Istriku Penipu

Istriku Penipu
Rencana Kejam


__ADS_3

Arki mencium perempuan cantik berambut panjang itu dengan semangat yang membara. Mereka tenggelam dalam pergulatan penuh kenikmatan di hadapan Gita. Arki menatap Gita, senyuman penuh penghinaan tergambar diwajahnya. Dia tidak mempedulikan keberadaan Gita di sana dan sibuk dengan perempuannya. Begitu mesra dan panas permainan mereka. Sementara Gita menangis dan terus meminta Arki berhenti. Adegan-adegan mengerikan itu terus berulang.


“Mbak!”


“Mbak Gita!”


“Mbak Gita!”


“Mbak!”


Seketika mata Gita terjaga, keringat membasahi tubuhnya, perasaan panik dan ketakutan melingkupinya. Air matanya turun dan membasahi bantal. Gita terbangun dengan napas terengah-engah. Matanya nyalang menatap sekitar. Pemandangan kamar di rumah barunya dan Risa berada di sana.


Tidak ada Arki. Tidak ada perempuan cantik yang ada di mimpinya.


“Mbak Gita mimpi buruk lagi?” tanya Risa yang tampak khawatir.


Bagaimana tidak khawatir. Kakak tirinya itu setiap malam menangis dalam tidurnya, memanggil nama Arki dan terbangun dengan kesedihan di matanya. Sudah tiga minggu berlalu semenjak mereka bersembunyi dari Arki, tapi rupanya kakak tirinya itu masih terus dibayangi suaminya.


Risa tidak berani bertanya alasan Gita pergi meninggalkan Arki, kemudian memilih menyembunyikan diri. Dia tahu semenakutkan apa Arki yang tega memasukkan Risa ke penjara, pasti Gita mengalami hal-hal tidak menyenangkan juga dengannya.


“Aku ambilin air hangat dulu ya,” ucap Risa kemudian bergegas ke dapur dan kembali membawa segelas air hangat.


Gita segera menenggak habis air tersebut, kini dia lebih tenang duduk di atas ranjang. Kepalanya pusing dan tubuhnya lemas. Dia tidak bisa berhenti bermimpi tentang Arki dan perempuan yang dilihatnya di video yang diberikan Basuki. Hatinya begitu terluka hingga gambaran itu terus berputar diotaknya. Bahkan dialam bawah sadar pun, semua itu menghantuinya.


“Kamu tidur lagi aja, Ris.” Gita melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 1 pagi. Pasti Risa mendengarnya menangis dan bergegas mengeceknya lagi, hampir setiap hari.


“Beneran udah gak apa-apa? Kayaknya Mbak Gita harus ke dokter deh, minta obat tidur. Mungkin ke psikolog buat curhat,” saran Risa.


“Gak usah. Ngapain ke psikolog, macem orang kaya aja ngabisin duit cuma buat curhat. Udah sana tidur lagi!” kata Gita enggan.


“Tapi Mbak Gita kan mimpi buruk terus tiap hari. Mungkin Mbak Gita trauma sama Mas Arki—”


“Jangan sebut namanya! Aku gak mau denger nama itu lagi.”

__ADS_1


Risa langsung mengatupkan mulutnya. “Ya udah aku tidur lagi deh. Nanti pagi aku harus OSPEK, jadi butuh istirahat cukup, biar wajahku glowing ketemu kakak tingkat,” kata Risa genit. Dia kemudian pergi meninggalkan Gita dan kembali ke kamarnya.


Gita terkekeh dengan tingkah Risa yang masih sama genitnya seperti dulu. Tingkah laku khas remaja yang harus selalu terlihat cantik dan trendy. Gita cukup bersyukur ditemani oleh Risa dipersembunyiannya, setidaknya hari-harinya tidak begitu sepi. Walaupun sebenarnya mereka bukan kakak beradik yang cukup akur, tapi Risa seringkali menghiburnya.


