
Arki bingung dengan cara apa agar Gita bisa berhenti histeris. Sepertinya karena shock yang dialaminya dari rangkaian kejadian selama beberapa bulan hingga kemarin malam, membuatnya begitu terguncang. Hingga sosok Arki yang sekarang sedang memeluknya pun dia anggap hanyalah delusi. Hatinya benar-benar terasa sakit melihat kondisi Gita yang seperti ini. Arki tidak ingin Gita menjadi gila akibat semua hal menakutkan yang dialaminya.
“Gita, please! Dengarkan aku sebentar! Kamu gak sedang mimpi,” ucap Arki kesekian kalinya.
Terlampau putus asa, dia melepaskan pelukannya, meraup wajah Gita dan kemudian mendaratkan ciumannya. Kecupan lembut yang selalu dia lakukan saat mereka ber cinta. Arki tahu dia tidak seharusnya mengambil kesempatan ini saat Gita sedang sakit dan terluka. Tapi dia tidak punya pilihan selain membuat Gita berhenti histeris dengan membungkamnya. Juga untuk mengingatkannya kembali hal yang selama berbulan-bulan tidak mereka lakukan. Mungkin Gita akan menyadari bahwa Arki memang berada di sini, di sisinya.
Gita seketika terdiam. Lidah yang bertaut, gerakan lembut, dan suara decapan yang sangat nyata ini menamparnya tiba-tiba. Menyadarkan seluruh inderanya dari halusinasi dan pikiran buruk. Arki nyata. Dia sekarang sedang mengecupnya mesra, seperti yang selama ini Gita inginkan. Selama beberapa saat mereka hanya menikmati momen tersebut untuk saling memagut, melepas kerinduan.
Hingga akhirnya Gita mendorong tubuh Arki menjauh. Perasaannya kini berubah menjadi ketakutan dan kemarahan yang tidak berujung. Matanya menatap Arki penuh kebencian. Laki-laki yang berkhianat dan menyebabkannya menderita selama ini. Harusnya Gita tidak menjadi lemah dihadapannya. Selama berbulan-bulan, dia meyakinkan diri bahwa dia tidak boleh lagi membiarkan laki-laki ini menjajah hatinya. Menjadikan perasaan Gita yang lemah begitu mudah dimanipulasi dan menuruti permainannya.
“Ngapain kamu kesini? Pergi! Kamu dan ayahmu udah buat hidupku hancur! Kamu nyari aku kesini karena aku mencoba kabur, kan? Kamu rugi dan berniat melaporkanku ke polisi buat kasus penipuan pernikahan, kan?” tuduh Gita emosi.
Meskipun seluruh tubuhnya sakit dan sulit bergerak dan hanya mampu duduk di ranjang, tidak menyurutkannya untuk menghindari Arki. Melepaskan tangan laki-laki itu yang terulur untuk menenangkan.
“Gita, aku kesini buat menolong kamu dan menjelaskan kesalahpahaman kita. Aku gak punya niat apapun untuk melaporkan penipuan kamu ke polisi sejak awal,” balas Arki kaget dengan reaksi Gita yang rupanya telah sadar dan kembali seperti dirinya sendiri. Dia sangat takut jika Gita tiba-tiba menjadi gila seperti dugaannya.
“Menolong aku? Kamu dan ayahmu yang berbuat sampai sejahat ini! Aku pikir bakal dibiarkan tenang hidup dengan ibu dan adik tiriku. Tapi ayahmu bikin ibu tiriku celaka dan sekarang bikin aku hampir mati. Aku juga gak butuh penjelasan apa-apa dari kamu!” seru Gita.
“Semua ini gak ada hubungannya sama aku, Git! Arya dan Basuki yang melakukannya. Aku datang jauh-jauh kesini buat menyelamatkanmu dari Basuki. Kamu bisa tanya adik tiri kamu kejadiannya.”
Rasanya hatinya benar diombang-ambing sekarang. Perasaan lega yang sempat dirasakannya tadi berubah menjadi kekesalan yang memuncak. Arki kini berhadapan kembali dengan sosok Gita yang sulit untuk diyakinkan. Seringkali memancing emosinya berkobar, karena Gita tidak sekalipun berusaha untuk mendengarkan apalagi mempercayainya.
__ADS_1
“Risa dimana?” tanyanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak mendapati siapapun di sana selain mereka berdua.
