
Nadia menolak untuk membantu rencana Gita untuk memalsukan semua dokumen pemeriksaan mengenai kehamilan palsunya. Jelas dia tidak mau terlibat urusan gila yang digagas oleh Gita tersebut. Kalau salah langkah, bukan hanya karirnya yang hancur tapi dia akan masuk penjara karena memalsukan surat dari instansi kesehatan tempatnya bekerja.
Tapi, Nadia memberikan bekal pengetahuan berharga kepada Gita tentang apa saja yang harus dia perhatikan terkait kehamilan palsunya ini. Hasil lab, hasil USG, copy resep obat, bahkan mungkin lembar anamnesa—yang sebenarnya harusnya ada di rekam medis rumah sakit.
“Nih, hasil USG punya Kak Nia,” kata Mia menyerahkan selembar foto berwarna hitam putih buram dan tidak jelas pada Gita.
“Thank you Mia-ku sayaaang.” Gita memeluk Mia dengan bahagia.
Hampir saja sahabatnya itu goyah dan tidak akan membantunya gara-gara Nadia menolak membantunya juga. Tapi, pada akhirnya Mia tetap bersedia menolong Gita.
“Emang lo bisa malsuin hasil USG, Git?” kata Mia ragu melihat sahabatnya yang sekarang berkutat di laptopnya.
“Ini cuma foto biasa doang, yang begini sih kecil. Bisa gue edit dan palsukan.”Gita dengan percaya diri mempraktikan kemampuannya di hadapan Mia. “Tinggal gue scan hasil USG-nya pake aplikasi di HP, gue masukin Photoshop, bersihin gambar dan noise-nya, ganti header pake nama gue. Voila! Gue tinggal print ini di abang fotocopy.” ucap Gita berbangga diri dengan hasil editannya.
“Bener ya, kalau pinter tuh harus dibarengi dengan akhlak dan budi yang baik. Nanti biar gak ngambil jalan sesat kayak lo.”
“Jalan sesat itu cuma buat yang menyembah setan.”
“Tapi lo menyembah duit!”
Gita memutar bola matanya mengejek. “Jadi, Kak Nia gimana aja gejala hamilnya? Pokoknya semua tes, pemeriksaan, dan gejala hamilnya Kak Nia harus lo laporin ke gue, Mi. Biar gue bisa menyesuaikan.”
Mia mendengus. “Kak Nia kena morning sickness hampir tiap hari, kemarin dia gak masuk kerja karena muntah dan pusing. Cuma goleran dari pagi sampe pagi lagi. Ga mau makan atau minum, cuma masuk susu sama brownies doang ke perut,” kata Mia menjabarkan.
“Hah? Cuma makan brownies dan susu doang? Apa gak laper? Skip ah, gue gak kuat kalau praktekin yang itu.”
__ADS_1
“Heuh! Gak totalitas lo kelihatan hamilnya.”
“Ya masa gue skip makan sih? Ogah deh. Tapi thanks ya infonya, Mi,” ucap Gita yang kemudian menyibukkan diri kembali di depan laptopnya.
“Lo hari ini jadi ketemu calon ibu mertua lo?”
“Hmm..Nanti jam 10-an Arki jemput.”
“Lo gak takut? Lo mau bilang sama ibunya Arki kalau lo hamil di luar nikah. Itu sama aja bohongin orang tua loh, Git.”
Gita berhenti memainkan laptopnya dan menghadapi Mia kembali. “Mi, kalaupun gue bilang gue lagi hamil, yang disalahkan pasti Arki dong. Dia yang melecehkan gue. Dia yang bikin gue hamil. Harusnya ibunya bersimpati sama gue lah, disini gue korban.”
Gita sudah sampai sejauh ini. Dia tidak akan mundur hanya karena takut berbohong pada ibu Arki. Lagipula kebohongannya juga tidak akan lama, hanya beberapa bulan sampai Gita bisa membuat Arki bersedia melunasi utangnya, menguras sedikit tabungannya dan mendapatkan kompensasi setelah perceraian. Gita akan menyingkirkan semua perasaan manusiawinya untuk sekarang ini.
Arki menjemput Gita di kosan barunya, memarkirkan mobil di lahan parkir yang cukup luas di sana. Gita langsung masuk ke mobil hitam yang sudah di kenalnya itu, mengenakan one piece dress bermotif floral berwarna salem. Dia juga memoles wajahnya dengan riasan sederhana, berkat bantuan dan tutorial dari Mia tadi pagi.
