
Arki sudah sampai di hotel pukul 18.20 setelah menyelesaikan tugas hari pertamanya untuk melakukan kolektif data pada laporan keuangan untuk proses audit. Perusahaannya memesankan satu kamar di Hotel Hilton Bandung.
Sejenak Arki merebahkan tubuhnya di kasur, meskipun dia belum membersihkan diri dari keringat yang menempel seharian. Dibukanya ponsel yang sedari siang tidak dia sentuh, karena terlalu sibuk bekerja. Beberapa pesan dari Gita terlihat dilayar.
[Gita: Hari ini aku lembur lagi. Gak sampai malam banget kok.]
[Gita: Nanti aku pulangnya naik grab. Jadi gak usah aneh-aneh kayak nyuruh Pak Usman anterin pulang.]
[Gita: Gak usah teleponin. Aku mau konsentrasi kerja!]
Tanpa disadari Arki tersenyum simpul melihatnya. Akhirnya Gita mengerti bagaimana cara berhubungan dengannya. Arki hanya butuh dikabari dan diberitahu saja, meskipun hanya sebaris kalimat pesan kaku seperti yang Gita kirim.
Arki tidak bisa berhenti membandingkan Gita dengan mantan-mantannya, yang setiap saat malah mengirim rentetan pesan panjang. Menanyakan kabar, bercerita, dan bermanja-manja. Dipenuhi emoticon lucu berbaris penuh ekspresi.
Berkirim pesan dengan Gita seperti berkomunikasi pada bawahannya, malah sepertinya bawahannya lebih ekspresif dari ini.
Apa mau dikata, Gita memang tidak menyukainya. Dia juga mungkin tidak mau repot-repot mengirim pesan indah penuh perasaan padanya. Arki pun tidak mengharapkan hal tersebut terjadi.
Dia menyukai Gita sebatas karena kebutuhan biologisnya bisa gadis itu penuhi saja. Selebihnya tidak mengharapkan apa-apa, apalagi cinta. Hatinya sudah mati bersama pengkhianatan Luna. Jatuh cinta dan memberikan perasaannya adalah kesalahan besar.
Arki menekan tombol panggilan video pada Gita. Dengan cepat panggilan itu terputus. Gita sepertinya belum belajar dari kesalahannya. Arki terkekeh dan melihat pesan yang langsung Gita kirim.
[Gita: Gak usah video call! lagi di grab!]
[Arki: Angkat! Cepetan!]
[Gita: Nanti aja kalau udah sampe rumah!]
Wajah cemberut Gita muncul di layar ponsel tidak lama kemudian. Menatap kesal pada sosok Arki yang jauh puluhan kilometer dari rumah.
“Mau ngapain sih? Cepetan aku udah capek nih! Mau mandi dan istirahat” ucap Gita enggan menerima panggilan video tersebut.
__ADS_1
“Ya udah sana mandi! Tapi jangan matikan video call-nya. Aku mau lihat kamu mandi.”
“Gak waras kamu!” bentak Gita, kemudian sambungan terputus.
Arki terkekeh di tempatnya. Meskipun Gita selalu membuat emosinya mudah naik, tapi terkadang gadis itu seperti hiburan tersendiri. Melihatnya marah-marah di waktu tertentu seperti mengusir kesepiannya. Mungkin perilaku Gita yang sulit dikendalikan itu cobaan dan anugerah dalam satu paket.
...****************...
Alarm di ponsel menyala pukul 05.00, tangannya menggapai-gapai mencari gawai tersebut di nakas. Setelah sembarang mematikannya, Arki baru bangun dan duduk di kasur. Nampak sayu, masih mengantuk, dan rambutnya berantakan. Dia menguap lebar sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Tidak mendapati Gita disebelahnya, dia baru tersadar kini berada jauh dari rumah. Tadi malam dia sulit terlelap. Beberapa kali bangun dan merasa kedinginan.
Bukan hanya karena suhu AC di ruangan yang dingin, ataupun udara Bandung yang mengigit. Tapi semua itu karena tubuhnya sudah mulai terbiasa mencari kehangatan Gita dan memeluknya ketika tiba-tiba terbangun tengah malam.
Walaupun baru satu minggu mereka tidur bersama, Arki rupanya sudah sangat akrab dengan lekukan tubuh mungil Gita yang nyaman di dekap, serta wanginya yang manis menggelitik penciuman.
Apalagi saat menyelipkan jemarinya ke balik piyama, menyentuh bagian-bagian terlarang pada perempuan itu. Arki memeluk bantalnya dan ingin cepat pulang saja. Tapi masih ada dua hari yang menyiksa tanpa kehangatan Gita.
Setelah mandi, Arki tidak langsung bersiap untuk berangkat ke kantor cabang. Dia menyempatkan untuk sarapan di restoran yang sudah di sediakan hotel.
Matanya mengedar melihat beberapa orang yang juga sarapan. Tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan hari libur. Saat menyesap kopi, Arki melihat sosok yang dikenal masuk ke restoran tersebut.
