
“Nih,” kata Aditya menyerahkan sebuah flash disk ke meja Arki.
Kemudian dia duduk santai di sofa ruang kerja Arki. Dia mengeluarkan ponsel dan bermain game, tanpa peduli pekerjaannya akan menumpuk. Padahal tugasnya adalah menjadi asisten Arki. Namun, Aditya sama sekali tidak menjalankan fungsinya di kantor. Jika Arki tidak meledak karena pekerjaannya yang semakin menumpuk, Aditya tetap santa-santai saja tanpa peduli.
“Apaan?” tanya Arki bingung.
“Aku lihat sesuatu yang menarik pas ngehapus rekaman CCTV kemarin. Aneh Basuki masih nyimpen yang kayak gitu. Harusnya sih dibuang aja biar gak jadi barang bukti. T o l o l,” ejek Aditya.
Arki segera menyambungkan flash disk tersebut ke komputernya. Beberapa video tersimpan di sana. Satu per satu Arki buka karena penasaran. Semuanya menampilkan rekaman tentang Gita yang memasuki kediaman Wibisana. Pada footage video adalah tanggal yang sama dimana Gita menghilang dari Bali.
Pada hari itu Arki mengamuk dan meminta pengawal ayahnya untuk memutar rekaman CCTV dari malam hari hingga saat dia tiba disana, untuk mencari bukti bahwa Gita datang menemui Arya. Tapi nihil. Ternyata hal itu memang sudah direkayasa oleh mereka.
Arki tidak terkejut. Hanya saja kekesalan memuncak ke kepalanya. Hingga hari ini dia masih bisa merasakan bagaimana panik dan ketakutannya kala itu, mendapati Gita tiba-tiba menghilang dari sisinya. Istrinya itu tidak bisa ditemukan dimana-mana bahkan setelah kembali ke Jakarta.
Saat itu Arki meyakini, dalang dibalik kepergian Gita adalah Arya. Namun, tidak ada bukti untuk menuduhnya. Dia rapi menyembunyikan ini. Seperti sebuah rencana yang disusunnya sejak lama.
“Aku harap kamu gak kebanyakan main-main dan bisa mengeksekusi rencana kita lebih cepat,” ucap Arki menjadi semakin tidak sabar menunggu Aditya bergerak.
“Tenang. Tenang. Buru-buru amat sih? Padahal baru aja lihat ayang kemarin?” candanya.
“Orang jomblo dan playboy kayak kamu gak akan ngerti.”
“Gak ngaca kamu kayak gimana?”
“Seenggaknya aku gak ngajak tidur cewek yang baru aku temui.”
“Iya, deh iya. Si paling alim dan baik.”
Perdebatan mereka terhenti ketika Adrian masuk ke ruangan. Dia langsung menyerahkan sebuah dokumen ke meja Arki. Sekilas menatap Aditya yang sedang asyik memainkan game dari ponselnya. Membatin melihat kelakuannya tetap tidak berubah. Pemalas dan tidak serius bekerja. Meskipun posisinya sekarang sebagai asisten pribadi Arki yang hanya sebuah kamuflase, setidaknya Aditya harus berusaha tampil berguna di kantor walaupun hanya sedikit.
“Semua pembagain yang sudah kita sepakati sudah ada di surat waris tersebut. Pembagian yang adil untuk kita semua. Lawyer-ku mengatakan tidak ada masalah apapun lagi untuk dokumennya, selain mendapatkan tanda tangan Arya,” kata Adrian menjelaskan.
“Berarti semua rencana udah settle, kan?” kata Arki menatap kedua adiknya, yang mereka jawab dengan anggukan.
Arki mengeluarkan ponselnya. Menghela napas sejenak, sebenarnya sangat enggan melakukan hal ini. Tapi dia harus tetap berpura-pura hingga masalah mereka dengan Arya segera terselesaikan.
“Halo, Amanda. Aku mau ngajak kamu dan ayahmu untuk dinner Sabtu ini di tempat biasa. bisa dijadwalin, kan?” ucap Arki disambungan telepon.
__ADS_1
...****************...
