
“Mau kemana, Git? Kok siang-siang gini keluar?” tanya ibu Mia saat melihat Gita yang sudah berpakaian rapi turun dari lantai dua.
“Aku mau ketemu temen lama, Bu. Tanya-tanya soal kerjaan,” balas Gita saat berpamitan.
Gita keluar dari rumah Mia dengan langkah yang mantap. Meskipun hatinya tak karuan, tapi dia sudah menetapkan niatnya.
Dengan menaiki KRL, Gita sampai di daerah Senayan, tempat salah satu perusahaan IT besar berdiri. Orang-orang berpakaian rapi berkerumun, keluar gedung tinggi tersebut. Berlawan dengan mereka, Gita malah memasuki gedung dan berhadapan dengan resepsionis.
Gita menyampaikan maksud kedatangannya kesana pada perempuan cantik yang sangat ramah itu. Segera saja resepsionis tersebut berbicara ditelepon selama beberapa saat.
Gita dengan canggung berdiri menunggu di sana, sambil terus memperhatikan bangunan perkantoran mewah ini. Seandainya dia juga bisa masuk ke perusahaan sekelas ini. Pasti gajinya sangat tinggi.
“Silakan tunggu sebentar di kursi sebelah sana, nanti beliau turun untuk menemui Bu Gita,” kata resepsionis itu setelah selesai menelepon.
Sofa yang disediakan untuk menunggu di lobby perusahaan itu sangat nyaman dan empuk. Udara juga terasa dingin ditengah cuaca Jakarta yang panas di luar. Tapi tetap saja semua itu tidak bisa menutupi perasaan takut, khawatir, dan gugup yang Gita rasakan.
Waktu sudah berjalan hampir 5 menit, namun terasa begitu panjang dan menyiksa. Ini keputusan besar dan paling bodoh yang mungkin Gita lakukan seumur hidupnya. Hanya saja dia tidak memiliki pilihan lain. Semua kesulitan yang menghimpitnya, bisa jadi akan menghilang setelah ini.
“Gita, maaf nunggu lama. Aku tadi harus beresin sesuatu dulu.” Arki terengah-engah saat sampai di lobby.
Dia begitu kaget mendapatkan telepon bahwa orang bernama Gita sedang menunggunya di bawah. Meskipun hari ini dia berniat untuk melewatkan makan siangnya karena pekerjaan, tapi dia segera berlari sesegera mungkin menemui Gita.
__ADS_1
Gita berdiri dari sofa. Menghirup udara dalam-dalam ke paru-parunya dan memaksa dirinya agar tidak berteriak panik di depan laki-laki yang sudah melecehkannya. Gita masih takut berhadapan dengan Arki. Tapi dialah satu-satunya jalan menuju penyelesaian semua masalah yang merundung Gita sekarang.
“Kita ngobrol di luar sambil makan siang, gimana?” kata Arki menawarkan.
Gita mengangguk dan mengikuti Arki menuju salah satu café yang berada di dekat kantor. Arki memesankan Gita premium sandwich, karena sejak datang Gita hanya memandang buku menu tanpa memesan apapun. Dia jarang makan di café seperti ini, jadi sangat kebingungan memilih apa yang akan dipesan. Selain itu pikirannya terus berkecamuk, merutuki tindakannya.
“Wajah kamu kenapa memar kayak gitu?” tanya Arki yang penasaran melihat wajah Gita yang terluka. Padahal beberapa hari lalu saat tak sengaja bertemu di mall.
Gita menelan ludah, menyingkirkan duri imajiner yang seperti menahan dirinya untuk berkata. “Aku diusir dan dihajar ibu tiriku karena ketahuan hamil,” ucap Gita pelan, air mata turun ke pipinya. Bukan karena sedih, melainkan merasa sangat bodoh dan ketakuatan mengucapkan kebohongan besar pada laki-laki dihadapannya.
Arki langsung mematung, menatap Gita tidak percaya, dia kehilangan kata-kata sejenak. Merasa bingung dengan situasi yang dihadapinya.
“Hamil … gimana … maksudnya?” tanya Arki yang menemukan suaranya kembali.
“Hah?” Arki semakin kaget dengan semua kata yang Gita ucapkan. “Maksudnya … kamu... hamil… malem itu kita … kamu hamil anakku?” Arki kehilangan kemampuannya untuk menyusun kalimat dengan benar, karena kaget dan bingung.
