
Gita mengaduk cokelat milkshake di depannya dengan tidak berselera. Pikirannya penuh oleh beban dan perasaan yang tidak karuan. Memikirkan bagaiman dia harus mengambil langkah ke depan tentang pernikahannya yang menakutkan, membuat Gita pusing dan sakit kepala.
Hal yang menahannya kini tetap berada dipernikahan tersebut bukanlah uang, tapi keberadaan mertuanya yang secara singkat begitu membekas dihatinya. Tapi Gita sangat takut pada Arki, dia tidak ingin bertemu dengannya lagi dan mengalami kejadian seperti tadi malam.
Gita bahkan masih bergidik ngerti mengingat apa yang dilakukannya itu. Perasaan dan sensasi aneh ditubuhnya saat melepaskan kenikmatan yang tidak pernah dia rasakan. Gita pasti tidak waras pada saat itu hingga merasakan hal tersebut. Ini tidak normal!
Belum lagi jika harus memikirkan bagaimana caranya lolos dari kebohongan tentang kehamilannya pada Arki. Gita semakin terdesak dan terpojok. Dia tidak mengkin jujur padanya. Semua ini benar-benar kekacauan yang tidak bisa Gita kendalikan.
“Udah gue bilang puluhan kali sama lo, Git. Tapi tetep aja ngeyel mau nipu Arki dengan nikah sama dia. Gak sampe nunggu setahun udah kena batunya kan lo,” ucap Mia kesal karena Gita tetap menjalankan rencana sesatnya itu.
“Ya waktu itu, gue pikir itu jalan satu-satunya buat keluar dari masalah utang gue, Mi. Gue juga gak menyangka kalau keadaannya malah jadi kacau dan gak sesuai rencana.”
“Ya jelas gak akan sesuai rencana lo lah! Lo mengharapkan Arki bakal diem, baik-baik aja dan menerima semua ide gila lo, buat gak berhubungan suami istri, manut aja soal dokter pilihan lo, gak menentang lo kerja, percaya sama rencana keguguran lo dan mau-mau aja diajak cerai? Gak mungkin!” sembur Mia seakan menampar Gita.
Bukannya Gita tidak tahu hal seperti ini akan terjadi. Dia juga sempat memikirkan kegagalan-kegagalan rencananya. Tapi Gita terdesak saat itu untuk melunasi utangnya dan terlepas dari beban finansial yang menghimpitnya. Dia pikir bisa mengendalikannya, tapi ternyata salah.
“Lo mikir aja, Git. Dia dulu atasan lo, lebih pinter dari lo. Gak mungkin orang kayak gitu bisa lo kendalikan kayak lagi pacuan kuda. Kalau tiba-tiba dia mau lo ngelayanin dia atau tiba-tiba dia ngatur hidup lo. Ya wajar. Dari pandangannya, dia emang pantas ngelakuin itu sama lo, karena dia suami lo.”
“Kalau tahu lo bakal marahin gue, gak jadi deh gue ketemu sama lo!” ucap Gita kesal dengan ceramah Mia. Gita hanya tidak ingin mendengar kebenaran saat itu, hanya butuh penenang dan orang yang bisa mendengarkannya dengan netral.
“Soalnya lo udah tersesat jauh, Git. Mempermainkan pernikahan cuma buat duit dan keuntungan sesaat itu beneran jalan sesat. Makanya gue marahin lo, biar sadar! Begajulan gini juga gue tahu agama ya, Git!”
Gita mendelik sebal. Keputusannya untuk menipu Arki lewat sebuah pernikahan memang jalan sesat yang tidak bisa dimaafkan. Mungkin Tuhan juga langsung menghukum Gita saat ini juga, dengan mengirimkan suami semengerikan Arki.
“Ya udah kalau gitu gue, mau ajukan cerai aja dan bilang sama dia kalau kehamilan gue cuma pura-pura. Pasti dia juga gak akan maafin gue, malahan jadi benci ke gue, terus bakal setuju soal perceraian.”
