
Gita turun dari mobil di sebuah rumah kecil di daerah Bogor, bukan tempat yang terlalu ramai dan berada di tengah kota. Namun di jalan kecil berkelok yang tersembunyi. Rumah yang terlihat nyaman dan cukup untuknya hidup berdua—mungkin bertiga jika ibu tirinya berhasil ditemukan dan kembali.
Sopir yang mengantarnya membantu menurunkan koper. Dua laki-laki keluar dari rumah tersebut. Berpakaian rapi dan berseragam hitam seperti yang dilihatnya di kediaman Wibisana. Dia mempersilakan masuk dan menyerahkan kunci rumah pada Gita.
“Adik Anda sudah di dalam. Ingat, bahwa kami akan mengawasi selama beberapa waktu sampai kematian Anda di konfirmasi oleh Pak Arya. Jangan menarik perhatian ataupun mencoba menghubungi Pak Arkian maupun orang lain,” katanya dengan tegas, kemudian dia pergi dengan sopir yang mengantarkan Gita.
Dari dalam rumah tiba-tiba Risa menghambur keluar, memeluk Gita sambil menangis. Hal yang nyaris tidak pernah dilakukan gadis itu sebelumnya. Dia terlihat ketakutan hingga tidak bisa menghentikan tangisnya sambil terus berbicara dengan cepat dan tidak jelas.
“Ibu pergi, Mbak. Aku ditinggal sendirian sejak kemarin sama orang-orang serem tadi dan disuruh diem terus dikunciin dikamar. Mereka ngomong soal Pak Arya bakal bunuh aku kalau berani kabur. Aku bahkan gak tahu Pak Arya itu siapa,” kata Risa panik.
Gita tidak punya pilihan lain untuk memeluk adik tirinya itu dan menenangkannya. Risa tidak tahu apapun tentang Arya. Meskipun Arya sudah mengatakan orang-orangnya sudah menjelaskan pada Risa mengenai situasi mereka, pasti keadaan seperti ini membingungkan.
“Udah, gak apa-apa. Sekarang kita aman,” kata Gita menenangkan.
Gita menjelaskan pelan-pelan pada Risa, sambil duduk di sofa ruang tamu yang ada di rumah baru mereka. Ternyata di dalamnya lebih nyaman dibanding yang Gita kira. 2 kamar, dapur, kamar mandi, ruang tamu dan ruang tengah yang kecil. Ini cukup, dibandingkan harus hidup tidak jelas diluar sana.
“Jadi, Pak Arya ini bakal kirim uang buat kompensasi karena Mbak Gita mau meninggalkan Mas Arkian? Termasuk ngasih rumah ini juga?” kata Risa tidak percaya apa yang di dengarnya.
Dia tidak sempat memperhatikan apa yang dikatakan laki-laki yang mengawasinya, karena takut diculik. Hidupnya sudah begitu menakutkan saat ditangkap dan digiring ke polisi oleh bawahan Arki.
“Iya. Dia bakal kirim ke nomor rekening atas nama kamu. Tapi aku yang pegang dan mengatur semua uangnya biar kita bisa hidup nyaman buat selanjutnya. Jangan macam-macam! Aku bisa laporkan kamu sama Pak Arya biar kamu dibawa pergi sama orang-orangnya,” ancam Gita. Dia masih harus mewaspadai munculnya ibu tirinya dan berbuat seenaknya. Sekarang dialah yang memegang kuasa atas uang yang menjadi haknya.
__ADS_1
“Jangan dong, Mbak! Aku gak mau pergi sama orang-orang itu lagi. Lagian aku gak tahu mau kemana kalau gak ada ibu. Sekarang aku janji bakal jadi baik dan nurutin Mbak Gita. Aku gak punya siapa-siapa lagi, karena ibu ninggalin aku sendirian. Aku juga mau minta maaf udah jahat dan pake identitas Mbak Gita buat daftar pinjol selama ini. Aku gak mau masuk penjara remaja lagi, aku takut.” Risa terlihat begitu sedih dan ketakutan. Dia kali ini berkata jujur, memang lebih baik hidup bersama kakak tirinya dibandingkan di penjara.
“Aku pegang janji kamu! Awas kalau kamu bikin masalah! Kita sedang hidup bersembunyi dan gak boleh sampai ketahuan sampai beberapa bulan ke depan,” kata Gita memperingatkan lagi.
“Sampai Mas Arki mengira Mbak Gita meninggal, kan? Oke! Aku gak akan kabarin teman-temanku kalau aku udah bebas dari penjara. Terus mulai hidup baru di sini. Tapi aku masih boleh daftar kuliah kan, Mbak Git?”
“Pak Arya gak bilang ada larangan apapun soal itu, kayaknya boleh. Lagian kamu emang harus kuliah dan dapat kerja, kan? Biar hidup kamu nanti lebih baik, gak jadi penipu,” ucap Gita.
Menekankan kata terakhirnya, terlebih untuk dirinya sendiri. Dia penipu. Hidupnya hancur karena melakukan penipuan pada Arki. Seharusnya hal seperti ini tidak pernah terjadi jika dia bisa bekerja dan hidup lurus.
Gita seharian itu menyibukkan diri mengatur dan membersihkan rumah yang akan mereka tempati. Selain itu menyusun rencana-rencana kecil yang akan dia lakukan selanjutnya.
Tentu saja dengan uang yang Arya berikan, dia harus memanfaatkannya agar lebih banyak menghasilkan. Dia pun sudah tidak bisa kembali bekerja kantoran, identitasnya sebagai Gita sudah mati. Arki akan dengan mudah mencarinya jika bertindak gegabah. Saat ini Gita hanya ingin hilang dari pandangan dan hidup tenang.
