Istriku Penipu

Istriku Penipu
Bersahabat


__ADS_3

“Kamu gak ikut acara makan malam sama ayah dan Arkian?” tanya Aditya saat keluar dari ruang kerja Arya.


Dia baru menyimpan beberapa dokumen yang harus diperiksa oleh ayahnya. Sekarang dia adalah asisten Arki, yang juga bertugas menghubungkan dan melaporkan situasi perusahaan pada Arya. Menggantikan Basuki. Meskipun demikian, Basuki tetap selalu berada di samping Arya. Menjadi kaki tangan untuk segala hal kotor maupun hal baik yang dilakukan oleh ayahnya.


“Oh. Aku lupa ngenalin diri. Aditya,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan pada Shela yang bingung dan waspada.


“Anaknya Mas Arya? Aku gak pernah lihat kamu kesini,” kata Shela yang masih mewaspadai Aditya.


Aditya terkekeh. “Aku beberapa kali kesini buat menyerahkan laporan. Sepertinya kamu lagi gak ada. Hmm... Tapi aku memang gak pernah datang ke rumah ini sih. Gak pernah diizinkan sama ayah,” kata Aditya santai.


“Kenapa gak diizinkan?” Shela mulai menurunkan kewaspadaannya pada Aditya, karena laki-laki itu terlihat tidak berbahaya dan sangat ramah.


Aditya mengedikkan bahu. “Aku gak tahu. Mungkin karena gak dianggap kali. Bahkan setelah ibuku meninggal, dia gak peduli.” Aditya tertawa pahit. “Oh! Aku gak punya banyak kesempatan datang kesini. Sejak dulu aku pingin tahu tentang isi rumah yang kayak istana ini. Kira-kira aku dibolehin gak ya jalan-jalan di sekitar rumah?” lanjut Aditya terlihat agak sedikit menyedihkan.


“Kamu boleh kok keliling rumah ini. Aku bisa antar kamu jalan-jalan biar gak nyasar,” tawar Shela.


Entah kenapa dia mau saja melakukannya. Mungkin karena sekarang dia tidak punya kegiatan lain karena rumah itu kosong. ART berada di rumah belakang dan pengawal yang ditempatkan Arya semuanya berada di posnya di depan rumah.


Aditya mengulurkan tangan sambil tersenyum. Shela awalnya ragu untuk meraihnya, tapi akhirnya dia menggenggam tangan Aditya.


“Kok kamu bisa sih sampai kenal dan nikah siri sama ayah? Kayaknya kamu lebih cocok jadi adik dibanding jadi ibu tiriku,” kata Aditya sambil berjalan di lorong penuh lukisan dan patung kayu menghiasi. Seperti sebuah galeri seni.


“Mas Arya dulu sering lihat aku tampil di teater. Aku lulusan seni dan suka banget bermain teater, dulu bermimpi jadi artis.


“Terus sekarang kenapa gak jadi artis dan malah nikah siri sama ayah?”


Mereka memasuki ruangan yang luas, berisi lebih banyak patung-patung dan lukisan indah. Sejak dulu Arya memang penikmat seni. Lukisan, patung, seni pertunjukkan semua dia gemari. Dia menyukai hal-hal yang indah dan cantik. Tidak mengherankan kalau matanya juga jeli melihat perempuan yang menarik.


Dia senang bermain dengan perempuan muda dan cantik. Tapi hanya beberapanya yang dijadikan istri. Berarti perempuan tersebut bagi Arya kecantikannya istimewa. Hingga dia harus mengoleksi dan memilikinya. Aditya melirik ke arah Shela. Ayahnya memang tidak pernah salah menilai.

__ADS_1


“Aku ditawari untuk menjadi artis waktu kenalan dengan Mas Arya. Dia juga membantu aku menyelesaikan kuliah dan membantu keuangan keluargaku juga saat ayah ditangkap karena kasus korupsi di dinas tempatnya bekerja.” Shela menerawang sedih pada patung berbentuk ikan dari kayu di hadapannya.


“Sekarang kenapa malah jadi kayak burung dalam sangkar?”


“Mas Arya gak suka lihat aku main teater lagi. Dia bilang aku bisa menggunakan uangnya tanpa susah-susah kerja.”


“Ayah juga melakukan hal kayak gitu ke ibuku. Mungkin juga ke semua istrinya. Arya menggunakan uangnya untuk mengurung mereka. Kemudian membuangnya kalau gak sesuai harapan atau mencoba melarikan diri.”


“Maksudnya?” Shela mengerutkan dahinya bingung.


“Istri ayah sebelum kamu entah gimana nasibnya sekarang, dia gak pernah kedengaran lagi karena mencoba lari dari ayah. Ibuku juga. Dia akhirnya meninggal karena mau lepas dari cengkraman ayah. Meskipun orang tahunya ibuku meninggal karena kecelakaan. Orang yang bisa lepas hanya Mama Ela, ibu Arkian. Karena keluarganya dulu kaya dan berpengaruh untuk bisnis keluarga Wibisana.”


Shela bukannya tidak tahu kenyataan bahwa dia sudah terjebak dan tidak bisa sembarangan pergi dari siai Arya. Dia menikmati semua hal yang diberikan laki-laki itu. Meskipun dia sekarang begitu kosong dan kesepian.


Diberbagai kesempatan, Arya juga tidak menganggapnya ada. Hanya karena Shela bukanlah istri sah yang tercatat negara, dia tidak pernah membawanya ke acara-acara penting bersama rekan kerjanya. Arya hanya akan membawa Salma, istri sahnya saat ini. Sakit hati dan terhina kini menjadi makanannya setiap hari. Sebagian dirinya menyesali kenapa sebodoh ini terlibat dengan laki-laki yang bahkan seumuran dengan ayahnya.


