
Arki menyesap dan mencerup bibir Gita dengan kasar. Ada kepuasan yang tidak bisa dia jelaskan. Adrenalinnya melambung tinggi. Sekarang Gita miliknya seutuhnya. Tidak ada lagi kompromi atau penolakan yang bisa perempuan itu lakukan.
Perasaan seperti ini yang Arki sukai. Mengambil kendali pada hubungan mereka. Selama ini dia membiarkan saja perempuan itu bertingkah seenaknya. Setelah memasuki hidupnya seperti sekarang, Gita harus patuh pada aturannya dan juga keinginannya.
Suara decakan saat kedua kecup itu bertemu terdengar di keheningan ruang kerja. Gita benar-benar tidak protes menerima semua ciuman liar Arki. Tubuhnya lemas dan pikirannya berhamburan tidak fokus. Terlalu terguncang dengan apa yang terjadi sekarang.
Ancaman-ancaman Arki mendorongnya menyerahkan diri menjadi budak kepuasan laki-laki tidak berperasaan ini. Gita harus siap digauli dengan tidak bermartabat.
Kelebatan ingatan saat Arki mencoba melakukan aksi nakalnya terasa menyeramkan. Kini Gita harus mengulang semua kejadian itu sesuai kehendak Arki.
Hatinya tercerai berai dan patah. Takut mengedar dipikirannya. Arki benar-benar berbahaya dan menyeramkan. Harusnya dia mempercayai kata-kata Luna dan lari dari Arki segera. Sekarang semuanya percuma, Gita sudah menggali kuburannya sendiri dengan masuk ke kehidupan Arki.
Apalagi saat dia terjatuh, Arki mengancam untuk mengubur semua orang yang disayangi Gita juga. Bersama menanggung akibat dari kebohongan dan penipuan yang Gita lakukan. Dia tidak bisa membiarkan Mia dan keluarganya dilaporkan ke polisi. Mereka tidak terlibat dengan semua rencana gilanya.
Tangan Arki mulai merambah ke resleting di belakang baju Gita, menurunkannya pelan-pelan kemudian menyapukan kulitnya di punggung lembut istrinya. Hangat dan halus, membuat pikiran Arki berkeliaran menggila.
Dia sudah lama tidak menikmati sensasi seperti ini. Entah karena dia sudah bisa mengendalikan Gita dan memilikinya, tapi setiap sentuhannya pada istrinya itu menyulut bara dihasratnya.
Kecupan nakal itu kini telah beralih ke leher, meninggalkan bekas kemerahan di sepanjang cucupannya. Lidahnya mengedar liar, menyesap setiap inci kulit lembut Gita hingga ke dada.
Tubuh halus dan indah itu mengejang, saat Arki membenamkan bibirnya di puncak kedua dada yang kini tanpa penyangga. Sementara tangan terus bergerilya nakal di sepanjang batas punggung hingga ke pinggang.
“Arki ... jangan sekarang!" rintihnya diantara kenikmatan. “Aku lagi datang bulan,” lanjut Gita mencoba menghentikan permainan.
Arki berhenti mencerup benda mungil menggairahkan itu, mengalihkan pandangan pada mata Gita yang berkaca-kaca. Jelas sangat tidak senang mendengar kata-kata barusan.
“Aku gak bohong,” ucap Gita menambahkan. Tahu bahwa Arki menuduhnya mengada-ada demi menghindari kewajibannya menuntaskan keinginan.
Arki menegakkan tubuhnya dan berdiri. Menggenggem pergelangan tangan dan menghentakkan tubuh kecil Gita hihga berdiri juga. Bangkit dari kursi yang tadi dia duduki. Memeluk tubuh pasrah itu dari belakang dan menelusupkan tangan ke bawahan gaun yang sudah diangkat tinggi. Jemarinya meraba, mengecek kebenaran kata-kata istrinya tadi. Seberkas noda merah mengotori jemarinya.
“Cepetan ganti baju dan tidur!” ucap Arki melepaskan pelukannya. Sangat tidak senang dengan kenyataan tersebut.
__ADS_1
Gita segera keluar dari ruangan kerja itu dan menuju kamar. Tubuhnya langsung saja meraih kasur, membenamkan diri pada bantal. Tangis meluruh tidak terbendung.
Semua kejadian hari ini adalah salahnya. Nasib buruk yang menantinya ini karena kebodohannya. Harusnya Gita tidak membohongi Arki hingga terjerat kasus hukum seperti sekarang. Semua penyesalan itu mengganjal dihatinya.
Pintu dibuka dengan kasar, menyebabkan suara berdebum keras saat terantuk dinding. Gita seketika bangun dan melihat Arki memasang wajah kesal. Dia berdiri di ambang pintu, menyilangkan lengan di dada, menatap lurus pada Gita yang berurai air mata.
