Istriku Penipu

Istriku Penipu
Persetujuan


__ADS_3

Gita tertidur kembali setelah tenang dan selesai menangis. Rupanya pengaruh obat diminuman yang diberikan Juan belum sepenuhnya menghilang. Arki membawa dan membaringkan Gita di kamar hotel miliknya. Mendekap erat dan tidak ingin lagi berjauhan.


Arki mengusap lembut punggung Gita yang berada dalam pelukan. Merasakan hangat dan nyaman yang selama lebih dari sebulan tidak dia rasakan. Begitu rindunya dengan perasaan seperti ini, dengan semua lekuk indah tubuh Gita dan wanginya.


Arki sepertinya sudah jatuh terperosok ke dalam pesona Gita. Sekarang otaknya berputar bagaimana caranya agar Gita juga jatuh cinta padanya. Dia tidak ingin menceraikan Gita. Malah keinginan untuk memulai hubungannya kembali dengan benar semakin besar. Bisakah dia meyakinkan Gita?


Dia mengingat kembali bagaimana Gita memintanya melepaskan ikatan mereka segera. Tapi Arki tidak bisa. Hingga kini dia tidak sanggup melakukannya. Meskipun Arki ingin melihat Gita bahagia, untuk keputusan seperti itu Arki tidak bisa mengabulkannya.


“Kenapa?” tanya Arki saat melihat Gita bergerak tidak nyaman dan bangun dari tidurnya.


“Aku haus,” jawabnya parau. Matanya masih berat untuk terbuka. Tubuhnya begitu nyaman berada dalam kehangatan dekapan Arki. Rasanya seperti mimpi.


“Sebentar, aku ambilkan air.”


Arki melepaskan pelukannya dan mengambil air minum botol di meja rias. Kemudian membantu Gita minum. Setelah itu mereka berpelukan kembali di bawah selimut. Saling merasa nyaman terus saling berdekatan.


Dalam keadaan seperti ini Arki tidak bisa menyingkirkan pikiran-pikiran liarnya yang terus berlarian. Gita yang berada dalam pelukan, kehangatannya mampu membangkitkan sesuatu yang berbahaya dalam diri Arki. Lagipula bagian tersebut tidak pernah lagi mendapatkan perhatian dan melakukan petualangan. Setelah mereka berjauhan, ular kobranya kesepian.


Tangan nakal Arki mulai menelusup ke dalam kaos Gita. Bergerilya liar menyentuh bagian-bagian menyenangkan di tubuh istrinya. Tidak lama, Arki sudah mulai menemukan gundukan lemak indah yang sangat dirindukannya. Pas dalam genggaman tangan dan siap dimainkan.

__ADS_1


Arki mendorong Gita pelan hingga terlentang dan memposisikan diri di atasnya. Membenamkan kecupan di bibir indah istrinya. Lidah mereka bertaut dengan mesra seiring waktu.


Gita membuka matanya, kali ini yang dilihat olehnya adalah Arki. Pasti ini hanya mimpi, karena Arki sudah tidak menginginkannya, mana mungkin dia mau melakukannya dengan Gita. Mungkin karena terlalu merindukan laki-laki itu, Gita menjadi berhalusinasi disentuh lagi olehnya. Tapi kenapa rasanya begitu nyata? Semua sentuhan yang familiar dan sangat diingatnya menjalar disekujur tubuhnya.


“Arki?” bisik Gita yang masih belum bisa membedakan batas mimpi dan kenyataan.


“Ya? Ini aku. Jangan khawatir! Kamu tidur lagi aja kalau masih ngantuk,” bisik Arki di telinga Gita.


Tapi mana mungkin Gita bisa tertidur kembali, sementara sentuhan Arki terus berkeliaran membuat perasaan Gita tidak karuan. Kenikmatan dan geli yang sekaligus dia rasakan, saat Arki mencerup dadanya, meraup dan mengenggamnya di tangan. Gita sudah hampir lupa bagaimana dia selalu terbuai pada setiap sentuhan Arki ditubuhnya.


Gita tidak mencoba melawan atau menghentikannya. Malah sepertinya menginginkan ini sejak lama. Saat baju yang dikenakannya sudah dilempar ke sembarang arah oleh Arki, Gita masih tidak menolaknya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, masih merasakan hal yang dilakukannya hanyalah mimpi saja. Meskipun suara-suara gumaman dan erangan keluar tanpa sadar dari mulutnya.