Gita memandang dirinya di cermin besar di kamarnya. Merasa aneh dengan dirinya sendiri karena perubahan berat badan yang kentara. Memasuki usia 3 bulan kehamilannya, dia lebih banyak makan daripada biasanya. Meskipun nyaris tanpa mual dan muntah hebat lagi yang dialaminya. Hanya sesekali saja, itu pun terjadi dengan cepat dan selesai tanpa masalah. Bayinya sepertinya sangat mengerti kondisinya.
Sekali lagi dia melihat dirinya sendiri. Mengelus perutnya yang belum terlalu menonjol. Orang mungkin hanya mengira perutnya membengkak karena berat badannya juga bertambah. Tidak kentara terlihat bahwa dia sedang hamil.
Dua minggu sekali, Gita biasanya dijadwalkan untuk memeriksakan diri ke dokter. Setiap datang ke klinik tempatnya diperiksa. Saat menunggu antrian, selalu terbersit perasaan iri dan sedih yang muncul tiba-tiba. Melihat para ibu hamil datang memeriksakan diri ditemani oleh suaminya, ibunya, bahkan mertuanya. Gita ingin merasakannya juga.
Pikiran itu kemudian dia hancurkan begitu saja, dengan mengatakan di dalam hati bahwa Arki tidak akan melakukannya. Gita juga terus mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa Arki sekarang sudah bahagia dengan perempuan lain dan Arya pasti bangga dengan pilihan anaknya itu. Gita membencinya. Harus membencinya. Laki-laki itu sudah melakukan tindakan diluar batas dengan tidur bersama perempuan lain saat masih terikat status dengannya.
“Mbak Git, nih rujaknya. Ekstra jambu air dan mangga muda,” kata Risa menyerahkan sekantong rujak pesanan Gita.
“Thank you,” balas Gita mengambil bungkusan tersebut dan berjalan menuju dapur.
“Tukang rujaknya kecewa banget pas tahu Mbak Gita janda dan lagi hamil. Kirain masih gadis. Gak jadi deh dia PDKT.”
“Dih apaan sih?!” ucap Gita risih mendengarnya.
“Udah aku bilang, Mbak Gita tuh banyak yang ngincer. Tukang rujak, mas konter HP, koko yang jualan akuarium di sebrang, sama mas pegawai yang suka pesen nasgor sebenernya suka nanyain Mbak Gita. Kecewa parah pas tahu Mbak Gita ternyata pernah punya suami.”
Sebenarnya memang di beberapa kesempatan, ada laki-laki yang sering menggodanya, dan berusaha mendekatinya. Tapi Gita masih ragu untuk membuka hati. Setelah tahu Gita sudah tidak bersuami dan hamil, mereka melarikan diri begitu saja dan kecewa.
Bukan salahnya juga, malah sepertinya Gita beruntung karena mereka hanya mengincarnya sebab dia terlihat masih perawan. Mereka akan berubah sikap setelah menjalin hubungan dengan Gita dan tahu masa lalunya yang sudah bersuami.
Meskipun terkadang Gita memiliki keinginan untuk memiliki suami lagi. Tapi dengan keadaannya yang hamil dan akan punya anak dari suami sebelumnya, membuat Gita ragu. Selain karena ketakutan laki-laki itu tidak menyayangi dan menerima anaknya. Gita juga takut, mengalami hal yang sama seperti saat masih kecil. Diperlakukan berbeda dengan Risa oleh ibu tirinya.
“Lagian kenapa Mbak Gita gak dari dulu glowing semriwing jadi cakep kayak gininya sih? Kalau dari dulu, Mbak Gita bisa incer anak tukang toko bangunan yang mirip Morgan Smash. Bakal hidup kaya deh kita, tanpa harus nipu keluarga kaya raya macem mantan suami Mbak Gita.”
Gita melotot pada Risa. “Salah siapa? Ini kan salah lo! Duit gaji abis buat bayar utang dan foya-foya lo. Mana sempat skincare-an dan perbaiki gizi. Makanya dulu dekil dan cungkring kayak bocah gizi buruk,” sambar Gita kesel.
“Ya maaf … hehe,” kata Risa malu. Dulu dia memang kekanakan dan jahat pada Gita.
