Istriku Penipu

Istriku Penipu
Reuni


__ADS_3

Tidak ada pembicaraan apapun lagi mengenai perceraian setelah kejadian di rumah Ela. Arki berusaha menghindar dari Gita. Entah apa yang didapatkannya dari menggantung hubungan yang sudah tidak berjalan dengan baik. Walaupun sejak awal hubungan mereka memang tidak diawali dengan baik.


Gita mengemas barang-barangnya ke dalam koper untuk perjalanan nanti. Sedikit liburan di Bali dan melarikan diri dari perasaan yang kian tumbuh tidak terkendali. Setidaknya Gita sekarang sudah tidak mencoba berharap apa-apa lagi kepada Arki, selain perpisahan yang adil bagi mereka.


Perasaannya dia redam dalam, ditumpuk dengan kamuflase kebencian. Padahal tetap saja, ada cinta bersembunyi di bawahnya. Dia ingin lepas diutarakan. Tapi jika melakukannya, Gita merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Mencoba meraih orang yang tidak punya perasaan apapun untuknya. Terlebih pada orang yang sudah memperlakukannya dengan hina.


Gita memasukkan beberapa obat darurat ke P3K, persiapan kecil jika dia terluka. Mengingat akhir-akhir ini rasanya dia banyak sekali terjatuh atau kecelakaan. Tangannya terhenti ketika melihat pot botol plastik berisi pil kontrasepsinya.


Gita tersenyum pahit, dia sudah tidak berusaha lagi meminum obat tersebut dengan teratur. Pun menyudahi usahanya berharap memiliki anak. Arki sudah tidak pernah menyentuhnya, bahkan memaksa pun tidak dia lakukan. Seperti terakhir kali ketika dia melampiaskan kemarahan dengan menjamahnya di atas meja makan.


Waktunya kini sudah habis dengan Arki. Lucu, dia dulu berharap mereka tidak sengaja melakukannya dan tumbuhlah benih yang bisa mempersatukan mereka. Ternyata Arki tidak berusaha lagi untuk menanamkannya. Lupa bahwa dia pernah sebutuh itu dengan Gita.


Pukul 6 pagi Gita sudah bersiap menuju bandara. Dia sudah mengeluarkan kopernya dari kamar dan akan memesan taksi online. Tapi Arki muncul kemudian membawa koper Gita.


“Aku antar kamu ke bandara,” katanya sambil menenteng koper Gita. “Gede banget kopernya. Kamu kan cuma tiga hari di Bali,” kata Arki heran.


“Emm... Nanti kan ada acara di pantai. Jadi aku harus bawa banyak baju ganti, takutnya bajunya basah pas renang.”


“Hati-hati pas renang di pantai!”


“Aku jago renang kok, gak akan tenggelam.”


Mereka mengendarai mobil menuju bandara dengan berdiam diri. Bungkam tanpa pembicaraan. Sibuk dengan pikiran dan dugaan yang berputar di kepala masing-masing. Saling menekan perasaan agar tidak muncul terlihat seperti kelemahan dan kekalahan.


Bahkan sebelum berpisah ketika Gita harus check in dan menunggu boarding, mereka tetap tidak mengatakan apapun selain basa-basi untuk berhati-hati.


Padahal Gita ingin memeluk Arki, mengucapkan salam perpisahan. Padahal Arki ingin memeluk Gita, menunjukkan ketidakrelaannya melepaskan pergi. Tapi percuma, dugaan tentang perasaan masing-masing menahan mereka. Mengira bahwa tidak ada cinta diantara keduanya, melainkan kebencian untuk saling menyakiti.


...****************...


Gita sampai di Bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul 11 siang. Tidak hanya sendiri, Gita berangkat bersama beberapa teman lainnya yang membawa pasangan juga anak mereka. Juan dan Fadhil menyambut kedatangan. Mereka sudah lebih dulu berada di Bali untuk mengurus semua keperluan reuni kelas.


