
Arki sampai ke rumah sakit pukul sepuluh malam. Ratusan telepon dari Usman dia abaikan. Termasuk beberapa diantaranya telepon dari Gita. Pesan yang masuk pun tidak dia baca. Setelah mendengar kabar istrinya kecelakaan dan tempatnya di rawat, Arki langsung melesat tanpa pikir panjang untuk menemuinya. Dia tidak memikirkan apapun lagi selain mengetahui keadaan Gita dengan mata kepalanya sendiri.
Nalarnya berpikir liar tentang kemungkinan terburuk yang terjadi dengan Gita. Arki merutuki dirinya sendiri karena memberikan izin pergi. Harusnya Gita diam dirumah, diikat, dan tidak pergi dari pandangannya.
Belum juga merasa berpisah selama 24 jam, Gita sudah menimbulkan masalah. Membebani pikirannya dan membuat hatinya tidak nyaman digerus perasaan khawatir. Perempuan itu benar-benar merepotkan!
Gita duduk brankar ditemani Femy. Meskipun terlihat luka-luka dengan perban di kepala, dia terlihat baik-baik saja. Mengobrol dengan santai bersama temannya. Tapi dia tetap memangku tangannya yang gemetar. Kejadian singkat yang baru saja dialaminya masih berputar menakutkan dikepala. Dia ingin menangis saat itu juga. Tapi malu jika harus terisak di depan rekan kerjanya.
Arki menghampiri, dengan perasaan kacau, pikiran berlarian, dan kekhawatiran yang memuncak. Segera saja dia memeluk Gita. Perasaan tegang yang menyertainya selama perjalanan dari Jakarta seketika lenyap begitu saja saat mendekap tubuh Gita.
Gita membalas pelukan Arki. Entah kenapa air mata meluruh tiba-tiba. Padahal sepanjang kejadian itu dia masih bisa tertawa dan berseloroh bersama temannya. Hatinya seketika disergap perasaan takut yang sejak tadi dipendamnya. Ketakutannya lepas begitu saja dihadapan Arki.
“It’s okay. Kamu udah gak apa-apa. Tenang, Gita!” ucap Arki meredakan panik yang dirasakan dirinya sendiri dan juga Gita.
Tangannya terus mengelus lembut punggung Gita. Dia mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya yang tiba-tiba terlihat shock. Gita cukup lama meredakan tangisnya dalam pelukan Arki yang hangat. Perasaan familiar yang melindunginya.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka berdua bisa lebih tenang sekarang. Saling memandang keheranan satu sama lain. Arki terlihat kacau dan panik. Penampilannya acak-acakan dengan raut wajah yang tegang, rambut berantakan tidak beraturan, dan mata yang memerah.
Sementara Gita tak kalah kacaunya. Bajunya berantakan bernoda tanah, perban di pelipis, luka goresan di tangan, dan kaki yang dibebat perban. Tapi untungnya nyawanya selamat. Hanya terserempet mobil yang melintas kencang di antara jalan meliuk di Lembang.
“Kamu kenapa sih bisa sampai kayak gini? Kalau mau nyari makan tinggal pesan online aja! Kenapa harus sampai naik motor keliling-keliling gak jelas di jalan yang gak kamu tahu!” omel Arki setelah paniknya mereda. Sekarang kesal yang memuncaki kepala.
Gita hanya bisa menunduk memandangi jemarinya. Tahu bahwa sikapnya sangan sembrono kali ini. Dia dengan sombongnya mengajak Mila untuk berjalan-jalan menggunakan motor pemilik villa. Merasa kembali bebas dan muda karena jauh dari Arki.
“Sekarang kamu pulang sama aku! Gak usah lanjutin acara outing sama teman kamu!”
Gita mengangguk dan diam saja. Menerima sepenuhnya kemarahan Arki. Kali ini mengaku salah karena perilakunya yang membahayakan.
Dia tidak mengira Arki akan menyusulnya kesini. Padahal Gita sudah mengabarkan dan mengirim pesan kalau dia selamat dan sudah baik-baik saja. Setidaknya begitu pikirnya. Ternyata dia ketakutan setengah mati, namun berusaha menutupinya. Gita terbiasa menyimpan ketakutannya sendiri disaat seperti ini.
Arki menyelesaikan administrasi sebelum kepulangan Gita, berpamitan pulang pada rekan kerjanya yang lain, dan menjenguk Mila yang luka-lukanya tidak separah Gita. Baru setelah itu melajukan kembali mobilnya untuk pulang ke rumah.
“Arki, kamu yakin mau pulang dan nyetir malam-malam kayak gini?” ucap Gita sedikit khawatir.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi Arki bersikeras untuk pulang saat itu juga. Padahal beberapa jam yang lalu dia baru saja tiba. Memacu mobilnya dengan cepat dirundung kepanikan karena ingin segera sampai memastikan keadaan Gita.