Mau bagaimana pun, mereka memang tumbuh bersama sepanjang hidup. Gita melihat Risa lahir dan ikut membesarkannya. Sifat menyebalkan Risa berangsur mereda karena ketidakhadiran ibu tiri mereka di sini.


Biasanya remaja itu senang melawan dan bersikap seenaknya, sehingga tiada hari tanpa perang dan adu mulut dengan Gita. Tapi mungkin begitulah hubungan saudara pada umumnya. Tidak selalu akur dan penuh cinta.


Gita kemudian teringat dengan Ela dan Irma, dua bersaudara yang berlainan sifat dan tetap bersama ketika masa tua. Ela yang bercerai dengan suaminya dan Irma yang ditinggal meninggal oleh suaminya, kemudian memutuskan hidup bersama untuk saling menguatkan.


Dia mungkin akan hidup seperti itu juga dengan Risa. Mungkin juga tidak. Jelas Risa punya masa depan dan akan menikah suatu hari. Kini bayangan tentang hidup sendiri membuat Gita ketakutan.


Bagaimana jika tidak ada yang menyelamatkannya saat dia bermimpi buruk tentang Arki?


...****************...


“Mbak Git, tahu gak sih? Tadi temen sekelompokku pas OSPEK ada yang cakep banget. Terus dia kayak deketin aku gitu. Mana minta nomor HP lagi. Hebat kan aku? Belum sehari kuliah aja udah ada yang kecantol,” kata Risa dengan ceriwis membicarakan hari pertamanya masuk kuliah.


“Kayaknya aku ada ide deh buat tambahan penghasilan kita nanti. Kita bikin usaha bento ala-ala gitu, Mbak. Tadi aja banyak yang muji bekalku yang cantik dan aesthetic bikinan Mbak Git,” kata Risa berbangga sambil menyuap makanan ke mulut.


“Bikin warteg, gitu? Usaha kayak gitu capek kalau sendirian. Emangnya kamu mau bantuin?”


Gita memang sempat berpikir membuka warung makan seperti Mia. Tapi jika dia lakukan sendiri tanpa bantuan, mungkin akan kewalahan. Membayangkan memasak banyak menu membuatnya lelah. Apalagi akhir-akhir ini tubuhnya sangat lemah, Gita seringkali pusing dan lemas. Hanya ingin berbaring seharian. Mungkin pengaruh banyaknya beban pikiran dan bayangan tentang Arki yang tidak mau hilang.


“No. No. Warteg so old banget, bilangnya kedai makanan. Menunya lebih modern, atau bikin bakery aja. Jual cake-cake cantik ala Korea gitu. Mbak Git bisa, kan? Aku sih pasti bantuin. Promosi di kampus, di sosmed, ke tetangga juga, Oke.” Risa begitu bersemangat dengan idenya.


“Hmm … nanti aku pikirin lagi deh, yang kayak gitu harus direncanakan matang. Duit kita emang masih banyak, tapi kalau terlalu heboh bikin usaha dan gak lihat market, bisa jadi gagal.”


“Mulai deh. Si Gita anak akuntan yang perhitungan,” kata Risa mendelik. “Gimana kalau kita open PO dulu bento cantik ke temen kuliahku? Bisa juga open PO buat cookies, fudge brownies, bento cake, dimsum. Biar kita bisa sekalian penelitian konsumen suka atau ngga. Nanti kita pilih bakal bikin usaha apa, yang paling diminati, untungnya banyak, dan prosesnya gak terlalu ribet. Gimana?”


Gita terkekeh. “Sejak kapan kamu jadi pinter gini?”


“Di lapas ada program keterampilan bisnis dong, Mbak. Makanya aku sekarang masuk jurusan Bisnis dan Marketing. Soalnya seru.”

__ADS_1


Pembicaraan mereka kemudian terpotong oleh suara ketukan di pintu. Seketika mereka diam membisu dan saling menatap siaga. Siapa yang malam-malam bertamu ke persembunyian mereka? Sesaat Gita berpikir bahwa Arki telah menemukannya.