“Kamu gak percaya aku hamil anak kamu? Kamu pikir aku pernah ngelakuin hal kayak gitu sama cowok lain? Cuma kamu yang—” Gita kehilangan kata-katanya juga. Kebohongan yang dia ucapkan membuat lidahnya kelu.
Kini Gita hanya tersedu, merasa sangat konyol dan bersalah. Tapi sekarang dia sudah tidak bisa mundur lagi. Peluru sudah dia tembakkan ke udara. Entah sampai mana dia tertuju.
Salah satu tangannya merogoh tas dipangkuan, kemudian mengeluarkan alat kecil berwarna putuh, dengan dua garis merah di tengahnya. Testpack milik Nia yang Gita curi.
__ADS_1
Arki menatap benda tersebut lama, sebelum mengambil dan mengamatinya secara seksama. Dua garis merah yang menghancurkan hidupnya dan juga membuatnya merasa lega sekaligus.
“Jadi kita waktu malam itu ngelakuin sesuatu sampai kamu hamil?” Arki mulai berbicara lebih tenang.
Gita mengangguk, “Aku baru tahu kalau hamil setelah ngelakuin tes kayak gini, karena aku telat datang bulan dan tiba-tiba mual-mual. Ibu tiriku curiga karena itu, dia nyuruh aku buat tes kehamilan. Pas tahu aku hamil, aku dihajar dan diusir dari rumah,” ucap Gita menyusun penjelasan dan skenario kebohongannya.
Arki mengembuskan napas berat, dia menyisir rambutnya dengan jari merasa frustrasi. “Kamu sekarang tinggal dimana?”
“Rumah sahabatku. Dia yang mau menampungku. Tapi aku gak bisa selamanya disana, apalagi kalau keluarganya tahu kalau aku hamil tanpa suami, aku belum dapat kerja sampai sekarang… aku bingung harus kayak gimana,” ucap Gita penuh penghayatan. Menangkupkan kedua tangan diwajah.
Semakin lama dia semakin ahli meluncurkan kalimat kebohongan pada Arki. Mungkin hatinya sekarang sudah gelap didera keputusasaan, hingga berani mengatakan kejahatan dan kebohongan besar tersebut. Tapi Gita terus melakukan pembelaan dalam hatinya, bahwa Arki pantas mendapatkannya. Dia juga orang jahat yang telah melecehkan Gita.
Arki menyandarkan punggungnya ke kursi, kedua tangannya terangkat di kepala—menjambak rambutnya, matanya terpejam seakan mencari inspirasi dan jawaban. Dia harus bagaimana dengan kehamilan Gita?
Di dalam hatinya masih ada keraguan besar yang tidak bisa dia singkirkan. Arki merasa dia tidak melakukan hal sejauh itu dengan Gita, meskipun sekelebatan ingatannya sama sekali tidak membantu. Bisa saja dia memang benar-benar melakukannya. Apakah ular kobranya bangkit dan memuntahkan bisa pada malam itu? Itu artinya Arki sama sekali tidak mengalami disfungsi. Poin bagus dari kejadian tersebut hanyalah itu saja.
Arki mencondongkan tubuhnya ke arah Gita, menaruh kedua lengannya di meja, dan menatap dalam perempuan yang bercucuran air mata di hadapannya. Bila semua memang sudah terjadi, satu-satunya yang harus Arki lakukan adalah bertanggung jawab.
“Gita, ayo kita nikah!” ucap Arki dengan mantap.
Gita sangat ketakutan mendengar kalimat tersebut, tapi inilah yang menjadi tujuannya. Skenario yang bisa membuat seorang laki-laki tampan, kaya, memiliki pekerjaan bagus, dan baik seperti Arki untuk menikahinya. Semua masalah keuangan yang menjadi penghadang terbesar di hidupnya akan lenyap dengan ikatan baru yang akan mereka sematkan.
__ADS_1
Hatinya nuraninya meronta, merutuk, dan meneriakan kekecewaan. Dia sudah memulai perjalanannya dengan melakukan dosa besar dan mungkin sulit dimaafkan oleh siapa pun. Apalagi oleh Arki. Tapi Gita akan berusaha sekuat tenaga untuk menutup rahasia dan menyusun rencananya dengan rapi agar terus bersanding dan hidup nyaman bersama Arki.
Per setan dengan cinta! Per setan dengan trauma yang dialaminya! Gita hanya butuh uang. Itu saja.