Istriku Penipu

Istriku Penipu
Tidak Tahan + (Visual Arki)


__ADS_3

Sepanjang hari itu, Arki tidak berhenti membombardir Gita dengan pesan dan panggilan. Dia terus menanyakan siapa suara laki-laki yang didengarnya tadi, kenapa Gita tiba-tiba menutup panggilan, kenapa Gita tidak mau mengangkat panggilannya.


Gita tidak paham kenapa Arki berbuat seperti ini. Padahal Gita sudah menjelaskan bahwa laki-laki itu hanyalah atasannya saja. Apakah Arki sedang membuatnya merasa tidak betah bekerja? Apakah dia sedang mencoba menghalanginya bekerja kembali?


Ketika menyadari itu, Gita merasa sangat tertipu dengan semua kesan baik yang Arki tampilkan selama ini. Ternyata dia memang sangat suka mengatur, hingga ke level mengganggu seperti sekarang.


Gita mematikan ponselnya karena tidak tahan dengan semua pesan yang Arki kirim. Gila! Memangnya dia tidak bekerja? Bukankah pekerjaannya itu sangat banyak? Kenapa dia sempat-sempatnya mengirimkan pesan beruntun yang menakutkan itu?


Selain masalahnya dengan Arki yang membuat suasana hatinya tidak karuan, semua hal berjalan dengan lancar. Hari pertamanya bekerja cukup menyenangkan. Semua orang di timnya sangat informatif dan membantunya bekerja, terutama Tama. Dia beruntung memiliki atasan langsung seperti Tama.


Gita sudah berjalan turun menuju lobby, saat Tama menyusulnya masuk ke dalam lift yang sudah dipenuhi orang dari lantai lain. Mereka baru sempat mengobrol ketika sudah berada di lantai 1 dan berjalan ke lobby.


“Kamu pulang sama siapa, Git?” tanya Tama yang akan berpamitan.


“Naik grab.”


“Ya udah bareng aja sama aku. Rumah kita searah, kan?”


“Gak usah deh, Tam. Aku naik grab aja.”


“Gak apa-apa, Git. Santai aja. Aku gak akan nagih uang bensin kok. Serius!” katanya berseloroh.


Gita sempat akan menyetujui ajakan Tama untuk pulang bersamanya. Tapi dengan cepat mengurungkan niatnya saat dia melihat mobil Arki baru saja terparkir di tempat drop off.


Tiba-tiba Gita merasa panik. Arki pasti sangat marah karena hingga sekarang dia masih mematikan ponselnya. Hingga laki-laki itu datang untuk menjemputnya pulang sore ini. Padahal biasanya Arki akan pulang menjelang malam dari kantor.


“Umm.. Sorry, Tam. Aku gak bisa ikut kamu. Suamiku jemput,” kata Gita menolak penawaran Tama. Kemudian dia berpamitan dan bergegas masuk mobil Arki.


Tidak begitu lama, mobil segera meninggalkan kantor tersebut. Arki masih membisu dibalik kemudinya. Matanya fokus menatap jalanan di depan.

__ADS_1


Gita yakin, dia tidak salah menilai apa yang sedang terjadi dengan laki-laki di sebelahnya. Arki sedang marah kepadanya. Tatapannya terlihat tidak ramah, gelap dan tidak terbaca. Bohong jika Gita mengatakan tidak takut pada sosok Arki saat ini.


“Kenapa matiin HP kamu? Gak seneng aku hubungin kamu?” tanya Arki memecah hening diantara mereka, dengan nada paling dingin yang pernah Gita dengar terucap dari mulut Arki. Tenang tapi sangat membahayakan.


“Jangan bilang HP kamu mati. Gak mungkin sekelas kantor kamu gak ada listrik buat charge HP atau jangan kasih alasan teman kerja kamu gak bawa pengisi daya buat dipinjam,” lanjut Arki lagi saat Gita akan berbicara.


Gita mengatupkan kembali mulutnya. Dia berusaha menenangkan diri. Saat ini rasanya seperti sedang dimarahi oleh atasan dan apapun yang akan Gita ucapkan menjadi serba salah.


Pantas saja dulu Gita sering mendengar gosip, beberapa orang dari tim audit mengatakan bahwa Arki itu sangat tegas dan sulit dihadapi. Ternyata itu semua bukan isapan jempol.


“Aku gak mau kamu chat dan teleponin kayak tadi,” tantang Gita. Ya, lebih baik jujur saja dibandingkan berbohong untuk menutupi ketidaksenangannya.


“Kenapa? Biar gak ketahuan udah punya suami sama cowok yang tadi bareng sama kamu di lobby? Dia siapa?”


“Itu atasan langsungku, dia yang tadi kamu tuduh-tuduh di chat. Kamu kenapa sih, Ki? Hari ini kelakuan kamu gak jelas banget!”


“Gak jelas? Aku telepon kamu karena aku khawatir, Git. Tapi kamu malah gak mau angkat telepon, terus matiin panggilan gitu aja.”