Semangat Arki seakan dilecutkan mendengar Gita mengerang dan menikmati. Kecupannya di tuntaskan hingga ke paha. Menandai banyak berkas kemerahan di tubuh Gita, meninggalkan jejak bahwa perempuan itu miliknya.


Arki mulai membenamkan pusaka miliknya ke tubuh Gita. Perasaan luar biasa yang nyaris dilupakannya, karena mengikuti ego dan jalan pikirannya yang salah. Padahal dia hanya membutuhkan Gita, dia hanya perlu melepas semua kebencian dan rasa tinggi hatinya. Tubuh perempuan inilah yang dibutuhkannya. Semua keraguannya hilang dilimpas kenikmatan yang terus turun seiring tubuhnya berayun.


“Ukh.. Arki,” ringis Gita sambil mencengkram kedua bahu Arki dengan kuat. Rasa sakit dan perih yang nikmat membuatnya semakin hilang arah kesadaran.


“Kenapa? Sakit? Aku terlalu kasar?” bisik Arki, kemudian mengecup bibir Gita sekejap.

__ADS_1


Gita mengangguk. Dia tidak sanggup mengikuti laju permainan Arki yang terlalu cepat hingga tubuhnya menghentak. Arki memelankan gerakannya. Sebagai gantinya, dia memperdaya serangan. Pelan, namun dalam, membuat Gita sama kagetnya. Hingga tetap mengerang kesakitan. Air mata lolos dari pelupuknya. Gita tidak akan protes. Hanya dalam mimpi seperti ini dia bisa merasakan kembali disentuh Arki.


Semua pergumulan dan sentuhannya kini semakin cepat mencapai ujung permainan. Mereka saling memeluk, melepaskan kenikmatan yang sudah lama tertahan. Menyatu dalam erangan dan hela napas bersamaan. Mereka saling memeluk, mencium, menyentuh, mengutik, dan membelenggu satu sama lain seakan tidak ingin terpisahkan lagi.


Hanya ada mereka berdua dengan kepuasan yang sudah mencapai kepala.


...****************...


Gita terbangun karena suara ponselnya berdering. Merasakan seluruh tubuhnya lemas dan bagian intinya terasa linu dan nyeri. Beberapa bekas kemerahan mengalur teratur di leher perut dan pahanya. Penanda dari laki-laki yang sekarang tertidur bertelanjang dada di sampingnya.


Seketika Gita tersentak. Sepenuhnya sadar. Pengaruh obat yang diberikan Juan menghilang. Kelebatan bayangan yang terjadi membuatnya ngeri. Juan mencoba merogolnya, kemudian mencoba menghilangkan nyawanya. Arki datang dan menghajar Juan tanpa ampun. Lalu diakhiri bayangan dirinya dan Arki ber cinta sepanjang malam.


Tidak. Ini tidak benar. Kenapa harus sekarang? Disaat hati dan raganya siap pergi dari Arki. Gita siap merelakan, meskipun seberkas harap terus dia pertahankan.


Kini Gita berada di ujung dilema besar. Ketakutannya tumbuh karena banyak hal. Terutama tentang perasaan Arki yang kian tidak jelas padanya. Menyingkirkannya, tapi kemudian menginginkannya. Sementara sekarang dia sudah menyetujui untuk menjauhi Arki, karena dia tidak layak serta tidak diinginkan.


Suara ponsel terus berdering nyaring. Gita bangkit dari tempat tidur, menggapai gawai yang terus berbunyi. Nama yang tertera disana semakin membuat Gita dihantam perasaan tak karuan. Haruskah dia mengikuti? Atau tinggal disini dan mengulang perasaan tersakiti oleh Arki? Akhirnya Gita mengangkat telepon tersebut dengan gemetar.


“Halo, Mbak Gita. Mobil yang akan menjemput Mbak Gita ke bandara sudah ada di lobby. Penerbangan ke Jakarta satu jam lagi. Mohon untuk segera bersiap dan turun ke bawah,” ucap Basuki di sambungan telepon.

__ADS_1


“Aku gak bisa. Arki disini, aku sama Arki—“


“Mbak Gita sudah menyetujui hal ini dengan Pak Arya, bukan? Tidak ada alasan apapun untuk tetap bersama Mas Arki. Silakan turun ke lobby dan berangkat ke bandara. Pak Arya sudah menunggu kedatangan Mbak Gita di Jakarta.”


__ADS_2