Beberapa teman sekelasnya yang lain akan datang beberapa jam lagi karena menggunakan pesawat yang berbeda. Juan mengantarkan rombongan itu ke Jimbaran Bay Resort untuk beristirahat sejenak sebelum dilanjutkan makan malam bersama untuk mengakrabkan diri.

__ADS_1


“Nah ini kamar kamu, Git. Sebelahan sama aku. Sayang banget ya Mia gak jadi ikut. Padahal dia paling excited,” kata Juan mengantar Gita ke depan kamar hotelnya.


“Iya, dia masih mual-mual kena morning sickness. Maklum hamil muda,” balas Gita.


“Tapi suami kamu beneran gak mau diajak nih? Lumayan loh bisa sekalian honeymoon disini.”


Gita tersenyum dan menggeleng. “Arki sore ini mau ke Surabaya, ada urusan kantor. Jadi gak bisa ikut.”


Setelah mengobrol sejenak dengan Juan, Gita akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Beristirahat sejenak setelah perjalanan udara yang cukup melelahkan.


Gita melihat ponselnya, tidak ada pesan dari Arki menanyakan kabarnya. Padahal dulu dia tidak pernah absen menanyakannya. Dulu sekali. Arki memang tidak pernah lagi menghubunginya semenjak dia mengacuhkan Gita.


Kenapa dia terus berharap? Seharusnya setelah menetapkan hati untuk pergi dan berpisah, Gita tidak usah peduli pada hal seperti ini. Tapi melihat Arki mengantarnya ke Bandara tadi pagi, Gita selalu mulai beralasan lagi. Hingga berharap kemungkinan yang tidak akan terjadi.


Selama dua hari berada di Bali, Gita menikmati waktu liburannya bersama teman sekelas ketika SMA. Mereka mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal seperti Pura Tanah Lot, Taman Garuda Wisnu Kencana, dan Rock Bar. Belum lagi mereka selalu makan malam di pantai Jimbaran dan melihat panorama yang indah mengiringi waktu makan. Benar-benar salah satu pengalaman berlibur yang tidak bisa Gita lupakan.


Semua kegiatannya selama dua hari ini sedikitnya bisa melupakan sejenak masalah dan perasaannya pada Arki. Meskipun ketika dia sendiri di hotel saat malam hari, Gita tidak berhenti melihat ponselnya. Berharap Arki menghubungi.


Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Gita segera bangkit dari ranjang untuk melihat siapa yang berkunjung. Ternyata Juan sudah berdiri disana. Memasang wajah dan senyum cerah ceria. Gita harus berterima kasih pada Juan untuk beberapa hari menyenangkan di Bali. Acaranya sukses menghibur semua, termasuk juga Gita.


“Ke pantai yuk! Ini malam terakhir di Bali loh. Sayang kalau gak jalan-jalan di pantai pas malam hari, mana bulannya lagi bagus lagi,” ajak Juan.


Gita ragu sejenak. Setelah membereskan barangnya ke koper, dia hanya berbaring sendu memikirkan Arki. Mungkin memang lebih baik dia keluar jalan-jalan bersama Juan. Gita akhirnya menyambut baik ajakan Juan untuk berjalan-jalan di pantai, yang jaraknya tak jauh dari resort.


Pantai tersebut lumayan lengang, beberapa orang berjalan dan duduk-duduk sambil mengobrol di hamparan pasir. Beberapa lainnya berkumpul di kedai yang menjual makanan dan minuman ringan di tak jauh dari sana.


Setelah cukup berjalan menyusuri batas pantai dan mengobrol ringan, mereka akhirnya duduk. Memandangi ombak bergulung, cahaya bulan menyinari riak air, terlihat keperakan diantara hitam jelaga menakutkan dari air laut saat malam hari.


“Git, tau gak akhir-akhir ini aku ngerasa kamu makin terlihat murung dan tambah kurus. Tiap kali aku lihat kamu berkunjung ke warung makannya Mia, rasanya kamu makin beda. Kelihatan sedih terus. Kamu ada masalah ya sama suami?” tanya Juan tiba-tiba.


“Nggak kok. Aku gak apa-apa sama Arki,” kata Gita mencoba menutupi masalah.


