Istriku Penipu

Istriku Penipu
Eksklusif


__ADS_3

Arki memandang mata Gita yang berair karena air mata, anak rambut mencuat menutupi wajah, lehernya basah karena keringat. Gita menggigit bibir bawahnya, menghentikan diri mengeluarkan suara-sura tidak senonoh yang lepas dari kendalinya. Pemandangan yang indah bagi Arki.


“Jangan gigit bibir kamu, biar aku aja!”


Arki mendaratkan kecupan panas memabukan pada bibir lembut Gita. Menggigit lembut dan mencerupnya. Menyenangkan merasakan ciuman manis seiring tubuh mereka bergerak dengan ritme yang semakin cepat. Arki melepaskan pertautan bibir tersebut dan mulai memandangi Gita kembali yang berada dibawah tubuhnya.


Dia terlalu menyukai saat Gita berada dalam kuasanya. Melenguh, meringis, dan merintih karena kenikmatan yang tidak disadarinya. Tidak, sepertinya Gita menyadari sendiri bagaimana perasaan puas yang sulit digambarkan saat mereka menyatu.


Candu baru yang sulit dilepaskan. Padahal, Arki berjanji akan mengabulkan keinginan Gita untuk sebuah perpisahan. Sayangnya hingga kini Arki belum bisa melakukannya. Hingga sekarang ini dia malah lebih sulit menghindari meracak di atas tubuh indah Gita. Dia akan menyimpan Gita lama dalam belenggunya.


Gita seperti racun yang tiap kali diteguk semakin membuatnya haus. Tidak terhitung luka dan lecet karena perlawanan dari perempuan tersebut. Dia berhasil menggoreskan karya di lengan, dada dan punggungnya menggunakan jemari lentik berkuku tajam. Arki terkadang kesal tapi jauh di dalam dirinya semakin tertantang untuk menaklukannya.


Arki merasa sangat puas ketika Gita mulai kehilangan tenaga dan kewarasannya setelah sentuhan Arki melumpuhkannya. Menyuntikan kenikmatan ke seluruh tubuh hingga menegang dan mengerang. Gita pada akhirnya selalu kalah dan ikut gila karena meraup perasaan yang sama saat melepaskan endorfin.


Pergumulan itu berakhir dengan kecupan singkat di kelopak mata Gita yang nyaris mengatup selepas mereka ber cinta. Kantuk dan lelah cepat turun ketika mereka sudah mencapai ujung pertemuan. Gita tidak bisa menghindarinya. Semakin hari semakin sulit untuk tidak terbuai pada kenikmatan aneh yang mengalir ke tubuhnya.


“Kamu makin jago mainnya,” bisik Arki di telinga Gita sambil tersenyum.


Tubunya dia rebahkan di samping Gita, mengambil waktu beristirahat setelah melepaskan serangan mematikan. Mesinnya mulai di dinginkan beberapa saat. Arki menatap langit-langit kamar yang temaram, hanya lampu tidur di nakas yang menerangi. Tapi Arki masih bisa melihat wajah Gita yang sekarang tidur meringkuk ke arahnya, dengan memeluk lutut. Arki menyelimuti sosok cantik itu agar tidak kedinginan.


“Aku benci sama kamu.” bisik Gita dengan mata mengatup tertutup.


Arki terkekeh. “Tapi kamu menikmati, kan?”


“Nggak. Aku gak suka.”


“Bohong! Aku lebih ahli dari kamu, jadi tahu kalau cewek bener-bener menikmati.”


“Aku jijik sama kamu.”


“Aku suka melakukan hal menjijikan sama kamu.”


“Cepetan lepaskan dan ceraikan aku. Kamu udah dapetin yang kamu mau, kan? Aku udah melayani kamu lebih dari sebulan. Kamu mau menahanku sampai kapan?”


“Aku belum bosan sama kamu. Setahun atau dua tahun? Baru aku lepasin kamu.” Arki tertawa geli.


Dia juga tidak tahu kapan melepaskan Gita. Masih ingin mengeksploitasi kenikmatan tubuhnya.


Gita membuka matanya. Melihat wajah Arki yang dekat dengan tawa yang ceria. Sangat muak melihat laki-laki yang semena-mena itu mempermainkan hidupnya.

__ADS_1


“Kamu beneran gak waras!” geram Gita.


“Terus kamu mau lihat ibuku sedih dan kecewa karena kita cerai padahal belum genap empat bulan menikah? Kamu lupa apa yang kita janjikan ke ibu pas minta restu?” ucap Arki mencari alasan.


“Kamu sekarang yang mengambil keuntungan lebih banyak dariku. Utang 400 juta yang kamu bayar gak sebanding dengan yang kamu lakukan sama aku. Terus kamu masih mau menahanku bertahun-tahun? Licik!”


“Ya kalau gitu ambil sebanyak yang kamu mau dariku. Kamu butuh berapa? Aku akan tambahin uang belanja ke rekening yang kamu pegang.”