“Kita nginep dulu semalam disini, baru nanti pagi pulang ke rumah.”
__ADS_1
Gita tahu Arki saat ini kesal padanya karena menimbulkan masalah. Tapi menyetir dalam keadaan lelah juga tidak baik. Bisa-bisa mereka berdua yang celaka. Arki tidak memedulikan perkataan Gita dan tetap fokus mengemudi.
“Arki, aku capek banget. Mau istirahat dulu. Badanku masih sakit karena kecelakaan tadi, kakiku sakit banget mau dillurusin,” keluh Gita.
Dia yakin Arki juga tidak peduli dengan keadaannya. Percuma juga mengatakan hal seperti ini padanya. Laki-laki itu tetap mengatupkan mulut dan diam. Akhirnya Gita menyerah dan mengikuti keinginan Arki saja.
Mobil berbelok ke sebuah hotel di daerah Pasteur. Dia berhenti memarkirkan mobilnya. Kemudian memandang Gita yang tertidur di kursi sebelahnya. Sepertinya Gita memang benar-benar kelelahan. Dia terkulai lelap tidak lama setelah mengoceh dan mengeluh tadi. Arki melihat jam di monitor dashboard-nya. Memastikan pukul berapa sekarang.
“Kita menginap dulu semalam disini,” ucap Arki saat membangunkan Gita.
Dia turun dari mobil dan membantu Gita untuk keluar. Perempuan itu sedikit kesulitan berdiri karena kakinya yang keseleo dan terluka, membuat Arki sedikit tidak sabar.
“Sini aku gendong aja. Lama!” seru Arki kesal.
Gita tidak menolak kali ini. Dia terlalu mengantuk dan kesakitan untuk membantah atau mendebat Arki. Lagipula dia memang butuh bantuan laki-laki itu.
Setelah mengganti baju Gita dengan pakaian bersih tanpa sisa tanah dan bekas kecelakaannya. Mereka merebahkan diri di kasur. Gita segera terlelap seketika. Membiarkan tubuhnya beristirahat setelah shock yang melanda.
Arki berada di sampingnya, berbaring memperhatikan perempuan itu tertidur nyenyak. Seluruh tubuhnya mulai rileks, setelah sejak tadi rasanya dia gemetar tidak karuan. Diserang perasaan panik, takut, kesal, khawatir, dan banyak perasaan aneh menumpuk hebat saat perjalanannya menemui Gita. Pun ketika melihat keadaan Gita yang penuh luka berada di rumah sakit, perasaannya kian riuh dan meriah tak terkendali. Arki bingung sendiri kenapa bisa sebegitu peduli.
“Jangan bikin khawatir terus, nanti aku susah ninggalin kamu!” bisik Arki kemudian mendekap Gita ke sisinnya dan mencium keningnya. Lelah dan kantuk turun bersamaan dengan perasaan lega dihatinya.
Suara isakan terdengar dan membuat Arki terbangun. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, dengan mata berat yang menggelayut. Gita duduk di sebelahnya memegangi dan mengelus pergelangan kaki yang dibebat perban sambil menangis. Arki seketika terjaga dan duduk memandanginya, mengucek mata sejenak menghilangkan kabur pandangan karena kantuknya sulit dilawan.
“Kenapa?”
“Kakinya sakit. Nyut-nyutan gak bisa berhenti,” rengek Gita.
Arki menghela napas. Menaruh bantal di depan Gita. “Lurusin! Jangan di tekuk dan dipijat sembarangan! Cedera sendinya nanti makin parah,” kata Arki meluruskan kaki kiri Gita yang keseleo.
“Aku mau dipijat aja sama tukang urut biar cepet sembuh.”
“Kaki keseleo tuh bukan dipijat, nanti tambah parah. Gimana sih?” ucap Arki kesal.
“Tukang urut lebih jago urusan kayak gini. Tinggal di urut dan dibenerin besoknya udah sembuh.”
“Jangan sok tahu deh! Diem jangan digerakin!”
__ADS_1
Arki bangkit dari kasur, mengambil ponselnya kemudian pergi meninggalkan kamar. Selama hampir 15 menit, Gita ditemani keheningan. Hanya suara isakan dan rengekan yang terdengar di ruangan. Arki kembali membawa sekotak es batu dan beberap roll elastic bandage.
Dia mulai membuka belitan perban dipergelangan kaki Gita, tampang membiru dan bengkak cukup parah. Arki menempatkan kompres dingin dalam balutan kain putih berisi es selama beberapa waktu.
“Kalau Cuma dikompres kayak gini sembuhnhya lama! Udah aku bilang mending cari tukang urut aja,” protes Gita.
“Ck … gak usah banyak omong! Diem aja! Nanti kalau salah urut, kamu mau kaki kamu sampai dioperasi? Kalau cedera sendi kayak gini pertolongannya pake kompres dingin dan di balut sama elastic bandage, bukan diurut. Ini udah sesuai rekomendasi dokter. Ngerti?”
