Istriku Penipu

Istriku Penipu
Selamat


__ADS_3

“Jadi kamu gak tidur sekamar dengan ayah?” Aditya saat masuk ke kamar pribadi Shela.


Ruangan kamar yang besar dan mewah. Berisi ranjang king size dengan seprai berwarna pink, meja rias yang dipenuhi oleh make up, televisi terpasang di dinding, dan sebuah sofa nyaman dengan bantal-bantal beludru.


Sebuah lorong berada diujung kanan tempat Shela menyimpan berbagai koleksi baju, tas, baju, dan sepatu. Kamar mandi mewah juga berada di pojok ruangan. Semua ini hanya bisa didapatkan jika menjadi peliharaan Arya.


Shela menggeleng. “Mas Arya datang kesini hanya untuk....” Shela menahan dirinya untuk berbicara. Terlalu canggung berbicara di depan Aditya tentang aktivitas bersama Arya.


“It’s okay. Aku ngerti kok. Lagipula kamu memang istrinya ayah,” kata Arya tampak tidak keberatan.


“Aku sudah dengar banyak tentang kamu.”


“Soal aku yang mana?” Aditya duduk di pinggiran ranjang menatap santai pada Shela yang hanya berdiri di tengah ruangan.


“Kamu mengencani setiap perempuan yang kamu temui. Aku juga cuma salah satu perempuan sambil lewat yang bisa kamu nikmati, kan?” tanya Shela sedih.


Entah sejak kapan Shela begitu menginginkan Aditya. Pembicaraan ringan mereka dalam waktu singkat membuatnya merasa nyaman dan memiliki teman. Hal yang dibutuhkannya saat ini. Apalagi setelah mereka bertaut dalam hubungan yang panas beberapa minggu lalu. Shela semakin sulit mengendalikan perasaannya.


Dia tahu bahwa Aditya hanya menikmatinya saja. Dia pasti tidak ingin berkomitmen apapun dengannya. Terlebih Shela adalah ibu tirinya. Hubungan mereka terlarang dan sangat berbahaya.


“Kamu mulai berharap sama aku, kan?” Aditya tersenyum. “Hal yang kamu dengar itu benar kok. Aku banyak berkencan dan tidur sama cewek yang aku anggap menarik. Persis seperti kelakuan ayahku. Mungkin kamu juga salah satunya. Tapi kamu terlalu berkesan buatku, sampai aku membahayakan diriku sendiri dengan datang kesini lagi. Ketemu kamu.”


“Maksudnya apa? Yang kemarin itu kesalahan, Dit.” Shela mencoba menahan diri, terlalu takut jatuh pada pesona Aditya. Rasanya ingin mengutuk dirinya sendiri karena dengan cepat jatuh hati dengan Aditya.


“Aku tahu. Tapi kesalahan kita bisa menjadi jalan keluar buatmu pergi dari sini, kan?”


“Aku gak mau melawan Mas Arya. Apalagi dengan cara kayak gini. Kamu tahu ayahmu sangat berkuasa,” tolak Shela.


Aditya bangkit dan mendekati Shela. Menangkupkan kedua tangannya di pipi perempuan cantik tersebut. Pandangannya dalam dan meyakinkan. Aditya tahu bahwa dia mempesona dan sangat mudah mendapatkan perhatian perempuan manapun. Shela juga sudah pasti jatuh ke tangannya.


“Ikuti rencanaku, Oke? Jangan takut. Aku disini buat bantu kamu agar bisa keluar dari cengkraman Arya. Kamu juga harus bantu aku.”


“Setelah aku bantu kamu, terus apa? Setelah aku keluar dari sini dan lepas dari Arya, aku harus apa? Aku gak bisa, Dit. Aku gak punya tujuan.”


“Kamu masih muda. Jangan habiskan waktu kamu hanya untuk memenuhi hasrat laki-laki tua yang bahkan gak akan ngasih kamu apa-apa setelah dia mati. Setelah kamu keluar, aku bakal bantu kamu jadi aktris seperti yang kamu impikan.”


Shela menggeleng. Dia takut. Mungkin hatinya memang sangat gusar dengan statusnya sekarang. Dia malu dan mulai merasa sangat jijik disentuh oleh Arya setelah bertemu dengan Aditya. Tapi untuk keluar dari sini dan memulai kembali dari nol. Hidupnya pasti sangatlah kacau.