Biarlah perasaannya kini dia tutup rapat, berpikir bahwa semua yang terjadi padanya dengan Arki hanya satu masa yang harus dilewati. Kemudian dilupakan menjadi kenangan. Meskipun hingga kini hatinya terus terasa sakit dan coba disembunyikan dalam.
Gita harus sadar dan mengukur diri. Orang-orang seperti Arki dan keluarganya, bukan tempat dimana Gita layak berdampingan bersama. Mereka harus berkumpul dan bersatu dengan orang-orang yang setingkat dengannya.
Gita sedang merelakan Arki pergi, mengikhlaskannya bersanding dengan perempuan yang selama ini dikencani, kemudian mereka akan melanjutkan hidup masing-masing dan memulai kembali.
...****************...
__ADS_1
Arki sampai di rumah. Hatinya masih berharap akan ada sambut yang menyapanya dari Gita setelah disana. Meskipun sudah mempersiapkan diri, ternyata Arki kecewa juga saat tidak melihat siapa-siapa. Rumahnya seribu kali lebih sepi dari biasanya. Gita tidak ada dimana-mana dan membuat Arki gila.
Kesedihan beriak hebat di dadanya. Arki bahkan tidak menyadari seberapa kacau dirinya saat menatap diri di cermin, di kamar yang Gita dulu tempati. Setelah Arki mengacuhkannya, Gita pindah sendiri kesana. Meskipun Arki ingin memintanya kembali, tapi kegamangan perasaannya mengatakan itulah momen yang tepat agar Arki cepat melupakan.
Kamar itu kosong, seperti tidak pernah ditinggali, Arki baru menyadarinya. Gita rupanya memang pergi atas keinginannya sendiri. Kemudian membersihkan jejak-jejak keberadaannya tanpa sisa. Satu barang pun miliknya tidak Arki temukan di sana. Seakan Gita dan dirinya tidak pernah hidup satu atap. Pantas saja Gita membawa sebuah koper besar saat liburan 3 hari di Bali. Arki sempat bertanya-tanya, tapi tidak pernah menaruh curiga dia akan pergi.
Arki mengedarkan diri disekitar rumah. Salah jika Arki berpikir Gita menghapus jejaknya disana. Semua hal di rumahnya terdapat sentuhan Gita. Dekorasi, perabot yang dibelinya, tanaman yang di tanamnya, barisan kotak dan peralatan memasak adalah hal-hal yang ditinggalkannya. Selama ini Arki baru menyadari, bahwa Gita merawat rumahnya. Dia juga merawat Arki. Menyembuhkannya pelan-pelan dengan hal-hal yang tidak disadari.
Gita menyediakannya makanan bahkan bekal yang dia persiapkan di pagi hari. Menyediakannya pakaian bersih dan wangi setiap hari. Membuat rumahnya rapi saat Arki pulang. Belum lagi dia menyediakan tempat hasratnya berlabuh. Hal-hal yang menurutnya wajar dilakukan oleh seorang istri, bukan hal yang spesial. Namun ternyata hal yang luput dia apresiasi.
Meskipun nyaris setiap hari mereka bedebat topik yang sama dan saling membenci, Gita juga peduli padanya dengan caranya sendiri. Arki selalu mengira bahwa dialah yang paling banyak dimanfaatkan dan berperan di hubungan ini.
Menyediakan Gita tempat tinggal, uang yang berlimpah, rasa aman dan status spesial sebagai istri. Tapi Gita juga banyak memberikan waktu, upaya, hingga tubuhnya pada Arki. Hingga akhirnya Arki nyaman dengan kehadirannya. Melupakan bahwa dia pernah merasa terluka, sendirian, dan tidak berharga karena dikhianati Luna.
Arki mengakui bahwa dirinya congkak dan merasa paling benar. Dalihnya dia merasa tersakiti serta kecewa karena Gita mencoba menggugatnya cerai, hingga semena-mena berperilku dan berkata pada Gita. Padahal, jika dia bisa melembutkan hatinya dan menyadari bawha dia memiliki perasaan sedalam ini pada Gita, mungkin mereka akan punya cerita yang berbeda. Arki tidak seharusnya begitu memaksa.
Apalagi setelah tahu bahwa perasaan terlukanya telah sembuh, dan bayangan Luna sudah tidak ada di kepala, Arki meyakini dia bisa memilih perempuan yang lebih baik dari Gita. Perempuan-perempuan kaya, cantik, berasal dari keluarga yang sepadan dengannya. Bukan seorang penipu ataupun gadis tidak tahu diri yang membencinya. Sama seperti mantan-mantan mentereng yang sangat dibanggakannya. Hingga hatinya menjadi gamang dan melupakan siapa yang menyembuhkannya.
Arki membaringkan diri di kasur, tubunnya begitu lemas. Hatinya kosong dengan luka yang menganga. Luna mungkin dulu memang benar ketika mengatakan bahwa Arki adalah laki-laki tinggi hati dan tidak pantas dicintai. Selalu menganggap apa yang dilakukannya lebih besar dan berharga dibandingkan pasangannya. Hanya dengan perhatian, hadiah, dan perlindungan saja merasa berhak menguasai dan memaksa, tanpa mendengar apa yang diinginkan oleh mereka.
Lagi dan lagi, Arki melakukan hal yang sama. Membuat perempuan yang dicintainya pergi karena keegoisannya.
__ADS_1
“Kamu di mana, Git? Aku minta maaf,” lirihnya begitu pedih hingga menitikan air mata.