
Gita mematut dirinya di cermin, merapikan kemeja berwarna putih dan celana hitamnya. Dia juga menyisir rambut sebahunya, sebelum mengikatnya ke belakang dengan rapi. Beberapa kali dia berputar untuk melihat kembali penampilannya.
“Udah rapi belum sih, Mi?” kata Gita yang terus menilik penampilannya.
“Rapi. Tapi kurang seger dikit. Sini gue pakein make up biar kelihatan lebih cakep,” kata Mia menawarkan bantuan.
“Gue kayak ikan mati, ya?”
“Iyee, pucet banget.” Mia tergelak.
Gita dan Mia turun ke lantai satu, dan melihat pemandangan pagi yang tidak biasa di rumah itu. Nia sejak tadi berbaring di sofa dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Ibu Mia sibuk di dapur terus mengomeli Nia untuk makan, dan ayah yang sejak tadi terus menanyai anak perempuannya untuk makan sesuatu.
“Kenapa, Kak?” tanya Mia penasaran dengan keadaan kakaknya yang tiba-tiba tidak berdaya.
“Gak tau deh. Pusing sama mual dari tadi malem,” jawab Nia.
“Masuk angin ini mah. Nih minum dulu teh manis angetnya coba, biar perutnya gak kosong.” Bapak terus menawarkan dan mendorong segelas teh manis hangat di meja.
“Gak mau, Pak. Mual, gak mau makan apa-apa.” Nia terus saja menolak.
“Jangan-jangan Kak Nia hamil,” ucap Gita tiba-tiba.
Semua orang langsung melirik ke arahnya. Gita dengan polosnya tersenyum menatap balik orang-orang yang ada disana.
“Bener loh, Kak. Coba cek, siapa tau beneran hamil,” desak Mia.
“Alhamdulillah, bentar lagi jadi aki nih,” ucap ayah Mia sambil tertawa.
“Belum, Pak. Siapa tahu beneran masuk angin. Kemarin kan aku lembur,” sanggah Nia tidak mau terlalu berharap.
“Ya doa dulu aja. Siapa tahu beneran hamil atuh, Neng.”
Obrolan mengenai dugaan kehamilan Nia itu terus berlanjut saat sarapan. Mereka semua berharap Nia segera memiliki keturunan. Hal seperti ini akan menjadi kabar yang sangat membahagiakan untuk semua orang.
“Nih, Ibu tambahin telornya. Biar kuat pas wawancara kerjanya. Siapa tahu nanti sampai siang, Ibu bekelin roti panggang ala-ala gitu resep dari ibu pengajian,” kata ibu Mia dengan semangat.
“Kok aku gak dikasih bekal sih, Bu?” protes Mia.
“Lah kamu kerjanya di dapur. Tinggal comot makanan aja kalau laper,” balas ibunya. Kemudian semua orang tergelak.
“Kamu wawancara di mana, Git? Di daerah kantor kamu dulu kerja?” tanya ayah Mia penasaran.
“Bukan, Pak. Wawancaranya di mall, tempat makan AYCE gitu yang butuh akuntan,” jawab Gita.
“AYCE tuh apa?”
__ADS_1
“All you can eat. Restoran ngambil sendiri sepuasnya sampe kenyang.” Mia menjawab.
“Oooh kayak warung prasmanan?”
“Iyain aja deh, Pak.”
...****************...
Lokasi wawancara kerja hari ini dia tempuh dengan dua kali naik Transjakarta. Dia berhenti di halte dekat mall dan berjalan beberapa menit menuju tempat yang di maksud.
Gita sudah berkumpul di kantor pemasaran mall yang berada di lantai 4, bersama dengan 7 peserta lain yang sudah berpakaian rapi. Mereka duduk di kursi plastik berjajar. Gita yang paling terakhir berada dalam urutan. Bukan karena dia datang terlambat, tapi recruiter sudah menentukan urutan tersebut.
Satu peserta maksimal berada di dalam ruangan HR yang mewawancara menghabiskan sekitar 30 menit. Saat Gita dipanggil ke dalam, waktu sudah memasuki jam makan siang. Tapi beruntungnya, HR tetap melanjutkan proses sampai selesai tanpa beristirahat terlebih dahulu, sehingga Gita bisa menyelesaikan wawancara tanpa menunggu.
Dia mengerahkan segala kemampuan dan menceritakan pengalamannya sebagai akuntan pada mereka. 1 tahun bekerja di perusahaan hasil pertanian, dan 2 tahun di FMCG. Gita percaya diri dengan kemampuannya. Meskipun sudah sebulan ini tidak ada wawancara yang dilakukannya membuahkan hasil.
“Terima kasih untuk waktunya, Bu Gita. Nanti kita hubungi kembali paling lambat 2 minggu untuk proses selanjutnya,” kata HR tersebut dengan ramah.
Kata-kata normatif yang sudah sering Gita dengar sebulanan ini. Disuruh menunggu 2 minggu. Padahal dia belum tentu lolos seleksi.
Gita turun ke lantai satu, melihat deretan restoran mewah tempat makanan enak dan mahal. Salah satunya adalah restoran yang tadi mewawancarai.
Meskipun selama dua tahun Gita bekerja di kawasan perkantoran elit Jakarta, tapi dia belum pernah makan disini. Dia selalu menolak untuk diajak makan siang di mall oleh rekan kerjanya. Hal itulah yang membuatnya jauh dari mereka, karena Gita selalu menghindari melakukan kegiatan menghamburkan uang.
Gita sudah akan mencapai pintu keluar saat seseorang menahan tangannya. Seketika dia kaget, kemudian berbalik dan melihat sosok yang sangat tidak ingin ditemuinya. Kenangan buruk berputar dikepala, tentang kejadian di karaoke sebulan yang lalu.