Arki melepaskan kompres dinginnya dari kaki Gita. Kemudian mendiamkannya beberapa saat dan mulai mengompres lagi selama 15 menit. Meskipun kantuknya mulai turun membuat kelopak matanya hampir menutup, Arki tetap memegangi kompres di kaki Gita dengan telaten.
“Masih sakit gak?”
Gita mengangguk. Tapi diam saja melihat semua gerak-gerik Arki yang sedang membantunya meredakan sakit. Dingin menyebar di pergelangan kakinya membuatnya berjengit, tapi rasa nyaman kemudian membuat sakitnya perlahan mereda.
“Kamu kok gak angkat telepon Pak Usman dan bales chat aku sih?” ucap Gita memecah hening karena canggung.
Mereka jarang berkomunikasi selama ini. Hanya sesekali, kadang berakhir dengan berdebat sengit. Bahkan setelah ber cinta pun mereka hanya melempar kata-kata penuh kebencian. Kemudian lekas tertidur melupakan aktivitas yang mereka lakukan.
Jika dipikirkan kembali, mereka memang pasangan paling aneh sesungguhnya. Tidak pernah bertukar obrolan, hanya perdebatan, dan pergulatan di ranjang. Selebihnya mereka seperti hidup di dunia yang berbeda. Arki akan sibuk dengan pekerjaannya di ruangan khusus miliknya. Gita akan sibuk menonton drama. Mereka jarang berhadapan untuk sekadar membuka obrolan. Menutup diri untuk saling mengenal, karena mereka yakin hubungan ini akan segera ditinggalkan.
“Soal apa?”
“Aku udah bilang gak usah datang. Aku gak apa-apa, gak mati masuk jurang kayak di film-film tragis. cuma kesenggol elf Bandung-Subang doang jadinya nyungsep.”
Arki menatap Gita dan menautkan alis kesal. “Aku gak ngerti kenapa kamu doyan banget melakukan hal-hal berbahaya. Diem aja coba biar gak celaka! Bikin panik orang lain aja!”
“Gak usah marah-marah terus dan sok ceramah! Yang sakitnya kan aku. Lagian aku gak minta kamu dateng kok, gak berharap kamu sok perhatian juga. Malah harusnya kamu seneng aku celaka, biar mati sekalian dan aku gak jadi beban kamu lagi.”
Arki melempar kompres dingin ke kotak tumpukan es dengan kesal. Menatap garang pada Gita yang selalu saja menaikan emosinya. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa sepanik itu hingga menyusul Gita kesini. Mengabaikan telepon dan penjelasan Usman serta Gita bahwa keadaannya baik-baik saja. Arki hanya ingin melihat langsung apakah Gita benar-benar tidak terluka parah.
“Kamu udah aku susulin ke sini dan aku obatin, bukannya bilang terima kasih kek. Malah sewot banget. Orang tuh harusnya seneng diperhatikan kayak gini.”
“Aku nggak. Aku gak suka diperhatikan kayak gini sama kamu. Soalnya kebaikan kamu pura-pura. Dari awal kebaikan kamu cuma tipuan, biar bisa menjerat aku lebih dalam sama permainan licik kamu, kan? Sok jadi cowok bertanggung jawab, sok perhatian, dan sok jadi suami baik. Padahal dengerin keluhan dan keinginan aku aja gak pernah!” racau Gita marah.
Entah kenapa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti ini pada Arki. Dia kesal dan takut sekarang. Keberadaan Arki dan perhatiannya membuatnya merasakan perasaan aneh yang tidak nyaman. Arki laki-laki jahat, kenapa melakukan hal-hal seperti ini padanya? Kenapa berusaha sejauh ini untuknya? Padahal dia paling sering mengatakan bahwa Gita hanyalah mainan serta alat untuknya saja, demi memuaskan ego dan hasratnya.
Gita tidak menyukai perasaan aneh yang menjalarinya sekarang. Nyaman yang tidak bisa dia terima saat mendekap Arki dan menemukannya berada disisinya saat ketakutan coba disembunyikannya. Selama ini Arki abai dengan semua rasa takut yang Gita alami. Kenapa sekarang dia malah menjadi tempat aman untuk bersembunyi?
__ADS_1
Arki membuang napas kesal. “Jangan banyak ngoceh! Cepetan tidur abis aku perban lagi kaki kamu,” ucap Arki tidak peduli. Dia membersihkan kaki Gita sebelum membelitnya dengan elastic bandage dengan teliti. Beberapa pil pereda nyeri Arki serahkan untuk diminum Gita, agar sakitnya segera sirna.
Kali ini Arki malas menanggapi. Riuh dan bingung dikepalanya belum usai, ditambah kantuk yang semakin mengaburkan pandangan. Jika mendebat Gita, sampai pagi pun mereka tidak akan pernah selesai. Gita dan semua prasangka tentang dirinya yang seringkali tidak benar.