Gita sudah memikirkan ini sebelumnya. Kalau Arki tahu tentang kebohongannya, dia pasti akan membencinya. Maka idenya mengenai perceraian akan terlaksana segera. Dia tidak rugi apapun dengan hal itu. Utangnya sudah lunas dan dia sudah punya pekerjaan baru. Mungkin hal yang membuatnya ragu hanyalah perasaan bersalah karena melukai mertuanya.
“Lo pikir bakal segampang itu? Lo udah menipu dia, Git. Paling nggak ya dia laporin lo dan masukin lo ke penjara.”
“Ya terus gue harus gimana, Mi?” ucap Gita frustrasi.
“Gak tahu, gue gak punya saran.”
Mereka berdua terdiam tidak berbicara lagi. hanya mendengarkan musik café yang mengalun di latar belakang dan memperhatikan aktivitas orang-orang di tempat tersebut.
__ADS_1
Gita menyusun rencananya kembali di dalam otaknya. Dia akan tetap berpisah dengan Arki, melanjutkan kebohongan tentang kehamilannya dan rencana kegugurannya setelah mendaftarkan perceraian. Semua itu untuk menghindari agar Arki tidak melaporkannya ke polisi untuk kasus penipuan. Kebohongannya harus tetap tertutup rapat. Kali ini Gita pasti bisa melakukannya dengan baik.
Ponsel Gita yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Dilayar ponsel tersebut tertulis nama Arki dengan jelas. Tanpa minat, Gita langsung mematikan panggilan tersebut. Tapi Arki menghubunginya kembali. Beberapa kali mereka terus berkeras menelepon dan menutup panggilan secara bergantian.
“Angkat aja sih, Git!” ucap Mia kesal melihatnya.
“Gak mau! Gue gak mau denger suara dia!”
“Ya terus lo mau diemin dia? Di rumah juga lo bakal ketemu dia dan ngobrol, kan?”
“Gue gak mau pulang! Gak mau ketemu sama dia!”
“Ck … kesel banget gue lihatnya!” seru Mia, memencet tombol menerima panggilan di ponsel Gita dan langusng mengangkatnya di depan wajah sahabatnya.
“Mia!” bentak Gita.
“Gita,” ucap Arki di sambungan telepon.
Mia dan Gita beradu pandang, saling memelototi. Mia terus mengacungkan ponsel di depan wajah Gita dan menyuruhnya berbicara lewat sorot matanya yang memperingatkan dengan galak. Akhirnya Gita menyerah dan menerima ponsel itu.
“Ya?” jawab Gita malas, menempelkan ponsel ditelinganya.
“Aku lagi ketemu sama Mia di café?”
“Kok kamu gak bilang dulu kalau mau pergi keluar?”
“Arki, kamu lagi keluar juga ngaterin ibu, lagian aku rencana ketemuannya dadakan.” ucap Gita berusahan bersabar.
“Ya seenggaknya kirim pesan kek, Git. Kamu tuh kenapa sih gak pernah izin dulu sama aku?”
“Arki! Kenapa sih masalah sepele gini doang dibikin ribet?” bentak Gita kesal.
“Kamu apa-apa tuh harus kasih tahu aku dulu. Jangan sembarangan kayak gini. Pulang sekarang atau aku kesana?!”
Mia hanya menatap Gita yang cemberut dan merengut di tempat duduknya. Sahabatnya itu memang dari dulu memang keras kepala. Apalagi perihal percintaan. Jika Gita sudah mengatakan tidak suka, maka dia tidak akan mengubah hatinya demi apapun juga.
__ADS_1
Padahal, jika sahabatnya itu membuka sedikit perasaannya pada suaminya, kehidupannya akan lebih baik. Serta mengkomunikasikan mengenai kebohongannya, karena Mia yakin Arki tidak seburuk yang Gita duga.
Laki-laki yang langsung meminta maaf saat melecehkan Gita, menawarkan kompensasi padanya dan langsung bertanggung jawab saat itu juga ketika Gita mengatakan hamil karena perbuatannya. Laki-laki seperti itu langka dan sulit ditemui. Meskipun Mia sempat meragukan laki-laki itu karena pernah berbiat asusila terhadap Gita. Tapi Mia sudah kehabisan kata untuk menceramahi temannya itu.
