
Satu hal yang Juan sesali dari balas dendamnya kali ini adalah harus mengorbankan Gita. Padahal dia perempuan baik yang tidak bersalah. Hanya suaminya saja yang b a j i n g a n. Juan mulai merasa senang saat berada di dekat Gita. Dia baru mengetahui bahwa teman sekelasnya ini menyimpan banyak pesona.
Ya, dia jauh lebih cantik dibandingkan dengan saat sekolah. Padahal dulu Juan selalu memandangnya seperti gadis biasa lainnya. Bahkan si itik buruk rupa, karena jauh dari tipe idealnya.
Juan kaget saat pertama kali melihatnya kembali di pernikahan Mia, Gita tampak sangat cantik. Membuatnya ingin mendekati perempuan tersebut dan jatuh cinta padanya. Tapi keinginan itu langsung menghilang saat tahu dia sudah memiliki suami. Apalagi suami dari Gita adalah Arkian Wibisana.
Nama yang sering kakaknya sebut sebelum kematiannya. Orang yang menghancurkan hidup kakaknya. Seketika pikiran jahat untuk membalas dendam pada laki-laki keji itu lewat Gita.
Arki pasti jadi gila karena nasib istrinya kini berada di tangannya. Juan akan menghancurkan harga diri Gita dan membunuhnya, merekayasa agar terlihat seperti bunuh diri. Bisa dibayangkan bagaimana putus asa dan menderita ya Arki saat istri yang dicintainya mati.
Juan menatap Gita yang tertidur di atas kasur, tampak sangat cantik dan menggiurkan. Tidak ada rugi mencicipi keindahan tubuh Gita. Juan mendapatkan banyak keuntungan dari perbuatannya ini.
Juan mulai mengecup pipi mulus Gita, merasakan kehangatan dan wangi parfum manis yang menggairahkan tercium. Dia mulai mencerup bibir indah Gita. Memainkan lidahnya dengan beringas pada perempuan yang kehilangan kesadaran tersebut.
Kecupan Juan mulai merambat ke leher jenjang Gita. Meninggalkan bekas-bekas kemerahan disana. Pelan-pelan Gita mulai bergerak, tidak nyaman dan terbangun. Rasa kantuk dan pusing membuatnya tidak awas. Dia merasakan sentuhan-sentuhan asing pada tubuhnya.
“Ar ... ki,” panggil Gita dengan suara parau.
Namun saat laki-laki yang sibuk menyentuhnya itu mendongak, bukan wajah Arki yang Gita lihat. Melainkan Juan. Seluruh inderanya terbangun dan kepanikan menyadarkannya. Gita menampar Juan hingga dia hampir terhuyung. Seketika suara teriakan dan tangis terdengar begitu nyaring di kamar.
“Juan! Kamu ngapain?! Udah gila kamu! Lepasin!” teriak Gita saat Juan mencengkram kedua tangannya di atas kepala. Juan jelas tidak berdiam diri, dia segera membungkam mulut Gita dengan tangannya yang lain.
Suara teriakan teredam, tapi air mata Gita terus bercucuran. Kaget, panik, dan takut berkumpul menjadi satu. Dia benar-benar tidak menyangka Juan akan berbuat seperti ini padanya. Padahal dia adalah teman yang baik, yang menghiburnya selama ini saat dia bermasalah dengan Arki.
__ADS_1
Gita mengigit jari tangan Juan yang membekap membekap mulutnya, hingga Juan berteriak dan menjauhkan tangannya.
“Arkian! Tolong!” panggil Gita putus asa. Berharap laki-laki itu muncul dan menolongnya. Meskipun Gita tahu itu tidak akan mungkin. Arki berada jauh di Surabaya sekarang.
“Diam! Suami sialanmu itu gak mungkin bisa menolong! Dia harus menderita sama seperti keluargaku saat kehilangan Kak Hadi!” bentak Juan terus mencoba mengendalikan Gita yang berontak.
Kesal dengan segala penolakan dan pemberontakan Gita, Juan membekap wajah Gita menggunakan bantal. Berharap perempuan merepotkan ini segera mati saja dan dia larung ke laut. Agar Arki lekas menderita karena tidak bisa menemukan istrinya dimanapun juga.
Gita masih berusaha memberontak karena napasnya kian sesak tertimpa bantal. Mencoba menggapai, mencakar, dan menghentikan Juan yang semakin tidak masuk akal. Tapi kian lama kesadarannya melemah. Dadanya semakin sulit mendapatkan udara. Gita yakin dia akan segera menghilang dari dunia.
Namun tiba-tiba suara nyaring terdengar, seseorang terjatuh ke lantai dengan suara berdebum keras, suara teriakan dan pukulan menggema menakutkan. Bantal yang menutupinya merosot. Gita bisa bernapas lagi dengan bebas. Seketika dia bangun setelah kesadarannya berkumpul. Melihat kengerian saat Arki menghajar Juan tanpa ampun.
Arki kehilangan kesabaran dan kewarasannya saat tahu tentang Juan. Dia segera terbang dari Surabaya menuju Bali saat itu juga. Memanfaatkan nama, koneksi dan kekayaannya untuk mendapatkan jadwal penerbangan segera. Tanpa pikir panjang dia langsung berangkat menemui Gita.
