Istriku Penipu

Istriku Penipu
Menyembunyikan


__ADS_3

Suasana di klinik cukup ramai sore ini. Banyak sekali pasien yang menunggu di kursi-kursi panjang di depan poli kandungan. Para istri terlihat berbincang dan berbahagia dengan kehamilannya, ditemani suami yang setia mendampingi. Mimpi yang pernah Gita miliki juga.


Tapi saat ini Gita duduk sendiri selepas pemeriksaan dokter. Memegang selembar foto USG di tangan, sesuatu yang mirip, yang pernah dia serahkan dulu pada Arki. Namun dulu bukan miliknya.


Gita menatap foto USG tersebut dengan perasaan berat, sedih, dan takut. Hidupnya sendiri sekarang sulit, sedang mencoba bangkit dan menatanya. Gita tidak ingin menambah beban hidupnya dengan kedatangan makhluk baru. Gita tidak siap.


Tercetak tulisan GA, CRL, GS, FW, FHR, LMP, EDD yang tadi dijelaskan oleh dokter padanya. Janinnya sehat, berumur 8 minggu 4 hari, dengan panjang 2,4 cm. Semuanya aman dan tidak ada masalah. Gita juga mendapatkan resep untuk vitamin dan obat yang harus diminumnya nanti.


Gita mengedarkan pandangannya kembali ke sekitarnya. Menatap satu persatu pasangan yang datang untuk pemeriksaan. Haruskah Gita kembali pada Arki? Setelah semua pelarian yang sudah dilakukan? Demi mendapatkan pertanggungjawaban dan kesempatan anaknya agar diasuh juga oleh ayahnya. Pikiran itu kian liar dan muncul berulang.


Arki mungkin akan membenci, menghina dan mengusirnya jika datang kembali, apalagi dengan membawa seorang anak yang tidak diinginkannya. Selama ini Arki selalu memeriksa apakah Gita meminum pil kontrasepsi atau tidak. Menegaskan padanya bahwa hubungan mereka hanyalah teman ranjang. Dia tidak menginginkan anak dari Gita.


“Mbak Git, ini vitaminnya diminum setiap hari. Kalau obat mualnya diminum kalau mual muntah parah aja,” kata Risa menyerahkan obat yang baru saja dibawanya dari apotik.


“Aku gak mau hamil,” ucap Gita lemah. Tatapannya kosong mengarah ke depan. Pada kumpulan suami istri yang tampak senang.


“Ya mau gimana lagi, bayinya udah diperut. Masa mau dikeluarin sih? Kenapa gak mau? Karena benci sama bayinya? Atau benci sama bapaknya?” Risa ikut duduk di kursi dan menatap ke arah Gita memandang.


Gita juga tidak tahu. Dia tidak menginginkan kehamilannya. Tapi tidak membencinya juga. Hanya tidak siap, takut, bingung dan sedih. Gita juga tidak bisa mengatakan bahwa dirinya membenci Arki, ada perasaan cinta yang dia kubur dalam untuknya. Namun pengkhianatan Arki membuat hatinya terluka. Keluarga Arki yang tidak menginginkannya juga membuat Gita merasa rendah dan terhina.


“Aku benci bapaknya. Cowok paling b a j i n g a n yang pernah aku temui,” kata Gita berusaha menekan perasaan pada Arki. Laki-laki itu sudah jauh dari jangkauannya.


“Ya berarti Mbak Gita tetep bisa sayang dong sama bayinya? Dia kan udah gak ada hubungan lagi sama suami Mbak Gita. Tahu keberadaannya aja nggak, iya kan?”


Risa benar. Bayi itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Arki. Keberadaannya saja tidak laki-laki itu ketahui. Bahkan mungkin Arki tidak akan menyangka akan tumbuh benihnya di rahim Gita. Sekarang bayi itu hanya milik Gita.