Arki menghentikan mobilnya tiba-tiba di bahu jalan. Membiarkan mobilnya mati diantara toko-toko menuju arah perumahan tempat tinggal mereka. Dia menatap Gita dengan kemarahan yang bergolak dihatinya saat mendengar perempuan itu berbicara seenaknya.


“Ngomong sekali lagi! Kamu bilang aku apa tadi?” ucap Arki tenang.


Setidaknya terlihat seperti itu, tapi bagi Gita ada kilatan kemarahan yang menyambar di sorot matanya. Gelap, dalam, dan menakutkan. Sial! Sepertinya Gita terlalu lancang mengatakan hal itu pada Arki.


Kini Gita hanya berani menunduk melihat jemarinya. Dia tidak bermaksud untuk melawan ataupun mencari masalah dengan Arki. Awalnya dia hanya ingin menyuarakan keberatannya dengan tingkah tidak masuk akal laki-laki itu di hari pertamanya bekerja.


“Kenapa diem? Jawab pertanyaanku! Tadi kamu bilang aku apa? Hah?!” Arki mulai menaikan nada bicaranya.


Ternyata sulit menjadi sabar dan tenang saat orang yang dihadapinya begitu keras kepala seperti Gita. Seandainya dia tahu bahwa Arki hanya mengkhawatirkannya dan merasa kurang senang jika Gita terlalu dekat bergaul dengan rekan kerja laki-lakinya. Arki tidak ingin kekecewaannya dimasa lalu terulang lagi. Perempuan miliknya berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

__ADS_1


“Kamu kenapa sih harus kayak tadi? Aku cuma mau kerja,” ucap Gita sambil menahan air matanya. Sekarang dia bingung bagaimana cara menghadapi laki-laki di sampingnya. Dia tidak mengerti apapun tentang Arki. Semua tindakannya sangat tidak masuk akal menurut Gita.


“Aku ngerti kamu mau kerja, udah aku izinin. Aku cuma mau hubungi kamu aja karena khawatir, kamu malah ogah-ogahan dan marah, tutup telepon seenaknya gara-gara ada cowok yang deketin kamu. Aku minta penjelasan sama kamu kenapa sikap kamu gak sopan kayak gitu? Terus kamu bilang aku sok ngatur, Git? Hah?” Arki mencoba meredam emosinya yang menyulut kencang di dadanya. Dia masih mengatur nada bicaranya agar tetap tenang, tidak ingin berteriak pada istrinya yang sedang hamil itu.


Gita tidak berani menatap Arki lagi. Setelah laki-laki itu memberikan penjelasannya, Gita baru mengerti kenapa Arki semarah itu padanya. Iya. Gita memang salah. Dia kesal karena Arki terus mengusiknya.


Mungkin karena terpengaruh mood buruk karena kecupan tidak terduganya tadi pagi, jadi semua hal yang dilakukan oleh Arki terlihat menyebalkan dimata Gita.


“Kalau kamu gak mau diatur, gak mau diskusi dan ngomongin apapun berdua sama aku. Bahkan gak mau aku khawatirin kamu. Harusnya kamu gak nyari aku buat bertanggung jawab sama kehamilan kamu. Kamu milih nikah sama aku berarti paham kalau aku sekarang suami kamu,” tegas Arki.


Gita tertegun dengan kata-kata Arki barusan. Gita melupakan bahwa saat ini, semua hal berada dalam kuasa suaminya. Padahal Gita berjanji akan mengambil hati Arki agar luluh dan rela membantunya menghadapi kesulitan finansial. Tapi sekarang dia malah lebih banyak berdebat dengannya. Menghamparkan jurang pemisah diantara mereka.


Semua hal berjalan diluar rencana Gita. Terutama sifat Arki yang sudah salah Gita tebak selama ini. Anggapannya mengenai kebaikan Arki yang sangat menonjol, ternyata mengaburkan sifat aslinya yang sangat mendominasi dan kata-kata tajam mencabik.


Kini entah siapa diantara mereka yang tertipu. Gita merasa dirinyalah yang ditipu dengan segala praduga tentang sifat Arki. Ternyata Gita salah memilih target. Pernikahan ini benar-benar sulit dikendalikannya.


Gita takut dan ingin menyerah saja. Dia tidak akan bisa melanjutkan rencana ataupun pernikahan dengan orang seperti Arki. Dia harus segera mencari cara agar bisa mempercepat skenario kegugurannya.


“Keluar!” seru Arki tiba-tiba. “Cepetan sekarang keluar!” lanjutnya kemudian membuka pintu mobil disamping tubuh Gita.


Beberapa saat Gita hanya memandang bingung ke arah Arki dan pintu mobil yang sudah terbuka. Apakah Arki semarah itu padanya, hingga mengusir istrinya sendiri keluar dari mobil?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 Begini kira-kira visual Arki. Cocok ga? 😆



__ADS_1



__ADS_2