
“Nih, aku bawain baju ganti biar kamu bisa mandi dan gak bau tikus mati. Adrian titip salam dan dia bilang maaf soal istri kamu. Dia beneran gak tahu kalau kehamilan istrimu itu kabar yang belum pernah kamu dengar dan bakal berakibat kayak gini,” kata Aditya saat menjenguk Gita di rumah sakit.
Arki hanya menatap dingin Aditya tanpa sepatah katapun. Adrian memang lalai dalam mengawasi orang-orangnya. Apalagi hingga benar-benar membocorkan kondisi Gita pada Basuki. Kekesalan masih berkumpul dihatinya.
“Suruh dia minta maaf sendiri. Jangan ngomong lewat kamu!” balas Arki kesal.
“Ck! Udahlah hal kayak gini jangan terlalu dibesar-besarkan. Adrian beneran menyesal dan dia akan membalas perlakuan Basuki ke istrimu. Kamu tahu sendiri kan dia kayak gimana?”
“Lihat kondisi istriku kayak gimana?!” kata Arki menunjuk Gita yang terbaring di ranjangnya. “Kalau dia beneran menyesal. Setidaknya ngomong langsung dan minta maaf dengan benar.”
“Iya, iya. Nanti aku bilang deh sama si manusia kaku kaya kanebo kering.”
Arki mendengus kemudian duduk di sofa bersama Aditya. Dia memang paham Adrian tidak melakukan ini karena disengaja. Mungkin karena hingga saat ini Arki masih belum menerima apa yang terjadi pada Gita. Ingin melampiaskan kemarahannya pada seseorang, meskipun tahu bahwa Adrian dan Aditya bukan orang yang tepat untuk ini. Basukilah yang harusnya menerima semua caci maki dan pembalasan.
“Aku tahu kamu kesini bukan hanya untuk menjenguk, kan? Kenapa? Arya udah tahu kalau aku pergi ketemu istriku?” tanya Arki.
“Nggak. Kita ganti rencana. Kita lakukan hal yang kita setujui lebih cepat. Kamu juga bisa fokus urus istrimu di sini beberapa waktu. Sekarang Adrian lagi berusaha bikin Arya tanda tangan surat wasiat. Sebentar lagi si tua bangka itu gak akan berdaya. Lumpuh dan gak punya akses ke bawahannya.”
“Maksudnya? Kalian udah melakukan hal itu sama Arya?” kata Arki bingung.
Aditya mengeluarkan sebuah botol kecil. Memamerkan benda yang di genggamnya itu pada Arki. Sekali lihat, Arki langsung tahu bahwa botol kecil yang dipegangnya adalah salah satu benda berbahaya, racun arsenik yang bisa saja membuat ayah mereka kehilangan nyawa.
“Arya udah meminum itu? Keadaannya gimana sekarang? Dia udah...” kata Arki mengentikan kata-kata itu di udara. Meskipun ada perasaan tidak tega, hatinya yang lain ikut bersorak sorai ketika tahu Arya sebentar lagi lenyap.
“Udah dikasih sih. Tapi gak langsung die. Kita berencana melakukannya pelan-pelan karena terlalu beresiko jika tiba-tiba Arya tumbang dan meninggal.”
“Hati-hati. Kalau dia merasa sakit, malah bakal lebih berbahaya buat kita. Dia bisa aja langsung menghubungi dokter pribadinya. Dokter Suroto. Inget kan Arya siapa? Dia punya dokter handal, donatur terbesar beberapa rumah sakit swasta dan membiayai pendidikan puluhan dokter muda. Kalau kematiannya gak wajar, semua orang-orang itu akan curiga. Apalagi gak ada Basuki di sampingnya. Menguatkan dugaan jelek tentang kita bertiga di mata kolega dan teman-teman dekatnya.” Arki mencoba berpikir rasional.
“Kita udah memikirkan ulang kemungkinan itu. Tapi Dokter Suroto saat ini tidak akan bisa dihubungi karena Adrian sudah membocorkan mengenai kasus korupsi dia dan anaknya di rumah sakit tempat mereka bekerja. Hari ini dia pasti tidak mau berkomunikasi dengan siapapun atau menerima panggilan. Jadi kita sudah menyiapkan dokter pengganti yang mungkin bisa Adrian bujuk. Memalsukan penyakit dan kematian Arya. Kita tidak boleh memilih dokter sembarangan karena Arya sangat dekat dengan orang-orang dari profesi tersebut. Salah-salah, kitalah yang akan dicurigai.”