“Kamu gak percaya sama aku?” Aditya menatap Shela lekat. Tidak ada keraguan dimata laki-laki itu. “Shela!” seru Aditya tegas.


“Aku takut, Dit.” Shela mulai terisak.


Hatinya bimbang. Benarkah dia harus menyerahkan hidupnya sekali lagi pada laki-laki keluarga Wibisana? Baik Arya maupun Aditya melakukannya bukan karena cinta. Tapi karena menginginkan tubuhnya.


Aditya dengan cepat mendaratkan ciuman di bibir Shela. Lembut, hangat, dan menenangkan seperti yang selama ini Shela butuhkan. Sentuhan yang meyakinkannya bahwa diluar sana, tanpa Arya, hidupnya akan tetap baik-baik saja.


Ciuman itu berlanjut pada hal-hal lain yang lebih menantang. Aditya menuntun tubuh Shela ke ranjang, dengan cepat mereka kini sudah saling bertaut mesra tanpa busana. Bergerak dengan ritme yang memabukkan. Hingga kemudian mereka saling berpelukan, mencapai kepuasan.


Suara dering telepon terdengar dari ponsel Aditya yang terlempar di sisi lain ranjang. Aditya melepaskan dirinya dari pelukan Shela dan mengambil ponsel tersebut.


“Pak Aditya, sekarang Basuki sudah tiba di rumah Arya,” kata suara di seberang telepon.


Aditya mengalihkan pandangannya pada Shela yang masih berbaring dan kelelahan. Dia kemudian mengenakan pakaiannya dan naik kembali ke ranjang.


“Sekarang kamu percaya sama aku, kan?” bisik Aditya yang dibalas anggukan oleh Shela. “Aku butuh bantuan kamu. Mungkin ini bakal agak menyakitkan, sedikit. Basuki tahu soal ini dan sedang kemari,” lanjut Aditya.

__ADS_1


Shela kaget mendengar nama Basuki. Sudah jelas dia akan tamat ditangan asisten pribadi Arya yang tidak pernah ramah padanya itu.


Aditya mencengkram lengan Shela kencang hingga membiru. Dia juga menggigit dan meninggalkan bekas-bekas serta tanda kekerasan ditubuh Shela. Awalnya Shela kaget hingga menjerit kesakitan. Namun, Aditya selalu meminta maaf dan mengecupnya setiap kali meninggalkan tanda ditubuhnya.


Suara pintu terbuka berdebum memekakan. Berdiri Basuki dengan wajah merah padam, menahan kemarahan. Saat dia melihat Aditya sedang berada di ranjang bersama dengan istri bosnya.


“MAS ADITYA!” bentak Basuki.


Aditya bangkit dari ranjang. Tenang dan santai. Menghampiri Basuki yang sudah tidak dapat menyembunyikan kekesalan.


“Anda tahu apa yang sedang Anda perbuat? Saya akan laporkan—“


Dengan cepat Aditya mendaratkan pukulan ke wajah Basuki. Tubuh laki-laki itu terhuyung jatuh ke belakang. Sekuat tenaga Aditya menyeretnya masuk ke dalam kamar. Dia menghajarnya lagi berulang kali. Aditya tahu, Basuki tidak jago bela diri. Dia hanya bersembunyi dibalik puluhan pengawal yang akan melindunginya.


Aditya terus memukul Basuki hingga babak belur. Kemudian dia melucuti sebagian pakaiannya. Basuki mencoba bangkit ketika Aditya sudah berhenti melepaskan cengkeramannya. Merasa ketakutan dengan perbuatan Aditya.


“Tolong berhenti, Mas Adi—“ pinta Basuki. Kemudian terpotong oleh suara dari ambang pintu.


“BASUKI!!” seru Arya dipenuhi amarah “Begini kelakuanmu kalau aku gak ada? Berani menyentuh mainanku sembarangan?” serangnya.


“Saya—“


“Aku gak suka melakukan kekerasan. Tapi melihat kamu melecehkan perempuan. Apalagi istri bos kamu sendiri membuatku hilang kendali,” kata Aditya mulai bermain peran.


“Bohong! Ini bohong, Pak Arya! Aditya yang melakukan perbuatan tidak senonoh dengan istri Anda!” teriak Basuki membela diri. Tidak habis pikir dengan kejadian ini.


Shela turun dari tempat tidur dengan selimut tipis yang membungkusnya. Menangis dan berlari memeluk Arya. Dia paham apa yang sedang coba Aditya lakukan. Mungkin ini adalah rencana yang dimaksud olehnya.