“Kamu beneran mikir aku itu p e l a c u r? Hah?!” ucap Gita marah.


“Iya,” balas Arki sambil tersenyum, menyapukan ibu jarinya ke bibir Gita. “P e l a c u r eksklusif punyaku. Aku bisa dapat pelayanan kayak gitu gratis dari banyak cewek yang mau sama aku. Tapi aku kasih banyak benefit buat kamu, bukan cuma uang, kenyamanan, kenikmatan aja. Hal yang terpenting yang aku kasih adalah status, yang sampai sekarang melindungi kamu dari stigma jelek di masyarakat karena menyerahkan tubuh kamu ke laki-laki. Orang cuma melihat kamu melayani suami. Bukan hal yang aneh.”


“Pikiran kamu beneran menjijikan!”


“Gita, nikmati selagi bisa! Jangan bikin aku naik darah!”


Gita menyingkirkan selimut yang membungkusnya. Meraup gaun tidur dan mengenakannya sembarang. Dia keluar dari kamar dan mulai bejalan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dari bekas-bekas sentuhan dan tanda kepemilikan yang di tinggalkan Arki di tubuhnya.


...****************...


Ketukan pintu di ruang kerja terdengar beberapa kali. Arki menyuruh orang dibalik pintu untuk masuk. Seorang perempuan berhijab, mengenakan kaca mata, membawa dokumen yang dia rangkul di dada.


“Ini data anak baru yang masuk ke divisi internal audit,” ucapnya menyerahkan dokumen yang sejak tadi dia pegang.


“Anak baru? Perasaan saya gak mengajukan tambahan orang ke HR,” kata Arki bingung. Tangannya meraih dokumen yang Yuni simpan di meja.


Yuni menghela napas. “Titipan bos, Pak. Saya gak berani nolak.” Yuni berbisik, seakan di ruangan itu hadir orang lain. Padahal hanya ada dirinya dan Arki saja.


“Bos siapa nih? Divisiku full. Masukin ke divisi lain lah, Bu! Accounting dan Finance tuh masih ada yang kosong kayaknya,” pinta Arki. Dia membaca dan membolak-balik CV anak baru yang dimaksud.


“Anaknya ambil konsentrasi auditing, Pak. Masa ditaruh disana?”


“Ya dia masih bisa lah belajar perpajakan. Masih fresh ini, baru lulus.”


“Ah, saya udah nge-iya-in ke yang atas. Takut kalau saya tiba-tiba bilang gak jadi. Kalau Pak Arki gak mau, komplainnya jangan ke saya ya!” ucap Yuni tersenyum.


“Siapa emang yang main masuk-masukin orang ke sembarang divisi gini?”


“Pak CEO.”

__ADS_1


“Nanti saya yang bilang sama dia.”


Arki diantar oleh sekretaris CEO masuk ke ruangannya. Laki-laki berumur 40 tahunan yang sedang duduk di mejanya langsung melihat ke arah kedatangan Arki. Dia melepaskan kacamatanya dan menghela napas. Mengetahui maksud kedatangan Arki ke ruangannya.


“Pasti mau protes,” gerutu Damar. “Please lah, Ki. Kali ini aja terima permintaanku.”


“Please lah, Bang. Ke divisi lain aja lah. Aku gak terima fresh graduate kayak gini di divisiku.” Arki mengeluh kesal. Duduk dengan santai di depan atasannya seperti kawan lama.


“Dia mau belajar. Justru karena fresh graduate makanya harus belajarnya sama atasan yang pinter kayak kamu.”


“Siapa sih? Saudara?”


“Anaknya temen bisnis lah. Dijaga ya, Ki. Jangan dimarahin loh.”


“Ya kalau salah, dimarahin lah. Kalau mau belajar harusnya ke KAP aja langsung.”


“Jangan pelit ilmu. Nih anak pinter, cuma kurang pengalaman aja. Auditor internal kan beda sama auditor di KAP, Ki. Dia harus belajar dari bawah soal perusahaan biar bisa gantiin bapaknya.”


“Oh. Calon penerus toh?”


“Hmmm… cantik loh.”


“Ya terus? Udah ah, aku mau balik. Percuma protes juga. Kekuatan orang dalam susah dikalahkan.”


“Kamu kesini juga karena aku orang dalamnya.”


“Ck… Aku keluar nih. Banyak headhunter yang nawarin kerjaan lebih gede gajinya, karena kita temenan aja aku terima kerjaan disini.”


“Iya, iya. Ampun, Pak Auditor. Jangan pergi dari perusahaanku dong, Cah Bagus.”


Arki mendelik kesal. “Suruh dia dateng besok!”


“Oke. Nanti aku hubungi Amanda langsung.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf ya kalau tulisannya kurang rapi. HP-ku rusak hehe


Hidup author-nya sedang banyak drama akhir-akhir ini 🥲😅

__ADS_1


__ADS_2