Dia semakin panik saat mendapatkan telepon dari Patra saat baru tiba di Bali, bahwa Gita terlihat tidak sadarkan diri di pantai dan dibawa oleh Juan kembali ke hotel. Nalarnya tidak lagi bekerja, dia secepatnya pergi kesana. Patra menjelaskan pada pihak hotel untuk diberikan akses ke kamar Juan. Saat Arki tiba disana, mereka semua bergegas meringkus tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Juan.
Arki langsung menerjang laki-laki itu hingga terjatuh ke lantai. Menghajarnya dengan membabi buta. Kemarahannya tidak terbendung lagi. Dia ingin menghancurkan tengkorak laki-laki yang berani melakukan hal jahat pada istrinya.
“Pak Arki, udah. Pak! Udah!” kata Agus dan Patra mencoba menjauhkan tubuh Arki dari Juan. Dibantu oleh petugas keamanan hotel yang datang bersama mereka.
Namun Arki masih belum puas menghantam Juan. Kilatan amarah dimatanya terlihat menakutkan. Jika orang-orang tidak berusaha keras menahannya, mungkin Arki bisa langsung membunuh Juan.
Arki sudah di jauhkan dari Juan yang sudah tidak sadarkan diri, bersimbah dar ah di wajah. Napas Arki tersengal karena mencoba menahan amarah. Apalagi saat melihat disekitarnya beberapa kamera terpasang di tripod mengarah ke ranjang. Imajinasi liar berputar, Juan mencoba melecehkan Gita.
__ADS_1
Pandangan Arki kemudian teralih pada sosok mungil yang berada di atas ranjang. Wajahnya panik, takut, air mata meluruh tidak terkendali, dan penampilannya berantakan. Lutut Arki rasanya lemas melihat pemandangan seperti itu. Melihat Gita berada dalam bahaya dan ketakutan terpancar dari matanya.
“Beresin dia dan ambil barang buktinya,” kata Arki pada Patra dan Agus.
Mereka dengan cepat membawa Juan pergi beserta kamera yang merekam semua kejahatannya. Kini hanya ada Arki dan Gita di kamar. Gita masih terduduk diam ketakutan. Tubuhnya gemetar dan air mata masih bercucuran. Tidak tahu apa yang harus dia ucapkan karena otaknya masih memproses semua kejadian barusan yang berlangsung sangat cepat seperti kelebatan. Kepalanya pusing dan tubuhnya masih lemas karena pengaruh obat.
Arki mendekat pada Gita. Duduk di ranjang dan memeriksa keadaan istrinya. Tidak ada luka apapun ditubuhnya. Tapi bekas hickey di leher Gita membuat amarah Arki bergolak kembali. Juan, si laki-laki sialan itu mencoba menyentuh miliknya.
“Kenapa sih kamu tuh selalu bikin masalah! Bikin aku khawatir! Aku pikir bisa melepaskan kamu dan lihat kamu sama cowok lain! Tapi yang kamu pilih malah cowok b a j i n g a n kayak dia! Sekali saja, bisa gak kamu gak bikin masalah?!” bentak Arki. Kemarahan, rasa khawatir, dan kesalnya tidak bisa di tahan hingga berakhir menjadi omelan pada Gita yang terlihat masih shock.
Dia pikir bisa melepaskan dan merelakan Gita bersama laki-laki lain. Melihatnya bahagia dengan pilihannya. Tetapi laki-laki yang dia bawa malah seorang penjahat dengan dendam membara, hingga membahayakan nyawa.
Rasanya setiap langkah yang diambil oleh Gita membuat Arki repot dan khawatir. Sekali saja, dia tidak bisa memalingkan perhatiannya pada perempuan itu, karena Gita akan berpotensi membuat kegaduhan dan mendatangkan masalah.
“Arki ... aku ... takut ...” ucap Gita dengan suara bergetar diselingi tangis yang belum juga usai.
Arki tidak bisa mengabaikannya. Dia memeluk Gita erat, menenggelamkan sosok penuh ketakutan itu dalam dekapannya. Mencium puncak kepala dan menenangkan Gita. Padahal hatinya pun kini tidak karuan di dera kepanikan. Tapi mencoba sebisa mungkin memberi Gita perasaan aman.
“Gak apa-apa. Kami udah aman, Git. Udah jangan nangis. Gak apa-apa.” Arki terus mengecup Gita yang masih gemetar dan terisak.
Arki masih terus mendekap Gita. Dia tidak ingin melepaskan perempuan ini dari pandangannya. Perempuan merepotkan yang selalu membuatnya khawatir. Perempuan yang selalu mengedar dipikirannya setiap saat. Perempuan penipu dan tidak tahu diri yang sudah memasuki hatinya begitu dalam. Mengeluarkan paksa semua bayangan tentang Luna dalam hidupnya. Kemudian mengganti dengan dirinya.
Gita sudah menggenggam perasaan Arki. Tidak peduli dia berasal dari kelas rendahan dan tidak terpandang. Tidak peduli Arki sudah sembuh dari penyakit aneh yang menimpanya. Arki akan tetap memilih Gita. Menggenggam dan membelenggu perempuan ini selamanya dalam dekapannya. Dia akan memaksa Gita untuk mencintainya juga.
__ADS_1
“Gak apa-apa, Sayang. Jangan takut lagi. Kamu aman sama aku,” bisik Arki.
Per setan dengan penyakit sialannya! Arki hanya membutuhkan Gita!