“Basuki memaksaku melayaninya. Selama ini dia diam-diam tertarik melihatku. Dia mengambil kesempatan saat Mas Arya gak ada. Dia juga menyakitiku,” ucap Shela memperlihatkan bekas luka dan memar yang sengaja dibuat oleh Aditya.


Laki-laki itu merangsek mendekati asisten pribadinya selama puluhan tahun dan mencengkram leher kemeja Basuki yang sudah terbuka.


“Kamu berani berbuat seperti ini sama bosmu sendiri? Padahal aku sangat percaya kamu! Kenapa dengan bodohnya kamu melakukan hal seperti ini? Bukannya kamu tahu aku gak suka ada yang menyentuh mainanku!” ucap Arya geram.


“Saya gak kayak gitu, Pak! Aditya dan Shela memfitnah saya. Silakan Pak Arya cek sendiri kalau saya baru saja masuk ke rumah beberapa saat lalu dan melihat kedua orang berbuat hal tidak senonoh!” Basuki mencoba menjelaskan lagi.


“Aku kesini buat ketemu ayah. Saat datang dan menunggu di ruang tamu, aku dengar Shela berteriak. Ternyata Basuki sudah menodainya dan memaksa terus untuk melayaninya,” serang Aditya.


“Jangan sembarangan! Aku tidak mungkin menyentuh perempuan Pak Arya!”


“Kamu selalu memandang genit ke arahku. Bahkan saat aku dan Mas Arya melakukan hubungan di depanmu, kamu selalu tampak tergoda, kan? Aku gak menyangka kamu serendah ini,” tambah Shela.


“Pak Arya bisa cek CCTV. Aditya datang sejak sore. Dia sudah melakukan perbuatan hina sebelum saya datang!” di


“Aku akan cek dengan orang yang mengawasi CCTV,” ucap Arki yang sejak tadi hanya mematung dan menatap drama tersebut dari ambang pintu.


Setelah hampir 10 menit, Arki datang membawa dua orang ke kamar Shela. Laki-laki bertubuh gemuk menyerahkan tab pada Arya. Sedangkan disebelahnya adalah laki-laki jangkung yang datang bersama Basuki dari apartemennya.


“Pak Basuki disini sejak sore. Dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar Bu Shela,” ucap si gemuk.


“Bohong! Kamu berani-beraninya berbohong. Coba tanyakan pada pengawal yang lain!”


“Tidak ada pengawal yang lain saat Pak Basuki kesini. Bukannya Pak Basuki yang menyuruh semuanya untuk makan-makan di rumah belakang bersama para ART dan mengirim banyak makanan pada mereka?” tambah si gemuk.


“Pak Basuki memang sudah disini sejak sore. Saya yang mengantarnya sendiri dari apartemennya,” ucap si jangkung berbohong.

__ADS_1


Arya memperhatikan gawai yang diserahkan padanya. Wajahnya semakin marah karena perkataan yang diucapkan oleh si gemuk ternyata benar. Basuki sudah berada di rumahnya sejak sore dan langsung memasuki kamar Shela. Video tersebut jelas potongan dan sudah dimanipulasi oleh orang-orang suruhan Adrian.


“Ambil dia kalau kamu suka. Mulai hari ini kamu dipecat!” kata Arya kemudian meninggalkan kamar. Tanpa peduli lagi pada Basuki dan Shela.


“Pak! Pak Arya! Tolong dengarkan penjelasan saya dulu! Saya dijebak. Saya kesini untuk memberitahu—“


Aditya langsung membekap mulut Basuki. “Diam atau nyawa kamu yang hilang. Sekarang pergi dari sini sebelum kita habisin kamu atau Arya yang melakukannya sendiri. Kamu tahu kan dia paling tidak suka ada yang menyentuh perempuannya?”


Basuki menghempaskan tangan Aditya. Kemarahan jelas tergambar di wajahnya. Sakit hati atas tuduhan yang telah meruntuhkan karirnya.


“Kalian semua bekerja sama untuk menjatuhkanku, kan? Kalian akan tahu sendiri akibatnya!” ancam Basuki.


Dia merapikan bajunya. Pergi dari kediaman Wibisana begitu saja. Dia tahu, saat ini Arya pasti tidak ingin berkata apapun padanya. Dia akan mencari cara untuk membuktikan bahwa semua ini adalah akal-akalan ketiga anak Arya saja. Lagipula, Basuki lah yang paling mengenal Arya, lebih lama dibandingkan anak-anaknya.


