
“Cepetan duduk! Orangku dan orangnya Aditya udah memastikan kalau istri kamu baik-baik aja di sana. Kita beresin dulu masalah Arya,” ucap Adrian bergabung bersama Aditya duduk di sofa.
Arki menghela napas berat. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adrian, dia harus menyelesaikan masalah mereka terlebih dahulu dengan Arya. Gita harus menjauh dari segala konflik yang ada dikeluarga Wibisana. Arki bisa menemuinya lagi setelah rencananya selesai, agar Gita tetap aman.
Mereka bertiga duduk di sofa saling berhadapan. Sesuai kesepakatan beberapa bulan lalu, mereka bekerjasama untuk mencapai tujuannya masing-masing. Dulu, Arki tidak punya alasan yang terlalu kuat mendukung rencana gila dari Aditya. Namun sekarang, dia punya Gita dan kebenaran tentang kepergiannya yang coba ditutupi oleh Arya. Maka dari itu dia memegang janjinya penuh untuk membantu Aditya dan Adrian. Terbukti ternyata mereka memang cukup berguna.
“Oke. Jadi kita udah sampai sejauh ini, jangan ada diantara kalian yang berkhianat atau melangkah sendiri. Kita harus menutupi rencana kita serapi mungkin agar tidak ada yang curiga,” kata Aditya memulai pembicaraan serius.
“Aku sudah mengerjakan bagianku yang diminta Adrian. Kontrak kerjasama dengan keluarga Ginanjar, aman. Beberapa kerjasama yang sempat terputus karena ibuku cerai dengan Arya juga sudah terjalin kembali. Aditya juga sekarang sudah mulai lebih diterima dan bisa leluasa masuk ke kediaman Wibisana karena jadi asistenku. Tinggal nunggu kalian bergerak,” kata Arki membicarakan bagian pekerjaannya di rencana mereka.
“Aku sudah memasukkan dua orang ke timnya Basuki. Dia bisa bantu Aditya mengamankan kediaman Wibisana. Surat pengalihan hak waris juga sedang aku persiapkan dengan lawyer yang aku sewa. Dia juga dibayar untuk menutup mulut, jika hingga akhir kita tidak dapat tanda tangan Arya.” Adrian menambahkan.
“Aku sudah dapat akses bebas ke rumah Arya dan berkenalan dengan Shela. Tinggal lakukan semuanya pelan-pelan sekarang. Aku masih butuh Arkian buat dekat dengan Ginanjar dan Amanda untuk saat ini. Juga informasi soal Basuki dari orang-orangnya Adrian,” ucap Aditya memastikan bahwa bagiannya juga berjalan dengan lancar.
“Aku gak mau nunggu ini selesai lebih dari satu bulan,” kata Arki yang tidak sabar.
“Tenang dong, Mas Bro! Kita kan lagi on progress. Mau kemana sih buru-buru gini? Hm?” kata Aditya santai.
“Aku mau segera menemui istriku setelah masalah dengan Arya selesai.”
Adrian hanya memutar bola matanya jengkel. “Isi otaknya cuma kebucinan doang. Pantes gak maju.”
“Heh?! Terus kamu sendiri apa? Isi otaknya cuma kekuasaan dan uang doang? Dasar gila harta!”
“Iiih Abang. Jangan berantem dong! Adek takut,” kata Aditya merajuk dengan nada manja ketika melihat kedua saudaranya mulai saling menghina seperti biasa.
“Jijik, Anjingg!” seru Arki.
__ADS_1
“Gue pukul lo, kontet!” tambah Adrian marah.
Aditya kemudian berpindah tempat duduk di sebelah Arki. Menggamit tangan dan menyandarkan kepalanya pada Arki. “Abang, aku takuut~” serunya tambah manja.
“Apa sih?! Najis!” bantak Arki menyingkirkan Aditya yang bergelayut padanya. “Kalian cepetan pulang! Udah gak ada urusan lagi, kan?” lanjutnya yang menjambak rambut gondrong Aditya agar terlepas darinya.
“Kita nginep di sini,” jawab Adrian santai.
“Hah? Ngapain, Anjingg! Aku gak butuh kalian! Cepetan pulang sekarang!”
“Kata Abang Gedebog Pisang, kamu bakal pergi diam-diam ke tempat istrimu karena kamu g o b l o k dan bucin. Kita harus tetap hati-hati. Besok aku suruh orangku yang jadi supirmu, biar kemana-mana diantar sama dia.” Aditya menyingkir dari Arki, menyisir rambut gondrong yang halus dan indahnya karena rusak setelah dijambak.
“Gue gak bakal kemana-mana, Setan! Gue ngerti resikonya!”
“Iih takut, Abang pake gue-lu sama aku,” goda Aditya.
“Kita gak mau ambil resiko. Aku tahu kamu sebodoh apa kalau berurusan sama cewek. Dulu aja kamu sampai menyebarkan video Luna karena sakit hati, kan? Sekarang kamu bisa aja langsung datang menghajar Arya dan pergi ketemu istrimu,” tuduh Adrian curiga.
“Bukan aku yang menyebarkan video Luna. Aku bahkan gak tahu apa-apa soal keberadaan video itu. Semuanya kerjaan Arya dan Basuki. Tapi aku juga malas minta maaf sama Luna soal itu dan gak pernah menjelaskan apa-apa sama dia.”
