Istriku Penipu

Istriku Penipu
Bekal


__ADS_3

Arki baru saja pulang dari kantor, melihat Gita yang sedang menyusun bunga di vas berisi air di dapur. Dia tampak senang hingga terus tersenyum sambil memandangi bunganya itu. Bunga cantik berwarna merah dan putih sangat kontras. Gita tidak menyangka mendapatkan hadiah seperti ini saja membuatnya bahagia.


“Bunga dari siapa?” tanya Arki tiba-tiba.


“Dari … Mia,” jawab Gita terbata. Berbohong karena takut Arki marah dan tahu kalau Juan datang ke rumah. Senyumannya seketika menghilang karena panik.


“Oh,” kata Arki singkat dan duduk di meja makan yang sudah terhidang berbagai macam makanan. Tentu saja itu bukan masakan Gita, melainkan Ririn yang sebelum pulang tadi menyediakannya.


Arki melipat wajahnya kecut. Dia tahu bunga itu dari siapa. Ririn memberitahukan semua hal yang terjadi dengan Gita padanya, termasuk tamu yang datang tadi siang. Melihat bagaimana Gita tampaknya senang menerima hadiah pemberian Juan, serta informasi dari Ririn tentang obrolan seru mereka hingga Gita terlihat sangat ceria, Arki yakin mungkin dulu hubungan mereka istimewa. Tidak seperti yang diceritakan oleh Gita, hanya teman sekelas saja.


Namun, saat ini Arki memilih diam saja. Berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi. Sejak di kantor tadi, setelah Ririn memberitahukan kedatangan Juan. Hati dan pikirannya menjadi berisik tidak karuan. Kesal dan marah karena seorang laki-laki tidak dikenal datang ke kediamannya. Apalagi orang tersebut begitu akrab dengan Gita. Hingga senyum Gita tidak bisa lepas dari barang yang diberikannya.


Arki memang sudah tahu Gita tidak menyukainya. Saat berhadapan dengannya, perempuan itu hanya akan masam dan terlihat marah saja. Tidak pernah sekalipun memasang wajah ceria. Berbeda jika berhadapan dengan laki-laki lain saat berbicara. Gita lebih ekspresif dan sangat ramah. Sekarang Arki yakin hubungan mereka memang harus dilepaskan segera. Teramat dalam kebencian Gita padanya.


Berulang kali menimbang, Arki semakin gamang kapan saat yang tepat untuk berpisah. Kenapa rasanya belum siap melepaskan kehangatan Gita? Seperti hatinya sedang mencari-cari alasan sendiri, menolak benaknya yang lebih logis berpikir tentang semua ini.


Gita membencinya. Arki seperti sudah sembuh dari sakit anehnya. Harusnya ini mudah saja, bukan? Ternyata tidak demikian. Kegelauan bertumpuk-tumpuk tidak jelas memperumit keadaan.


...****************...


Ketukan pintu terdengar, kemudian Amanda masuk ke ruangan Arki. Dia menyerahkan setumpuk dokumen di meja. Arki hanya mengangguk dan kembali fokus ke komputernya. Sementara Amanda masih berdiri di sana, menunggu Arki menyadari bahwa ada hal lain yang ingin disampaikannya.


“Kenapa?” kata Arki melirik singkat, mengetahui kode yang dibuat Amanda.


“Aku bikinin bekal buat Pak Arki. Kemarin kayaknya Pak Arki gak suka makanan restoran, makanya makannya sedikit. Jadi aku bikinin masakan rumahan,” katanya sambil tersenyum malu-malu dan menyimpan paper bag di meja.

__ADS_1


Amanda berbalik dan hendak pergi. Arki memperhatikan sekilas paper bag yang berada di mejanya. Menghela napas dalam kemudian melihat punggung Amanda yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.


“Amanda,” panggil Arki menghentikannya. Dia lekas berbalik dan menatap Arki. “Ajukan lembur hari ini. Saya butuh bantuan buat periksa laporan audit K3,” lanjutnya.


Amanda terdiam sejenak, tidak percaya apa yang didengarnya. Padahal selama ini Arki tidak pernah menyuruhnya mengajukan lembur untuk membantu pekerjaannya. Tidak lama kemudian Amanda menyunggingkan senyuman, menegakkan badan, dan terlihat sangat antusias.


“Baik, Pak.” Amanda berlalu pergi meninggalkan ruangan.


Basuki sudah pernah mengatakan pada Arki bahwa Amanda berbeda dengan calon-calon lain yang dipilihkan ayahnya. Dia secara langsung datang menemui Arya untuk dijadikan menantu dan diberikan izin untuk mendekati Arki. Jauh sebelum dia menikahi Gita.


Tapi saat itu Amanda masih kuliah dan Arki baru saja putus dari Luna. Arya belum memberikan izinnya pada perempuan ingusan yang bahkan belum menyelesaikan pendidikannya. Meskipun dia adalah berlian yang langka. Cantik, berasal dari keluarga pengusaha properti ternama, pintar, dan berani. Setelah Arki menikah pun, Amanda tetap bergeming untuk mendapatkan hati laki-laki pujaannya.