Meskipun selintas keinginan untuk memberitahukan keberadaan bayi ini pada Arki. Gita semakin yakin untuk menutup rapat saja. Akan jadi masalah jika Gita muncul kembali dihadapan Arki. Selain ketakutan yang begitu dalam tentang reaksi yang akan diterima Gita dari Arki, sekarang dia juga harus mewaspadai jikalau kabar kehamilannya tercium oleh Arya. Mana mungkin Arya senang memiliki cucu dari orang seperti Gita.

__ADS_1


“Ayo ah pulang! Aku mau ngerjain tugas nih,” kata Risa mengajak Gita pergi. “Aku yang bawa motornya. Mbak Git sekarang jangan bawa motor dulu selama hamil,” lanjutnya saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar.


Gita langsung membaringkan diri di kasur saat sampai di rumah. Sekarang Risa yang diberi tugas untuk memberikan arahan pada Heni dan keponakannya, untuk mempersiapkan kedai mereka besok.


Sekarang Gita juga sudah memberitahukan kehamilannya pada karyawannya. Dia mengaku sebagai janda yang baru saja bercerai dari suaminya dan tidak tahu bahwa saat perceraian itu sedang mengandung.


Padahal awalnya Gita ingin menutup rapat mengenai statusnya dari mereka. Tapi tidak mungkin membesarkan anak tanpa suami, jika mereka tidak tahu kebenaran ceritanya. Gita tidak ingin menjadi bahan gunjingan karyawannya sendiri nantinya.


Untunglah mereka percaya dan bersimpati pada Gita. Tentu saja berkat bantuan Risa, yang menambahkan bumbu-bumbu drama dicerita Gita. Mengatakan bahwa Arki adalah laki-laki yang kejam dan suka menyiksa. Kemudian Gita memutuskan bercerai karena mendapatinya berselingkuh.


Tidak sepenuhnya salah. Gita memang pergi karena Arki tidak menginginkannya lagi. Dia berhubungan dengan perempuan lain di belakangnya. Berselingkuh. Hal yang membuat Gita tidak bisa lagi bertahan dengan Arki. Untuk apa mengemis perhatian pada laki-laki yang mengacuhkannya dan bermain dengan perempuan lain? Gita meyakini jalan yang dia ambil untuk meninggalkan Arki sangat tepat.


Sambil berbaring, Gita memikirkan lagi hidupnya. Mengumpulkan keberanian untuk menghadapi hari-hari yang sulit di depannya. Menjadi ibu tunggal untuk anaknya kelak. Mau bagaimana pun Gita tidak akan sanggup menggugurkan kandungannya. Tidak akan bisa mengenyahkan makhluk tidak berdosa itu.


Arki tidak boleh tahu tentang kehamilannya. Apalagi sampai kabar ini terdengar ke telinga Arya. Entah apa yang akan mereka lakukan pada anaknya dan Gita, karena seorang perempuan biasa yang menurut mereka tidak pantas berada di keluarga Wibisana telah mengandung keturunannya. Dia semakin yakin untuk menutup keberadaan anaknya dari Wibisana.


...****************...


Harapannya melambung tinggi saat mengetahui istri Arki meninggal dalam kecelakaan. Tak lama kemudian Arki menggantikan posisi Arya di perusahaan dan sekarang sedang menjalin kerjasama dengan ayahnya untuk urusan bisnis. Ayahnya beberapa kali mengadakan pertemuan dengan Arya dan Arki, memberi kesempatan agar Amanda dekat dengan pujaan hatinya lagi.


“Terus sekarang yang jadi asisten pribadi kamu si Aditya, Ki? Carilah aspri cewek, masa mau tiap hari ditemenin yang macho kayak gitu? Gak bikin seger,” kata Ginanjar berseloroh.


“Emang si Aditya gak enak dilihat sih, Om. Lagian dia dikasih duit terus tapi kerja di kantor ogah-ogahan. Mending ditarik aja pegang posisi penting, sekalian diawasi. Lagian asisten pribadi ayah juga cowok kok, Pak Basuki.”


