
Tubuhnya lemas seketika, masih duduk di kursi kerja Arki. Memandang nanar pada seonggok gaun malam yang harus dikenakannya nanti.
Hari ini semuanya berakhir, Gita harus menyerahkan diri pada laki-laki yang hanya menjadikannya objek pemuas ragawi. Kemudian dibuang setelah dipermainkan.
Mimpi yang kemarin terus berputar-putar di lamunan, sebentar lagi akan jadi kenyataan. Gita akan ditinggalkan dengan perasaan hina mendera. Tidak memiliki apapun lagi selain nyawa, karena martabat dan kehormatannya hilang digadai sebagai bahan ganti rugi.
Penyesalan sudah menemui jalan buntu. Tidak ada waktu untuk mengulang agar hal ini tidak terjadi, apalagi melarikan diri. Berkali-kali Arki berkata akan menemukannya. Entah oleh orang yang disuruhnya atau oleh polisi. Gita terperangkap seperti tikus dan menunggu mati.
Sepanjang sisa hari, Gita hanya bisa menangis. Menunggu kepulangan Arki adalah hal paling menyakitkan dan menakutkan yang pernah dia alami seumur hidup.
Gita hanya mencengkram gaun malam yang diberikan oleh Arki, tidak sanggup harus memakainya. Melihat dirinya sendiri dengan baju menjijikkan seperti itu, membuatnya patah hati. Hingga suara mobil terdengar terparkir di garasi. Gita masih terdiam dan duduk di meja makan sambil melawan ngeri.
“Aku udah bilang pas aku pulang kamu udah harus pakai baju yang aku kasih. Kenapa kamu masih pakai piyama kayak gitu?” serang Arki saat melihat Gita tampak lemas dan masih berpakaian lengkap.
“Arki, aku gak bisa,” ucap Gita dengan tangis yang seketika meluncur dari matanya.
Arki mendelik kesal. “Ya udah sana ke kamar. Lepas semua bajunya. Gak usah pake baju sekalian. Aku mau mandi dulu,” kata Arki sambil berlalu menuju kamar mandi.
Gita menjegalnya agar berhenti. Dia menggenggam tangan Arki menangis dan memohon agar bisa terbebas dari tugasnya melayani.
“Please, aku mau ngelakuin apa aja asal jangan ini. Tolong jangan lakukan ini sama aku, Ki.” Gita terus meminta keringanan. Dia rela menjadi pembantu, pesuruh, atau apapun juga asal kehormatannya tidak direnggut darinya.
Arki menghentakkan genggaman Gita. “Kamu gak dalam posisi tawar-menawar denganku, Git. Lakukan dan jangan menolak!” pungkas Arki kemudian pergi.
Gita melepaskan pakaian kemudian mengenakan gaun malam yang diberikan Arki. Pantulannya di cermin tampak menyedihkan dan menjijikkan. Dia seakan telanjang dengan semua bagian terlihat transparan, memperlihatkan bagian-bagian terlarang yang harusnya tidak dia tampilkan.
Arki memasuki kamar tidak lama dari itu, bertelanjang dada dengan handuk melilit di pinggang. Dia menatap Gita yang berdiri canggung di depan cermin, mencoba menutupi diri dengan melingkarkan tangan menutup dada.
Warna merah memang cocok untuk Gita. Kulitnya yang putih dan mulus seperti bercahaya, surai hitam sepunggung yang cantik, wajah merona dan mata sayu setelah menangis. Melihatnya saja membuat sesuatu bangkit dalam diri Arki.
Wangi sabun menguar saat Arki mendekat. Seringaian tidak hilang dari bibirnya. Matanya menggelap seperti jelaga menatap makhluk indah menggugah selera dihadapannya. Arki siap memangsa, menuntaskan hasrat yang sudah lama tertunda.
“Minum ini dulu!” Arki menyerahkan 1 pot berisi obat pencegah kehamilan pada Gita. “Minum itu secara teratur, aku bakal awasi.”
Gita menatap Arki dengan tatapan penuh kebencian. Tangan laki-laki itu masih menggantung di udara, memegang obat yang dia serahkan.
“Kenapa? Bukannya kamu mau cerai? Kamu gak berharap punya anak dariku, kan? Aku juga sama. Aku gak mau punya anak dari kamu. Lebih baik kita nikmati waktu berdua aja ber cinta, sampai aku bosan.”
Arki tidak membutuhkan Gita untuk menjadi istri atau ibu dari anaknya nanti. Saat ini dia hanya menginginkan tubuh Gita saja, untuk membuktikan bahwa dirinya normal. Mungkin dengan melakukannya bersama Gita, dia akan sembuh kembali. Menikah dengan perempuan lain yang lebih baik kemudian memiliki anak.
__ADS_1
Arki meraup wajah Gita, mendaratkan bibirnya, menautkan ganas seakan dahaga dalam dirinya hanya bisa tuntas dengan menyentuh Gita. Suara decakan dari kecupan keduanya mengisi kamar. Mereka memagut kecup hangat cukup lama.
“Kamu cantik banget, Gita." Arki berbisik sudah kehilangan kewarasan.
Gita dibaringkan di atas kasur. Tampak pasrah dan tidak melawan. Namun, air matanya jatuh berlarian. Ketakutan dan perasaan terhina menggedor rongga dadanya keras. Membuat limbung dan sulit bernapas.
Arki berada di atas tubuhnya, menyesap liar leher jenjang indah yang sangat disukainya. Menyapukan lidahnya disekujur tulang selangka. Turun jatuh hingga menapaki bukit cantik. Tempat bibir Arki mencerup dengan rakus, seperti seorang bayi yang lapar.
