
Setelah perdebatan cukup panjang, akhirnya Gita menyerah. Dia berganti baju, mengenakan pakaian yang lebuh tertutup. Sheath dress selutut dan berlengan panjang berwarna merah.
Meskipun Arki tetap saja berkomentar kenapa baju tersebut menampikan lekuk tubuh Gita, hingga menggodanya. Gila! Pikirannya saja yang sangat kotor. Bukan salah Gita.
Mereka sampai di ballrom hotel berbintang yang sudah dipenuhi oleh tamu, dekorasi mewah dengan warna mauve yang terlihat elegan. Benar-benar berbeda dengan resepsi pernikahan yang sering Gita hadiri di kampungnya. Semewah-mewahnya resepsi tetangga di sebuah gedung, tidak ada yang bisa mengalahkan kemegahan acara ini.
Gita sekarang mempercayai bahwa Rio memang anak konglomerat. Sepanjang mata memandang, orang-orang berjas dan bergaun cantik serta berpenampilan elegan terhampar.
Gita menaksir bahwa orang-orang tersebut adalah para petinggi perusahaan, anak-cucu konglomerat, artis ternama, dan politisi. Dia hampir saja limbung diserang kegemerlapan lingkungan yang baru saja dimasukinya jika tidak menggamit lengan Arki di sebelahnya.
“Lo bilang gak bakal dateng, gimana sih?” ucap Rio menghampiri Arki dan kemudian menjabat tangannya.
“Business trip gue dibatalin. Sorry, gue lupa ngasih tahu lo.”
“Hadeeh… kalau lo konfimasi lebih dulu udah gue pesenin kamar biar bisa ikutan after party abis ini sama keluarga.”
“Gak usah. Gue mau langsung pulang, gak ikutan acara gitu. Lagian ini bukan yang pertama, gue udah dua kali ikutan after party abang lo. Demen banget sih dia kawin sampe tiga kali. Mana semua dirayain kayak gini lagi.”
“Ngaca, Anjing! Bokap lo juga sama aja. Malah lebih parah udah 5 kali kawin. Eh lo udah ketemu istri barunya belum? Katanya baru lulus kuliah udah dikawin aja sama tua bangkotan kayak bokap lu. Dia lebih cocok jadi adik lo dibanding ibu tiri lo!” Rio tergelak.
“Najis! Males gue ketemunya juga.”
“Tapi cakep sih, Ki. Siapa tahu lo suka, terus bakal jadi kayak judul sinetron ‘Terjebak Cinta Ibu Tiri Kecilku’. Mantap!” Rio semakin keras tertawa.
“Gak mungkin lah, Anjing! Gue beda selera sama bokap gue. Lagian gue udah kawin dan setia.”
“Eh lo sendiri kesininya? Gita mana?”
Arki baru menyadari Gita menghilang dari sisinya. Padahal sejak tadi perempuan itu terus menggendeng tangannya. Dia mengedarkan pandangan dan mendapati Gita berdiri tidak jauh dari mereka. Tampak sangat terpesona dengan penyanyi wanita yang sedang tampil di panggung. Arki menggennggam tangannya dan setengah menyeretnya dari sana. Kemudian kembali pada Rio.
Rio terdiam sejenak, matanya memindai perempuan di samping Arki dari atas kebawah. Mengerjap beberapa kali tidak percaya dengan pandangannya.
“Ini Gita? Kok beda?” ucap Rio tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“Hai … lama gak ketemu,” sapa Gita canggung.
“Woaah … serius ini Gita? Kok cakep banget sih sekarang? Oplas ya lo?” kata Rio memegang bahu Gita, memutar-muutarnya seperti boneka. Langsung saja Arki menggeplak punggung Rio. Menarik lengan Gita agar mendekat ke sisinya.
“Jangan sembarangan sama istri orang!” acam Arki tidak senang.
“Waah … Lo harusnya dari dulu perawatan dan dandan kayak gini, Git. Yakin deh bakal banyak yang kecantol. Gue bakal pacarin lo kalau sebening ini dulu.”
Arki menampar bibir Rio yang berkata sembarangan. Membuat sahabatnya itu mengaduh dan protes seketika.
__ADS_1
“Posesif amat sih, Bang! Padahal cuma bercanda doang!”
“Gue injek lo kalau godain Gita!”