“Akting kamu jelek banget. Kayak lagi nonton sinetron murahan,” komentar Arki saat semua orang sudah meninggalkan kamar. Hanya tersisa Shela dan Aditya disana.


“Bacot! Yang penting kan bisa menyingkirkan Basuki. Meskipun aku yakin, setelah ini Arya akan menghubunginya lagi. Dia gak akan bisa hidup tanpa Basuki,” balas Aditya.


“Kalian sudah merencanakan ini dari lama, kan? Kalian memanfaatkan aku untuk ini aja, kan?” ujar Shela. Baru mengerti situasinya. Shela pikir aksi Aditya hanya untuk menutupi perbuatan mereka. Tapi ternyata Shela digunakan untuk memuluskan rencana Aditya dan saudaranya.


“Makasih buat bantuannya. Aku—“


“Kamu gak berbohong soal janji kamu sebelumnya, Dit? Aku gak punya tempat tinggal setelah ini,” ucap Shela sedih dan panik.


“Aku gak ikut-ikutan urusan ini. Tanggung jawab lo, Dit!” kata Arki angkat tangan dan pergi dari kamar, meninggalkan Shela dan Aditya berdua.


“Adit—“


“Kemasi barang-barang kamu. Kita pergi sekarang. Kamu nanti tinggal di apartemenku,” kata Aditya kemudian menyusul Arki keluar kamar.


Aditya bergabung dengan Arki duduk di ruang tengah. Suasana hening karena Arya sudah masuk ke kamarnya. Mengurung diri karena kejadian tadi. Dia pasti langsung menghubungi Adrian, sebagai orang kepercayaannya yang lain. Adrian sudah seperti halnya Basuki bagi Arya.


“Kalau dipikir-pikir, kenapa dia segitunya sih cuma sama cewek doang? Sampai langsung pecat Basuki gitu aja. Padahal dia tinggal kawin lagi seperti kebiasaannya,” kata Arki tidak terlalu paham kenapa ayahnya bisa seposesif itu pada Shela. Padahal dia terkenal senang bergonta-ganti pasangan.


“Ngaca, Anjingg! Kamu juga gitu. Ngapain masih galauin istri yang pergi dari rumah,” kata Aditya. “Arya sama posesifnya kayak kamu. Meskipun ceweknya banyak. Cuma sedikit yang dia anggap menarik dan dijadikan istri. Dia paling gak doyan ada yang sentuh kepunyaannya.”


“Gita gak pergi dari rumah. Dia diancam sama Arya,” kata Arki yakin.


“Aku tempatin orang buat mengawasi sekaligus berinteraksi sama istrimu. Kabar yang beredar disana, istrimu janda. Dia pisah sama suaminya karena suaminya melakukan kekerasan dan berselingkuh,” balas Aditya santai.


“Maksudnya? Gita mengira aku selingkuh? Aku sama sekali gak pernah selingkuh.” kata Arki kaget.


Dia sudah tidak aneh dengan tuduhan kekerasan yang Gita tuduhkan. Arki sudah tahu itu sejak laporan gugatan cerainya bocor dari Nathan. Tapi berselingkuh? Arki sama sekali tidak memikirkan apapun tentang itu.


Apakah mungkin Arya yang memberitahu Gita tentang Amanda? Meskipun dulu mereka dekat, jelas hal tersebut bukan perselingkuhan. Arki sama sekali tidak memiliki perasaan pada Amanda. Pasti ini lah yang membuat Gita mendesaknya untuk bercerai dan yakin untuk pergi.


“Ya mana aku tahu. Mungkin dia mengira kamu selingkuh sama Amanda kali. Oh ya. Selamat, by the way,” tambah Aditya.


“Selamat buat apa?”


“Istri kamu lagi hamil, kan? Istri lagi hamil, tapi kamu melakukan kekerasan dan dia dapat kabar ternyata kamu selingkuh. Wah kacau banget rumah tanggamu. Untung aku gak berminat menikah,” komentar Aditya.


“Gita ... Hamil?” kata Arki bingung.


Sejak kapan? Bukankah dia selalu meminum pil kontrasepsinya? Apakah saat mereka terakhir berhubungan, Gita melupakannya?

__ADS_1


__ADS_2