
Basuki mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk ke ruang kerja Arya. Bosnya tersebut sedang duduk dan sibuk menghubungi seseorang di telepon.
Di pojok kanan ruangan Shela—istri kelima Arya—sedang telungkup nyaris tanpa busana, sepertinya mereka telah selesai melakukan sesuatu diruangan itu. Bukan pemandangan aneh bagi Basuki. Sambil menunggu bosnya selesai, Basuki duduk dengan siaga di kursi dihadapan meja kerja Arya.
“Gimana promosi jabatannya? Lancar, Lun?” kata Arya terdengar sangat sumringah di telepon. “Bagus kalau gitu. Saya sudah bilang sama CEO kamu soal kinerja dan kehebatanmu, gak akan rugi naikin jabatan kamu. Tenang aja, siapa pun yang menyerang kamu karena gosip soal video yang disebarkan Arki akan habis ditangan saya. Laporkan saja kalau ada yang macam-macam.”
“Makasih buat bantuannya, Pak Arya,” ucap Luna di sebrang panggilan.
“Saya yang harusnya terima kasih sama kamu, sudah membantu menyingkirkan orang tidak penting yang ingin masuk ke keluarga Wibisana. Kalau bukan karena kamu yang membantu menyingkirkan Gita, kayaknya saya yang akan kena stroke lihat anak kesayangan saya sama perempuan gak jelas asal usulnya itu. Saya sebenarnya masih berharap kamu yang jadi menantu saya. Sayangnya Arki membuat keputusan ekstrem dengan menyebarkan video asusila kamu ke publik. Sebagai permintaan maaf, saya yang harus membereskan masalah ini dan bantu kamu untuk tetap berkarir di perusahaanmu tanpa gangguan.”
“Senang bisa membantu, Pak Arya.”
“Ya. Saya juga senang bekerja sama dengan kamu, Lun,” pungkas Arya menutup panggilan. “Gadis t o l o l! Mana mungkin aku mau punya menantu reputasinya jelek kayak dia. Gimana jadinya si Gita?” dengusnya sambil melempar ponsel ke meja kerja. Kemudian menghadapi Basuki yang sedari tadi menunggunya.
“Mbak Gita sudah naik pesawat setengah jam yang lalu untuk kembali ke Jakarta. Saya dapat kabar kalau Mas Arki menyusul ke Bali karena mendapat laporan dari orang-orang yang mengawasi Mbak Gita, kalau dia akan dicelakakan oleh Juan, adik dari Hadi Prayoga. Orang yang menjalin hubungan dengan Mbak Luna, pemilik video asusila yang kita sebarkan.” Basuki menjelaskan kejadian dengan mendetail kepada Arya.
“Adiknya si Hadi mau mencelakakan si Gita? Haduuh … harusnya kita ajak dia kerjasama kalau gitu. Sekarang dia dimana? Udah habis dihajar Arkian?”
“Sekarang sudah berada di kantor polisi.”
“Tapi Arkian gak tahu kalau kita yang bawa si Gita, kan?”
“Kemungkinan tidak tahu. Orang yang ditempatkan mengawasi Mbak Gita saat itu sedang sibuk mengurus laporan ke kepolisian terkait Juan. Jadi, Mbak Gita sudah aman berangkat ke Jakarta.”
“Bagus. Langsung bawa dia kesini kalau udah sampe.”
“Baik, Pak. Tapi saya ingin melaporkan sedikit masalah. Ibu tiri Mbak Gita kabur saat akan dipindahkan ke rumah di Bogor. Sekarang hanya adik tirinya saja yang ada disana,” kata Basuki tampak khawatir, takut Arya akan meledak marah.
__ADS_1
“Cari terus lenyapkan dia! Mereka gak berguna juga nantinya.”
“Siap, Pak!”
“Ada lagi laporan lain?”
“Pak Ginanjar menelepon tadi pagi, Beliau marah karena Mas Arkian membiarkan Mbak Amanda yang sedang sakit sendirian di Surabaya. Mas Arkian langsung pergi ke Bali saat tahu tentang kabar Mbak Gita dari bawahannya.”
“Ck… nanti aku yang telepon dan menjelaskan sama Ginanjar. Si Arkian bener-bener keterlaluan! Kayaknya memang tepat kita misahin si Gita sama dia. Kalau ngga, dia akan semakin bucin kayak sama si Luna. Aku gak suka kelemahan ini dari Arkian.”
“Saya setuju dengan Pak Arya. Kita harus segera menempatkan Mas Arkian di perusahaan. Kabar tentang Mas Arkian yang akan menjadi penerus selanjutnya menarik banyak kerjasama, terutama orang-orang yang dulu mendukung keluarga Bu Ela.”
