Istriku Penipu

Istriku Penipu
Memangsa


__ADS_3

“Luna ...”


“Luna ...”


“Lu ... Na ...”


“Gita...”


“Gita...”


“Git...”


“Arki, jangan sebut Luna terus! Aku gak suka!”


“...kamu tahu nama itu dari mana?”


“Kamu mimpi...”


“Aku cuma mau kamu...”


Perasaan sedih dan aneh menghantamnya tiba-tiba, membuat dadanya sesak. Sulit bernapas. Air matanya luruh dari sudut matanya yang terpejam.


“Uhhh...”


“Nggak ... Mmmau...”


“Relax, Git ...”


Matanya berat dan terus melipat tertutup. Tapi sebagian kesadaran menyuruh untuk bangun. Suara dikejauhan seperti dirinya, seperti Arki. Tapi rasanya masih seperti mimpi. Mungkin saat ini Gita sedang mengigau dalam tidurnya, atau meracau tidak jelas karena pengaruh obat alergi yang diminumnya berefek samping kantuk yang menggelayut.


Dia sulit membedakan mana realita dan mimpi, semuanya seakan bercampur aduk menjadi satu. Semua inderanya nyaris tumpul. Tidak ada satupun yang bisa fokus. Bahkan gelayar aneh disekujur tubuhnya tidak begitu mengganggu tidurnya. Gita pernah seperti ini.


Kapan?


Pikirannya masih berkeliaran. Menangkap semua sinyal dari luar, meskipun tubuhnya seperti dibajak untuk terus terlelap. Matanya seperti ditimpa beban puluhan kilogram, tapi mulutnya terus berseru dan meracau. Sekarang malah mengeluarkan suara aneh yang tidak jelas terdengar.


“Hmm.. uhh..”


“... Stop...”


“Udah ...”


“Sssstt, tenang!”


“...Aku bakal pelan-pelan...”


 Gita tersentak terbangun saat nyeri yang tidak terkira menyusur dibagian inti di antara kedua kakinya. Semua inderanya menjadi awas kembali. Terjaga.


Kini matanya bisa merasakan seberkas cahaya temaram dari lampu tidurnya. Udara dingin dari AC menggigit seluruh tubuhnya yang tidak terbungkus apapun. Pelupuk matanya basah karena air mata. Kedua tangannya mencekal bahu Arki, yang sekarang berada diatas tubuhnya.

__ADS_1


Pemandangan yang paling memuakkan dan menakutkan sepanjang hidupnya, terulang kembali untuk kesekian kalinya. Dia diserang dan dilucuti dalam keadaan tidak sadar. Kali ini lebih parah. Sesuatu menekan bagian bawahnya hingga nyeri dan perih, mencoba menerobos masuk hingga ke dalam.


“ARKI ...HHHMMPP” teriakan Gita langsung dibungkam oleh salah satu tangan Arki.


Gita memukul, mencakar, dan menerjang. Menyingkirkan semua cengkraman yang kuat dan menyakitkan. Salah satu tangannya menggerapai pada nakas. Tanpa sengaja menjatuhkan jam weker, lampu tidur, hingga gelas, yang berdentang saat pecah ke lantai.


Jemarinya kemudian merasakan benda dingin dan menggenggamnya dengan cepat. Satu pukulan langsung Gita daratkan ke kepala Arki. Vas bunga tersebut pecah. Arki jatuh ke sisi lain ranjang, berteriak dan mengumpat kasar.


Kesempatan itu Gita manfaatkan untuk kabur. Dia turun dari ranjang, mencerabut sehelai selimut dari ranjang untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa busana. Kakinya menginjak pecahan gelas yang terjatuh dari nakas. Gita langsung terjerembab ke lantai seketika. Namun, rasa panik menguatkannya untuk bangkit kembali.


Gita berlari keluar kamar, tubuhnya beberapa kali terantuk perabotan, hingga dia bisa mencapai dapur. Meraih dan mencari-cari diantara lemari dan laci-laci yang tertata rapi Sebilah pisau kemudian dia acungkan dengan panik untuk melindungi diri.


Arki keluar dari kamar tidak begitu lama. Untungnya dia sudah memasang kembali celananya dan hanya melangkah sambil bertelanjang dada. Da rah mengucur dari pelipisnya, membasahi hingga leher.