Melihat Gita yang terlihat lebih feminin dan segar tidak seperti yang dulu sering dilihatnya, membuat Arki tersenyum. Ternyata Gita memang lebih manis dibandingkan dengan dugaannya. Apalagi dia memakai dress selutut yang flowy, mengaburkan bentuk tubuhnya yang ramping. Arki jadi penasaran apa yang ada dibalik gaun manis tersebut. Benar-benar pikiran yang aneh.
“Aku beliin buah tangan buat ibu kamu,” kata Gita menunjukkan buah-buahan dan sekotak kue cokelat yang dipesannya melalui ojek online.
Arki tersenyum dan mengangguk, sebelum memasang ekspresi serius dan menatap dalam pada Gita. Seharusnya dia mengatakan ini dari kemarin, tapi Arki baru punya keberanian dan memantapkan pikirannya ini setelah menimbang cukup lama.
“Git, sebelum kita ke rumah ibu, aku mau minta tolong sama kamu sesuatu. Mungkin kamu gak bakal setuju dan menganggap aku semakin melecehkan kamu.” Arki memulai pembicaraannya.
Gita menatap balik kearah Arki dengan wajah bingung. Mengerutkan alisnya meminta penjelasan lebih.
__ADS_1
“Pas di depan keluargaku nanti, kamu mau gak rahasiakan soal kehamilan kamu sama mereka? Aku bakal tetap tanggung jawab dan nikahin kamu, jangan khawatir. Tapi kita kasih tahu sama mereka setelah kita sebulan atau dua bulan menikah,” pinta Arki.
“Kenapa?”
“Kamu tahu kan soal cerita kalau aku gagal nikah sama tunanganku? Aku ngasih tahu ibu soal perselingkuhan yang menyebabkan aku mundur dari pernikahan itu. Ibu kaget banget dan terus kepikiran sampai kena stroke. Selama setahun ini ibu diterapi dan sekarang udah bisa gerakin 60 persen tubuh bagian kirinya. Aku takut kalau kita bilang soal kehamilan kamu, ibu bakal kena stroke lagi kayak dulu.”Arki menjelaskan mengenai kondisinya pada Gita.
Sial!
Gita tidak tahu tentang kondisi ibu Arki yang mengalami guncangan psikologis hingga stroke karena mendengar anaknya diselingkuhi dan pernikahannya gagal. Kalau ibunya sampai tahu anaknya membawa kabar tentang kehamilan Gita, akan sangat gawat untuk kesehatannya.
Tapi ada sisi baiknya juga Arki menutupi kebohongan Gita dengan kebohongan lain. Gita jadi tidak usah merasa terlalu bersalah kepada ibu Arki. Gita hanya akan berbohong pada Arki saja untuk saat ini. Semesta ternyata mendukung rencananya. Luar biasa.
“Aku gak keberatan sama usulan kamu. Pasti ibu kamu bakal malu dan kaget kalau tahu aku hamil,” ucap Gita mulai kembali bersandiwara.
“Buat sekarang iya, tapi nanti setelah kita nikah ibu pasti seneng dapat kabar bakal punya cucu. Keluargaku tinggal gak terlalu dekat dengan rumah kita nanti, mereka gak akan tahu soal kehidupan rumah tangga kita. Nanti kita bisa bohong soal bayi yang lahir prematur atau yaa... sejenis itulah,” ucap Arki menyusun kebohongannya juga.
Padahal Arki tidak usah khawatir, bayi imajinasi itu akan keluar dari perut Gita dalam waktu beberapa bulan dari sekarang tanpa pernah dilahirkan.
Gita mengangguk. “Aku ikutin apa yang menurut kamu baik aja.”
“Makasih ya, udah ngertiin posisi aku. Aku janji kita bakal nikah secepatnya. Ibuku pasti setuju kalau aku minta restu buat nikah, beliau udah lama nungguin aku bawa cewek lagi ke rumah.” Arki tersenyum, kemudian mulai menyalakan mobilnya. Mereka keluar area parkir dan melaju di jalanan.
Harusnya Gita yang mengucapkan terima kasih, karena rencananya sangat lancar melebihi ekspektasinya. Padahal Gita sudah mempersiapkan pembelaan apa yang akan dia ucapkan di depan ibu Arki ketika mengabarkan kehamilan palsunya. Mempersiapkan mentalnya sepenuh hati. Sekarang Gita tidak perlu lagi pusing dengan hal itu.
__ADS_1