
[Mia: Lo ngapain juga sih mau kerja, hidup lo udah enak gitu? Udah gue bilang lo gak usah minta cerai sama dia abis lo jalanin misi sesat lo itu. Lanjutin pernikahan lo dan hidup kayak Cinderella.]
[Gita: OGAH!!! Sekarang makin bertambah alasan gue kenapa gak mau sama Arki. Sok ngatur!]
[Mia: Kan dia ngatur lo juga masih dalam batas wajar kali, Git. Dia emang suami lo, sah secara hukum dan agama. Mau lo lagi bohongin dia atau ngga, faktanya tetap dia imam lo. Artinya lo harus nurut sama dia. Kalau dia bilang lo gak boleh kerja, ya berarti gak boleh. Inget ridho suami adalah ridho Allah SWT.]
[Gita: Iyaaa. Siap Mamah Dedeh. Well noted.]
Gita menghembuskan napas keras-keras, menutup ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Dia kesal dengan omelan Mia. Sahabatnya itu sekarang banyak berselisih paham dengannya. Selalu saja dia tidak setuju dengan tindakannya, bukannya mendukung atau memberikan dukungan mental. Saat ini Gita sedang butuh diberikan banyak dukungan agar tetap waras menjalankan rencananya.
Padahal Gita menghubungi Mia untuk berkeluh kesah. Arki memang sudah menyetujuinya bekerja dengan banyak persayaratan, tapi tetap saja semua itu membuatnya sangat kesal. Dia butuh tempat curhat. Mia sepertinya bukan tempat yang bagus untuk menumpahkan isi hatinya kali ini.
“Kamu chatting-an sama siapa sih sampe kesel gitu?” tanya Arki yang sedang menyetir mobil di sebelahnya.
“Temen aku, Mia.” Gita menatap lurus jalanan di depan yang macet karena lampu merah.
“Temen kamu yang ngasih tumpangan tempat tinggal itu? Deket banget ya kalian? Temenan dari kapan?” kata Arki mencari topik pembicaraan. Mereka jarang berbicara di rumah, Gita akan mengurung dirinya di kamar. Semantara Arki saat ini sedang disibukan oleh pekerjaan kantor yang terpaksa dibawanya ke rumah.
“Kenal dari SMP. Kamu sendiri deket sama Rio dari kapan?” tanya Gita penasaran.
Arki dan Rio terlihat sangat dekat lebih dari sekadar teman kerja. Gita juga tahu Rio adalah salah satu anak konglomerat. Si playboy kaya raya, yang menjadi karyawan biasa akibat dihukum oleh keluarganya karena terlalu sering berfoya-foya. Aneh saja melihat Arki dan Rio bisa sedekat itu.
“Temen dari kecil, sejak TK.”
Gita siap mengajukan pertanyaan lagi dan membuka mulutnya. Tapi Arki sudah memarkirkan mobil di hamalan rumah ibunya. Terpaksa Gita menggulung kembali rasa penasarannya.
Bagaimana Arki yang seorang kaum menengah biasa bisa satu sekolah TK dengan Rio yang kaya raya? Gita yakin Rio tidak bersekolah di tempat biasa saja, namun tempat elit. Apakah ibu Arki dulu kaya raya dan menyekolahkan anaknya di sana?
__ADS_1
Mereka turun dari mobil dan mendapati halaman rumah sudah beralih fungsi menjadi lahan parkir dadakan. Beberapa mobil terparkir disana selain milik mereka. Hari ini pertama kalinya Gita kembali ke rumah ibu Arki sebagai menantu resmi. Tujuan mereka kemari adalah untuk menghadiri ulang tahun ketiga keponakannya, Anaya.
Rumah sudah ramai diisi oleh tamu, anak-anak beserta orang tua mereka. Gita disambut oleh ibu dengan hangat. Perempuan itu terlihat senang melihat anak dan menantunya menyempatkan hadir dan mengunjunginya setelah menikah.
“Gimana udah isi belum, Git?” tanya Tante Irma tanpa berbasa-basi saat mereka bergabung dengan kumpulan. Seketika orang-orang yang berada di dekatnya juga ikut penasaran, termasuk Ibu.
“Ummm …” ucap Gita bingung melirik Arki sekilas yang bersanding di sebelahnya.
“Belum lah, Tante. Kita baru 2 minggu nikah. Doain aja, mudah-mudahan cepet.” Arki mengendalikan situasi.
“Indah tuh cepet hamilnya, keturunan kita sih bagus-bagus, subur. Yakin Arki pasti bisa cepetan punya anak. Kalau nggak, berarti masalahnya ada di kamu, Git.” Tante Irma menambahkan dengan menyindir Gita.
Arki melihat istrinya itu sejenak, tampak kesal dengan kata-kata tantenya. “Belum tentu juga masalahnya di Gita, bisa jadi ada di aku. Buat sekarang kita masih mau berdua aja kok. Lagi nikmatin jadi pengantin baru,” kata Arki menambah bumbu kebohongan.