Arya menghela napas. “Atur semua sesuai rencana kita dan awasi terus si Gita!” katanya sambil berdiri dari kursinya.
Dia menghampiri Shela yang masih tertidur di sofa, menarik selimut yang menutupi perempuan itu hingga terbuka. Arya langsung mencium punggung mulus perempuan tersebut dan mengedarkan tangannya menyentuh dadanya.
...****************...
Arki menggeliat di atas kasur, terbangun dari mimpi indahnya setelah semalam ber cinta hingga puas dengan Gita. Perasaan yang sudah lama dia rindukan. Menyentuh Gita kembali membuat dia menjadi lebih bahagia. Kini Arki menyadari hal yang dibutuhkannya hanya Gita. Meskipun semua hal tentangnya terkadang membuat Arki emosi dan kesal.
Arki menggapai-gapai ke kasur kosong yang berada di sebelahnya. Dingin dan tidak ada siapa-siapa. Seketika matanya terbuka dan seluruh kesadarannya terjaga. Arki mengedarkan pandangan ke kamar hotel yang sepi. Tidak ada Gita di sana.
“Git? Gita!” panggil Arki kebingungan.
Arki segera turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Gita juga tidak ditemukan disana. Dia mencari di ruangan tersebut, tidak ada jejak Gita yang tersisa. Baju, handuk, peralatan mandi, hingga kopernya pun tidak tampak.
Arki yakin semalam dia bersama Gita. Tidak mungkin dia pindah sendiri ke kamar lain. Jangan-jangan Gita sudah pulang terlebih dahulu bersama rombongan reuni kelasnya tanpa memberitahukan Arki.
__ADS_1
Lekas dia mengambil ponselnya, mencoba menelepon Gita berulang-ulang. Tapi tidak satupun panggilan tersebut sampai. Suara operator mengatakan nomor yang ditujunya tidak aktif. Perasaan Arki seketika disergap panik. Apakah ada yang menculik Gita? Apakah dia dalam bahaya? Jangan-jangan Juan masih punya kaki tangan yang mencoba mencelakai Gita lagi?
“Halo, Selamat Pagi. Saya Sinta, ada yang bisa dibantu?” suara resepsionis di ujung panggilan terdengar.
“Saya dari kamar 203. Orang yang menginap di sini sudah check out? Rombongan yang berangkat bareng dia sudah berangkat?”
“Kamar atas nama Bu Gita Betari Putri, benar? Rombongan dari Jakarta belum check out dan dijadwalkan pukul 10 pagi nanti akan menuju bandara. Sekarang rombongan sedang menikmati sarapan pagi di restoran yang kami sediakan.”
“Panggil manager kamu!”
“Ya?”
“Panggil manager kamu dan kasih saya akses ke CCTV sekarang!”
Menggunakan pengaruh dan kekayaannya, sekali lagi Arki bisa menembus batas-batas hukum dan peraturan dimana pun. Dia sekarang berada di ruang kontrol CCTV bersama manager hotel dan beberapa petugas hotel. Menelisik satu persatu rekaman untuk menemukan keberadaan Gita.
Pukul 5 pagi Gita terlihat menyeret kopernya dari kamar 203 menuju lift. Sendirian tanpa siapapun mendampingi. Tidak terlihat ada paksaan apapun yang ditujukan untuknya. Tidak lama CCTV di lobby menangkap sosoknya yang keluar hotel. Sudah menunggu mobil di sana. Supir membantunya menaikan koper ke bagasi dan kendaraan tersebut lekas pergi.
“Zoom nomor polisinya!” kata Arki memerintah pada petugas yang sibuk mengontrol rekaman.
Manager hotel mencatat nomor polisi di mobil yang membawa Gita pergi. Kemudian menyerahkannya pada Arki. Langsung saja dia memotret informasi tersebut dan mengirimkannya kepada Patra. Sambil dilanda kepanikan yang menguap ke puncak kepala, Arki menelepon bawahannya dengan tergesa.
“Cari mobil itu dan cari Gita sampai ketemu!” bentak Arki emosi.
Kini sekujur tubuhnya gemetar karena perasaan takut, khawatir, dan panik yang tidak bisa menyurut dari dadanya. Kenapa perempuan itu selalu saja membuatnya seperti ini? sekali saja, tidak bisakah dia diam, patuh, dan tidak menimbulkan masalah? Kenapa semua yang dilakukan oleh Gita membuat Arki begini kacau?
Gita benar-benar perempuan yang merepotkan! Sialnya Arki sangat mencintainya hingga nyaris tidak waras karena khawatir. Arki tidak ingin kehilangan.
__ADS_1