Istriku Penipu

Istriku Penipu
Berubah


__ADS_3

Gita pikir setelah malam itu, Arki akan kembali seperti biasanya. Ternyata tidak. Arki malah lebih sering lembur dan berangkat lebih pagi. Jarang makan di rumah dan tidak lagi meminta Gita membuatkan bekal.


Hal yang paling aneh diantara semua, Arki sudah tidak pernah lagi menyentuh Gita.


Tidak meminta melayaninya adalah hal yang baru dan mengejutkan. Harusnya Gita merasa senang. Sekarang hari-hari menakutkan dimana Arki melampiaskan semua fantasi ranjang padanya berakhir. Seharusnya begitu.


Tapi Gita merasa kesedihan tiba-tiba memukulnya keras. Sudah lebih dari dua minggu merasa kehilangan sosok Arki yang biasanya mengedar disekelilingnya. Padahal dulu, sekali pun Arki tidak pernah melepaskannya dari pandangan.


Arki selalu pulang larut malam, di atas jam sepuluh. Terlihat kelelahan dan banyak beban pikiran. Setelah membersihkan diri, dia hanya akan membaringkan diri di ranjang hingga terlelap. Bahkan terkadang Gita tidak punya kesempatan untuk bertanya apa-apa.


Mungkinkah Arki akhirnya sudah bosan dengannya?


Lantas kenapa dia masih mempertahankan pernikahan mereka?


Semakin hari Gita makin digerus sepi dan perasaan terluka yang ternyata dia rasakan tiba-tiba. Pikirannya semakin berburuk sangka, Arki sedang menghukumnya. Membuat Gita bergantung pada sosoknya dan dengan sengaja sekarang mengacuhkannya.


Haruskah Gita yang meminta Arki untuk melepaskannya lebih dulu?


Dalam kegamangan dan ketakutan yang semakin mengakar. Gita merasakan tidak rela menyudahi hubungan. Bukan karena dia akan kehilangan segala fasilitas dan kehidupan nyaman, tapi kini Gita tidak mau kehilangan sosok yang menemani di sisinya selama hampir 6 bulan.


Hidup sendiri dengan sepi yang menganga ternyata menakutkan. Gita merasa tidak akan bisa lagi hidup sendirian. Meskipun komunikasi mereka terbilang buruk untuk sebuah hubungan, tapi keberadaan Arki saja sudah membuatnya tenang.


Gita turun dari taksi online di depan warung makan milik Mia. Keanehan lain yang Arki tunjukkan adalah tidak pernah mengantar jemputnya lagi dan mengizinkannya kemana pun disukai. Arki melonggarkan semua belenggunya pada Gita.


“Wuidiih, belum juga sebulan buka udah rekrut karyawan aja. Usaha lancar ya, Pak?” canda Gita saat masuk dan melihat dua orang sedang membantu Anwar, suami Mia.


“Yaa... Sejauh ini sih rame terus, Git. Si Juan sering rekomendasi ke temennya nih buat makan disini. Hebat juga tuh anak kenalannya banyak.”


“Iya, dulu dulu sering jadi ketuplak buat acara-acara kelas. Banyak banget koneksinya,” tutur Gita kemudian duduk di salah satu kursi kosong di dekat kasir. “Mia mana? Kok lo jaga lapak sendirian?” Gita heran Mia tidak menyambutnya.


“Di belakang lagi istirahat. Tadi habis muntah-muntah.”


“Kenapa? Sakit? Keracunan makanan?” tanya Gita kaget dan khawatir.


Tapi Anwar malah menjawabnya dengan senyum dan membuat gerakan di depan perutnya. Isyarat tentang kondisi istrinya.


“Hamil?” Gita menebak dan membulatkan mata.


Anwar mengangguk senang. “Iya. Kemarin udah langsung periksa ke dokter pas habis lihat positif di testpack.”


“Selamat bestie! Ponakan baru siap meluncur nih, selain dari Kak Nia.”


“Hebat kan gue, Git? Tokcer! Gak sia-sia bapaknya Mia selalu cekokin gue telur ayam kampung hampir tiap hari,” kata Anwar berbangga diri.

__ADS_1


“Iyee hebat, hebat. Udah ah gue mau ketemu Mia,” kata Gita buru-buru berjalan menuju ruangan istirahat karyawan di belakang kasir.