Mereka bercakap-cakap cukup lama hingga acara perayaan ulang tahun di mulai. Semua orang beramai-ramai menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Anaya. Tidak terbiasa dengan kemeriahan dan keriuhan tersebut, anak kecil itu menangis hingga sulit ditenangkan ibunya. Namun selain masalah Anaya yang rewel, semua rangkaian acara berlangsung lancar dan meriah.
Sementara Ibu sibuk memeriksa hidangan yang akan disajikan kepada tamu dan Arki berkumpul bersama bapak-bapak di luar rumah. Gita benar-benar merasa sendirian dan asing di sana.
“Tante Irma, apa kabar? Maaf ya aku telat datengnya. Macet banget tadi di jalan,” kata seorang perempuan manis berambut lurus menghampiri Tante Irma.
“Eh Sherly,” kata Tante Irma dengan ceria, memeluk perempuan itu. “Gak apa-apa, macet mah biasa. Lagian rumah kamu kan jauh,” lanjutnya mempersilakan duduk di sampingnya.
Mereka terus mengobrol dan kini Tante Irma mengabaikan Gita. Dia memang benar-benar sendirian dan tidak bia akrab dengan perempuan itu.
“Makin cantik aja sih kamu, seneng deh tante tiap lihat kamu. Cantik, baik, pekerjaannya bagus, dan keluarganya pada hebat semua. Mau deh tante punya mantu kayak kamu,” ucap Tante Irma memuji Sherly.
Gita yang mendengar hal tersebut merasa tersindir. Dia tidak cantik, bukan orang yang baik tapi pembohong hina, tidak memiliki pekerjaan, dan yatim piatu dengan keluarga yang tidak jelas. Entah kenapa kata-kata itu seperti sebuah pembanding untuk dirinya.
__ADS_1
“Tante kan anaknya cewe, masa ngemantu aku sih?"
“Ya kamu sama Arki maksudnya. Kan mantunya Mbak Ela juga mantu Tante juga.”
“Mas Arki kan udah nikah. Kalau belum sih, aku juga mau jadi mantunya tante.”
“Eh, iya. Lupa. Ini istrinya.” Tante Irma menunjuk Gita yang sejak tadi diabaikannya.
Gita menyunggingkan senyum sekilas pada Sherly dengan canggung. Mendengar percakapan itu membuat Gita merasa tidak diterima sebagai menantu di keluarga tersebut, karena yang mereka inginkan adalah perempuan seperti Sherly.
“Padahal tuh, kamu rencananya mau di kenalin sama Arki abis pulang dari Singapura. Eh si Arki malah udah bawa calon. Mana pingin cepet-cepet lagi nikahnya. Kaget Tante tuh, kirain hamil duluan pingin ngebut nikah.”
Gita merasa kesal luar mendengarnya. Tapi dia berusaha menahan emosinya, tidak ingin ada keributan apapun di hari pertamanya berujung sebagai menantu.
Gita memang pendiam sejak dulu, tetapi dia tidak selalu diam mendengar sindiran dan perkataan yang membuatnya tidak enak hati. Mia selalu mengajarkannya untuk melawan demi mempertahankan harga diri. Kali ini saja, Gita akan membiarkan Tante Irma lolos.
“Iya sayang banget ya. Padahal aku juga udah nungguin dikenalin sama Mas Arki. Secara tipeku banget loh, Tante.” Sherly tesenyum pada Tante Irma.
Cewek kurang ajar! Sama aja kayak si Tante tua!
“Sayang banget ya kurang cepet. Mungkin karena bukan jodoh,” kata Gita menimpali pembicaraan. “Tapi mau dikenalin juga kan percuma, Tante. Arki sama aku udah pacaran 6 bulan, meskipun aku belum dikenalin ke sini. Dulu aku masih malu, soalnya pacaran sama temen kantor dan dia termasuk atasanku disana. Kirain gak bakal selama itu dan diajakin nikah kayak sekarang,” lanjut Gita menjelaskan sambil tersenyum pada kedua orang di sebelahnya.
Tante Irma langsung diam dan berdeham canggung. Begitupun dengan Sherly yang kemudian bermuka masam dan mengalihkan pandangan kepada Indah yang sedang menggendong anaknya.
“Kamu kan cantik banget, pasti dapet yang lebih dari Arki. Jangan bilang mau sama suami orang di depan umum kayak gini, aku yang jadi malu dengerinnya,” sindir Gita.
Tante Irma langsung memelototinya. Seakan tidak menyadari tatapan garang itu, Gita tetap tersenyum manis dan bersikap tenang. Sherly segera beranjak dari sana menemui Indah dan mencoba menggendong Anaya.
__ADS_1
Jika Gita menceritakan ini pada Mia, dia pasti sangat bangga padanya.