
Adrian melangkah keluar kediaman Wibisana, menyusul Arki yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkan tempat itu setelah Ela memarahinya terkait tindakan mereka pada Arya. Mungkin Arki memang sudah tidak punya urusan apapun lagi pada laki-laki jahat itu, tapi Adrian dan Aditya masih belum mendapatkan yang mereka inginkan.
Semua rencana mereka kacau gara-gara satu orang pembelot yang membocorkan rahasia pada Ela. Adrian tahu bahwa ibu Arki bisa memegang kendali dan sangat berpengaruh bagi kedua saudaranya. Dengan hadirnya Ela, Adrian sangat takut jika keinginannya tidak bisa terwujud. Arya pasti akan semakin kukuh menyerahkan semua hartanya pada Arki.
Tidak. Mungkin dengan adanya Ela, Adrian memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan bagiannya di perusahaan, seperti yang disepakati oleh kedua saudaranya. Juga hal yang lebih penting dari itu, dengan adanya Ela, Arya akan dengan cepat menandatangani berkas perceraian dengan ibunya.
Dipenuhi oleh banyak dugaan yang berputar di kepalanya, nyaris membuat Adrian tidak awas dengan sekelilingnya. Tanpa dia tahu Nabila sudah berdiri di hadapan, menghentikan langkah Adrian. Laki-laki itu menatap sekilas gadis di depannya kemudian membuang muka. Menghindar dan melebarkan langkah kaki menjauhinya. Tapi, Nabila segera menggenggam tangannya.
“Aku minta maaf. Ini satu-satunya cara biar kamu berhenti bertindak terlalu jauh sama ayahmu sendiri, Dri,” ucap Nabila penuh penyesalan.
Adrian menghempas tangan Nabila agar terlepas darinya. “Kata-kataku bukan omong kosong, Nabila. Aku beneran bakal batalin pertunangan kita. Lagipula aku gak mau punya ayah mertua yang terlibat kasus korupsi di tempat kerjanya,” balas Adrian dingin.
“Ayahku belum terbukti bersalah, dia masih berstatus tersangka. Bisa aja semua tuduhan padanya itu palsu,” ucap Nabila.
Meskipun di dalam hatinya dia pun tidak meyakininya juga. Mengingat bagaimana ayahnya sangat serakah. Bahkan hingga tega mengumpankan anak perempuan satu-satunya untuk dijodohkan dengan anak pebisnis kaya seperti Arya.
“Semuanya bukan tuduhan palsu, tapi memang benar tindakan ayahmu. Timku sendiri yang menyelidikinya di rumah sakit dan aku yang bawa kasus itu ke wartawan biar jadi besar kayak sekarang,” kata Adrian mengakui semua perbuatannya.
Nabila hanya diam terpaku di tempat. Menatap laki-laki di depannya dengan kengerian dan kemarahan yang tidak kentara. Lebih daripada itu, kekecewaannya tumbuh tidak terkendali pada laki-laki yang dia cintai sepenuh hati itu. Bagaimana mungkin bisa dia tega melakukan hal seperti itu pada orang tua pasangannya? Air mata turun dan meleleh di pipi Nabila.
“Kenapa? Kamu gak terima dengan tindakanku? Terus kamu pikir aku bakal diam aja lihat ayah dan kakakmu jadi penjahat? Kalau benar hubungan kita berlanjut, mereka akan merusak reputasiku dan jadi duri dalam daging. Untungnya kita gak akan melanjutkan hubungan lebih jauh. Aku sekarang ke rumah kamu dan batalkan pertunangan kita. Kamu mau ikut mobilku?” ucap Adrian tersenyum sinis kemudian melangkahkan kaki kembali menuju tempat parkir.
“Adrian!” teriak Nabila. Hatinya begitu terluka mendengar semua kata-kata jahat itu dari Adrian. “Kamu bakal menyesal melakukan hal kayak gini sama aku!”
Adrian menghentikan langkah dan berbalik melihat Nabila. “Menyesal? Ngapain? Kamu bisa ngelakuin apa, Nab? Ayah dan kakakmu sebentar lagi masuk penjara. Kamu dan ibumu harusnya khawatir sama kehidupan kalian selanjutnya. Apalagi kamu belum jadi dokter yang kompeten dan hanya setengah hati menjalankan profesimu. Gak ada alasan buatku menyesal ninggalin kamu yang seperti itu.”
__ADS_1
“Kamu bakal menyesal ngelakuin hal jahat dan mutusin hubungan sama aku! Gak akan ada yang sayang kamu kayak aku!”
