
Kabar mengenai hasil interview kerja sudah Gita terima. Dia akan segera bergabung di salah satu brand kosmetik terkenal Marvelook sebagai akuntan. Gita sampai melompat-lompat senang menerima offering letter dari perusahaan tersebut.
Kali ini Gita memberitahukan mengenai kabar tersebut pada Arki. Meskipun laki-laki itu memberinya ucapan selamat, tetapi Gita tidaklah bodoh untuk menyadari keengganan Arki menyetujui keputusan Gita untuk bekerja.
Tidak masalah. Gita tidak akan peduli juga dengan bagaimana perasaan Arki. Paling penting sekarang, dia akan bekerja dan kembali mendapatkan uang.
Gita bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Arki, karena mulai hari ini dia akan bekerja.
Arki juga harus berangkat lebih pagi untuk mengantarnya ke kantor, karena jarak kantornya dengan Gita melewati jalur yang berpotensi macet. Padahal Gita sudah berusaha menolaknya, namun Arki tetap memaksa mengantar setiap pagi. Terserahlah, yang akan repot sendiri kan dia.
Mobil yang dikendarai Arki berhenti di tempat drop off Marvelook. Gita mengambil nafas, sebelum membuka pintu. Tiba-tiba Arki menahan tangannya agar tidak beranjak dulu dari mobil.
Dia menatap lekat istrinya yang sudah berpenampilan rapi itu. Gita tampak sangat berbeda dari sosoknya yang dulu, saat mereka bekerja bersama. Sekarang dia terlihat lebih cantik dan modis. Entah kenapa Arki benci melihatnya berpenampilan seperti itu ke kantor barunya.
“Kenapa?” tanya Gita bingung saat Arki menghentikannya untuk turun dari mobil.
“Langsung telepon aku kalau morning sickness-nya kambuh,” kata Arki khawatir.
“Aku gak apa-apa kok. Gak kerasa mual sama sekali," ucap Gita. Jelas, karena dia memang tidak sedang hamil.
Arki melepaskan seat belt-nya, kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Gita. Parfum beraroma manis dan menggoda menguar dari tubuh perempuan itu. Gita terperanjat dengan perilaku Arki, dengan cepat mendorongnya menjauh.
“Arki!” bentaknya marah tidak terima dengan kecupan itu.
“Kamu tahu kan sebenarnya aku gak setuju kamu kerja lagi? Seenggaknya kasih aku sesuatu biar perasaanku jadi lebih baik.”
Gita menatap galak pada Arki. Dia begitu kaget hingga tidak tahu harus berkata apa. Hanya kekesalan dan ketakutan yang memenuhi kepalanya saat bibir tersebut menyentuhnya. Gita masih mengingat dengan jelas bagaimana bibir itu menjelajahi tubuhnya.
“Aku pergi sekarang!” ucap Gita segera membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia tidak berbalik dan mengucapkan perpisahan pada suaminya yang sekarang masih belum beranjak dan terus memperhatikannya menghilang di balik pintu lobby.
Arki benar-benar kurang ajar. Gita masih saja belum bisa mengendalikan kekagetannya, bahkan saat dia sudah memasuki ruangan HRD. Padahal ini adalah hari pertamanya bekerja kembali. Tapi Arki malah menghancurkannya dengan berbuat tidak senonoh padanya.
“Mbak Gita, yuk ikut saya!” panggil Pak Usman, Manager barunya yang menjemput dari ruang HRD untuk diperkenalkan kepada timnya.
__ADS_1
Gita segera menghapus memori mengenai perbuatan Arki tadi dari pikirannya. Langkahnya beriringan mengikuti Pak Usman yang berjalan sambil menerangkan mengenai ruangan-ruangan di lantai 14, tempatnya akan bekerja.
Tagline tercetak besar di dinding “Marvelook : Marvelous Looks” di dekat pintu masuk menuju ruangan akuntan. Saat memasuki ruangan tersebut, ada 6 orang yang sudah duduk rapi dan sibuk dengan komputernya. 4 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Gita berharap, semoga rekan kerjanya sekarang tidak semenyebalkan rekan kerjanya di perusahaan lama.
“Guys, mohon perhatian sebentar. Kita kedatangan anak baru yang bakal gabung sama tim kita. Lebih tepatnya bakalan assist kerjaan Tama. Namanya Gita. Semoga dengan kedatangannya ke tim, kita jadi terbantu dan makin solid,” kata Pak Usman memperkenalkan Gita.
“Hai, aku Pratama. Panggil aja Tama. Kamu nanti bantuin kerjaan aku buat laporan keuangan. Tanya aja kalau ada yang gak kamu ngerti,” kata Tama memperkenalkan dirinya dengan ramah.
Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri pada Gita. Orang-orang tersebut adalah Rena, Mila, Femy, Gina, dan Yohan. Mereka terlihat ramah dan senang menyambut Gita. Semoga dugaannya benar. Gita tidak mau bekerja dilingkungan seperti kantornya dulu yang tidak ramah dan suka merisaknya.
“Katanya kamu udah nikah ya, Git?” tanya Mila penasaran.
“Iya. Baru beberapa minggu yang lalu”
“Oh pengantin baru. Ciee masih seger dan mesra dong sama suami,” goda Femy.