“Siapa yang kalian ajak kerjasama?”
“Dokter Nabila, calon istri Adrian. Kita gak terburu-buru melenyapkan Arya, pelan-pelan. Biarkan dia jatuh perlahan dan gak berdaya. Kita harus menikmati balas dendam ini sama-sama." Aditya tersenyum penuh kepuasan.
__ADS_1
...****************...
Arya berbaring di kasurnya. Kepalanya berdenyut sakit dan jantungnya sepanjang hari berdegup kencang tidak beraturan. Otot-otot kakinya terasa keram dan seringkali dia merasa kesemutan. Padahal dia adalah salah satu pria paling sehat diusianya yang sudah tidak muda.
Dia berusaha menghubungi sahabat dekatnya, Dokter Suroto untuk memeriksanya yang tiba-tiba merasa tidak enak badan. Namun, pria itu tidak menjawab panggilannya. Bahkan tidak tersambung sama sekali.
Malah, Arya melihat headline mengejutkan ketika menonton televisi, wajah Suroto terpampang jelas di berita-berita terkini. Tentang kasus korupsi yang mencuat pagi ini. Suroto dan anak sulungnya, Niko, terlibat kasus penggelapan uang rumah sakit dan pengadaan alat kesehatan berkualitas rendah.
Saat Adrian meneleponnya tadi sore dan menanyakan kesediaannya datang ke rumah Salma untuk makan malam, akhirnya dia mengatakan bahwa sepanjang hari merasa tidak enak badan. Adrian langsung membawa Nabila ke rumah untuk memeriksa. Arya belum begitu percaya pada kemampuan Nabila yang baru saja lulus dan mengucap sumpah dokter, dibandingkan Suroto—ayah Nabila—dia masih seorang anak bawang.
“Gimana kabar ayah kamu? Dia sampai gak mau menerima panggilanku untuk memeriksa sebentar saja,” kata Arya saat Nabila memeriksa tensi.
Nabila hanya tersenyum sekilas. Malu dan terbebani dengan berita yang beredar pagi ini mengenai ayahnya. Dia memang tidak sedekat itu dengan ayahnya, hanya Niko yang dianggap membanggakan untuk kedua orang tuanya. Meskipun Nabila sudah menempuh jalan menyakitkan menjadi seorang dokter dan setuju saja dijodohkan dengan Adrian demi membanggakan ayahnya, ternyata dia masih belum dianggap secemerlang dan seberguna Niko.
“Ayah gak mau keluar dari ruangan kerjanya. Aku gak tahu kondisinya gimana,” jawab Nabila pelan.
Sebagian hatinya membenci ayahnya. Tapi sebagian lagi bersimpati, marah, takut dan malu. Kasus ini bukan hanya menyeret ayah dan kakaknya, kemungkinan juga adalah dirinya sendiri. Nabila terlampau bingung sekarang harus bagaimana.
“Bilang sama ayahmu. Suruh dia datang dan aku bisa bantu bereskan. Sebentar lagi kita akan jadi keluarga, kan?” kata Arya tersenyum menenangkan pada Nabila.
Selepas berpamitan, Nabila keluar dari kamar Arya dan menemui Adrian yang duduk di ruang tamu. Laki-laki itu sibuk berkirim pesan di ponselnya hingga tidak sadar Nabila sudah duduk di hadapannya. Memperhatikan.
Nabila tersenyum kecil melihat Adrian. Ketika pertama kali ayahnya mengatakan akan menjodohkannya dengan salah satu anak keluarga Wibisana, Nabila menolak keras. Dia sering mendengar seliar apa mereka diantara kalangan keluarga-keluarga konglomerat. Tampan, mapan, menarik. Namun kelakuan mereka tak ubahnya seperti Arya. Tapi baru Nabila tahu, orang yang sering menjadi bahan pergunjingan tersebut adalah Arki dan Aditya, bukan Adrian.
Adrian malah lebih dikenal dengan laki-laki ketus dan sulit di dekati. Saat pertama mereka berkenalan saja, dia sangat kaku serta tidak menyenangkan. Namun, Adrian tetap berusaha mati-matian untuk tetap melakukan perjodohan dengannya. Kemudian jujur mengatakan bahwa yang dia lakukan hanya ingin membuat Arya bangga saja. Sama halnya seperti yang dilakukan Nabila.
