Istriku Penipu

Istriku Penipu
Ketakutan


__ADS_3

Gita sangat menikmati waktunya tanpa keberadaan Arki di rumah. Dia makan lebih banyak, hidup lebih santai dan yang terpenting adalah tidur lebih nyenyak.


Tidak ada lagi tangan nakal yang bergerilya liar ditubuhnya setiap malam, atau terbangun dengan tubuh setengah telanjang. Gita menikmati waktunya yang sebentar ini dengan suka cita. Meskipun hatinya begitu khawatir saat tiba waktunya Arki pulang.


Saat Arki kembali dari perjalanan bisnisnya, dia harus siap merelakan kehormatannya direnggut untuk menghindarkannya dari laporan ke kepolisian. Setelah itu seluruh tubuhnya akan menjadi santapan harian Arki untuk memuaskannya.


Gita bergidik ngeri membayangkan nasibnya sendiri nanti. Semoga saja ada keajaiban, agar Arki memperpanjang perjalanan bisnisnya di Bandung. Gita benar-benar tidak siap menghadapi malam pertamanya nanti.


“Kayaknya aku harus ngambil lembur lagi deh, Tam. Kerjaanku belum selesai,” ucap Gita memberitahukan atasan langsungnya.


“Tenang, Git. Aku juga masih banyak kerjaan. Kayakanya lembur lagi nih hari ini,” sambung Mila.


“Bagus! Aku jadi ada temennya nih, gak sendirian,” tambah Femy.


“Mau ditemenin gak nih cewek-cewek? Abang siap antar ke rumah masing-masing.” Tama menawarkan dengan ceria.


“Gak usah! Pulang aja sana! Ogah dianter sama playboy kayak kamu!” kata Mila berseloroh.


“Aku gak playboy loh, punya standar sendiri buat jadiin cewek pacar. Makanya dekat ke semua cewek buat diseleksi,” ungkap Tama membela diri.


Setelah saling mengejek dengan Mila, akhirnya Tama pulang lebih dulu. Satu persatu rekan kerja yang lain juga ikut beranjak. Tinggallah mereka bertiga yang masih sibuk dengan komputernya masing-masing.


Pukul 18.30 mereka rehat sejenak dan memesan makan malam lewat ojek online. Mereka makan dan mengobrol di pantry sambil bertukar gosip paling hangat di kantor.


Gita merasa senang dengan rekan kerjanya yang sekarang. Mereka lebih ramah dan banyak melibatkannya dilingkungan pertemanan.


“Eh Git, kamu nanti dijemput lagi sama Arki gak?” kata Femy. Sepertinya Femy mengenal Arki karena beberapa hari lalu dia datang dan masuk ke dalam kantor.


“Nggak. Dia lagi ke luar kota.”


“Arki? Kayaknya pernah denger deh, dimana gitu.” Mila menyambung pembicaraan.


“Suaminya Gita.” kata Femy menjawab. Dia kemudian memelankan suaranya dan berbisik. “Aku boleh nanya gak, Git?”


Gita tampak bingung, tapi akhirnya mengangguk.


“Suami kamu itu temennya Pak Usman, kan? Dia Arki mantannya si Luna anak PM, ya?”


Gita ragu untuk menjawabnya. Dia tidak ingin masalah pribadinya menjadi konsumsi orang-orang di kantor. Tapi sepertinya rekan kerja yang sudah lama bekerja disini mengenal Luna dan gosip tentang pernikahannya yang gagal. Hingga sekarang Gita tidak pernah tahu penyebab Arki dan Luna berpisah. Tidak ada yang pernah membicarakan itu di kantor lamanya.


“Iya,” jawab Gita akhirnya.

__ADS_1


Dia ingin bertukar berita dengan teman kerjanya. Jika Gita mengakui Arki adalah mantan Luna, kemungkinan dia akan mendapatkan informasi mengenai hubungan masa lalu mereka.


“Hah?” seru Mila kaget. “Beneran, Git?”


“Kok kalian kayaknya kaget gitu? Emang ada apaan sama mereka sampe orang kantor pada tahu mantannya Luna?” ucap Gita memancing.