Mungkin karena lingkungan pertemanannya juga yang mendorongnya menjadi sangat konsumtif dan senang mengikuti tren bermewah-mewah. Padahal ekonomi mereka dibawah rata-rata. Untunglah, Risa banyak belajar kepahitan hidup setelah berada di penjara selama beberapa bulan. Dia hanya ingin hidup lurus dan seadanya saja, tanpa menghalalkan berbagai cara jahat.
“Kok sekarang rasa rujaknya kurang mantep ya? Jangan-jangan si tukang rujaknya jadi sensi deh, gara-gara aku hamil.”
“Dih, pede amat!”
__ADS_1
“Kayaknya enaknya sih bukan rujak kayak gini. Tapi rujak cingur. Hmm… kayaknya enak nih makan rujak cingur,” kata Gita memberi kode pada Risa.
“Gak usah ngadi-ngadi ya! Aku ogah kalau harus nyari rujak cingur. Please lah, ngidamnya yang normal-normal aja.”
“Tapi semua ngidamku normal kok, kecuali ngidam dipeluk Song Joong Ki.”
“Gak waras!” pungkas Risa meninggalkan Gita sendirian di dapur, yang sekarang tergelak karena melihat reaksi adiknya.
...****************...
Seorang laki-laki masuk dan menyerahkan sebuah map kepada Basuki. Dia menunggu sambil berdiri atasannya yang sedang makan malam di apartemannya, karena hari ini Arya mengizinkannya istirahat. Bosnya itu pergi bersama Arki untuk menghadiri acara makan malam dengan Ginanjar.
Basuki menelaah sebentar dokumen dan foto-foto yang diserahkan padanya, matanya terus bergerak, dan terlihat kaget. Dia menatap si laki-laki jangkung yang masih berdiri dan siap diperintah kapan saja.
“Kapan kejadian ini?” kata Basuki terlihat sangat terkejut.
“Sekitar seminggu yang lalu. Mereka berhasil mengelabui para pengintai. Tapi untung saja kita menempatkan anak buah lain yang sepertinya tidak mereka sadari.”
Basuki menggertakan giginya dengan gugup. “Jadi Arkian sudah tahu tentang istrinya yang belum meninggal dan anak-anak Pak Arya selama ini bekerja sama dan saling menutupi? Sebenarnya apa tujuan mereka?” gumamnya.
“Saya juga mendapatkan informasi lain. Menurut pengintai kami, istri Pak Arkian sekarang sedang hamil. Kemungkinan dia mengandung anak Pak Arkian, karena tidak ada laki-laki lain yang dekat dengannya selama pengamatan kami.”
Basuki kian terkejut. Matanya membulat sempurna. Dia bangkit dari tempatnya kemudian berjalan menuju pintu keluar apartemennya. Diikuti oleh si jangkung yang berada di belakangnya.
“Pak Arya masih makan malam dengan Arkian? Kita harus menemuinya sekarang.”
“Iya. Beliau masih belum kembali. Namun setahu saya, di rumah Pak Arya ada Pak Aditya yang datang sore tadi.”
“Aditya? Kenapa dia disana?”
“Melaporkan report perusahaan pada Pak Arya.”
“Tidak ada report yang harus dia laporkan minggu ini. Semuanya sudah dibereskan sebelum acara makan malam bersama Pak Ginanjar,” kata Basuki bingung. Menangkap adanya rencana licik dari Arki dan Aditya. “Sekarang kita ke rumah Pak Arya dulu. Hubungi orang-orang yang berjaga di sana untuk mengawasi Aditya,” lanjut Basuki memerintah.
“Maaf, Pak. Semua orang yang berada disana tidak bisa dihubungi. Tidak ada yang mengangkat,” kata si jangkung setelah beberapa kali menghubungi rekannya di kediaman Wibisana.
Basuki menghela napas dan masuk ke dalam mobil. Dia segera menuju ke kediaman Wibisana. Tangannya sibuk menelepon Arya. Namun, bosnya itu tidak mengangkatnya. Sibuk dengan acara makan malam dengan anak dan calon menantunya.
__ADS_1