
“Gita, mereka siapa?”
Gita tidak bisa menjawabnya. Dia sangat ketakutan dan kaget mendengar ibu tirinya mengetahui bahwa dirinya pura-pura hamil untuk menjebak Arki dalam pernikahan.
Sekarang Gita semakin kaget ketika melihat Arki yang tiba-tiba berada disana, berdiri tak jauh dari mereka. Apakah dia mendengar perkataan ibu tirinya juga?
Kenapa Arki selalu muncul disaat yang tidak tepat?
“Saya Ani. Ibu tirinya Gita, sama ini Risa. Adik tiri satu ayah.” Ani langsung menghadap pada Arki, seketika berubah manis.
“Oh. Kenapa kalian berantem di depan rumah kayak gini?” tanya Arki yang terus menatap tajam pada ibu dan adik tiri Gita.
“Dia—"
“Kita gak berantem, cuma lagi meluruskan salah paham aja,” ucap Ani memotong Gita yang akan berbicara. “Kita mau nengokin Gita, udah lama gak ketemu. Soalnya dulu kita sempat salah paham dan berantem. Jadi kita mau minta maaf dan berbaikan,” lanjutnya lagi dengan suara lemah lembut. Penuh kepura-puraan.
“Bukannya dulu kalian yang mengusir Gita pas tahu dia hamil? Kenapa kalian sekarang malah datang kesini?” serang Arki.
“Oh itu bukan kayak gitu ceritanya. Jadi dulu Gita ketahuan hamil dan ada tetangga yang bocorin ke semua orang. Karena Gita belum nikah tapi hamil, semua tetangga jadi marah dan nganggap Gita cewek gak bener. Jadinya dia diusir sama warga. Saya gak bisa tolongin dia, bahkan gak lama dari itu saya diusir juga. Sekarang terlunta-lunta nginep di rumah saudara. Kita kesini mau meluruskan salah paham itu, bukan kita yang mau Gita diusir dari rumah, tapi tetangga sekitar. Iya kan, Git?” Ani menoleh pada Gita dan memelototi serta memberi kode untuk mengikutinya.
Gita mengangguk pelan dan tetap bungkam. Saat ini dia takut Arki tahu tentang kebohongan kehamilannya. Ibu tirinya datang memperkuat kebohongan mengenai kehamilan tersebut.
Meskipun sampai saat ini Gita masih berpikir keras, bagaimana ibu tirinya itu sampai tahu bahwa Gita pura-pura hamil untuk menikahi Arki. Apakah Mia membocorkan rahasianya? Tidak mungkin! Mia sahabatnya, dan dia sudah seperti saudara. Jangan-jangan Nadia? Mereka memang berteman dekat, namun tidak sedekat seperti dirinya dan Mia.
“Jadi kalian gak punya tempat tinggal sekarang?” Arki menghela napas berat.
Ani mengangguk, matanya tampak sedih sambil menatap Arki. “Kiat berharap Gita bisa bantu karena dia sekarang udah hidup lebih mapan.”
“Ya udah, sekarang masuk dulu. Gak enak ngobrol di jalan kayak gini,” ucap Arki mempersilakan kedua tamu tak diundang itu masuk ke rumah.
Gita menyajikan minuman pada ibu dan adik tirinya. Kemudian duduk di salah satu sisi sofa dan memandang keduanya dengan tatapan penuh curiga juga kebencian.
Ani dan Risa melihat-lihat rumah Gita dengan penuh kekaguman. Benar-benar rumah impian yang nyaman. Mereka tidak sabar untuk segera tinggal disini.
Kini mereka punya harapan karena sepertinya Arki menerima dengan baik. Meskipun laki-laki itu terlihat tidak terlalu ramah, tapi dia tidak serta-merta mengusirnya dan tetap mempersilakan masuk untuk berbicara. Pasti kali ini Ani juga bisa meyakinkannya untuk tinggal di sini.
“Awas kalau Ibu ngomong soal kebohonganku di depan Arki!” ancam Gita.
__ADS_1
“Asal gue tinggal disini dan dapet duit, rahasia lo aman,” bisiknya membalas Gita.
Arki masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobil ke garasi. Dia langsung duduk menghadapi tamu dan istrinya yang sudah berada di ruang tamu.