Mila bertukar pandang dengan Femy. Mereka takut jika harus mengatakan skandal lama yang sempat menghebohkan satu kantor tersebut.


“Bilang aja kali. Aku udah tahu mereka mantan tunangan, tapi putusnya kan udah lama. Udah setahun lebih juga.” Gita memberikan ruang agar mereka berbicara.


Femy berdeham canggung. “Jadi kamu gak tahu Arki sama Luna putusnya karena apa?”


Gita menggeleng. “Di kantor lama gak ada gosip apa-apa sih. Sempat dengar kalau ceweknya Arki selingkuh. Tapi aku gak pernah nanya juga, itu kan masa lalu.”


“Kalian dulu sekantor?”


“Dulu atasanku.”


“Terus kamu gak pernah nanya sama Arki, padahal tahu mantannya kerja sekantor sama kamu sekarang?”


Gita menggeleng. Dia tidak pernah ingin mengulik masa lalu Arki, awalnya. Hanya saja perasaan menganggu yang muncul tiba-tiba kemarin, ketika melihat Arki begitu sendu menatap Luna, membuat Gita tersulut ingin tahu.


“Jadi dulu tuh ada gosip soal Luna yang deketin temen kerjanya sendiri, namanya Hadi sekarang udah resign. Hadi sebenarnya atasan langsungnya Luna, udah Assistant Manager. Awalnya ya gosip-gosip biasa karena mereka sering bareng. Lembur, pulang bareng, makan bareng. Kayak rekan kerja pada umumnya. Apalagi Hadi kan udah punya istri, jadi semua mikirnya, gak mungkin mereka ada main. Lunanya juga udah punya tunangan. Malah sering antar jemput dia juga. Eh gak lama dari gosip itu, Luna digosipkan gagal nikah. Terus yang lebih parah, beberapa minggu kemudian ada video Luna sama Hadi yang lagi main ranjang tersebar di kantor.” Mila bercerita penuh semangat.


“Gosip lain juga muncul, yang sebar video itu mantan tunangannya Luna. Aku sempat dengar Pak Usman memperingatkan dan marahin Luna jangan main-main sama tunangan itu, waktu gosip soal kedekatannya sama Hadi baru tersebar,” tambah Femy.


...****************...


Gita pulang paling terakhir diantara Femy dan Mila. Pikirannya terdistraksi oleh fakta baru mengenai Arki dan Luna. Jelas semua yang dikatakan oleh rekan kerjanya itu bisa Arki lakukan. Menyebarkan informasi pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain ke publik.


Arki punya kekuasaan dan uang untuk melakukannya. Sama seperti yang dia lakukan pada Gita. Mengancam untuk mendapatkan hal yang diinginkannya. Jika salah bertindak, bisa saja Gita lah yang akan mengalami hal yang sama seperti Luna.


Pantas saja Luna memperingatkannya untuk segera lari dari Arki. Sayangnya, Gita sudah terjebak ke dalam kehidupan Arki. Sekarang Gita semakin takut untuk menghadapi suaminya nanti. Arki bisa melakukan apa saja untuk menghancurkan hidupnya, jika Gita salah melangkah.


Pintu lift berdenting terbuka, Luna dan seorang perempuan rekan kerjanya masuk. Dia menatap sinis pada Gita. Namun, Gita memandangnya dengan perasaan iba. Pasti Luna sangat menderita dan stres karena video pribadinya tersebar begitu saja. Menjadikannya sasaran cemoohan orang lain.


Meskipun pada akhirnya Luna bangkit kembali dan tetap bekerja seperti biasanya. Dia dulu mengatakan Arki sudah hampir membuatnya gila.


Rasa iba itu kemudian menguap dengan cepat saat Gita memandang pantulan bayangan Luna di cermin lift. Walaupun telah melakukan hal buruk pada Luna dan memutuskan hubungannya lama, Arki tetap memandang Luna penuh cinta.


Kenapa?

__ADS_1


Gita tidak menyukainya.


...****************...