Gita tidak menyangka semua beban pikirannya ternyata kentara terlihat pada penampilannya. Tidak ada yang bisa membantunya juga untuk urusan ini.

__ADS_1


Juan menghela napas. “Aku sampai sekarang masih heran, kok kamu bisa sampai nikah sama Arkian sih? Aku gak menyangka aja.”


Gita menatap bingung pada Juan. “Aku sama Arki teman sekantor dulu. Emang kenapa kamu heran? Karena dia kaya dan aku miskin makanya sampai heran begitu? Kamu kayaknya tahu soal Arki?”


Juan tersenyum sekilas, kemudian menyerahkan salah satu botol minuman kemasan yang dibelinya tadi di kedai yang tak jauh dari sana. Dia meneguk botol lain. Gita mengikutinya, meminum minuman kemasan yang diberikan oleh Juan.


“Aku tahu Arkian, dari seseorang,” kata Juan menghela napas berat. “Dia bukan orang baik, Git. Keluarganya konglomerat, bisa berbuat apa saja sama orang lain yang dianggapnya mengganggu. Masukin orang ke penjara, merusak karir, menganiaya, memanipulasi, bahkan membunuh orang.” Juan melihat Gita dengan pandangan yang kelam.


“Aku tahu keluarga Arki memang kaya dan mungkin aja bisa berbuat kayak gitu. Tapi aku gak yakin orang seperti Arki bisa tega bunuh orang,” bela Gita.


Meskipun dalam hatinya dia juga meragukan diri sendiri. Arki pernah menghajar pengawal ayahnya hingga tidak sadarkan diri dan babak belur. Namun, apa alasannya dia melakukan itu? Memasukan seseorang ke penjara sangat masuk akal, dia juga mengancamnya dengan hal itu. Membelenggu Gita hingga sekarang.


“Kamu saking cintanya sama dia jadi gak tahu aslinya kayak gimana, atau mungkin juga dia menyembunyikan tabiat aslinya dari kamu. Orang jahat yang bersembunyi.”


“Kamu jangan menuduh orang sembarangan tanpa bukti. Apalagi menuduh Arki,” ucap Gita geram. Entah kenapa Juan tiba-tiba berkata seperti ini padanya. Seolah dia tahu siapa Arki sebenarnya.


Gita tidak tahu. Tidak pernah tahu bagaimana Arki. Tapi dia yakin semua hal kejam yang dia lakukan tidak akan sampai menghilangkan nyawa seseorang. Dia tidak sebengis ayahnya. Sekali saja Gita bertemu dengan Arya, dia tahu laki-laki itu akan bisa menggenggam hidup Gita dan menghancurkannya.


“Kamu sendiri gak yakin sama dia, kan? Kamu sendiri menderita hidup sama dia kan, Git? Makanya kamu kelihatan gak bahagia dan tertekan. Pasti dia berbuat jahat sama kamu.”


“Udah aku bilang jangan ngomong sembarangan soal Arki! Kamu gak tahu apa-apa! Kok tiba-tiba kamu kayak gini sih, Juan?”


“Aku kasih kamu kesempatan sekarang buat jauhin orang kayak Arki. Tapi kalau kamu menolak dan tetap mau sama dia, berarti kamu memang membela perbuatannya yang kejam pada orang lain. Menutupi kalau dia pembunuh dan orang jahat.”


“Aku gak ngerti maksud kamu apa. Aku mau balik ke hotel.”


Gita bangkit dan berdiri. Namun seketika terhuyung jatuh. Tiba-tiba saja pandangannya mengabur dan pusing. Dia merasakan tubuhnya melemas seiring suara ombak yang tiba-tiba menjauh. Kesadaran meninggalkannya seketika.


“Arkian sudah menghancurkan hidup kakakku dan membunuhnya,” ucap Juan seperti bisikan ditelinga Gita. Kemudian pandangannya seketika gelap gulita.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maafin ya pendek banget. Aku lagi ga enak badan. Pulang kerja sakit kepala. Semoga nanti bisa bikin bab lebih panjang 😣

__ADS_1


__ADS_2