Gita segera mengintip dari balik jendela. Ternyata Basuki bersama dua orang pengawalnya. Lekas saja Gita membukakan pintu untuknya.


“Jadi, kedatangan saya ke sini ingin mengabarkan sesuatu pada Mbak Gita dan Risa,” kata Basuki mengawali pembicaraan. Mereka kini sudah duduk di ruang tamu dengan nyaman.


“Soal apa?” tanya Gita waspada.


“Soal ibu tiri kalian. Kemarin kami menemukan Bu Ani di daerah Pluit, saat akan memintanya untuk ikut dengan kamu, Bu Ani malah lari dan tertabrak truk.” Basuki menjelaskan pelan-pelan kabar duka tersebut.


“Ibu …” ucap Risa kemudian tangisnya pecah.


Gita hanya menatap kaget ke arah Basuki, dengan mata membulat ngeri. Ibu tirinya me ninggal tertabrak truk. Hal yang nyaris tidak bisa Gita percaya. Gita memang tidak menyukai ibu tirinya yang jahat sejak dulu. Namun, mendengarnya sudah tidak bernyawa dengan tragis seperti itu tetap membuat hatinya pilu.


“Kami turut berduka cita atas kejadian tersebut dan juga ingin meminta maaf karena tida bisa menyelamatkan Bu Ani. Sebenarnya ini memang kurang sopan dibicarakan sekarang. Tapi kondisi Bu Ani nyaris tidak bisa dikenali. Kita akan menggunakan kejadian kurang menyenangkan ini sebagai pelengkap skenario kepergian Bu Gita. Kita akan pakai dan palsukan data forensik Bu Ani, sehingga yang Mas Arkian tahu tubuh tersebut adalah Mbak Gita.”


“Kalian sengaja kan bikin ibu tiri saya tertabrak buat ini? Jadi ini skenario yang Pak Arya janjikan?” kata Gita tidak menyangka akan sekejam dan sekeji ini rencana Arya. Tidak mungkin ibu tirinya tertabrak ditengah pelariannya.


“Ini kecelakaan dan tidak bisa dihindari. Kami hanya memanfaatkan momen tragis ini untuk kamuflase saja. Tidak ada salahnya, bukan?”


“Kalian menghilangkan nyawa orang dan bilang gak ada salahnya? Gak waras!”


Gita sekarang disergap perasaan takut. Mungkin hari ini ibu tirinya yang tak bernyawa. Suatu saat nanti ketika Gita tidak dibutuhkan lagi, mungkin gilirannya lah yang hilang dari dunia. Seketika Gita menyesal bekerja sama dengan Arya. Bermain api hingga dirinya akan terbakar tidak tersisa.


“Mbak Gita tidak ingin berselisih dengan Pak Arya, bukan? Simpan penilaian moral Mbak Gita untuk diri sendiri. Kita kembali ke kesepakatan awal yang sudah disetujui,” kata Basuki dingin.


“Aku mau ketemu sama ibu,” sela Risa sambil berurai air mata.


“Mohon maaf. Tapi kalian tidak akan bertemu dengan Bu Ani. Kami akan menyerahkan tubuh Bu Ani pada Mas Arkian dan keluarganya sesuai identitas palsunya sebagai Mbak Gita. Jangan berpikir untuk datang ke tempat peristirahatan terakhirnya! Kami akan mengawasi agar kalian tidak kemana-mana.” Basuki memperingatkan. “Nah. Selain untuk menyampaikan kabar duka tadi. Saya kesini untuk meminta sampel dari Mbak Gita dan Risa untuk keperluan forensik nanti,” lanjutnya tanpa peduli.


Dua orang yang menemaninya segera maju menghampiri Gita dan Risa. Mengambil sampel rambut, epitel kulit, dar ah, dan hal lain yang mereka butuhkan untuk memperkuat bukti medis bahwa yang sudah tidak bernyawa di sana adalah Gita.


Kini Gita sudah tiada, bagi Arki.

__ADS_1


__ADS_2