“Gita, turunin pisaunya!” perintah Arki dengan tenang.


Tapi Gita tahu laki-laki itu diliputi kemarahan yang kentara. Matanya menggelap begitu juga raut wajahnya. Arki hanya berdiri dari sebrang meja makan menatapnya. Tanpa bergerak. Seakan diselubungi aura menakutkan. Itu saja sudah membuat napas Gita tercekat dan tubuhnya gemetaran.


“Gita. Turunin pisaunya! Aku bisa bikin kamu pingsan dengan sekali pukulan.” Arki memperingatkan. Rahangnya mengeras, geram.


Gita masih mengacungkan pisau di udara, dengan tangan gemetar, air mata yang berjatuhan, dan kaki perih terluka. Dia tidak bisa melepaskan pandangan dari Arki. Nalurinya terus memerintahkan untuk waspada.


Arki membuang napas. Menenangkan dirinya sendiri. Dia tidak boleh melawan Gita yang sedang panik dengan mengancamnya. Semua itu malah akan memperburuk keadaan. Sepertinya bukan hanya ketakutan karena kejadian tadi, tapi sikap Arki lebih membuat gadis panik.


“Gita tenang! Aku gak akan lanjutin, aku gak ngapa-ngapain kamu. Kaki kamu terluka. Biar aku obati. Tolong berhenti kayak gini,” kata Arki berjalan mendekati Gita.


Arki mencengkram lengannya dengan cepat, hingga pisau jatuh berkelontang ke lantai.


“Gak mau! Lepasin!” Sekuat tenaga dia menarik tangannya yang Arki cengkram. Tangis histerisnya begitu memekakan.


“Aku gak akan apa-apain kamu. Udah. Stop!” kata Arki dengan nada yang lebih lunak.


Arki menghentakkan cengkramannya dan memeluk tubuh Gita yang gemetar. Sementara Gita terus meronta dalam dekapannya. Menyingkirkan belenggu Arki yang kuat.


“Udah tenang! Aku gak akan lanjutin yang tadi. Aku mau obatin luka dikaki kamu doang.”


“Lepasin! Aku gak butuh perhatian kamu!” bentak Gita histeris. “Cowok kurang ajar! Menjijikkan! Monster!” teriaknya lagi sambil berurai air mata. Masih terus memukul tubuh Arki dan mendorongnya menjauh.


“Gita stop!” bentak Arki mencoba mengendalikan kemarahan Gita.


Sayangnya sia-sia saja. Gita menangis tidak terkendali dan terus menggeliat dalam pelukannya. Masih berusaha melepaskan diri.


Gita membenci semua hal tentang Arki sekarang. Lebih dari biasanya. Laki-laki menjijikkan ini bukan hanya menyentuhnya, tapi mencoba merenggut kehormatannya. Semua racau dan umpatan Gita tumpahkan padanya tanpa jeda.


Arki menjadi semakin tidak sabar dengan tingkah Gita yang seperti sekarang. Benar-benar sulit dikendalikan. Terpaksa Arki membuatnya tumbang dengan satu pukulan di leher. Gita seketika ambruk tidak berdaya dalam pelukannya.


...****************...


Gita terbangun, matanya mengerjap kaget. Pandangan mengedar keseluruh ruangan. Cahaya matahari sudah menembus jendela kamar. Seketika Gita memeriksa keadaan tubuhnya. Dia sudah berpakaian lengkap, mengenakan piyama. Namun rasanya jauh berbeda dari yang dia kenakan kemarin.

__ADS_1


Apa yang sudah Arki lakukan?


Kelebatan ingatan mulai berkumpul. Tadi malam, dia terbangun dalam keadaan tidak berbusana, rasa sakit saat sesuatu mencoba menerobos dan merenggut kehormatannya. Kepanikan dan ketakutan berdengung kembali di telinga.


Susah payah Gita mencoba bangkit, dengan rasa sakit di leher belakang. Baru saja dia duduk diranjang sambil berusaha menahan pusing yang mendera, Arki datang ke kamar. Sudah berpakaian rapi. Siap berangkat bekerja.


