah sampai di depan rumah. Gita menatap suram tempat tinggal yang baru satu bulan dia tempati itu. Arki dan semua perilakunya. Arki dan semua tindakan rahasianya. Semua membuat hatinya tidak nyaman dan merasa terancam.
“Dengan Mbak Gita?” sapa seorang laki-laki berjaket kulit menghampiri Gita yang sedang membuka pintu pagar. Seorang laki-laki lain bertubuh tinggi juga ikut mendekat padanya.
“Maaf, siapa ya?” tanya Gita bingung. Perasaannya tidak nyaman, mengingatkannya pada sesuatu yang pernah dialaminya dulu.
“Saya dari pihak Kredit Easy. Mau menagih utang sebesar 15 juta yang sudah jatuh tempo seminggu yang lalu. Nomor yang Mbak Gita pakai tidak aktif atau menjawab panggilan pihak kami. Jadi kami datang ke sini untuk menagih langsung.”
“Kalian tahu alamat ini dari mana?”
“Mbak Gita yang nulis sendiri alamat ini di aplikasi.”
Ah, benar saja dugaannya. Mereka pasti debt collector seperti yang pernah ditemui Gita sebelumnya. Kali ini pasti menagih utang yang telah ibu tirinya ajukan tanpa sepengetahuannya. Sepertinya data-data pribadinya masih digunakan oleh ibu tirinya itu sesuka hati. Hingga dia bisa meminjam menggunakan namanya. Kurang ajar!
Tapi yang lebih mengejutkan, ibunya tahu tentang tempat tinggal barunya. Jangan-jangan dia juga tahu bahwa Gita sudah menikah dengan orang kaya. Gawat!
Bagaimana kalau sampai mereka datang kesini dan memeras Arki? Selain itu, jangan sampai Arki tahu ibu tirinya suka meminjam uang di pinjaman online ilegal seperti ini. Bisa-bisa akan bertambah masalahnya.
“Saya akan bayar nanti. Bapak pergi dulu aja. Jangan sekarang!” kata Gita panik saat melihat mobil Arki yang muncul tiba-tiba di ujung jalan blok perumahannya dan semakin mendekat.
“Gak bisa, Mbak! Saya harus nagih dan dapet duitnya sekarang!” kata laki-laki itu berkeras.
“Saya bakal bayar, Pak! Tapi harus ambil uang dulu di ATM, saya gak punya cash. Saya minta nomor bapak, nanti saya hubungi.” Gita semakin panik, mobil Arki sudah berhenti di dekat rumahnya.
“Gak bisa! Kita gak mau pergi tanpa apa-apa. Mbak jangan janji-janji kayak gitu ya. Kita gak percaya! Kalau Mbak gak mau bayar, saya bisa pakai kekerasan.”
“Please, Pak. Pergi dulu! Nanti saya ketahuan sama—“
“Siapa ini, Git?” kata Arki menatap dua laki-laki yang bersama Gita dengan pandangan tidak senang.
__ADS_1
Mati lo, Git!