Istriku Penipu

Istriku Penipu
Jangan Pergi


__ADS_3

Gita tidak bermaksud berkata seperti itu pada Arki. Entah kenapa emosinya tiba-tiba meluap tidak terkendali dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Tentu saja Gita berterimakasih pada Arki. Meskipun tidak tahu maksud semua kekhawatiran dan perhatiannya ditujukan untuk maksud apa, gita merasa bersyukur Arki berada di sini.


Melihat wajah panik dan kaget Arki saat menemuinya di IGD tadi, Gita merasakan hal aneh mencagun tiba-tiba dihatinya. Rasa aman yang merangkul ketakutannya. Tidak tahu sejak kapan ini bermula, ada hal-hal yang terus Gita redam di dadanya. Mungkin Arki juga tidak pernah menyadarinya. Semua amukan dan perlawanannya mereda. Bahkan sentuhan Arki yang baginya masih saja menjijikan pun, nyaris selalu Gita terima tanpa memberang hebat.


Gita begitu takut jika perasaannya lepas kendali, mengkhianati dirinya sendiri. Menjadi patuh dan membutuhkan Arki berarti merelakannya dinodai dan dijadikan onggokan pemuas laki-laki. Getir ketika Gita harus menerima rasa kalah karena menerima dilecehkan begitu rendah oleh Arki. Dengan uangnya dia membeli harga diri. Perasaannya ini kini sulit bersembunyi, apalagi Arki kian sering berperilaku layaknya benar-benar suami.


Tubuh Arki melemas terlimpas kantuk dan lelah yang kini sulit dikendalikan lagi. Menyetir selama lebih dari dua jam dengan adrenalin tinggi penuh kekhawatiran menghabiskan energinya. Apalagi emosinya tersulut menyala karena kata-kata Gita. Arki semakin tidak punya daya untuk terjaga. Mungkin pagi sebentar lagi datang dan mereka seharusnya kembali pulang. Numun, Arki ingin beristirahat sejenak dari riuh dan letih yang menerjang.


Gita menyelimuti tubuh Arki yang terlelap kelelahan. Sejak bangun tadi, matanya memerah dan sering mengatup ketika mengompres kakinya yang sakit. Sekonyong-konyong Gita malah membuat keributan. Dia tidak tahu bagaimana harusnya berkomunikasi dengan Arki, yang tiap kali berbicara dengannya nyaris seperti tersulut api.


Gita membaringkan diri disebelah Arki. Memandang wajah asing yang bersama dengannya berbulan-bulan. Memagut birahi, namun tidak pernah manautkan hati. Akhirnya dia juga terlelap dengan kantuk yang semakin berat dan kakinya yang berdenyut serta bengkak.


...****************...


Arki terbangun cukup siang, memandang disebelahnya, Gita masih terlelap damai. Dia memeriksa keadaan Gita. Kakinya ternyata masih membiru dan bengkak hebat. Cederanya belum mereda. Tapi untunglah tidak ada luka lain yang membahayakan di tubuhnya, selain kaki dan luka ringan di kepala. Arki membenarkan posisi selimut yang menutupi Gita, sebelum akhirnya beranjak menuju toilet untuk membasuh muka.


Dia memandang pantulan wajahnya di cermin, basah dengan air yang menetes jatuh. Tiba-tiba ingatannya tentang kemarin kembali penuh. Arki tidak sedang bermimpi saat itu. Amanda menciumnya dan Arki mulai luluh. Entah karena kaget atau tidak menduganya, kecupan itu tidak membuat Arki berhalusinasi lagi tentang traumanya pada Luna. Malah menikmati ciuman tersebut. Arki kini tertegun sendiri.


Apakah sekarang sudah sembuh?


Jika memang bukan hanya Gita yang bisa membuatnya kembali normal lagi, artinya dia bisa segera melepaskan ikatan mereka. Seperti yang selalu Gita inginkan. Arki kini dipenuhi kegamangan. Haruskah membuktikannya? Apakah selain Gita ada Amanda yang mampu melenyapkan putaran kenangan buruk tentang Luna di pikirannya?


Apakah sekarang sudah saatnya meninggalkan Gita?