“Dia ada di hotel dan dijaga oleh orang-orangku, biar gak dikejar sama Basuki,” jawab Arki. Dia menghela napas sejenak menyentuh tangan Gita dengan lembut. “Git, kita perlu ngomongin ini pelan-pelan. Please, dengerin aku dulu dan jangan marah-marah. Kamu masih sakit dan shock. Nanti berbahaya buat kandungan kamu,” lanjut Arki berusaha menekan semua emosi yang nyaris meledak-ledak karena tidak sabar menghadapi Gita. Dia harus mencoba lebih lembut kali ini. dia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Gita segera menarik tangannya yang berada dalam genggaman Arki. Keterkejutannya bukan tentang keberadaan Arki saja di hadapannya. Namun, kata-kata yang baru saja meluncur dari bibir laki-laki tersebut. Matanya membulat penuh ketakutan. Arki tahu tentang kehamilannya.
Jangan-jangan dia akan mengikat Gita kembali dipernikahan yang menakutkan, dimana dia diabaikan dan Arki bebas berselingkuh bersama perempuan lain di luar sana. Dia takut Arki mempergunakan anak dalam kandungannya untuk menyakitinya. Membelenggunya hingga dia bisa puas balas dendam karena Gita telah menipu dan kabur darinya.
“Aku tahu soal kehamilan kamu kemarin dan menyusul Basuki yang mencoba menyakiti kamu karena ingin membuktikan diri pada Arya. Gita, aku minta maaf karena perlakuanku selama ini. Aku emang seenaknya, gak pernah mencoba dengerin kamu, terus memaksa kamu melakukan hal-hal yang gak kamu mau, menekan kamu, dan aku juga mencoba mengabaikanmu. Itu terjadi bukan karena aku selingkuh seperti yang kamu pikirkan atau Arya katakan. Aku hanya sedang bingung dengan perasaanku dan hubungan kita. Aku sayang sama kamu, Git. Ayo pulang dan mulai hubungan ini dari awal,” ucap Arki dengan tulus.
Hal yang seharusnya dia katakan dan sadari lebih awal. Bahwa dia benar-benar menyesal dengan segala sifat arogan dan jahatnya pada Gita. Juga karena terlambat menyadari, bahwa dia sangat mencintai Gita dan tidak bisa kehilangannya.
“Terus kamu pikir aku bakal percaya dan gampang memaafkan kamu, gitu? Aku tahu dari awal kalau kamu laki-laki b r e n g s e k, yang menganggap semua perempuan mainan dan menuntut mereka tunduk sama kamu! Kamu juga biasa tidur dengan banyak perempuan sesuka hati bahkan sebelum kita menikah. Kebiasaan kamu gak akan bisa berubah, kan, Ki? Kamu hanya bikin aku kayak cewek bodoh yang kamu permainkan dan bikin aku jadi pelampiasan doang! Sementara kamu sebenarnya mengincar perempuan lain yang sederajat denganmu buat dijadikan istri, iya kan?” kata Gita emosi dengan berurai air mata. Mata kirinya yang bengkak terasa berdenyut saat menangis.
“Aku gak percaya sama kamu! Dulu pas kamu melecehkanku dan mengira aku perempuan panggilan, kamu mengkambinghitamkan Rio. Bilang kalau dia yang menyewa perempuan itu. Sekarang kamu jalan ke mall dan melakukan perbuatan gak senonoh di hotel, mau mengkambinghitamkan siapa lagi? Ayah kamu? Meskipun aku gak suka sama ayahmu. Tapi aku bisa tahu kebohongan yang kamu sembunyikan. Kamu gak dipaksa atau dijodohkan dengan perempuan itu, malah senang dan menikmatinya, kan, Ki?”
“Maksud kamu perbuatan gak senonoh apa? Jalan di mall, kapan? Aku gak ngerti, Git! Arya pasti memanipulasi semuanya!”
“Aku tahu itu kamu! Itu jelas-jelas kamu dan bukan manipulasi! Luna yang lihat kamu jalan berdua di mall dengan perempuan itu. Saat di Bali, Basuki ngasih video kamu dan perempuan itu berciuman terus melakukan hubungan suami istri. Terus kamu masih bilang gak selingkuh? Dengan bukti yang kayak gitu kamu mau mengelak kayak gimana lagi, ki?!”
Arki terdiam sesaat. Menggali di dalam memorinya tentang Amanda. Dia memang pernah sekali menyetujui permintaan gadis itu untuk bertemu di mall dan menemaninya berbelanja. Meskipun Arki langsung meninggalkannya karena malas, tak lama saat Amanda memilih tas kesukaannya. Mungkin saat itu Luna melihatnya dan melaporkannya pada Gita.