Pagi ini Gita terbangun dengan kepala yang berat, tubuhnya demam, hingga tidak bisa berdiri karena pusing. Semalam setelah pulang lembur pukul 11 malam, dia berendam dan tertidur di bathtub hingga pukul 1 pagi.


Dia terus memikirkan nasibnya yang akan berakhir menyedihkan seperti Luna semalaman. Menangis menyesali kebodohan karena menipu Arki, sampai jatuh tertidur sendiri.


Biasanya Arki yang akan memanggil dan menggedor pintu kamar mandi, saat Gita mengurung diri. Tapi kemarin tidak ada siapa-siapa untuk membangunnya, hingga dia terbangun dengan tubuh menggigil kedinginan. Bathtub berisi air hangat mendingin dengan cepat.


“Pak Usman telepon aku tadi, katanya kamu gak masuk hari ini. Kamu kemana?” tanya Arki di telepon.


“Aku gak enak badan, demam,” ucap Gita dengan suara serak dan lemah.


“Hah? Kok bisa? Jangan-jangan kamu mandi malam lama-lama kayak kemarin lagi, kan?” tuduh Arki.


“Aku ketiduran pas berendam,” ucap Gita jujur. Sekarang dia lebih takut berbohong pada Arki. Lebih baik berkata sebenarnya kemudian dimarahi.


“Kamu tuh ya gak pernah dengerin aku kalau ngomong! Udah dibilangin jangan mandi malam-malam sambil berendam kayak gitu! Sekarang jadi sakit kan. Nanti aku pesenin makan lewat gofood. Cepetan minum obat!”


Arki terus mengoceh di telepon memarahi Gita, membuat telinganya berdengung panas. Kepalanya menjadi semakin sakit dan pusing. Pada akhirnya dia diamkan saja hingga Gita terlelap lagi.


Dimimpinya Gita tidak pernah berhenti membayangkan Arki yang menghukumnya, memukulinya, memperkosanya, dan meninggalkannya dijalanan. Gita ketakutan dan terus menangis, tapi Arki tidak kembali. Semua orang menatapnya dengan jijik. Gita sendirian dan ditinggalkan.


Tangan dingin menyentuh kening Gita, membuatnya kaget hingga tersentak terbangun. Matanya langsung menatap sosok yang duduk di samping ranjang. Kepalanya langsung berdenyut hebat karena sakit. Gita jatuh kembali ke tempat tidur.


“Kamu belum makan ya dari pagi? Belum minum obat? Aku udah pesankan makanan tapi masih ngegantung di pintu rumah. Teleponku juga gak kamu angkat. Kamu bikin aku panik tahu, gak?” omel Arki. Dia kesal tapi tidak bisa membentak Gita saat itu, karena perempuan itu terlihat lemah.


Mendengar itu Gita langsung terisak dan menangis. “Jangan marahin aku, kepalaku sakit,” rengeknya.


Arki merengkuh tubuh Gita hingga terduduk, kemudian memeluknya. Dia bisa merasakan suhu tubuh Gita yang meninggi, lebih dari biasanya.


“Aku gak marah. Cuma khawatir. Ayo makan bubur dulu, biar cepat minum obat.”


Ponsel Arki di tempat tidur yang tadi dia lemparkan sembarangan saat tiba, menyala tidak berhenti. Pasti orang-orang dari kantor cabang bingung karena Arki menghilang setelah makan siang dan tidak mengikuti acara penutupan.


Dia terlalu panik dan khawatir karena Gita tidak mengangkat teleponnya lagi, setelah tadi pagi sempat terhubung. Apalagi driver yang mengantarkan makanan mengatakan tidak ada orang rumah yang mengambil pesanannya.


Selama sisa harinya di Bandung, Arki tidak bisa berkonsentrasi. Dia langsung pulang saat pekerjaannya selesai diwaktu makan siang. Mengemudi dengan ngebut tanpa memikirkan keselamatan. Padahal jarak Bandung-Jakarta cukup jauh dan menguras tenaga.


Gita benar-benar perempuan paling merepotkan yang menyita perhatiannya.

__ADS_1


__ADS_2