Istriku Penipu

Istriku Penipu
Jujur


__ADS_3

Gita menatap Arki dengan tatapan nyalang penuh ketakutan. Belum selesai masalahnya tentang utang bank yang tiba-tiba lunas, sekarang dihadapkan masalah penagihan oleh pinjol di hadapan Arki. Gita ingin lari dari kekacauan ini. Apakah dia boleh pura-pura kesurupan saja untuk menghindar?


“Saya dari Kredit Easy, mau nagih utang Mbak Gita sebesar 15 juta. Mas siapanya, ya?”


“Suaminya,” jawab Arki singkat, matanya tidak berhenti menatap Gita meminta penjelasan.


“Aku gak pinjem uang dari pinjol, Ki. Ini kelakuan ibu tiriku,” Gita mencoba menjelaskan dan membela diri.


“Mbak, ini data-datanya juga punya kamu. Jangan coba menghindar dan nyalahin orang lain,” kata laki-laki berjaket.


Arki tersenyum ramah pada kedua tamu tidak diundang itu. “Saya mau lihat surat penagihannya.”


Mata Arki dengan teliti melihat surat penagihan dari pinjol yang menagih uang pada istrinya. Jelas bahwa mereka adalah salah satu pinjol ilegal yang sedang marak menipu masyarakat. Tidak berbadan hukum dan tidak diawasi OJK.


“Kalian dari pinjol ilegal. Istri saya gak punya kewajiban untuk bayar. Kalau kalian melakukan ancaman dengan kekerasan atau penyebaran dara pribadi istri saya karena menolak bayar. Sekarang juga saya akan lapor polisi,” ucap Arki tenang.


“Gak bisa gitu lah, Mas. Si Mbak ini udah pinjem dari kita. Mau nggak mau, ya harus bayar! Jangan lepas tangan gitu aja!”


“Kalian punya bukti dana yang dipinjam masuk ke rekening siapa? Disini tidak tertulis masuk ke rekening atas nama istri saya. Walaupun data peminjam adalah benar istri saya.”


“Kita gak ngerti yang begituan. Ini perintah pusat. Kita cuma ditugaskan buat nagih aja. Jangan dibikin ribet lah! Kalau mau protes, sana ke kantor pusat! Pokoknya kita kesini cuma mau ambil uang doang!”


“Kita gak akan bayar. Lebih baik ini dikasuskan saja ke polisi. Kalian boleh laporkan kita, kita juga akan laporkan soal pinjaman online ilegal kalian.”


“Lo banyak bacot lah!” kata laki-laki tinggi yang sejak tadi berdiam diri di belakang si laki-laki berjaket.


Pukulan penuh amarah dia luncurkan ke arah Arki. Kaget dengan tinju tiba-tiba tersebut, Arki tidak dapat menghindar hingga wajahnya terkena pukulan tersebut. Arki meringis kesakitan dan mengusap dar ah yang keluar dari hidungnya.


Laki-laki tinggi itu melancarkan pukulan keduanya, kali ini Arki lebih sigap. Dicengkramnya tinju yang mengarah padanya dan dengan cepat memiting lengan laki-laki itu ke belakang tubuhnya. Arki menendang tulang kering bagian belakang laki-laki itu hingga dia terjatuh, bersimpuh di tanah. Mengaduh dan berteriak.


Tidak tinggal diam, laki-laki berjaket membantu temannya dengan mencoba memukul Arki juga. Gerakan Arki sangat tangkas, menghindar kemudian membalas dengan pukulan lain. Membuat lawannya terjerembap jatuh. Arki berjongkok, menjambak rambut si laki-laki berjaket hingga wajahnya terangkat dan memohon ampun.


“Bilangin sama kantor pusat kalian, gue bakal buru kalian semua sampai masuk penjara. Gue ambil suratnya buat barang bukti,” geram Arki penuh peringatan.

__ADS_1


Tak sampai 5 menit, kedua orang itu langsung lari tunggang-langgang menyelamatkan diri dan pergi. Gita yang sejak tadi melihat semua kejadian yang baru saja terjadi, hanya diam mematung. Tubuhnya dia rapatkan ke pagar dan mengkerut ketakutan disana.