“Kenapa belum ganti baju juga? Mau aku yang pasangkan kamu baju?” geram Arki tidak sabar.
“G-gak usah!” tolak Gita panik segera turun dari tempat tidur dan mencari-cari di dalam lemari beberapa helai piyama tidurnya.
Gita menatap Arki yang masih berdiri bersandar diambang pintu memperhatikannya.
“Aku mau ganti baju.”
“Terus?”
“Kamu bisa keluar sebentar?”
Lutut Gita langsung lemas mendengarnya. Iya, dia tahu. Tidak lama lagi laki-laki itu akan memiliki akses tidak terbatas pada tubuhnya. Bukan hanya lewat pandangan mata, namun sentuhan ke bagian-bagian yang paling dalam dan tidak pernah ditunjukkan. Membayangkannya saja membuat Gita bergidik ngeri.
“Cepetan ganti bajunya atau aku robek sekalian!” gertak Arki semakin tidak sabar.
Gita melepaskan gaunnya di depan Arki. Canggung, malu , dan takut. Kini dia hanya mengenakan kain penutup di bagian pribadinya. Namun rasanya seperti ditelanjangi oleh tatapan mata Arki yang tidak bisa lepas darinya.
Laki-laki itu bergerak mendekap Gita tiba-tiba, membenamkan kecupan di leher. Tangannya menjelajah dipunggung dan pinggang halus dan seputih pualam itu. Gita tidak berani menolaknya sekarang. Meskipun tubuhnya benar-benar sangat tidak senang dengan semua gerakan nakal yang menggelikan itu.
“Berapa hari?” bisik Arki lembut masih membenamkan kepalanya diceruk leher Gita.
“Apanya?”
“Selesai datang bulannya.”
__ADS_1
“Seminggu.”
“Oke.”
Arki menghirup wangi tubuh Gita sejenak, kemudian menegakkan tubuh dan menjauhinya. Dia menatap istrinya yang terlihat kacau dengan riasan yang belum sempat dihapus dari wajah dan melelah karena air mata.
“Mulai sekarang kamu tidur di kamarku. Bersihkan make up kamu dan cepetan kesana!”
Arki meninggalkan kamar dengan perasaan yang semakin kecewa. Padahal sudah sejauh ini, tapi dia masih harus menunggu seminggu lagi untuk melepaskan hasratnya.
Gila!
Otaknya bisa-bisa meledak karena tidak sabar. Padahal dia tidak pernah merasa setidak sabar ini dengan kekasih-kekasihnya yang lain. Tapi berhadapan dengan Gita membuatnya ingin segera mencicipi kenikmatan. Selama seminggu dia masih harus menahan diri. Arki benar-benar frustasi.
Pikirannya mungkin sudah tercemar dan menjadi kotor karena setiap hari membayangkan bisa membenamkan senjata pusakanya di tubuh Gita. Perempuan yang selama ini tampak biasa dan selalu dilihatnya sambil lewat, ternyata adalah daya tarik sek sual paling membahayakan untuknya.
Gita memasuki kamar yang temaram itu, Arki duduk menyandarkan punggungnya ke bantal sambil memainkan ponsel. Gita bergabung di kasur. Membaringkan diri di samping Arki dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang hangat.
Arki menyimpan ponselnya di nakas, kemudian berbaring juga. Lekas dia menarik tubuh Gita mendekat dan membalikkan hingga saling berpelukan.
“Arki, aku belum bisa—“ tolak Gita menyingkirkan pelukan suaminya itu.
“Siapa juga yang mau main? Aku cuma peluk kamu doang. Kamu pikir aku cowok gak tahu adab dan gak paham kesehatan?” bantah Arki sambil terus mendekap tubuh hangat dan mungil itu.
Ya. Memang tidak tahu adab!
Rasanya Gita ingin meneriakkan itu diwajah Arki. Tapi kata-kata itu dia telan kembali. Sekarang Gita begitu takut dengan laki-laki ini. Lebih daripada biasanya. Perpaduan otak licik, mesum, kaya, dan berasal dari keluarga berpengaruh adalah bencana bagi Gita.
Lama kelamaan kehangatan Arki menjalar. Otot-otot tubuhnya yang maskulin terasa melingkupinya dengan perlindungan. Aroma parfum yang dikenakannya juga membuat Gita seketika tenang. Kantuknya lekas turun ke pelupuk mata tiba-tiba.
Walaupun hatinya masih riuh, tapi tubuh lelah dan gugupnya meluruh beristirahat. Aneh. Padahal harusnya sekarang Gita waspada terhadap semua pergerakan Arki ditubuhnya. Namun nyatanya dia malah membenamkan diri di dada bidang yang mengangumkan itu.
__ADS_1
“Tidur yang nyenyak,” bisik Arki sambil mencium pelupuk mata Gita yang sudah menutup.