Rio hanya menanggapi dengan tertawa. Sejujurnya Gita merasa canggung berada di dekat Rio yang sekarang sangat ramah padanya. Padahal dulu mereka jarang berbicara selain urusan kantor. Laki-laki itu juga jarang mau bergaul dengannya. Memang ternyata benar adanya beauty privilege itu ada dan sudah Gita rasakan. Saat terlihat lebih cantik, kita akan lebih dihargai.
Arki dan Rio terus mengobrol dan bercanda. Sesekali melibatkan Gita dalam obrolan tersebut. Meskipun sebenarnya tidak paham dengan bahasan mereka, terutama mengenai hobi bermain golf dan membicarakan orang-orang yang tidak Gita ketahui.
Arki tampaknya juga banyak mengenal orang-orang yang datang ke acara tersebut. Terbukti ketika mereka menyapa dan menanyakan kabar ibunya. Apakah Arki dulu orang kaya dan ibunya adalah orang terkena?
Gita menjadi memiliki banyak praduga tentang Arki dan koneksinya yang luas. Dulu Gita juga sempat mempertanyakan kenapa Arki sepertinya mengenal banyak orang dari berbagai profesi. Apalagi dia berteman dekat dengan anak keluarga Hadiningrat, yaitu Rio.
Ditengah kebingungan dan obrolan antara Arki dan Rio, tiba-tiba Gita menangkap sosok seseorang yang di kenalnya di tengah kerumunan tamu. Kenapa orang itu ada disini? Apakah dia mengenal keluarga Rio juga? Gita kemudian menjadi penasaran dan ingin menanyakan sesuatu padanya.
“Aku ke toilet dulu ya,” ucap Gita meminta izin.
“Jangan lama-lama!” balas Arki.
“Makin menjadi-jadi nih posesifnya … ckck,” komentar Rio. “Tapi gue juga kalau ceweknya secakep itu pasti gampang was-was takut digondol maling.”
“Bohong banget lo! Mana ada lo peduli cewek lo direbut orang apa nggak, cewek lo kan banyak.”
Rio hanya terkekeh. “Btw, lo jago juga nih ngasih asupan sama Gita biar makin cakep dan bohay menggoda gitu. Salut sama Bang Arki! Emang paling jago pilih raw material sampe jadi barang berkualitas tinggi. Beda sama bokap lo yang pinginnya produk fresh terus.”
“Tapi dia sering nanyain lo terus loh, Bro! Kalau berkunjung ke rumah buat makan malam sama Kak Rendi, dia suka nyuruh gue ajakin lo juga. Tapi gue ngerti kalau lo gak mau ketemu dia.”
“Bagus deh lo paham.”
“Lo gak mau ikutan bursa perebutan hak waris, Bro? Adek-adek lo udah pada ngantri noh minta jatah. Terutama si Adrian.”
“Lo kira gue butuh duit dia? Tanpa dia juga gue udah kaya. Gue ogah dapat sepeser pun duit dari si tua keladi itu.”
“Terima aja sih, Ki. Urusan lo mau pake atau nggak duitnya, kan masih ada gue, yang siap menampung warisan bokap lo.”
“Ngomongin warisan mulu, emang lo yakin dia bakal mokad sekarang? Buktinya dia masih ngawinin bocil-bocil gak jelas. Berarti tuh tua bangkotan masih kuat.”
“Dia lagi persiapan, menurunkan singgasana ke anaknya. Dia kayaknya berharap sih lo yang lanjutin bisnisnya, soalnya lo anak paling gede dan sukses.”
“Gue gak ada urusan apa-apa lagi sama dia semenjak ibu gue cerai,” pungkas Arki malas. “Udah ah! Gue mau nyari Gita dan ketemu abang lo, terus balik. Kalau lama-lama disini bisa-bisa gue ketemu si tua anjing itu,” lanjut Arki kemudian meninggalkan Rio.
Gita mengedarkan pandangannya mencari sosok yang tadi dia sangka dikenalnya. Apakah dia hanya salah lihat? Tetapi sejurus kemudian matanya mulai menangkap sosok tersebut berdiri di dekat meja yang menyajikan gelas-gelas minuman. Tampak bingung memilih antara mocktail mana yang akan dia nikmati.
“Pak Nathan,” sapa Gita mengejutkan laki-laki yang sedang menyeruput minumannya itu.
__ADS_1
“Bu Gita … uhuuuk!” katanya kaget hingga terbatuk dan menumpahkan minumannya.
“Maaf.” Gita menyesal mengagetkan laki-laki itu hingga mocktail yang dipegang mengotori jas mahalnya.