“Gita, aku udah nyariin kamu kemana-mana. Kita bisa bicara sebentar?” kata Arki yang terengah-engah karena mengejar Gita.
Saat makan siang bersama rekan kerjanya, Arki tiba-tiba melihat Gita sedang berjalan di luar restoran. Segera saja dia berlari menemui gadis itu.
Selama beberapa saat Gita seperti dibuat tidak berdaya dan mematung diam karena shock. Genggaman kuat ditangannya, membuat Gita seketika ketakutan. Sekuat tenaga dia menepis tangan Arki dan langsung memukul wajah laki-laki itu dengan tasnya.
Kaget karena pukulan tersebut, Arki melepaskan tangannya. Gita segera berlari menjauh, menabrak seorang perempuan dan membuatnya merutuk marah. Tapi Gita tidak berhenti karena Arki terus mengejarnya di belakang.
“Gita!” panggil Arki terus menerus. Suara yang sangat dibencinya, yang membuatnya terus bermimpi buruk hampir setiap hari.
“Git, dengerin aku sebentar!”
“Gita!”
"Aku bakal ngelakuin apa aja biar kamu maafin aku, Git!"
“Gita aku mau minta maaf sama kamu. Kita bicara sebentar, Git!” teriak Arki berulang-ulang.
Gita begitu panik dan terus berlari tidak mengindahkan semua teriakan dan kata-kata Arki yang terus memanggilnya. Hingga sampai di lobby mall, sebuah taksi berhenti. Dia tidak peduli lagi dan langsung naik kesana. Menyuruh supir untuk terus berjalan dan kemudian melepaskan tangis di dalam mobil.
__ADS_1
Arki melihat taksi yang dikendarai Gita pergi menjauh. Dia masih mematung di lobby, sambil memandangi kendaraan tersebut. Kesempatan yang dia nantikan untuk bertemu gadis itu kini hilang begitu saja.
...****************...
Taksi berhenti di gang menuju rumah Mia. Terpaksa Gita mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk berkendara dengan taksi saking paniknya bertemu Arki. Padahal jika dia menggunakan Transjakarta akan lebih hemat. Tapi kali ini dia tidak peduli, asal bisa segera pergi dari sana dan tidak melihat Arki lagi selamanya.
Gita mulai berjalan gontai menyusuri rumah-rumah dan jalan sempit menuju tempat tinggal Mia. Sepeda motor berhenti di depannya, Gita mengambil arah yang kosong di jalan sempit itu untuk menghindari motor yang terparkir sembarangan.
Pengendara dan temannya turun. Bukannya menyingkir, mereka malah menghalangi langkah Gita. Mereka menjegal Gita dan mengapitnya dari depan dan belakang.
“Bayar utang lo cepetan!” kata laki-laki berkumis dan berotot di hadapan Gita.
“Kalian siapa, ya?” tanya Gita panik.
“Sok bego lo! Cepetan bayar utang lo! Ini surat jatuh tempo udah dari sebulan yang lalu!” kata laki-laki botak dan sama berototnya dengan temannya.
Si kumis menoyor kepala Gita. “Lo mau coba-coba lari dari kita, ya? Pake ganti nomor dan pindah rumah segala. Lo kira kita gak bakal tahu? Hah?!”
Tangannya memukul-mukul kepala Gita. Sekuat tenaga Gita menyingkirkannya tapi dia terpojok hingga ke tembok.
“CEPETAN BAYAR?! SEKARANG GUE TUNGGUIN! GUE HAJAR LO ANJING KALAU BANYAK ALASAN?!” teriak Si Botak.
“GUE GAK MINJEM DARI KALIAN! UDAH GUE BILANG YANG MINJEM IBU TIRI GUE! SANA TAGIH SAMA MEREKA!” teriak Gita tak kalah nyaring.
Satu pukulan didaratkan oleh Si Botak ke wajah Gita. Membuatnya tersungkur jatuh ke tanah. Gita bisa merasakan asin dar ahnya yang mengalir dari hidung masuk ke mulut karena pukulan tersebut.
“GUE GAK PEDULI SIAPA YANG MINJEM. LO POKOKNYA HARUS BAYAR SEKARANG JUGA!”
Tangan Si Botak menjambak rambut Gita hingga dia berdiri kemabali. Giliran Si Kumis yang maju. Telunjuknya dia hentak-hentakkan di kening Gita.
“Lo udah kita peringatin dari sebulan yang lalu! Tapi lo malah menghindar. Lo kira ini badan amal? Hah?!”
“Kalian cuma pinjol ilegal. Gue gak punya kewajiban buat bayar sama kalian!
“NGELES AJA LO ANJING! LO MAU GUE TENGGELAMIN DI BKT?! HAH?! SOK BERANI BANGET LO!!”
Beberapa tamparan Si Botak lakukan kembali di wajah Gita. Kini dia merasakan nyeri di pelipisnya. Mukanya bonyok. Si Kumis kemudian menendang tulang kering di kaki Gita, membuat gadis itu berteriak dan jatuh berlutut.
Gita menangis dan meraung kesakitan. Dia meminta tolong dan berteriak sekencangnya. Teriakannya itu ternyata terdengar oleh orang-orang di dalam rumah. Langsung saja tempat itu ramai oleh warga.
Beberapa bapak-bapak langsung memisahkan mereka dan memukuli kedua orang yang sudah menganiaya Gita. Ibu-ibu mengamankan Gita disalah satu rumah terdekat dan mengobati luka yang Gita terima.
Betapa sialnya dia hari ini. Bertemu dengan Arki dan sekarang dianiaya oleh debt collector.
__ADS_1