“Git, gue pulang dulu,” ucap Mia saat melihat sosok Arki yang muncul di café dan mendekati mereka.
Mia langsung berpamitan juga pada laki-laki yang tampak sangat kesal itu. Sepertinya sahabatnya akan mengalami hari yang buruk setelah ini karena kemarahan suaminya.
Arki duduk di tempat Mia semula duduk. Saling berhadapan dengan Gita, yang memalingkan wajah dari suaminya. Pandangannya sibuk memperhatikan barista yang sedang meracik kopi pesanan dengan lihai. Arki terus menatapnya, kekesalan dan kemarahan berkumpul penuh di kepala.
“Gita,” geram Arki mencoba mengendalikan kekesalannya.
Istrinya itu tidak menggapi, matanya masih asyik menatap barista. Arki mencengkram bahu Gita dan menghentaknya hingga gadis itu melihatnya. Gita kaget dengan perilaku kasar tersebut. Dilihatnya laki-laki itu sudah menatap dengan garang. Dia mengingat lagi terakhir kali mereka bertengkar saat pertama kali bekerja.
Arki menghela napas, meredakan amarahnya. “Bisa gak sekali aja kamu gak berbuat seenaknya kayak gini?”
“Bukannya aku yang harusnya bilang itu sama kamu? Berhenti berbuat seenaknya sama aku! Padahal kamu udah janji gak nyentuh aku dan kamu sama sekali gak menyesal udah berbuat kayak semalam, kan?” Air mata meluruh karena kesal dengan perilaku Arki.
“Ngga. Aku gak menyesal. Perbuatanku tadi malam bukan hal yang terlarang. Aku suami kamu,” kata Arki menekankan kalimat terakhirnya.
Gita benar-benar benci kata kata Suami. Seakan punya otoritas untuk membelenggu hidupnya dan menuruti semua tingkah menyebalkan Arki. Sekarang keinginan Gita untuk pergi dari laki-laki ini meluap dengan hebat.
“Ayo pulang!” kata Arki lagi. Bukan untuk membujuknya, tapi memerintah agar Gita mengikutinya berdiri dan keluar dari cafe.
Gita bergeming. Hanya menatap sosok menjulang di hadapannya. Tidak sabar dengan tingkah Gita yang menantangnya. Arki segera mencengkram lengan Gita agar berdiri dari tempat duduknya.
“Pulang sekarang! Atau aku hubungi Pak Usman, atasan kamu biar kamu dipecat,” desis Arki memperingatkan.
Bola mata Gita membulat. Kaget. “Kenapa ... kamu tahu ... Pak Usman?” Gita terperangah mendengar Arki menyebutkan nama atasannya.
“Dia kakak tingkatku pas kuliah. Kamu pikir aku gak tahu senior akuntan di perusahaan-perusahaan lain? Kamu mau tetap kerja, kan? Pulang! Kalau nggak, kamu bakal kehilangan kerjaan kamu.” Arki memperingatkan lagi.
Keringat dingin membanjiri tengkuk Gita karena takut. Dia tidak mengira bahwa atasannya mengenal Arki. Apakah Arki juga mengawasinya ditempat kerja lewat atasannya? Kenapa dia punya banyak koneksi ke semua orang?
Gita mengingat bagaimana Arki langsung mencarikannya kost sementara saat Gita butuh tempat tinggal lewat kenalannya, bagaimana Arki mengatur pernikahan mereka yang hanya butuh persiapan singkat lewat kenalannya juga, dan bagaimana Arki mengetahui tentang utangnya kemudian melunasinya.
__ADS_1
Gita jadi berpikir, apakah sebenarnya Arki tahu tentang kehamilannya yang pura-pura? Dengan pengaruh dan koneksinya yang luas, bukan hal yang tidak mungkin Arki mengetahui hal tersebut.
Gita merasa terperangkap pada jebakannya sendiri.