Sejak saat itu, mereka berjanji untuk menjalankannya perlahan-lahan. Berteman dan saling mengenal. Terbuka dan saling menemukan persamaan.
Entah sejak kapan, si kaku dan si gengsi untuk urusan perasaan ini menempati hati Nabila begitu dalam. Dia menyukai laki-laki yang membingungkan seperti Adrian. Meskipun hingga sekarang, Nabila tidak tahu apakah semua perhatian yang dilakukan oleh Adrian masih tentang kepatuhannya pada Arya atau karena benar-benar mencintainya.
“Udah selesai? Gimana kondisi ayah?” kata Adrian yang akhirnya mendongak dari ponsel dan menatap Nabila.
“Aku curiga ayah kamu salah makan atau keracunan sesuatu. Besok aku jadwalkan buat pemeriksaan EKG di rumah sakit,” jawab Nabila.
__ADS_1
“Aku pingin ngomong dan menawarkan sesuatu sama kamu,” kata Adrian dengan wajah datar yang terlihat lebih serius dari biasanya.
“Soal apa?” tanya Nabila bingung.
“Soal kondisi ayah kita. Aku bisa bantu ayah kamu lolos dari tuduhan korupsi, tapi kamu harus bantu aku. juga”
“Bantu kayak gimana?”
“Buat laporan kesehatan palsu untuk Arya.”
...****************...
Gita mendengar suara-suara dari sebelah ranjangnya. Mengenal salah satunya, suara dalam dan menenangkan seperti yang selalu di rindukannya. Dia berbicara kepada seorang perempuan yang sekarang sedang sibuk menjelaskan tentang luka, perban, benturan, pemeriksaan ulang, dan hal lain yang tidak dipahaminya. Kemudian suara sepatu berangsur menjauh, disertai pintu yang menutup. Ruangan hening kembali.
“Gita,” panggil suara laki-laki di sebelah telinganya.
Tadianya semua hal terasa samar dan terdengar seperti sebuah mimpi. Namun, seketika suara Arki membuat Gita terjaga. Dia membuka kedua matanya, meskipun salah satunya tidak bisa membuka sempurna karena bengkak. Tubuhnya lemas seperti habis seperti kain basah dan tiba-tiba nyeri menyerangnya dimana-mana. Gita mengerutkan kening, merasakan ledakan sakit disekujur tubuhnya saat terbangun. Dia menangis tiba-tiba, karena kepalanya berdenyut hebat.
Tangannya menyentuh kepala yang sakit tersebut, perban terbalut disana. Selang-selang tertancap di tangannya. Beserta memar di mana-mana. Gita kemudian mengingat kejadian yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Basuki, menghajarnya habis-habisan. Tangisnya makin menjadi-jadi.
“Git, tenang! Gak apa-apa. Sekarang kamu udah gak apa-apa. Jangan takut!” kata suara itu lagi.
Gita langsung menoleh ke sebelahnya. Melihat Arki sedang berdiri dengan tatapan khawatir. Dia pasti sudah gila. Rasa sakit ini membuatnya tidak waras. Tangisan dan isakan semakin menggema. Hingga akhirnya Arki memeluk Gita yang terlihat begitu shock dan ketakutan.
“Gita, udah. Sekarang kamu aman,” ucap Arki lagi masih mencoba menenangkan.
“Risa, aku udah gak waras! Aku terus lihat Arki dimana-mana,” tangis Gita. Dia pernah menceritakan banyak mimpi buruk dan bayangan Arki yang terus berseliweran pada adik tirinya itu.
“Kamu masih waras, Git. Aku di sini. Aku beneran disini,” kata Arki meyakinkan Gita.
Arki bingung sendiri dengan apa yang terjadi. Kenapa Gita bisa-bisanya mengira bahwa dirinya tidak waras hanya dengan melihat Arki?
“Bohong! Arki gak mungkin di sini! Dia udah buang aku dan bahagia sama istri barunya!” teriak Gita histeris.
__ADS_1
Kini dia begitu bingung, kenapa bayangan Arki terlampau nyata hingga bisa digenggam seperti ini?