“Langsung aja sama intinya, jadi kalian mau apa?” kata Arki tidak sabar.
Gita bisa merasakan mood suaminya itu sedang tidak baik. Mungkin dia marah karena kedatangan ibu tiri dan adik tirinya ini sekarang. Saat hubungan mereka sedang memburuk, masalah-masalah dari luar bermunculan. Pasti Arki akan sangat marah padanya setelah ini. Memikirkannya saja membuat Gita pening.
“Jadi kita datang ke sini buat minta bantuan Gita supaya bisa dapat tempat tinggal segera. Kasihan Risa sebentar lagi ujian kelulusan SMA dan harus pindah-pindah tempat tinggal ditempat saudara. Nanti dia gak fokus belajar. Kita sih gak minta dibelikan rumah, mungkin kita bisa numpang tinggal disini untuk beberapa waktu,” tutur Ani dengan lembut dan berhati-hati.
“Saya gak bisa izinkan kalian tinggal di rumah ini, saya cuma mau tinggal berdua dengan Gita,” jawab Arki lugas.
Ani melongo sejenak, tidak mengira idenya langsung ditolak mentah-mentah oleh Arki. Bahkan tanpa berbasa-basi sedikit pun.
“Bukannya rumahnya punya beberapa kamar? Mas Arki bisa pinjamkan satu kamar aja buat saya dan anak saya tempati. Sampai selesai Risa sekolah juga gak apa-apa.”
“Gak bisa. Saya kurang suka tinggal dengan orang asing selain istri saya.”
Arki tidak bisa ditawar lagi. Dia tidak ingin Ani dan juga Risa menempati rumah yang dia gunakan bersama Gita. Semua kehidupannya dengan Gita adalah privasi. Apalagi Arki akan banyak melakukan aktivitas intimnya di rumah ini bersama istrinya, tidak ada seorang pun yang boleh mengganggunya.
Mendengar penuturan tegas tanpa ampun dari Arki membuat Ani salah tingkah. Dia jadi malu dan segan pada laki-laki yang menjadi menantu tirinya itu. Dia sulit untuk ditawar dan juga tegas.
“Gita, bukannya kamu pingin kumpul sama Ibu dan Risa? Ibu minta maaf waktu itu gak bisa bela kamu di depan warga. Ibu selalu inget kamu dan nyariin pas kamu menghilang. Tapi untungnya kamu sekarang udah punya suami yang baik dan tempat tinggal layak. Dibandingkan Ibu yang hidupnya terlunta-lunta gini.” Ani mulai memperlihatkan kebolehannya bermain peran di depan Gita dan Arki.
Gita mengerti maksud ibu tirinya melakukan itu. Dia ingin agar Gita membujuk Arki, supaya mereka diizinkan tinggal di rumah. Pasti karena dia merasa sudah menggenggam rahasia Gita, yang bisa menghancurkan kepercayaan Arki padanya.
“Arki, bisa ga—”
“Saya punya rumah lain buat kalian tinggali kalau kalian mau. Tapi agak jauh dari sini, sebelum masuk ke daerah Depok. Kalau kalian butuh tempat tinggal, saya bisa menawarkan rumah itu terlebih dahulu. Saya gak pernah pakai rumahnya dan biasa disewakan,” potong Arki memberikan saran.
Ani sekali lagi melongo. Tidak mengira akan jadi seperti ini. Awalnya dia ingin tinggal di sini untuk mendapatkan uang dari Gita dan memberi kesempatan Risa untuk dekat dengan suami Gita. Tapi memang, laki-laki ini tidak terlalu ramah dan mungkin sulit digoda. Tawaran rumah juga bukanlah hal yang buruk jika tujuan utamanya tidak tercapai.
“Wah sekitaran Depok ya? Kayaknya gak terlalu jauh dari sekolahnya Risa. Saya gak apa-apa nih pakai dulu rumah itu?” ucap Ani sumringah.
“Gak apa-apa. Pakai aja sesuka kalian, saya gak keberatan. Saya juga bisa antar kalian sekarang ke rumah itu.”