Ginanjar dan Arya tertawa. Tahu bahwa diantara tiga putra Wibisana, Aditya lah yang paling serampangan dan sulit diatur. Kabar tentang sifat boros, pemalas, dan pemain wanita sudah tersebar kemana-mana.


“Ya biar berguna lah. Sebenernya pinter tuh anak. Sayang aja susah ngaturnya. Dulu Adrian komplain terus, kalau dapat laporan Aditya jarang masuk kantor dan telantarkan kerjaan. Bikin pusing jadinya,” tambah Arya.

__ADS_1


“Mungkin karena Aditya diurus sama Ela setelah ibunya meninggal, jadinya lebih dekat dengan Arkian, ya? Lebih nurut sama kakaknya yang ini?” tanya Ginanjar penasaran.


Arki hanya mengulas sedikit senyuman. Di tidak sedekat itu dengan Aditya. Malah sepanjang hidupnya membenci semua adik tiri yang terlahir dari perselingkuhan ayahnya. Hanya ibunya saja yang begitu dekat dengan Aditya, setelah anak itu ditelantarkan Arya semenjak ibunya meninggal.


Ela bahkan terus menjalin komunikasi dengan Arya karena mendesaknya untuk mengurus dan membiayai Aditya, setelah ditinggalkan sendiri dan tidak diakui kakek neneknya dari pihak ibu. Jika Ela yang melakukannya, Arya akan mengikuti. Arya tidak akan menjadikan Ela musuhnya setelah Arki—penerusnya—berada dalam asuhan Ela.


“Om sih sebenarnya pingin kamu mempertimbangkan buat masukin Amanda ke perusahaan kamu. Kan kalian udah pernah kerja bareng. Syukur-syukur bisa gantikan Aditya jadi asisten kamu,” kata Ginanjar sambil tertawa.


“Kalau Amanda sih langsung dijadikan istri aja, ya kan?” ucap Arya mengerling pada Amanda dan tersenyum. Amanda membalasnya dengan senyuman malu-malu.


“Nanti aku kabari kalau ada posisi yang kosong buat Amanda di perusahaan,” kata Arki yang mulai tidak nyaman ketika disuruh menikah lagi.


Arki memang sedang berusaha bersandiwara dengan mendekatkan diri pada Arya beserta semua rekan bisnis yang menguntungkan perusahaan. Rencana yang dia susun bersama adik tirinya. Tapi ada saat dimana Arki sangat jengah berpura-pura. Ketika dia didesak untuk dekat dan menikah dengan Amanda.


“Pasti ada tempat kosong buat Amanda. Tenang aja,” balas Arya, yang bisa melihat Arki kembali menarik dirinya dari hubungan dengan Amanda.


“Bisa diusahakan, ya kan, Pak?” kata Ginanjar memberi kode pada Arya.


“Bisa, bisa. Kalau buat Amanda, apa sih yang nggak?” balas Arya.


Arki menyembunyikan perasaan kesal dan dendamnya dibalik senyuman bisu. Kemudian mengisi kerongkongannya dengan air untuk meredakan amarah.


Jelas sekali Arya menginginkannya untuk menikah lagi dengan Amanda, setelah kepergian Gita. Orang bodoh pun pasti tahu dan berburuk sangka bahwa kecelakaan tragis menimpa Gita adalah skenario Arya, untuk memuluskan jalannya menjodohkan Arki.


Sekuat tenaga dia menahan diri, agar tidak menghajar ayahnya disana. Masih jauh. Masih terlalu dini untuk dia hilang kendali. Arki juga berjanji kepada Adrian akan mendapatkan kerjasama dengan perusahaan Ginanjar, agar bocah itu juga membantunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Maafin ya kemarin gak update karena sibuk banget di kantor 🥲 Maklum, kerjaan akhir tahun.


Semoga besok-besok pas liburan tahun baru lebih rajin update-nya hehe


__ADS_2