“Git?” panggil Arki saat melihat Gita membeku di tempatnya. Berdiri gemetaran dan mata yang memerah nyaris menangis. “Kamu gak apa-apa?” lanjutnya mendekati Gita, dan menyentuh tangannya yang dia kepal di melindungi dada.


Gita refleks mundur menjauhi sentuhan Arki, menabrak pagar hingga berderak. Sesuatu yang membuatnya takut bukan hanya penagih online yang berperilaku kasar tadi, selain itu juga karena Arki.


Melihatnya melumpuhkan dua orang dengan mudah seperti tadi membuat lutut Gita lemas. Benar ternyata dugaannya, Arki memang berbahaya diberbagai sisi.


Tidak terbayang apa yang akan dia lakukan pada Gita jika tahu kalau tahu kebohongannya. Apakah Arki akan meremukan kepalanya dengan cengkraman kuat tangan miliknya? Gita bergidik ngeri. Sekarang kepercayaan dirinya jatuh menyentuh tanah, apakah dia punya kesempatan untuk lari dan menyudahi kebohongannya pada Arki?


“Kamu cepetan masuk ke rumah. Aku mau parkirin mobil ke garasi,” kata Arki yang menyadari Gita ketakutan karena dirinya yang cukup brutal menghajar para penagih tadi.


Arki yakin sekarang Gita pasti mengurung dirinya kembali di kamar dan tidak mau berbicara dengannya. Padahal image laki-laki lembut dan perhatian yang pelan-pelan dia bangun hampir berhasil. Tapi kini, Gita melihatnya lagi yang penuh emosi, amarah, bahkan dengan dengan mudahnya menghajar orang lain. Sial!


“Pipi kamu masih sakit?” kata Gita yang sedang menyiapkan kotak obat di meja makan, dia mengeluarkan antiseptic dan beberapa buah cold pack dari sana.


Arki tersenyum kecil dan menghampiri Gita, duduk di meja makan, dan mengarahkan pipinya yang terkena pukulan untuk Gita obati.


“Sakit banget, untung mimisannya udah berhenti,” balas Arki setengah merajuk.


Gita menarik tangannya dan mencoba menjauh. Tapi Arki sudah membelenggu pinggangnya. Membuat Gita sulit beranjak dan melepaskan diri. Tangannya yang kuat mendorong Gita agar terus mendekat ke tubuhnya, hingga rapat saling memeluk. Jelas Gita tidak senang dengan hal itu, masih mencoba memberontak.


“Arki!” bentaknya tidak sabar, kesal karena belenggu yang rapat dari laki-laki itu.


“Obatin aku dulu. Pipiku masih sakit. Jangan kemana-mana!” pinta Arki dengan lembut, nyaris berbisik.


“Lepasin dulu tangan kamu!” balas Gita yang enggan disentuh oleh Arki.


Pelukan itu seketika melonggar, kini tangan Arki berada disisi tubuhnya. Memegang tepi meja makan. Meskipun rasanya sangat gatal untung menggeladrah tubuh Gita yang dekat jangkauannya. Tapi Arki harus menahan dirinya, agar mereka tidak bertengkar untuk kesekian kalinya dalam satu minggu ini.


Gita membersihkan noda da rah di dekat hidung Arki dan terus mengompres pipinya yang membengkak. Setidaknya ini saja yang bisa dia lakukan saat ini. Bagaimana pun, Arki terluka karena membelanya. Meskipun ketakutan bertumpuk-tumpuk saat ini dihati Gita tentang semua hal yang terjadi hari ini.


“Kamu mau ngomong apa?” tanya Arki tiba-tiba memecah hening.

__ADS_1


Dia tidak salah melihat, Gita sejak tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya. Tapi berulang kali urung. Dia mengatupkan kembali mulutnya yang sempat terbuka ingin berbicara. Matanya kemudian mengalihkan arah ke tempat lain.


