Istriku Penipu

Istriku Penipu
Kekhawatiran


__ADS_3

Gita mendengar suara mobil Arki yang sudah terparkir di garasi. Lekas saja dia menata meja untuk makan malam. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.20, tapi mungkin Arki belum sempat makan malam di perjalanan. Makanya Gita tetap menyajikan makanan.


Selain itu dia ingin tahu bagaimana kelanjutan rumah tinggal untuk ibu tirinya, apakah dia mengatakan hal-hal yang berbahaya pada Arki, atau bagaimana tanggapan Arki mengenai kehadiran tiba-tiba ibu tirinya itu.


Hampir berjam-jam Gita merasa khawatir. Nasibnya seperti diujung tanduk ketika Ani kembali hadir dihidupnya. Padahal dia baru saja mendapat keberanian untuk pergi menjauh darinya, ternyata perempuan itu masih tetap merongrong dirinya dengan masalah yang sama. Uang, uang, dan uang. Setelah dia bercerai dari Arki pun, pasti Ani akan terus mengejarnya untuk alasan uang.


Arki masuk ke dalam rumah, raut wajahnya terlihat lelah, mungkin efek menyetir bolak-balik karena mengantarkan Ani dan Risa ke tempat tinggal baru. Dia langsung duduk di meja makan tanpa banyak bicara. Menyendok beberapa lauk yang sudah Gita sediakan.


“Kenapa kamu gak makan?” tanya Arki saat melihat Gita hanya memandanginya saja di sebrang meja.


“Aku udah makan duluan, sorry.”


Arki terkekeh. “Ya makan duluan aja kalau lapar. Aku gak ada masalah.”


“Tadi gimana ngaterin Ibuku ke rumah barunya? Mereka suka?” tanya Gita berhati-hati.


“Suka kok. Mereka seneng banget,” jawab Arki tenang. Gita tidak melihat tanda-tanda bahwa Arki sedang menyimpan kemarahan. Mungkin ibu tirinya memang benar-benar tutup mulut perkara kebohongannya.


“Makasih udah ngasih tempat tinggal buat ibu dan adik tiriku.”


“kamu gak usah khawatir lagi. Mereka sekarang udah punya tempat tinggal dan kebutuhannya semua terpenuhi.”


Gita terperanjat mendengarnya. “Maksudnya kebutuhan terpenuhi? kamu ngasih uang bulanan buat mereka?”


“Sejenis itu.” Arki tidak menjelaskan lebih lanjut. Dia sibuk dengan makanannya, mungkin terlalu lapar setelah perjalanan jauh hingga dia menghabiskan dua porsi nasi.


Entah Gita harus merasa lega dan takut sekarang. Jika Gita bercerai dengan Arki, maka semua fasilitas yang Arki berikan pada ibi dan adik tirinya itu juga akan menghilang. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya mereka pada Gita. Mungkin mereka juga akan membocorkan rahasianya pada Arki untuk keuntungan sendiri, sehingga Gita dipenjara.


“Tadi siang kamu habis dari mana? Kamu pakai baju rapi kayak tadi. Bukannya aku udah bilang jangan kemana-mana? Kamu sama sekali gak ngirim chat atau ngasih tahu apa-apa," kata Arki setelah selesai makan.


“Emm… Itu … aku habis dari dokter periksa kakiku yang luka, sama ketemu Mia.” Gita tidak berbohong untuk out. Dia memang memeriksakan kakinya ke dokter, setelah menemui Nathan karena rasa sakitnya mengganggu. Baru setelah itu bertemu dengan Mia di café.


“Ck… Kenapa sih kamu tuh kalau mau bepergian gak pernah bilang dulu? Udah aku bilang kan, paling nggak kirim pesan kek,” ucap Arki kesal.

__ADS_1


“Maaf,” kata Gita pelan.


Di dalam hati dia merutuki sifat sok mengatur dan posesif Arki. Meskipun kali ini dia membantunya menyelamatkan diri dari ibu tirinya, tetap saja Arki sangat menyebalkan.


“Plesternya udah diganti belum?” ucap Arki merangsek mendekati Gita. Istrinya itu hanya menggeleng. “Mana obatnya?” lanjut Arki.


“Di kamar, dekat meja rias.”


Arki langsung melangkah pergi membawa obat yang Gita maksud. Kemudian kembali beberapa saat. Dia membuka plester penutup luka di kaki Gita, membersihkannya dan memberinya obat antiseptik, kemudian menutupnya kembali dengan plester.


“Aaww…!” teriak Gita saat merasakan perih ketika lukanya diberikan obat.


“Lukanya gak terlalu gede. Sebentar lagi kering kok.”


Arki selesai mengobati luka Gita. Tiba-tiba menggendong Gita yang masih duduk di kursi. Kemudian berjalan menuju kamar.


“Ngapain kamu! Turunin!” ucap Gita panik dan meronta. Dia benar-benar takut Arki akan melakukan hal-hal yang berbahaya lagi padanya.


“Jangan banyak jalan dulu, biar besok lukanya bisa cepat baikan!” jawab Arki santai, kemudian membaringkan tubuh Gita dikasurnya.


Dia tidak bisa percaya pada kebaikan Arki setelah apa yang dialaminya kemarin. Terutama saat laki-laki itu membawanya ke tempat tidur. Dia pasti punya maksud tertentu. Apalagi sekarang kakinya terluka dan sulit berlari.


“Besok kalau kamu udah baikan, kita dateng ke acara pernikahan kakaknya Rio,” ucap Arki yang sepertinya tidak terganggu dengan tingkah Gita yang sedang mewaspadainya.


“Kok tiba-tiba undangannya?”