S h i t!
Rasa kopinya tiba-tiba menjadi hambar. Mood-nya yang tidak terlalu bagus karena terus teringat Gita, sekarang menjadi hancur. Sialnya, orang yang sedang dipandangi Arki juga langsung melihatnya. Malah dia melangkah mendekati Arki.
Kursi di depan Arki di tarik, dua orang duduk disana. Laki-laki berumur hampir 60 tahunan, tapi masih terlihat muda dan gagah. Kumis dan janggut yang mulai memutih tidak membuatnya terlihat tua. Postur tubuh yang masih gagah dan maskulin, sangat ideal untuk menyebut laki-laki itu sebagai sugar daddy menggairahkan.
Sementara disampingnya menggelayut dengan manja, perempuan yang tidak lebih tua dari Arki. Mungkin awal 20-an, terlihat seperti gadis-gadis hits ibukota yang meramaikan beranda sosial media.
“Kalau kamu masih sering pake orang-orang ayah buat ancam sana-sini, harusnya kamu inget pulang, Arkian,” ucap Arya dengan suara dalam.
__ADS_1
Arki mengalihkan pandangannya dari Arya dan menatap perempuan disebelahnya. “Lo gak takut ditusuk benda pusaka berkarat? Bisa kena infeksi loh. Apalagi punya dia udah sembarangan dipake ke banyak lubang,” ucap Arki sambil menyeringai.
“Arkian!” bentak Arya. “Dia Ibu tiri kamu sekarang,” lanjutnya memperingatkan.
“Najis! Selera ayah beneran jelek banget ya? Yang normal dan waras cuma ibu, soalnya hasil dijodohin sama kakek. Selebihnya p e c u n semua!”
Arya langsung mencengkeram leher kaos Arki. “Jaga omongan kamu sama orang tua. Ibu kamu lupa ngajarin sopan santun, hah?” ucap Arya kesal.
“Ibu ngajarin sopan santun. Tapi kayaknya ayah lupa kalau ngurus dan ngajarin anak harusnya bukan tugas ibu doang.”
Arki melepaskan cengkraman tangan ayahnya dengan mudah. Kekuatan ayahnya yang sudah berumur tidak sebanding dengan Arki yang sedang berada di masa keemasan secara fisik.
Arya menegakkan tubuh dan menenangkan diri. Berbicara dengan Arki seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Keras kepala, kasar, dan tidak sabaran. Meskipun tumbuh jauh dari dirinya puluhan tahun, Arki sudah berubah menjadi sepertinya tanpa dia sadari.
“Kamu selalu mengkritik ayah soal pernikahan, tapi ternyata kamu sendiri gak jauh lebih baik memilih pasangan. Setidaknya ayah menyimpan benih di perempuan baik untuk urusan mewariskan bisnis. Ada kamu, Adrian dan Aditya yang ayah unggulkan. Perempuan lain cuma buat hiasan dan hiburan,” ucap Arya jumawa.
Perempuan disebelahnya langsung merengut kaget mendengar penuturan tersebut. Tapi dia diam saja tidak membantah.
“Lain hal dengan kamu. Sekarang kamu malah milih cewek gak jelas buat dijadikan istri. Ela gak bisa seleksi calon mantunya apa? Sampai kecolongan ngasih restu kamu sama cewek sembarangan.”
“Istriku bukan perempuan sembarangan kayak dia,” balas Arki menunjuk perempuan di hadapannya.
“BI checking-nya jelek, kredit macet, identitasnya tersebar di pinjol, gak punya keluarga selain ibu dan adik tirinya yang pengangguran. Bagian mana dari dia yang gak sembarangan? Ceraikan! Ayah punya kenalan anak rekan bisnis yang cocok buat kamu.”
“Jodohin aja anak rekan bisnis ayah itu buat ayah sendiri! Kenapa repot-repot nyari jodoh buatku? Padahal selama ini gak pernah ngurusin, sekarang mau sok punya andil dihidupku. Lucu banget,” kata Arki tertawa menghina.
Arki berdiri dari tempat duduknya, hendak meninggalkan Arya dan ibu tirinya.
“Arkian!” ucap Arya menghentikan langkah Arki. “Pulang ke rumah! Kita bicarakan hal penting dengan adik-adikmu. Bawa juga istrimu!” Lanjutnya.
Arki tidak menyahut, dia terus berjalan meninggalkan restoran dan kembali ke kamarnya. Dia mengistirahatkan diri sejenak sebelum bersiap berangkat untuk melakukan pekerjaannya. Pikirannya terganggu karena ayahnya ternyata mencari tahu tentang latar belakang Gita.
__ADS_1
Sial!
Arki benci ketika ayahnya mulai masuk dan mengintervensi ke hubungan asmaranya. Sama ketika dia melakukan hal itu saat Arki masih berhubungan dengan Luna.