Setelah berpamitan dengan Gita untuk mengantar ibu dan adik tirinya ke rumah baru, Arki segera mengendari mobilnya. Gita sangat khawatir ketika mereka berangkat, dia takut ibu tirinya mengatakan semua yang dia ketahui pada Arki untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
__ADS_1
Sejak dulu Gita sangat tahu sifat ibu tirinya yang sangat serakah. Mendapatkan rumah secara gratis saja tidak akan cukup untuknya.
Arki berkendara dalam diam, sesekali menanggapi ocehan Ani yang membicarakan dan membanggakan Risa. Gadis tanggung berpakaian terbuka yang sejak tadi terus menatap Arki dari bangku belakang.
Dia tahu maksudnya apa, Ani mencoba mendekatkannya dengan Risa sehingga remaja itu bisa menggodanya. Tapi Arki sama sekali tidak tertarik. Saat ini dipikirannya hanya ada Gita dengan tubuh seksinya yang telanjang saat terlelap.
Malam sudah mulai turun dan jalanan sudah menggelap di luar. Kini mereka memasuki daerah antah berantah, keluar dari jalan utama dan menuju jalanan sepi yang tidak mereka kenal. Arki memberhentikan kendaraannya di sebuah rumah makan sederhana.
“Kita sampai,” kata Arki mengisyaratkan mereka untuk turun.
“Ini dimana? Kok berhenti di rumah makan?” ucap Ani bingung.
“Kita makan malam dulu, kalian pasti lapar, kan? Ini tempat makan yang sering saya kunjungi. Biarpun sederhana dan agak terpencil tapi masakannya enak.”
Mereka turun dari mobil, tampak ragu. Jalanan sepi dan gelap menakutkan. Hanya sesekali motor melintas. Selama ini mereka sering bepergian dari Depok ke Jakarta, tapi belum pernah melewati jalur ini. Namun mereka tetap mengikuti Arki ke dalam rumah makan bercat hijau itu.
Tidak ada pelanggan sama sekali disana, hanya ada dua orang laki-laki yang sepertinya adalah pelayan di rumah makan tersebut.
Seorang berkulit gelap dan berbadan kekar sedang menonton TV. Satu orang lagi berkumis dan bertubuh cungkring berada di balik kasir memainkan ponsel. Mereka duduk disalah satu meja, dengan cepat si laki-laki berkulit gelap menghampiri. Disusul oleh si kumis.
“Ini Patra yang akan ngurus kalian setelah ini. Agus juga akan membatu.” Arki memperkenalkan pelayan tersebut.
“Maksudnya nunjukin rumahnya dimana, ya?” kata Ani bingung.
“Nunjukin jalan kalian ke penjara, soalnya kalian udah pakai identitas Gita sembarangan untuk pinjol. Kamu juga bakal dijerat hukum buat pemalsuan identitas biarpun masih dibawah umur,” kata Arki menunjuk Risa.
“Apa-apaan ini? Lo mau nipu kita, hah?!” teriak Ani berang. Tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Arki. Dia kemudian berniat memukul Arki tapi langsung dicengkram oleh tangan besar milik Patra.
“Lo dateng ke rumah cuma mau ganggu dan memeras duit Gita, kan? Gue gak butuh kalian buat ngeganggu kehidupan gue dan Gita. Masih untung kalian cuma dilaporkan ke polisi. Gue bisa bikin kalian ditemukan gak bernyawa di Bantar Gebang, kayak ucapan lo sama Gita tadi sore.”
“Lo buta! Lo gak tahu siapa Gita! Lepasin gue. Nanti gue bakal ceritain kebusukan si Gita sama lo! Harusnya bukan gue yang lo laporin! ”
Arki tidak menjawab dan hanya mengedik tidak peduli. Sangat senang melihat perempuan dihadapannya itu marah-marah sambil mengumpat, sementara anak disebelahnya terus menangis karena Agus mencengkram tangannya ke belakang tubuh.
“Lo udah ditipu sama si Gita! Harusnya dia yang masuk penjara bukan gue! Dia yang pura-pura hamil buat morotin duit lo! Lepasin gue! Gue bakal bantu lo balas dendam sama si Gita!"
Arki berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi.
__ADS_1
“Terus menurut lo selama ini gue gak tahu, gitu?” kata Arki sambil terkekeh kemudian meninggalkan tempat itu.