“Yah, sayang deh Tama gak bisa ngemodus anak baru.” Rena menjahili Tama.
“Apaan sih ah! Siapa yang suka ngemodus, hah? Jangan rusak reputasiku dong, Ren.”
“Iya nih, tiap ada anak baru pasti dimodusin. Untung Gita udah nikah ya. Tapi tetep hati-hati aja sih sama si Tama,” kata Gina menasehati.
Gita hanya tertawa mendengar celotehan jahil rekan kerja barunya menggoda Tama. Sepertinya rekannya sekarang tidak semenyebalkan dulu, mereka langsung bisa akrab dan saling melempar guyonan ringan. Gita bersyukur mendapatkan kesempatan bekerja di tempat baru yang jauh lebih menyenangkan.
“Git, ayo makan siang!” ajak Tama saat sudah memasuki jam istirahat.
Gita mengikuti Tama dan rekan lainnya menuju ke kantin perusahaan. Sebenarnya Gita membawa bekalnya sendiri, dia lupa kalau perusahaan barunya menyediakan makan siang gratis. Benar-benar tempat kerja impian. Gita jadi tidak harus mengeluarkan uang untuk makan siang ataupun repot-repot membawa bekal.
Gita duduk berdua dengan Tama karena hanya tempat duduk kecil itu yang tersedia. Atasan langsungnya ini sangat menyenangkan dan baik. Dalam waktu setengah hari saja mereka sudah akrab. Tama juga sangat bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan. Dia membimbingnya sebagai anak baru disana agar bisa beradaptasi dengan job desk-nya.
Selama makan siang mereka terus berbincang banyak hal. Pengalaman kerja, kehidupan pribadi dan gosip-gosip yang harus Gita ketahui di kantor.
Ponsel yang Gita letakkan di atas meja berbunyi tiba-tiba. Ketika melihat si penelepon, alisnya tertaut bingung. Kenapa Arki ingin melakukan panggilan video? Gita mematikan panggilan tersebut. Merasa terganggu dan tidak punya urusan apapun dengan laki-laki itu sekarang.
__ADS_1
[Arki: Kenapa ditutup? Angkat teleponku!]
[Gita: Ngapain sih video call segala? Chat aja!]
Arki melakukan panggilan telepon kembali. Dia tidak menyerah sebelum Gita mengangkatnya. Beberapa kali Gita tidak menjawab panggilan tersebut. Tapi akhirnya dia menyerah. Dia pergi lebih dulu dan berpamitan pada Tama menuju ruang kerja.
“Kenapa sih mau VC aja susah?” hardik Arki saat panggilan video tersambung.
“Ya lagian kamu mau ngapain sih VC segala? Aku lagi makan siang dikantin, banyak orang,” balas Gita tak kalah panas.
“Sama siapa kamu ke kantin?”
“Sama temen setim aku lah. Kenapa sih emangnya? Ada yang penting gitu sampai kamu mau VC?”
“Emang gak boleh kalau aku mau VC sama istri sendiri?”
“Kalau gak ada hal penting ngapain kayak gini? Ganggu orang lagi makan siang aja.”
“Oh jadi kamu merasa terganggu sama panggilan dari suami? Sebegitu penting temen kerja kamu, sampai ngomong sebentar aja sama aku gak mau?”
“Arki apaan sih gak jelas banget? Ini hari pertamaku kerja, aku lagi adaptasi sama mereka. Aku gak mau dikucilkan kayak dikantor dulu karena sering gak bisa gabung makan siang sama mereka. Ngerti gak sih kamu?” ucap Gita emosi. Dia tidak mengerti kenapa Arki tiba-tiba meneleponnya dan bertingkah seperti ini sekarang.
“Git, kamu gak ambil puding coklatnya tadi. Sayang banget. Padahal enak loh. Aku beliin minuman juga, kamu tadi gak sempat minum. Nanti seret loh pas kerja,” kata Tama yang masuk ke ruangan sambil berbicara riang.
“Siapa itu, Gi—”
Entah kenapa Gita panik dengan kedatangan Tama dan mematikan panggilan video dari Arki begitu saja. Dia tidak ingin ada yang tahu mengenai perdebatan tidak bergunanya tadi dengan suaminya. Bisa-bisa tersebar gosip kalau dia tidak akur dengan Arki.
Sementara itu di tempat lain, kekesalan tiba-tiba memuncak dan membuat hati Arki panas. Dia yakin orang yang berbicara pada Gita sebelum panggilan berakhir adalah seorang laki-laki. Kenapa Gita sampai tidak mau panggilan video dengan suaminya sendiri diketahui oleh rekan kerjanya, terlebih laki-laki tadi?
Dugaan buruk melintas dipikiran Arki. Dengan penampilan Gita yang sangat modis dan cantik seperti sekarang, pasti banyak laki-laki yang suka pada istrinya itu. Hati Arki merasa tidak nyaman.
Ternyata mengizinkan Gita bekerja kembali adalah hal buruk. Dia tidak ingin perempuan miliknya akrab dengan laki-laki asing. Sial! Sifat posesifnya muncul kembali dan sulit dikendalikan.
__ADS_1