“Wow. Arya kayaknya ketat banget seleksi calon mantu buatmu. Pantas istrimu langsung tersingkir. Luna aja sampai gak diterima sama dia. Tapi dia ngasih beberapa cemilan bagus juga sih buatku. Daddy perhatian deh,” kata Aditya menanggapi.
“Aku dengar nama Wibisana semakin tercemar karena ulah kamu yang bergonta-ganti perempuan. Persis seperti kelakuan Arya,” komentar Adrian.
Aditya mendelik tidak peduli. Dia malah sekarang sibuk bermain ponsel. “Guys, aku lapar. Mau pesen pizza. Kalian mau nitip apa?”
“Udah kerasan banget ya disini? Sampai pesan pizza segala,” ucap Arki kesal. Yakin tidak bisa mengusir dua serangga menyebalkan ini.
__ADS_1
“Cheese beef fusilli sama garlic bread,” balas Adrian tetap terlihat cool dan pura-pura tidak peduli. Tapi sebenarnya dia memang sangat lapar, karena belum sempat makan malam saat diseret oleh Aditya ke rumah Arki.
Arki menghela napas. Menyerah. “Tuna aglio olio,” ucap Arki akhirnya. Dia juga belum makan malam.
Mereka bertiga makan dengan damai, setelah makanan sampai. Rasanya sangat aneh berada bersama anak dari para selingkuhan ayahnya. Saling menghina, tetapi juga berbagi keluh kesah. Padahal hal seperti ini tidak pernah dibayangkan oleh Arki sebelumnya. Saat tahu ayahnya berselingkuh dan memiliki anak yang umurnya tak jauh darinya, Arki membenci ayahnya dan semua anak-anak itu sama banyaknya.
Saat SMP, Ela mengatakan ingin merawat Aditya karena ibunya meninggal. Jelas ide tersebut ditolak mentah-mentah olehnya. Akhirnya Aditya tinggal di rumah Harun—ayah Ela—yang kosong, ditemani oleh pengasuh yang Ela bayar tiap bulan karena Arya menolak untuk mengurus dan membiayai Aditya saat itu.
Arki tahu ibunya selalu menyempatkan diri mengunjungi Aditya setiap minggu. Dia hanya pura-pura tidak tahu dan Ela tidak pernah menyinggung apapun tentang Aditya lagi. Setelah dewasa dan bekerja, Arki sudah mulai terbiasa melihat Aditya datang ke rumah ibunya begitu saja. Tanpa tahu malu Aditya datang kesana.
Tapi hubungannya dengan Adrian sangat jauh. Mereka hampir tiak pernah bertemu, kecuali saat Arki ikut acara di keluarga Rio. Adrian selalu mewakili nama Wibisana dimana-mana. Awalnya dia kesal, karena seharusnya dialah yang mewakili anak keluarga Wibisana. Anak dari pernikahan sah. Tapi akhirnya Arki tidak peduli, karena dia juga tidak mau hidupnya diatur seperti boneka—seperti Arya memperlakukan Adrian.
“Aku heran, kenapa kamu baru berani melakukan rencana ini sekarang?” tanya Adrian penasaran.
“Karena aku baru punya uang sekarang,” kata Aditya santai sambil mengunyah pizza-nya. “Arya baru membiayaiku setelah tahu kalau aku ternyata pintar dan berprestasi di sekolah. Tentunya itu juga karena desakan Mama Ela. Setelah lulus kuliah aku disuruh masuk perusahaan, ditempatkan diposisi yang bagus, dan mendapat uang yang cukup besar dari Arya. Tentunya dibawah pengawasan, Yang Mulia Adrian. Yang setiap bulan mengancam limit kartu kreditku,” lanjutnya berseloroh.
“Jadi uang yang aku kasih larinya ke sini? Rencana gila ini?”
“Sebagian besar aku pakai buat kencan sih. Tapi uang yang lain aku pakai untuk merekrut orang-orang kepercayaan, Danu salah satunya. Aku juga sadar kalau rencana ini gak bisa aku lakukan sendiri. Awalnya aku takut kalian menolak. Terutama kamu, Adrian. Orang yang sepertinya rela mencium kaki Arya agar mendapatkan perhatiannya.”
“Aku gak butuh perhatian Arya. Aku cuma ingin kekuasaan dan hartanya saja. Itu cukup, biar dia bisa berhenti menyakiti ibuku dan berbuat seenaknya.”
Arki terkekeh. Melihat kedua orang yang dulu dibencinya, ternyata punya hal-hal yang menyakitkan sendiri karena Arya. Mungkin diantara mereka, tidak ada yang ingin terlahir dari laki-laki bejad seperti Arya. Tidak ada hal yang bisa mereka kagumi dari sosoknya. Meskipun dia salah satu pengusaha jenius dan sukses, dengan segunung prestasi. Tapi kehidupan keluarganya kacau balau. Hingga menyeret banyak wanita terjatuh dan terpuruk, termasuk anak-anak mereka.
Selesai makan dan bersih-bersih, mereka memutuskan untuk tidur. Arki tidur di kamarnya, Adrian tidur di kamar tamu, dan Aditya terpaksa tidur di sofa ruang tengah karena kedua kakaknya menolak tidur dengannya. Setelah puluhan tahun, mereka berkumpul layaknya saudara. Meskipun hal yang mereka bicarakan dan rencanakan jauh dari kata baik ataupun penuh persaudaraan.
Malah, pikiran dan isi otak yang jahat terus bermunculan dari ketiganya.
__ADS_1