Sejak tadi juga, Arki tidak bisa mengalihkan pandangan dari Gita. Baru kali ini mereka sedekat sekarang, bahkan setelah satu bulan menikah. Ini yang pertama.


Arki melihat secara seksama wajah istrinya. Mata cokelatnya yang bersinar indah, bulu matanya yang lentik, tulang hidungnya yang tinggi, dan lengkungan bibir yang sempurna, membingkai tempat paling indah untuk mendaratkan ciuman lembut. Gita tidak kurang satu pun kriteria untuk disebut perempuan cantik. Kenapa Arki baru kali ini menyadari dan terpesona padanya?


Gita menarik napas sebelum mejawab. “Kamu tahu soal utang-utangku?” kata Gita memberanikan diri bertanya. Jantungnya nyaris loncat dari rongganya karena gugup.


“Iya, aku tahu,” jawab Arki santai, masih menatap lekat wajah Gita.


“Kamu yang lunasin utangku ke bank?”


“Iya,” jawab Arki lagi singkat.


“Kapan kamu tahu aku punya utang sebanyak itu? Kenapa kamu gak pernah bilang apa-apa, kalau kamu udah lunasin semuanya?”


“Aku tahu kamu punya banyak tagihan, pas nganterin pulang setelah kita berkunjung ke rumah ibu,” jawab Arki jujur. “Gita, aku tahu kamu datang ke kantorku dulu bukan hanya karena minta pertanggungjawabanku aja. Waktu kita ketemu di mall kamu baru selesai interview kerja. Aku tebak, kamu belum dapat kerjaan setelah kontrak habis. Terus kamu diusir dari rumah karena hamil. Posisi kamu sulit waktu itu. Kamu butuh bantuan aku, kan?”


Gita seketika merasa pusing dan lemas. Ketakutannya ternyata benar. Tapi dia nyaris lega. Arki tahu tentang kondisi finansialnya. Entah ini menguntungkan atau tidak. Tapi reaksinya tidak semenakutkan yang Gita bayangkan. Ditambah lagi, sepertinya Arki masih belum mengetahui tentang kehamilan palsunya.


“Kenapa kamu gak ngomong apa-apa soal bantuanmu?”


“Aku nunggu kamu duluan yang bilang. Aku nunggu sampai kamu jujur sama aku soal itu, tapi sampai sekarang gak ada satu hal pun yang kamu ceritakan sama aku. Kenapa kamu rahasiakan hal kayak gitu dariku, Git? Kenapa kamu selalu ngerasa harus ngelakuin sesuatu sendirian? Padahal kamu punya aku sekarang.”


“Kamu gak marah aku punya utang banyak?” ucap Gita nyaris menangis.


Rasanya aneh mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Arki. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan mengenai utangnya. Benarkah? Apakah ini mimpi atau tipuan?


Arki tertawa kecil. “Lagian utangnya gak terlalu gede. Aku udah lunasin semua. Nanti aku juga beresin urusan soal pinjol tadi dan kebocoran data penting kamu,” ucap Arki santai.


Gita tiba-tiba menjadi bimbang. Haruskah dia menceritakan tentang kehamilannya yang hanya dusta itu sekarang pada Arki? Apakah reaksinya juga akan setenang ini ketika mengetahuinya? Jika dia jujur sekarang, apa yang akan terjadi selanjutnya?


“Aku paling gak suka dibohongi. Kali ini aku kasih kamu toleransi soal utang-utang kamu. Aku ngerti hal kayak gini cukup memalukan dibicarakan. Terlebih karena kita belum dekat. Jangan ulangi bohong kayak gini lagi, ya! Kamu gak ada hal lain lagi yang disembunyikan, kan?” ucap Arki menatap lekat mata Gita.

__ADS_1


Kebaraniannya yang sudah sampai tenggorokan untuk mengucapkan kebenaran tentang kehamilannya, Gita telan kembali. Untuk satu itu, sepertinya Gita harus memendamnya hingga tiba waktunya mereka bercerai.


 


__ADS_2