“It’s okay.” Nathan tersenyum dan mengelap jas kotornya dengan sapu tangan. “Saya gak menyangka ketemu Bu Gita disini. Jadi gimana? Sudah ketemu pengacara yang bersedia mendampingi di pengadilan nanti?” lanjutnya berbasa-basi.
Gita menggeleng. “Saya bakal langsung ajukan gugatan cerai pribadi tanpa kuasa hukum. Kalau dibutuhkan, biar pengadilan yang pilihkan.”
Nathan tampak kaget dan bedeham. “Saya rasa, Bu Gita harus pakai kuasa hukum. Menurut saya cari pengacara senior dan mahal, atau mungkin Bu Gita bisa mendatangi konsultan pernikahan dan bermediasi dengan Pak Arki, seperti saran saya kemarin.”
“Saya mau cerai sama dia, gak akan ada mediasi,” ucap Gita emosi mendengarnya.
“Kalau gitu Anda dalam posisi sulit. Apalagi menuduhkan kasus kekerasan pada suami Anda. Jika tidak mendapat dukungan dari pengacara kompeten, Anda sendiri yang akan habis.”
Gita tidak paham dengan maksud perkataan Nathan. Dia hanya memicingkan mata dan menyelidik penuh curiga pada laki-laki dihadapannya yang sekarang tampak gusar.
“Terus, Anda sendiri merasa tidak kompeten, gitu? Padahal banyak yang memuji kepiawaian Pak Nathan di luar sana. Anda kan menolak permintaan kasus saya,” ucap Gita mencibir.
“Bukan begitu, saya merasa percaya diri dan kompeten dalam bidang saya. Hanya saja saya tidak bisa melakukannya, membantu perceraian Anda.”
“Saya tidak mau berurusan dengan salah satu anggota keluarga Wibisana, meskipun hanya melawannya dalam kasus perceraian,” bisik Nathan di dekat telinga Gita.
“Kenapa?” kata Gita bingung.
Nathan balik menatap Gita dengan bingung. “Bukannya Anda yang seharusnya lebih tahu, bagaimana perjuangan ibu mertua Anda dalam memperebutkan hak asuh anak pada perceraiannya dengan Pak Arya Wibisana? Saya dengar keluarga ibu mertua Anda sampai terpuruk karena harus begonta-ganti pengacara dan membayar mahal mereka. Arya Wibisana bahkan punya law firm sendiri dan mengerahkan pengacara terbaiknya untuk kasus itu. Tuduhan Anda tidak main-main pada Arki, kalau mau melanjutkan berarti Anda harus siap jatuh seperti itu juga.”
Gita tertegun mendengar cerita dari Nathan. Hingga sekarang dia tidak tahu siapa Arki, siapa ayahnya, kehidupannya dulu, cerita tentang ibunya. Selama ini dia hanya mendengarnya sekilas dari Arki mengenai ibunya yang janda dan ayahnya yang seorang pengusaha. Tanpa tahu seperti apa sebenarnya latar belakang Arki.
Hal yang Gita tahu bahwa Arkian adalah salah satu auditor muda yang brilian, dia tidak terlihat terlalu kaya, rumah yang sebenarnya terbilang sederhana, ibunya yang memiliki usaha baju rumahan. Tapi Gita sedikit terganggu saat mendengar Arki berteman dengan Rio sejak TK. Memunculkan dugaan bahwa Arki berasal dari keluarga terpandang juga.
“Gita!” panggil Arki membuyarkan pikiran Gita. “Bang Nathan, lama gak ketemu.” Lanjut Arki menyapa Nathan kemudian saling berjabat tangan terlihat akrab.
Gita semakin membeku ditempatnya. Menatap kedua laki-laki itu mengobrol santai. Pikirannya bergulung pada fakta baru yang tidak dia ketahui tentang Arki. Pertanyaan sambil lalu yang selama ini muncul mendapatkan jawabannya.
Kenapa Arki memiliki banyak koneksi dan kenalan dibanyak bidang?
Kenapa Arki bisa mengetahui, mengakses, serta membayar utangnya?
Kenapa Arki jumlah tabungan belanjanya tidak masuk akal besarnya?
Kemudian pertanyaan paling menakutkan yang Gita simpan, dengan semua kekuatan dan pengaruh Arki.
Apakah Arki sebenarnya tahu Gita selama ini berbohong padanya?
__ADS_1