“Kamu gak mungkin bisa lepas dan keluar dari sini hidup-hidup. Tahu, kan?” kata Aditya santai, berbicara seolah hal seperti itu wajar.


“Kayaknya aku harus pulang. Gak sempat jalan-jalan ke ruangan lain deh. Lain kali aja ya, kita kelilingnya. Mau temenin lagi, kan?” kata Aditya tersenyum lembut.


Shela mengangguk dan tersenyum. Melepas kepergian Aditya yang sekarang. Sangat jarang dia bisa berbincang dengan orang lain selain Arya dan para ART-nya. Bahkan Basuki yang keluar masuk kesini saja jarang menyapanya.


“Aditya,” kata Shela menghentikan langkah Aditya. “Kamu beda sama kedua kakakmu. Senang bisa ngobrol sama kamu.”


Aditya mengangguk dan tersenyum, kemudian pergi dengan cepat. Menghilang dari pandangan. Baru kali ini Shela merasa diperlakukan dengan baik oleh anak-anak Arya. Dia mengingat Adrian yang selalu berjengit jijik saat menatapnya. Juga Arki yang secara terang-terangan menghinanya saat pertama kali bertemu. Aditya berbeda, dia terlihat tidak masalah dengan statusnya sebagai simpanan Arya. Tetap memperlakukannya dengan lembut dan bersahabat.


Shela menyukainya.


...****************...

__ADS_1


“Mbak Gita, kayaknya kita harus hilangkan beberapa menu deh. Soalnya Bu Heni gak bisa masaknya, rasanya juga jadi gak terlalu enak kata temen-temenku,” ucap Risa saat mereka selesai menutup penjualan hari itu.


“Iya, Bu. Saya gak bisa kalau masak menu original dan kreasi Bu Gita. Terlalu ribet, saya gak paham.” Heni tidak terlalu jago memasak makanan asing. Merasa keberatan dengan menu andalan yang sering dipesan pelanggan.


“Ya udah. Hilangkan dulu aja beberapa menu yang Bu Heni gak bisa masak. Nanti kalau aku udah baikan nanti bisa dimasukin lagi.” Gita agak kecewa. Padahal saat ini adalah masa penting untuk menarik minat pelanggan dengan masakannya.


“Makanya cepet sembuh. Jangan muntah-muntah mulu!” canda Risa sambil tertawa.


“Itu bukan sakit, Neng Risa. Bawaan hamil, gak akan hilang cepet. Saya juga dulu gitu. Belum lagi ngidamnya, bikin suami pusing.”


“Awas ya kalau Mbak Gita sampe ngidam yang aneh-aneh! Aku gak mau loh nyari makanan kepinginan Mbak Gita kalau aneh. Sana cari suami biar manja-manja oas ngidam!”


“Dih! Rese lo! Siapa juga yang bakal ngidam?!” seru Gita mencubit lengan Risa dan masuk ke kamarnya.


Gita kembali bergulung di selimutnya seperti tadi pagi. Setelah mual dan muntah hebat dini hari. Kepalanya benar-benar pusing dan tubuhnya lemas tanpa tenaga. Apapun yang dimakannya membuat perutnya bergolak hebat. Apalagi saat dia mencium bumbu masakan.


Jadilah sekarang dia lebih banyak mengurung diri di kamar dengan perasaan tidak berguna dan merasa sia-sia. Padahal masih banyak yang harus dia kerjakan dan benahi untuk menarik pelanggan ke kedai yang baru saja berdiri itu.


Padahal dia sudah mempertaruhkan uang yang cukup besar dari kompensasi yang didapatkannya dari Arya untuk membangun usaha usaha tersebut. Gita sangat marah pada dirinya sendiri dan sekarang jadi kesal dengan kehamilannya. Meskipun kemarin dia berkata akan menjaga dan merawat bayinya dengan baik.


Gita menghela napas dan mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata. Menghilangkan perasaan kesal yang sempat dia rasakan tadi. Bayinya tidak bersalah, Gita tidak seharusnya membencinya. Bukankah dulu Gita sendiri yang mengatakan menginginkan kehamilan di depan Ela?


Mungkin kehamilan ini bukan dihadirkan untuk merekatkan kembali dirinya dengan Arki, seperti yang selama ini dia harapkan. Mungkin saja kehadiran makhluk kecil di rahimnya bertujuan untuk membuat Gita lebih kuat. Agar hidupnya lebih bermakna dan berguna, bukan hanya memikirkan tentang uang saja. Seperti yang selama ini dilakukannya.


“Adek, jangan bikin Mama mual dan muntah terus ya! Habis ini kita harus berjuang berdua biar kedai kita sukses dan kita punya kehidupan yang lebih baik. Cuma kita berdua aja dan Tante Risa, Oke?” kata Gita bermonolog dan memberikan pengertian pada bayinya yang bahkan belum berbentuk manusia.


Beberapa hari setelahnya Gita turun ke kedainya, merasa sangat sehat dan segar. Hingga dia bisa membantu persiapan membuka kedai dan juga memasak seperti biasa.


Gita bahkan tidak merasakan pusing ataupun mual seperti beberapa hari kebelakang. Apakah mungkin bayi dan tubuhnya mengerti dengan permintaannya kemarin? Entahlah. Gita hanya merasa senang saat melihat pelanggannya berkata merindukan masakan Gita karena dia absen beberapa saat.

__ADS_1


Sekarang Gita dilingkupi rasa syukur karena banyak orang yang menyukai masakannya dan kedai selalu ramah kian hari. Juga karena, bayi dalam perutnya, yng sepertinya sangat mengerti dirinya dan juga akan bersahabat dengannya.


__ADS_2