Istriku Penipu

Istriku Penipu
Tidak Rela


__ADS_3

Arki sudah menjelaskan kejadian seminggu lalu itu adalah kesalahan. Dia meminta maaf dan juga meminta Amanda untuk tidak membahasnya lagi. Tapi Amanda tidak bisa. Dia rasanya semakin diterbangkan oleh harapan untuk bisa memiliki Arki.


Laki-laki itu hanya butuh sedikit waktu lagi untuk membuka diri. Amanda percaya, dia sudah berada di ujung hatinya dan siap menguasai. Rupanya ciuman waktu itu melecutkan keinginan Arki untuk mencobanya lagi. Hingga akhirnya Amanda diberi kode balasan, berupa ciuman yang sama minggu kemarin.


Amanda tidak boleh menyerah sekarang. Meskipun setelah kejadian di lift itu, Arki berubah menjadi lebih dingin daripada biasanya. Seakan kesalahan itu terletak pada Amanda. Malam itu Arki sendiri lah yang menyerangnya.


“Sabaaar! Jangan buru-buru gitu dong, Cantik.” Damar menyandarkan punggungnya di sofa kulit hitam di ruang kerjanya. Amanda hanya memberengut kesal sedari tadi menceritakan tentang Arki.


“Tapi dia tuh kayak gak ada rasa bersalahnya sama sekali. Semakin mengacuhkan dan mendiamkan aku, Kak.”


“Arki agak sedikit beda sama adik-adiknya. Meskipun terkenal banget player dan gonta-ganti cewek. Tapi ada kalanya dia tuh setia loh. Paling lama sih sama tunangannya yang dulu, 3 tahun pacaran dan hampir nikah. Pak Arya aja sampai kelimpungan mengusiknya. Dia pakai banyak strategi buat memisahkan mereka. Tuh buktinya dia beneran gak jadi nikah, kan? Sekarang juga kamu harus sabar. Kan Pak Arya bilang dia bakal bantuin kamu.”


“Iya sih. Tapi aku bingung sekarang harus gimana menghadapinya. Bukannya kemajuan, malah kemunduran kalau kayak gini.”


Damar terkekeh. “Nggak ah. Malah menurutku kemajuan loh. Arki sedikit-sedikit mulai goyah. Dia setiap hari masih menerima bekal yang kamu kasih, kan? Padahal sebelumnya rajin banget makan buatan istrinya. Itu artinya dia lagi kasih kamu kesempatan,” ucap Damar meyakinkan.


Amanda menghembuskan napas dengan kasar. Dia semakin tidak sabar, karena sinyal-sinyal yang diberikan Arki tampak samar. Meskipun demikian dia sudah memastikan, tidak akan gentar ataupun memundurkan selangkah pun tujuan untuk mendapatkan laki-laki impian.


...****************...


Arki menyandarkan kepala ke kursi kerjanya. Dia benar-benar masih bisa melihat wajah kebingungan dan kecewa Gita tadi pagi saat mengatakan tidak akan membawaka bekal lagi. Kenapa dia berekspresi seperti itu? Bukankah Gita membencinya? Harusnya dia senang tidak lagi menjadi budak dan pesuruhnya.

__ADS_1


Dia memandang sekilas paper bag yang diserahkan oleh Amanda. Dia selalu memberikannya setiap pagi selama seminggu ini. Dia pun terlihat semakin berharap padanya karena ciuman di lift tempo hari. Sesuatu yang Arki lakukan hanya untuk membungkam pikiran mengenai Gita dan membuktikan bahwa dirinya benar-benar sudah normal kembali.


Sama sekali Arki tidak beminat dengan Amanda. Hatinya terlalu riuh oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskannya. Perasaan terluka yang baru dan tidak tahu apa penyebabnya. Apakah karena keputusannya yang harus meninggalkan Gita? Apakah karena kebencian Gita terhadapnya yang hingga sekarang tidak surut juga?


Seharusnya Arki berbahagia karena sudah sembuh dari penyakit aneh yang menderanya. Tidak ada lagi Luna berkelebatan liar di dalam ingatannya. Bahkan Arki kini sudah lupa bagaimana rasanya ber cinta bersamanya.