Suara berdebum terdengar kencang dari kamar. Arki segera berlari memeriksa dan mendapati Gita yang terjatuh telungkup di lantai. Dia meringis kesakitan dan mencoba bangun. Arki tiba-tiba menelan kembali pemikirannya untuk meninggalkan Gita. Bagaimana jadinya perempuan merepotkan dan sembrono seperti ini kalau tidak ada dirinya?


“Ngapain sih?” kata Arki membantu Gita bangun dan menggendongnya hingga duduk di ranjang.


“Aku mau ke toilet.”


“Bilang kek atau minta tolong. Udah tahu sekarang kamu masih pincang,” omel Arki kesal. Semua hal yang dilakukan oleh Gita menurutnya sangat membahayakan dan harus diawasi terus menerus. Membuat Arki emosi dan kesal tak habis-habis.

__ADS_1


“Ya udah sih, gak usah sambil marah-marah. Aku kira kamu keluar makanya gak minta tolong,” balas Gita tidak mau kalah.


Bisa-bisanya dia semalam berpikir merasakan nyaman dan terjadi sesuatu dengan hatinya kepada laki-laki tukang marah-marah seperti Arki ini. Pasti otaknya tidak waras karena terbentur akibat kecelakaan kemarin.


“Ck … Ya udah, ayo ke toilet!”


Arki menggendong Gita dengan mudah, membawanya menuju toilet untuk menuntaskan keinginannya membuang air. Dia masih berdiri dihadapan Gita yang sudah duduk di kloset. Sambil memangku tangan di dada dan memperhatikan perempuan di depannya.


“Ngapain sih kamu berdiri di sini kayak mandor? Aku mau buang air. Bukan lagi romusha!”


“Kamu mau nyungsep lagi kayak tadi? Kamu tuh kalau gak diawasin, ada aja tingkahnya. Bikin pusing tahu gak?”


“Aku mau BAB, Arki! Bukan mau loncat indah terus atraksi sampe cedera. Pergi! ” Teriak Gita melempar tisu ke arah Arki.


“Panggil aku kalau udah selesai.” Arki pergi sambil mendengus kesal.


Arki berdiri lebih dari 15 menit di pintu toilet. Takut kalau Gita tiba-tiba tersungkur seperti tadi. Tapi sepertinya keadaan aman. Tidak ada suara-suara aneh benda terjatuh dengan keras atau sesuatu yang terdengar membahayakan.


Dilihat dari keputusan gila untuk menipunya saja dengan kebohongan murahan, sudah bisa dipastikan, Gita benar-benar perempuan sembrono yang senang mendatangkan masalah. Bagaimana nanti jika mereka berpisah? Arki rasanya tidak akan tenang meninggalkan makhluk seperti itu hidup sendirian.


“Arki!” teriak Gita dari dalam.


“Ya!”


Arki berjalan masuk kembali ke toilet. Gita merentangkan tangannya terbuka, meminta untuk di gendong. Arki sedikit terperanjat melihatnya. Tumben dia sangat manja seperti ini. Padahal hobinya berontak dan menghentak saat disentuh tiba-tiba. Arki menyambut pelukan tersebut, merasakan tubuh mungil yang familiar dalam dekapannya.


“Aku pusing, badanku sakit semua. Kayaknya memarnya bukan di kaki doang, tapi seluruh badan.”


“Gak ada. Badan kamu baik-baik aja. Cuma kaki sama kepala kamu doang yang lumayan parah. Lecet-lecet di tangan kamu juga udah sembuh.”


“Kok kamu tahu? Kamu buka-bukain bajuku ya?”

__ADS_1


“Ya emang kenapa? Kayak yang gak pernah aja.”


Arki menggendong Gita kembali. Dia tiba-tiba menyadari suhu tubuh Gita terasa lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena terlalu sering menyentuhnya, Arki sudah sangat hapal bagaimana temperatur tubuh perempuan itu. Mungkin juga karena naiknya suhu tubuh Gita sangat kentara, hingga bersentuhan saja sudah terasa.