Tangan lainnya nakal menggapai, menggenggam penuh lemak indah dan mulus dalam satu raupan. Memilin dengan jemari puncak kecil yang menggemaskan. Gita kehilangan nalarnya. Diserang bertubi-tubi seperti itu. Bergantian antara kiri dan kanan.
Tangis menjadi, diselisih rasa nikmat yang tidak bisa dijelaskan. Tubuhnya menggelalar menolak setiap sentuhan. Tapi apa yang bisa dia lakukan menghadapi tenaga Arki yang mendominasi. Terlebih saat gairahnya sudah mencuat naik ke kepala. Dia sama sekali tidak peduli protes, teriakan, atau isakan Gita.
Arki memandang sejenak Gita yang berada di bawahnya, setelah memainkan penuh dadanya. Gaun semrawut tidak beraturan terkoyak. Sepertinya memang lebih baik tidak mengenakan apa-apa.
“Arki, udah—“ pinta Gita dalam isakan.
“Aku baru mau mulai,” balasnya sambil menyeringai.
Perjalanan dilanjutkan dari atas perut, kecup mendarat, melarung gerak hingga ke dasar di antara tungkai. Mereka pernah melakukan itu sebelumnya. Tapi Gita perlu diingatkan lagi bagaimana rasanya, membiarkan lidah menari diatas bagian paling perasa ditubuhnya.
Tidak lama tubuh itu gemetar dan mengejang menemukan jalannya pada kenikmatan. Arki memberikan kesempatan agar Gita merasakan puas juga. Menjadikannya candu akan sentuhan, karena setelah ini ada banyak waktu untuk terus saling menyatu.
Pelan-pelan Arki mulai membenamkan diri di pintu masuk yang ketat dan tidak pernah terbuka. Gita seketika meringis kesakitan, bergerak tidak sabar, menyingkirkan tubuh Arki dengan gerapai jemarinya.
“Gita, tenang. Aku bakal pelan-pelan,” bisik Arki.
“Gak mau. Please, jangan lanjutin!” Gita begitu putus asa.
Nyeri aneh menusuknya, seiring benda yang menyeruak di antara kedua tungkainya. Perih, nyeri, tidak nyaman, semua dia rasakan.
“Uhhmm.. stop! Please.. Arkian..hmmmp,” rintih Gita nyaris kehilangan kewarasan.
Arki tidak peduli dengan permohonan tersebut. Dia sedang fokus membuat jalan masuk ke dalam gua yang tidak pernah dikunjungi laki-laki manapun juga.
Arkilah yang pertama dan menikmatinya. Kehangatan dan ruang sempit yang menyenangkan. Susah payah dia membenamkan, hingga penuh, hingga ke ujung perjalanan. Gita menangis, meringis, meronta, mencengkram, hingga mencakar lengan dan bahu Arki penuh keputusasaan.
“Uhh..hngg”
“Ahh..”
__ADS_1
Gita tidak tahu apa yang dia gumamkan. Nyawanya seakan menghilang. Campuran rasa sakit dan kenikmatan menghambur semuanya. Hanya pemandangan Arki yang bergerak diatasnya. Menghentak penuh tenaga. Menyakitinya. Memberinya rasa perih tidak terkira. Sekaligus melambungkannya.
Arki mengehentak dengan ritme yang teratur, mempercepat gerakannya. Keringat bercucuran. Suhu tubuh terus merangkak naik. Hasrat sudah mencapai ubun-ubun. Hingga akhirnya ularnya mengeluarkan bisa berbahaya. Meluluh lantakkan pertahanan Gita, termasuk merenggut kehormatannya.
“Aahh.. F u c k!”
Kini gadis itu adalah miliknya.
Jejak-jejak dan bagian dari Arki sudah dia tinggalkan di tubuh Gita.
Arki sekarang bisa lega, karena sudah membuktikan diri bahwa dia masih perkasa.
...****************...
Gita hanya melingkarkan selimut hingga ke lehernya. Tidak kuat untuk berjalan lama. Tidak mau repot-repot untuk bangkit dan berdiri. Saat ini dia hanya ingin rebah diatas ranjang. Mengistirahatkan tubuh setelah semalaman menjadi objek pelampiasan Arki.
Sekujur tubuhnya sakit. Apalagi perih menyusur dibagian intimnya. Gita baru mengetahui bahwa Arki bisa melakukannya berkali-kali.
Mengistirahatkan diri kemudian menyerangnya lagi hingga empat kali, begitu hitungannya. Karena yang kelima kali terlanjur gagal setelah Gita nyaris pingsan akibat kelelahan.
Tubuhnya sekarang lunglai. Hatinya pun kini berlubang penuh luka dan rasa hina. Arki memperlakukannya seperti sebuah boneka. Tidak pernah mendengar protes atau kesakitannya. Dia hanya memikirkan diri sendiri dan menuntaskan keinginannya.
Gita membencinya. Saat ini rasanya ingin mati saja. Hidupnya sudah tidak berharga. Kehormatannya terampas tak bersisa. Apalagi hari-harinya akan dipenuhi oleh kegiatan yang sama. Menjadi santapan hasrat Arki.
“Aku udah beli sarapan buat kamu. Nanti dimakan,” ucap Arki yang sedang merapikan baju untuk pergi ke kantor.
Dia bertingkah seakan semalam tidak terjadi apa-apa. Bersiap untuk kembali bekerja. Tampak puas dan senang. Sementara Gita teronggok seperti kain lusuh diatas pembaringan.
Mata Gita sudah mulai mengatup saat Arki duduk di tepian ranjang. Mengelus lembut kepala Gita dan mengecup keningnya.
“Ibu nanti siang kesini. Aku udah bilang kalau kamu keguguran,” bisiknya di telinga Gita.
Seketika Gita membuka mata. Menatap Arki dengan kebencian yang menyala.
Ternyata begini rencananya.
__ADS_1