Saat masuk ke sana, Gita melihat Mia sedang berbaring di sofa. Wajahnya terlihat lelah dan pucat. Mungkin dia muntah-muntah parah sebelumnya. Gita menarik kursi plastik ke dekat Mia. Tersadar dengan kedatangan Gita, Mia lekas terbangun dan duduk di sofa.


“Cieee yang mau jadi mamak-mamak. Selamat yaaaa, My Love!!” kata Gita memeluk Mia.


Mia tersenyum dan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia balas memeluk sahabatnya. Meskipun terlihat kurang sehat, Mia tetap masih seceria biasanya.


“Wah gila sih gue bentar lagi jadi mama muda. Gak nyangka bakal dikasih cepet gini. Padahal niatnya mau honeymoon dulu di Bali pas acara reuni,” kata Mia bercanda.


“Bersyukur. Lo berarti udah dipercaya dan dikasih rezeki.”


“Iya lah, udah pasti. Seneng banget gue, Git. Pas kemarin periksa USG, biarpun baru bentukan bulatan item kecil doang, gue udah sayang banget sama dia.” Mia berbinar saat menjelaskannya.


“Mana lihat dong hasil karya lo,” pinta Gita penasaran.


Mia mengambil tasnya dan mulai mengubek-ubek isinya mencari sesuatu untuk diperlihatkan pada Gita. Selembar foto USG dan sebuah testpack bergaris dua.


“Hasil kolaborasi gue sama Anwar. Semoga cakep ya nanti hasilnya,” kata Mia menyerahkan benda tersebut.


“Aamiin. Mudah-mudahan kayak modelan Pevita Pearce ya kalau cewek. Kalau cowok modelan Kim Taehyung kali ya.”


“Dih banyak request lo! Muka gue sama Anwar tipe-tipe anak Depok mana ada keluarnya Pevita Pearce apalagi Kim Taehyung. Tapi lo ada harapan, Git. Suami lo modelan koko-koko Cina ganteng, siapa tau anak lo cakep.”


Gita yang sedang memandangi foto USG Mia dengan bahagia langsung meluruhkan senyuman dari bibirnya. Dia tertegun sesaat. Selama ini tidak pernah terpikirkan untuk mengandung anak Arki. Bahkan sampai sekarang Gita masih rajin meminum pil kontrasepsi, meskipun Arki tidak lagi menyentuhnya.


Gita hanya tersenyum saja, tidak tahu harus membalas apa. Tiba-tiba hatinya merasa sesak dipenuhi rasa iri melihat sahabatnya. Mungkin dulu Gita juga punya mimpi seperti itu juga. Memiliki suami yang menyayanginya dan mengandung anaknya. Sayangnya keinginan itu tidak akan pernah terwujud. Dia tidak akan bisa mendapatkan itu dari Arki.


Mia terus berceloteh ceria mengenai kehamilannya, sementara Gita mendengarkan dengan pikiran yang berlarian. Mengingat kembali hari-hari ketika awal pernikahan. Arki begitu perhatian mengenai kehamilan palsunya. Meskipun sekarang Gita tahu dia juga saat itu bermain peran. Tapi Gita ingin membayangkan itu terjadi lagi, dan semuanya bukan kebohongan.


Kenapa hatinya tiba-tiba terusik dengan hal seperti ini?


Apakah saat ini Gita menginginkan anak dari Arki? Mungkin kesepian dan perasaannya yang tidak bisa dijelaskan ini menjelma menjadi keinginan absurd dan paling muluk-muluk yang pernah Gita minta. Dicintai dan mengandung anak Arki.


“Lo gak dijemput sama Arki, Git?” tanya Mia merasa aneh saat Gita memesan taksi online.


“Nggak. Dia lagi ada urusan, main golf sama temennya.”


Begitu yang Gita dengar saat meminta izin untuk datang ke tempat Mia saat akhir pekan. Dia mengizinkan Gita pergi kemana saja tanpa peduli, karena Arki sibuk menghadiri undangan bermain golf dari CEO tempatnya bekerja.


Selalu seperti itu selama dua minggu ini. Setiap hari pulang larut malam. Akhir pekan dia akan pergi keluar. Gita semakin takut untuk berharap pada hubungan seperti ini.


“Mantap main golf. Gue kalau libur paling main PS atau mabar PUBG. Suami lo emang dari dunia yang berbeda dari kita. Hati-hati lo gak bisa ngikutin selera dan kebiasaan orang kaya, Git!” Anwar berseloroh.