Tidak seperti calon lain yang sudah ayahnya tawarkan lebih dulu kepada adik-adiknya. Amanda adalah orang yang disimpan ayahnya khusus untuk dirinya. Arki sesungguhnya sangat enggan menerima perjodohan dari ayahnya. Tunduk pada keinginan Arya. Tapi sekarang dia punya alasan kenapa harus mempertimbangkan Amanda.


Arki tidak melihat bayangan tentang Luna saat bersamanya.


Perempuan itu tidak bahagia dengannya. Mau bagaimana pun harus Arki lepaskan seperti kesepakatan mereka. Arki berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Gita hanyalah tempatnya mengobati diri untuk sementara. Dia tidak boleh terikat terlalu jauh bersamanya.


Hal yang harus dilakukan pertama oleh Arki adalah menyingkirkan segala ketergantungannya pada Gita. Pelan-pelan melepaskan akan lebih baik baginya. Dia masih tidak mengerti, kenapa hubungan singkat mereka yang penuh kebencian dan drama, sangat enggan Arki tuntaskan.


Apakah euforia karena bisa bermain ranjang kembali dengan seseorang setelah setahun lebih tidak dilakukan, membuatnya begitu lemah terbuai? Hingga Gita menempati tempat terkuat yang sering dicarinya untuk menuntaskan keluh dan berbagi peluh. Dia tidak bisa memikirkan yang lain sampai saat ini. Arki benar-benar bodoh merasa bisa mengendalikan dirinya sendiri lepas dari pengaruh Gita.


Pukul 20.20 Arki keluar dari ruangannya, dia melihat Amanda juga sudah bersiap untuk pulang. Tanpa kata mereka berjalan beriringan di koridor kantor yang sepi menuju lift. Arki menyerahkan paper bag berisi bekal yang tadi siang Amanda berikan. Gadis itu terlihat senang, tapi kemudian senyumnya hilang saat menakar berat pada paper bag yang sepertinya tidak berkurang. Dia menatap Arki yang berdiri di sebelahnya dengan perasaan sakit hati.


“Pak Arki gak makan bekal yang aku bikinin, ya?” katanya dengan hati yang terluka.

__ADS_1


“Makan kok. Cuma dikit. Saya emang gak banyak makan.”


Arki berbohong. Dia makan dengan lahap jika makanan itu adalah masakan Gita. Lidahnya hanya terbiasa memakan masakan istrinya. Entah sejak kapan Gita bahkan membuat selera di lidahnya pun berbeda. Perempuan itu benar-benar kuat mencengkramnya.


Dia tidak bisa terus seperti ini. Harusnya Arki mulai bisa terbiasa dengan semua hal yang tidak berhubungan dengan Gita. Begitupun dengan makanan yang di konsumsinya. Kini semakin sering saja sosok Gita berseliweran di dalam benaknya. Disaat dia sudah memantapkan hati untuk melepas. Arki tidak menyukai ini.


Dia harus segera mengenyahkan bayangan Gita. Dengan cepat Arki mendorong tubuh Amanda ke pojok lift. Dia menautkan bibirnya dan memagut perlahan. Lembut dan basah saat lidah mereka menyatu dalam permainan. Arki semakin mendominasi dan menikmati ciuman. Perasaannya berhamburan tidak karuan saat lecapan terasa dibibirnya. Bersalah dan jijik pada dirinya sendiri.


Namun tidak ada lagi bayangan Luna yang berkelebatan. Hanya Gita yang mengisi kepalanya saat ini.


Arki semakin yakin dia sudah sembuh sepenuhnya. Tapi sekarang otaknya berkeliaran pada perempuan yang berbeda.


Pada Gita.


...****************...


Gita sudah bangun pagi-pagi, menyiapkan makanan dan bekal untuk Arki seperti biasanya. Waktunya beristirahat sudah usai. Dia akan kembali bekerja hari ini. Kondisinya pun sudah bugar. Seminggu sudah dia habiskan berbaring menyembuhkan cedera sendi. Kini Gita sepertinya sudah bisa berlari marathon jika diizinkan.


Ditatanya makanan di tempat bekal dengan senyuman yang mengembang. Sudah seminggu dia membiarkan Arki makan sembarangan di kantin dan menghabiskan uangnya di restoran hanya untuk makan siang. Sekarang waktunya dia memberikan laki-laki itu nutrisi yang seimbang. Dia juga absen memberinya sarapan serta makan malam karena selama beristirahat Ririn lah yang memasak untuk mereka.


“Kamu gak usah bikinin aku bekal lagi mulai sekarang,” kata Arki yang tiba-tiba muncul di dapur dengan pakaian yang sudah rapi dan siap berangkat bekerja. Padahal sekarang baru pukul 07.30.


“Kenapa?” tanya Gita bingung.


“Ada makan siang dari kantor. Aku juga bakal lebih pagi dan pulang lebih malam. Kamu ke kantor dan pulang naik taksi online aja,” kata Arki kemudian bergegas pergi.

__ADS_1


Gita hanya mematung melihat Arki yang sekarang sudah menghilang dari pandangan. Bingung. Selama beberapa menit Gita hanya berdiri saja. Entah kenapa gelombang hebat kesedihan menghantamnya. Tanpa alasan dan bahkan sulit dijelaskan.


__ADS_2