“Kamu demam,” ucap Arki saat membaringkan tubuh Gita di kasur kembali. “Abis makan, nanti minum obat. Aku cari cold pack dulu buat kompres di bawah,” lanjut Arki kemudian lekas keluar kamar.


Bahkan sebelum Gita membalas, laki-laki itu sudah melesat pergi meninggalkannya. Tadi malam juga begitu, Arki tiba-tiba pergi keluar kamar untuk mencari bantuan agar sakit Gita mereda. Perasaan aneh kembali berhamburan dihati Gita. Khusus hari, ini Arki teramat sangat sigap dan perhatian.


Bukan. Tidak hari ini saja. Gita mengingat bagaimana semua perlakuan Arki yang mengkhawatirkannya ketika jatuh sakit. Arki selalu telaten mengurusnya. Meskipun enggan mengakui, Gita menyukai sisi Arki yang seperti itu. Terlebih sekarang, ketika hatinya tiba-tiba gamang akan sesuatu yang dia rasakan.


Tidak lama setelah Arki menenteng sebuah plastik putih berlogo apotek, room service datang membawa sarapan pagi mereka ke kamar. Jelas Arki memesan berbagai menu mahal yang bahkan Gita tidak bisa menyebutkannya.


Setelah sarapan, Arki mulai mengganti perban untuk luka di kepala dan kaki Gita, serta menempelkan cold pack di kening Gita yang demam. Kemudian menyuruh istrinya tersebut untuk tidur kembali. Sepertinya mereka harus menginap hingga besok, menunggu keadaan Gita pulih dan mereda.


Sejak semalam Arki tidak memeriksa ponselnya. Ratusan pesan dan panggilan gagal masuk ke sana. Usman berulang kali mengirimkan kabar bahwa Gita baik-baik saja dan hanya terluka ringan. Ya, dia memang terluka ringan. Bisa saja Arki mengabaikannya.


Tapi ketika melihat tubuh kecil dan lemah sekarang berbaring di depannya. Arki tidak menyesal menyusulnya kemari tadi malam. Bisa dibayangkan bagaimana merepotkannya dia pada teman-temannya jika Arki tidak menjemputnya.


Beberapa pesan menghentikan pikiran Arki sejenak ketika membacanya. Keningnya berkerut dalam. Perasaannya seketika menjadi aneh. Dia mengingat kembali distraksi kecil selain Gita di dalam pikirannya.


[Amanda: Pak Arki, aku minta maaf soal kejadian kemarin. Aku mengerti kalau tindakanku gak sopan. Tolong jangan pecat aku, Pak! Aku benar-benar mau belajar soal pekerjaan dan gak akan mengulangi hal kayak kemarin lagi.]


Arki menatap dan membaca pesan itu berulang-ulang. Kelebatan ingatan tentang Amanda malam itu muncul kembali. Sepertinya dia memang sudah sembuh. Dia kembali berpikir ulang tentang hubungannya dengan Gita. Kenapa rasanya masih belum rela melepaskan perempuan yang jelas-jelas membencinya ini?


Arki yakin ini bukan perasaan cinta, tapi semacam tanggung jawab dan kekhawatiran yang sulit dijelaskannya. Dia sama sekali tidak merasakan getaran dan debaran, seperti ketika bersama mantan-mantannya terdahulu kepada Gita. Dia hanya terbiasa padanya. Semua sentuhan, hangat tubuh, dan wanginya familiar saja bagi Arki. Itu saja.


“Arki,” panggil Gita tiba-tiba. Dia masih berbaring dikasur dengan mata tertutup dan hampir luruh terlelap. “Jangan pergi kemana-mana!” lanjutnya lagi mengigau. Gita tidak suka hening saat Arki pergi tiba-tiba meninggalkannya.


Arki termenung sejenak. Menatap sosok didepannya dengan tatapan penuh kebingungan dan perasaan campur aduk yang tidak nyaman. Dia beringsut dari kursi, kemudian membaringkan diri di samping Gita. Memeluk tubuh yang amat sangat dikenalnya, merapat hingga tak berjarak, dan mencium kepalanya.


“Aku gak akan pergi kemana-mana. Cepetan tidur!” bisik Arki.

__ADS_1


__ADS_2