Sekarang dia bisa bebas mamacari perempuan manapun yang jauh lebih baik dari Luna ataupun Gita. Ya, terutama Gita. Dia bisa memilih perempuan baik-baik dari keluarga berada, bukan seorang penipu, dan memiliki tendensi untuk mencelakai dirinya sendiri saat sedang tidak diawasi. Arki bisa menemukan seseorang yang lebih baik dari Gita dan sudah jelas akan mencintainya. Dengan senang hati ingin berumah tangga dengannya.


Kenapa harus Gita?


Arki selalu mengulang tanya itu saat berhadapan dengan Gita dalam pikirannya.


...****************...


Kenapa sekarang dia kelimpungan sendiri saat Arki tiba-tiba tidak mengabarinya?


Apakah Arki marah padanya karena seminggu ini tidak melayaninya? Dia memang terlihat sangat sedikit berbeda. Tampak sangat loyo dan kusut setiap kali pulang bekerja. Mungkin memang benar pekerjaannya sedang menumpuk di kantor. Hingga tadi pagi dia berangkat lebih dulu dan berpesan tidak akan menjemput Gita pulang.


Bisa gawat kalau Arki dibiarkan dengan mood yang berantakan. Gita takut kalau nanti akan mendapatkan serangan yang lebih garang di ranjang. Apakah malam ini harus Gita menawarkannya untuk ber cinta? Gila! Tidak waras! Pikiran menjijikan apa yang baru saja melintas? Gita memukul pipinya sendiri berulang kali karena pikiran kotor tersebut.


Gita tidak merindukan sentuhan Arki. Bukan karena itu, dia hanya sedang mempertimbangkan untuk mengumpankan dirinya sendiri agar tidak semakin terlimpas bahaya, kalau Arki tiba-tiba memintanya melayani dengan kasar. Gita tidak suka saat Arki melampiaskan keinginannya yang sudah lama dipendam, menjadi aktivitas yang menyakitkan.

__ADS_1


“Gita, kamu gak apa-apa?” ucap Tama keheranan melihat Gita yang memukul pipinya sendiri dan melamun.


“Gak apa-apa, Tam,” ucap Gita malu karena melakukan hal tidak masuk akal.


“Makan siang yuk!”


“Emm… Tama. Kamu mau gak makan bekal yang aku bawa? Aku masak kebanyakan tadi pagi.” Gita mengeluarkan kotak bekal yang biasa Arki bawa dan menawarkannya pada Tama.


“Mau dongs! Bekal kamu tuh suka bikin ngiler pas lihatnya tahu gak? Jadi pingin nyicipin.” Tama kemudian menarik kursi dan duduk si sebelah Gita.


“Kalau gitu lain kali aku bawain kamu bekal deh, Tam. Kalau lagi masak banyak.” Gita menawarkan lagi.


Lagipula Arki tidak ingin dibawakan bekal, mungkin sesekali Gita harus membawakan makan untuk Tama. Atasan yang selama ini membantu dan sangat toleransi terhadap banyak ketidakhadiran Gita serta sering membantu pekerjaannya.


“Wah aku gak akan nolak sih, Git. Masakan kamu enak banget loh. Serius. Harusnya kamu buka usaha catering makan siang nih. Pasti laku,” puji Tama saat mencicipi masakan Gita.


“Gak ah, males. Kan kantor kita juga udah menyediakan makan siang gratis.”


“Kalau pun harus bayar masakan kamu, aku mau-mau aja kok. Asli lebih worth it dibanding masakan kantin kantor. Suami kamu beruntung nih dikasih bekal gini mulu tiap hari, mana mau dia ke kantin kantor kayaknya,” canda Tama.


Tapi Gita kemudian tertegun. Arki tadi pagi mengatakan akan makan di kantin kantor saja. Jika masakannya seenak seperti yang dibicarakan oleh Tama. Lantas kenapa Arki memilih makan di kantin kantornya sekarang?

__ADS_1


Gita tiba-tiba merasakan perasaan tidak rela kembali menggulung hatinya. Apakah masakannya membosankan? Apakah Arki marah padanya? Atau apakah Arki akhirnya bosan dengannya? Pertanyaan terus mengitari pikirannya tanpa henti. Tama yang berada disebelahnya mengoceh banyak hal, tapi Gita tidak bisa fokus pada apapun juga saat ini.


Dia terus ingin tahu apa yang terjadi dengan Arki. Bertanya dalam hati kenapa kegusaran ini semakin menjadi-jadi. Seperti sebuah firasat yang menandakan sesuatu akan terjadi.


__ADS_2