“Sebenarnya udah ngasih tahu dari lama. Tapi aku bilang gak bisa datang karena harus tugas ke Malang, karena perjalanan bisnisku dibatalin jadi aku harus datang ke acara itu.”


Gita hanya mengangguk pelan, menyetujui. Dia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan acara seperti itu atau datang dengan Arki. Tapi Gita cukup penasaran dengan keluarga teman kerjanya dulu, Rio. Si playboy kaya raya yang kabarnya sedang turun derajat karena nakal dan sulit dikendalikan keluarga.


Gita tidak pernah diundang ke acara keluarga Rio sebelumnya, dia selalu sengaja melewatkan untuk mengundangnya. Mungkin karena Gita terlihat tidak pantas untuk ikut hadir sebagai rekan satu tim yang tidak menarik. Lamunan Gita tercerai tiba-tiba saat ponselnya bergetar di nakas, lekas dia mengangkatnya.


“Gita, maafin gue yaa. Habis ibu lo dateng ke RS dan ngancem-ngancem mau bilang kalau gue pacaran sama dokter yang udah ada istrinya sama bokap,” ucap Nadia saat telepon mulai tersambung.

__ADS_1


Gita sejak tadi sore membombardir temannya itu dengan banyak tuduhan mengenai kebocoran rahasianya pada ibu tirinya. Dia juga terus menelepon Nadia berulang-ulang meminta penjelasan. Bisa-bisanya informasi sensitif seperti ini bocor ke orang yang paling Gita benci.


“Lo tahu gak ibu tiri gue sampai datang ke sini dan pingin numpang di rumah? Dia jadi tahu gue hidupnya udah makmur dan mau manfaatin gue, Nad! Lo tahu kan hidup gue sesusah apa karena dia? Lo bener-bener gak bisa jaga rahasia ya! Nyesel gue temenan sama lo!” cecar Gita emosi.


Gita menutup telepon dengan kasar, kemudian membaringkan dirinya di kasur. Menatap langit-langit kamar dan menerawang.


Di dunia ini memang sulit menemukan orang yang bisa dipercaya dan bisa menyimpan rahasia serta kelemahan kita rapat-rapat. Sedikit saja merasa terancam, mereka akan berkhianat. Beruntung Gita masih memiliki Mia, walaupun dia akhir-akhir ini selalu menentang pendapatnya, setidaknya dia tetap setia dan menjaga rahasianya.


Memang Gita sendiri pun bukan orang yang baik. Sekonyong-konyong memiliki ide gila untuk menipu seorang laki-laki demi uang. Hingga kebohongannya kini merambat menakutkan menghancurkan hidupnya dan membawa masalah.


Gita ingin segera keluar dari sini. Menyudahi semua sandiwara dan ketakutannya. Hidup aman dan lurus seperti sedia kala.


Mungkin sebaiknya Gita mendaftarkan saja gugatan perceraiannya tanpa harus mencari kuasa hukum dan menuntut macam-macam. Gita hanya mendambakan hidupnya damai dan perpisahan setelah ini.


...****************...


Gita sudah berhias sejak sore. Memakai make up dan menata rambutnya seperti di video-video tutorial youtube. Dulu dia tidak pernah mengenal atau pun peduli pada hal-hal seperti itu, skincare, make up, atau merawat dirinya. Hidupnya hanya dipenuhi oleh pikiran untuk bertahan hidup, membayar utang, dan keluar dari kemiskinan.


Dia bisa saja membeli produk kecantikan dan perawatan seperti ibu atau adik tirinya yang sangat gemar berfoya-foya itu, tapi pasti mereka akan merebut dan mencurinya. Bahkan mungkin Gita akan dipukuli karena dinilai egois, malah mementingkan mempercantik diri dibanding memberi mereka makan. Padahal mereka sendirilah yang mementingkan diri sendiri. Sayangnya ayahnya juga abai dan tidak pernah membelanya.


Gita memandang pantulan dirinya di cermin. Seperti orang lain, berbeda dari Gita yang selalu dia tampilkan 25 tahun terakhir. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya Gita melihat pantulan cantik itu.


Setelah meninggalkan Arki, kehidupan Cinderella-nya yang singkat akan ikut lenyap. Perempuan yang dilihatnya begitu modis dan bersinar akan hilang. Tidak apa-apa, asalkan bisa keluar dari kehidupan penuh kepura-puraan dan menakutkan ini.


Arki melirik jam yang melingkar di tangannya berkali-kali. Masih sabar menunggu Gita bersiap. Sudah berapa kali pun dia punya kekasih, tetap saja dia tidak terbiasa menunggu perempuan berdandan. Lama dan membosankan.


Nyaris saja Arki akan menggedor pintu kamar Gita karena tidak sabar, saat istrinya itu kemudian muncul. Mengenakan atasan oversized brokat berwarna merah yang memperlihatkan belahan dadanya yang sintal dan kain batik selutut yang menampilkan siluet cantik pinggang dan bokongnya.


Arki tertegun sesaat melihat penampilan Gita. Tidak menyangka perempuan itu bisa sangat menarik dan lebih cantik dari biasanya.


Mungkin pertama kalinya Arki melihat Gita tampil semenyilaukan ini, dengan make up semi bold dan rambut ditata dengan gaya messy braids bun. Bahkan saat acara pernikahan pun Gita tidak secantik ini. Kenapa gadis itu tiba-tiba berubah menjadi lebih menggiurkan sekarang?


“Ganti bajunya! Aku gak suka lihat dada kamu kelihatan terlalu terbuka kayak gitu,” ucap Arki tidak senang.

__ADS_1


 


__ADS_2