__ADS_1


“Lo harusnya ikut nemenin juga, Git. Gue denger caddy-nya cakep-cakep dan seksi. Awas nanti ikan tangkapan lo digondol orang!” tambah Mia bercanda.


Gita sekali lagi hanya membalas dengan senyuman seadanya. Semakin lama perasaan dan kekhawatirannya bertumpuk tidak karuan dihatinya. Semua perilaku Arki yang menghindarinya mungkin pertanda sesuatu sedang terjadi dengan dirinya. Bosankah? Atau siap melepaskannya?


Gita menelan pahit yang menyangkut dilidahnya. Keinginan gila mengenai cinta dan anak yang sempat dipikirkannya, berlarian begitu saja saat ditangkap pertanda nyata, bahwa Arki sedang berusaha menghindarinya. Bersiap menjatuhkan keputusannya untuk mengurai hubungan mereka.


Gita akan menunggu sampai surat pemanggilan dari pengadilan untuk sidang perceraian mereka.


...**********...


“Aku denger kamu sekarang udah pacaran sama Amanda. Beneran itu, Ki?” tanya Damar sambil memperhatikan Arki memukul bola memasuki hole.


“Nggak. Kata siapa?” ucap Arki tidak peduli.


“Amanda yang cerita lah. Dia kelihatan seneng banget bisa sama kamu.”


Arki tersenyum meremehkan. “Aku gak pernah bilang kalau kita pacaran. Dianya aja yang terlalu berharap.”


“Ck... Jangan gitu lah, Ki! Kasihan tuh anak orang kalau dikasih harapan palsu kayak gitu.”


“Kepedean aja dia. Aku cuma bilang mau mempertimbangkan hubungan sama dia, bukan menerima jadi pacar.”


“Tapi kamu setiap hari anterin dia pulang, kan?”


“Sopir angkot kalau dicegat juga bakal anterin kita pulang, Bang.”


“Kamu serius gak sih sama Amanda? Kalau cuma buat main-main mending gak usah kasih harapan sampai segitunya. Kamu kasih kepastian sama dia dan ceraikan istrimu.”


Arki menatap Damar sesaat kemudian kembali menatap bola yang ada di ujung stik golf-nya. Bersiap memukul kembali, lagi-lagi terhenti di rough beberapa kali ini. Permainannya payah.


“Aku bakal ceraikan istriku, tapi belum tentu juga bakal jadi sama Amanda.”


“Loh, kenapa?”


“Gak apa-apa. Aku lagi seleksi aja siapa yang cocok jadi istriku selanjutnya.”


“Udah pilih Amanda aja. Nanti kamu malah milih cewek kelas rendah lagi kayak istri pertama, yang belum tentu asal usulnya baik. Dia juga pasti jadi benalu buat kamu, kan? Nguras duit dan merasa bangga bisa dinikahi orang kaya macem kita. Amanda kan udah punya segalanya dari lahir. Kamu cuma tinggal kasih cinta doang, udah.”


Arki menaikan sebelah alis. “Sekarang jadi tim suksesnya Amanda ya, Bang?” sindir Arki.


“Inget, Ki. Kamu tuh harus punya pasangan yang setara denganmu. Keluarganya, keuangannya, pendidikannya dan kebiasaannya. Meskipun istri kamu bisa ngejar dari segi pendidikan, tapi dia kan terlahir dari orang biasa. Bakal beda pola pikirnya sama kita. Apalagi kamu nanti bakal jadi penerus ayahmu. Harus cari pendamping yang bisa bantu kamu juga.”


Arki melempar stik golf-nya ke tanah. “Udah ah. Males kalau bahas itu. Aku gak akan mau jadi penerus si tua bangka. Aku pulang duluan, Bang!”

__ADS_1


Arki kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Damar yang berteriak memanggilnya dari lapangan golf. Dia malas membahas apapun tentang Arya Wibisana ataupun Amanda. Tidak ada satupun niat dihatinya untuk memiliki hubungan spesial dengan gadis manja itu.


Meskipun demikian dia tetap akan menceraikan Gita dan mencari penggantinya. Entah kapan. Dia terus menunda-nunda. Menghindar dari keputusan yang harus dilakukannya segera, karena hatinya bergemuruh dan berisik saat membahas mengenai perpisahan dengan Gita.


__ADS_2