__ADS_1
Untuk video dia dan Amanda yang berciuman di hotel, Arki tahu bahwa itu adalah jebakan yang kemungkinan dipasang oleh Amanda dan juga Arya. Sial! Dia benar-benar akan sulit meyakinkan Gita jika dia telah melihat potongan video yang sama sekali tidak benar itu. Arki tidak pernah melakukan hubungan dengan Amanda. Dia tidak bisa. Dia tidak ingin. Hanya Gita yang memenuhi kepalanya.
“Gita, dengerin aku! Kamu pikir hal yang wajar Basuki punya video gak senonoh itu ditangannya, kalau itu bukan jebakan dan alat buat mempengaruhi kamu? Kamu lihat aku sampai melakukan hal yang nggak-nggak sama Amanda, nggak kan? Hari itu aku emang melewati batas sama dia, karena dia yang memaksaku. Tapi aku gak bisa melakukannya. Aku selalu keinget kamu, Git. Dan saat itu aku dapat telepon dari orangku yang mengawasi kamu di Bali, kalau Juan adalah adik Hadi. Selingkuhan Luna, yang mencoba menjebak kamu malam itu di hotel. Kamu bisa menyimpulkan sendiri semua itu pasti skenario seseorang buat bikin kita jauh, Git.” Arki mencoba membuat Gita berpikir secara rasional. Meskipun dia tahu hasilnya akan percuma saat Gita emosi seperti sekarang.
“Kamu cuma ngomongin omong kosong, Ki! Stop bikin semuanya seperti hal yang masuk akal dan dibuat-buat. Aku gak percaya sama kamu! Tolong tinggalin aku, please. Aku cuma mau hidup damai dan gak berurusan sama kamu atau keluargamu lagi. Kamu juga bisa laporin aku ke polisi buat tuduhan penipuan. Apa saja, asal berhenti nyakitin aku,” ucap Gita putus asa.
Dia tidak bisa menerima semua alasan Arki. Selalu seperti ini. Gita akan kalah dengan semua logika dan pengaruh Arki. Membuatnya tunduk dan melakukan hal yang diinginkan laki-laki itu. Sekarang Gita tidak boleh melakukan kesalahan lagi, membahayakan dirinya sendiri dengan hidup bersama Arki dan berada dalam ancaman Arya selamanya.
“Aku harus menjelaskan kayak gimana lagi buat bikin kamu percaya, Git? Aku sayang sama kamu. Aku gak pernah melakukan hubungan suami istri ataupun berselingkuh dengan perempuan lain setelah kita nikah.” Arki mencoba merangkul Gita. Meskipun tangannya segera dihentikan.
“Tolong pergi, Ki! Aku gak mau balik lagi sama kamu. Aku gak mau hidup penuh ketakutan lagi, dibawah ancaman kamu ataupun Arya. Tolong biarin aku hidup dama— UUKH!”
Gita tiba-tiba berhenti dan meringis kesakitan. Kedua tangannya memegangi perutnya. Dia menangis karena perutnya mengalami kram yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
“Git? Kamu kenapa? Perut kamu kenapa?” ucap Arki panik.
“Sakit … perutku sakit …,” seru Gita terus meringis.
Arki segera memencet tombol merah di sisi ranjang, memanggil perawat agar segera datang ke ruangan. Dia memeluk, mengelus perut dan menciumi puncak kepala Gita agar tenang. Tidak lama perawat datang bersama dokter jaga. Mereka lekas memeriksa kondisi Gita dan memberikannya obat lewat infusannya. Dokter mengatakan itu hanya kram perut biasa karena Gita sedang dalam keadaan terguncang. Namun, nanti akan segera dikonsultasikan dengan dokter kandungan. Mereka meninggalkan ruangan saat Gita sudah terbaring tenang.
“Aku mau ditemani Risa aja,” kata Gita lemah. Dia tidak punya energi untuk marah-marah. Tubuhnya seketika lemas dan takut karena perutnya yang tiba-tiba sakit tadi.
__ADS_1
“Adik kamu juga mengalami pemukulan. Dia lagi istirahat. Aku tahu kamu benci sama aku dan gak mau aku disini sekarang. Masalah kita juga masih belum selesai. Tapi tolong izinkan aku rawat kamu dulu sampai sembuh. Jangan egois dan keras kepala! Sekarang kamu bukan hidup buat dirimu sendiri, tapi buat bayi kita juga. Kamu gak boleh membahayakan dia dengan terus bersikap keras seperti ini,” kata Arki menasehati.
Gita hanya diam dan tidak berusaha menyangkal.