“Kamu—“


“Gita, tenang dulu!” ucap Arki memperingatkan. Dia berbicara dengan tenang, namun terdengar begitu dalam dan menakutkan.


Arki lantas duduk di tepi ranjang, memandang lekat ke arah Gita. Dekat. Nyaris tak lebih dari 10 cm berjarak. Bahkan Gita bisa merasakan napas hangat dan wangi parfum yang maskulin darinya menguat tak karuan.


Dipelipisnya sudah tertempel plester. Sepertinya luka hasil mahakarya yang ditorehkan Gita membuat wajah tampan Arki bercela. Ini kedua kalinya Gita memukul kepala laki-laki kurang ajar itu.


“Aku gak ngapa-ngapain kamu tadi malam. Gak usah khawatir, aku cuma pakaikan kamu baju. Aku minta maaf soal yang sebelumnya. Aku gak bisa mengendalikan diri. Tapi sikap kamu juga berlebihan dan berbahaya tadi malam—“


“Tapi kamu—“


“Dengerin, aku belum selesai ngomong! Aku gak suka kalau kamu pakai senjata berbahaya kayak kemarin. Kamu bisa ngomong tenang sama aku dan gak bersikap impulsif lagi, kan?”


Gita tidak menjawab. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya, hatinya begitu marah hingga ingin merobek wajah rupawan milik Arki. Tapi dia gemetar ketakutan, mendengar Arki berbicara tenang dengan suara yang rendah nyaris menggeram, berisyarat penuh peringatan.


“Hari ini aku gak jadi ke Malang. Ada bawahanku yang gantikan buat perjalanan bisnis. Tapi aku harus ke kantor kayak biasa. Kamu gak usah berangkat kerja, tadi aku udah telepon Pak Usman dan bilang kalau kamu sedang sakit. Istirahat, oke?”


Gita tetap tidak menjawab apapun. Suaranya seperti menghilang begitu saja saat akan membuka mulutnya.


“Aku udah bersihkan luka dan obatin kaki kamu yang kena pecahan kaca. Jangan terlalu banyak jalan, nanti sakit. Aku juga udah beli sarapan. Nanti siang kamu order makanan online aja.”


Mereka hanya saling menatap beberapa saat. Tanpa ada yang saling bersuara. Arki tersenyum setelahnya.


“Galak banget sih kamu,” ucapnya sambil terkekeh. Ekspresi dinginnya memcair seketika, tandas tak bersisa.


Arki bangkit dan berpamitan untuk berangkat bekerja. Dia sudah mencapai ambang pintu, ketika berbalik kembali menatap Gita yang masih tidak berhenti memelototinya.


“Diam di rumah! Jangan melakukan hal yang berbahaya atau yang nggak-nggak!” ancamnya lagi. Kemudian sosoknya menghilang.


Suara mobil dan pintu pagar yang terbuka kemudian menutup kembali, terdengar dari luar. Gita sudah memastikan Arki telah pergi dari sana sekarang. Hatinya lega karena ancaman sudah berlalu. Nyaris dia bersorak karena gembira.


Gita membaringkan diri kembali di kasur. Telapak kakinya sakit, lehernya sakit, dan hampir seluruh tubuhnya terasa berat. Tapi yang paling parah adalah hatinya. Dia dipenuhi kekecewaan mendalam terhadap sosok Arki yang dulu dikaguminya. Ternyata Luna tidak begitu salah mengatakan bahwa laki-laki itu menyeramkan.


Apakah Arki juga melakukan hal yang sama pada Luna?


Melecehkannya, mencoba merenggut kehormatannya, dan yang lebih parah adalah melakukan kekerasan dengan memukul lehernya hingga pingsan. Kali ini semua perbuatan Arki tidak bisa dimaafkan.


Gita juga sudah sangat lelah harus terus merasa ketakutan jika berhadapan dengan Arki. Sedikit saja lengah, Arki sudah memanfaatkan situasi untuk melakukan perbuatan tercelanya.


Gita tidak sanggup hidup dalam kegelisahan setiap saat, dimana kapan saja Arki bisa memangsanya hidup-hidup. Sekarang sudah saatnya Gita bergerak. Menetapkan hati dan niatnya untuk mengajukan cerai ke pengadilan agama.


 

__ADS_1


__ADS_2