Adrian terkekeh. “Kamu beneran mikir hubungan kita sedalam itu? Kita sama-sama terjebak perjodohan, aku gak pernah punya perasaan spesial buat kamu. Jangan pernah berpikir aku jatuh cinta sama kamu karena aku memperlakukan kamu dengan baik.”
“Jadi selama ini kamu pura-pura, Dri?”
“Aku gak pura-pura baik, cuma menghargai hubungan kedua ayah kita. Tadinya aku mau menyenangkan Arya dengan menuruti semua keinginannya agar aku bisa punya kesempatan menjadi penerus perusahaan. Tapi sekarang udah nggak. I just want him to die.”
Mendengar kata-kata dingin Adrian yang tanpa ampun tersebut, membuat Nabila tersakiti. Selama ini ternyata benar hanya dirinya lah yang sudah jatuh cinta. Sendirian. Adrian tetap memandang hubungan dan kedekatan mereka karena sebuah perjodohan kedua ayah mereka yang ambisius.
Padahal Nabila mengira Adrian memiliki perasaan yang sama. Setelah laki-laki itu membuka tentang sisi lain hidupnya ketika berlibur berdua di Bali. Ternyata semua itu hanya perasaan konyol yang Nabila rasakan seorang diri.
“Aku benci sama kamu, Adrian! Kamu beneran laki-laki paling jahat yang pernah aku temui!”
Nabila berbalik dan masuk ke rumah Arya. Dia terus melangkah tanpa melihat kembali Adrian yang masih terpaku menatap sosoknya yang menjauh. Hatinya patah mendengar hal yang baru saja dikatakan Adrian. Laki-laki itu tidak pernah mencintainya sedikitpun. Padahal selama ini Nabila selalu menyayanginya. Nabila sekuat hati menahan dirinya yang perlahan hancur oleh patah hati yang dalam.
Adrian mencium pipi perempuan paruh baya yang sedang duduk di kursi roda sambil membaca buku. Seketika binar mata perempuan tersebut berubah cerah. Dia menyingkirkan bukunya dari pangkuan dan menyambutkedua tangan putranya. Menggenggam erat dan menatap Adrian yang duduk bersimpuh di lantai. Sorot mata yang tadinya cerah kini berubah keruh dengan ekspresi sedih, setelah menatap lekat putranya dengan dalam.
“Kenapa kamu batalin pertunangan kamu dengan Nabila? Kalian berantem?” tanya Salma tampak sedih.
Adrian menggeleng dan mengulas senyum sejenak. “Aku sama dia gak cocok aja, Bun. Lagian sebenernya aku belum pingin menikah. Mau menghabiskan waktu berdua dulu sama Bunda yang banyak sampai puas,” balas Adrian menatap lekat penuh kasih sayang pada ibunya.
“Kamu tiap hari juga kan sama Bunda. Ngapain menghabiskan waktu lama-lama sama perempuan tua. Mending kamu cari istri yang baik biar bisa jadi pendamping hidup. Nabila itu baik, pinter, cantik dan sopan. Kamu gak cocok apanya sama dia? Bukannya kamu merasa nyaman dengan Nabila?”
“Aku gak merasa seperti itu. Selama ini aku memperlakukannya baik karena dia yang ayah jodohkan untukku. Bukan karena aku pingin atau sayang sama dia. Setelah ayah masuk rumah sakit dan udah gak terlalu banyak ngatur lagi, aku juga jadi berpikir buat gak melakukan hal-hal yang dia suruh. Termasuk menikah dengan Nabila.”
__ADS_1
“Nabila sayang banget sama kamu, Dri.”
“Tapi aku nggak. Daripada dia harus terjebak dalam pernikahan dengan orang yang gak menyayanginya. Lebih baik buat melepaskan dia, Bun. Aku gak mau jadi jahat kayak yang ayah lakukan sama Bunda. Ayah gak sayang sama Bunda. Hidup kita gak pernah diliputi kasih sayang darinya, gak kayak hidup Arkian dan Tante Ela.”
“Dulu ayahmu pernah sayang sama Bunda. Dia dulu gak mau dijodohkan dengan Ela. Mengejar Bunda yang sedang kuliah di Swiss.”
“Tapi setelah kita datang lagi ke kehidupan barunya dengan Tante Ela, gak pernah sekalipun dia sayang sama Bunda, kan? Jangan terus membelanya. Udah cukup, kita udah cukup menderita selalu jadi sasaran kemarahan karena dia merasa kitalah yang merusak hubungannya dengan Tante Ela.”
“Adrian,” panggil Salma lembut.
“Dia yang merusak masa depan Bunda. Dia orang jahat yang menghamili dan meninggalkan Bunda. Terus dengan seenaknya kembali sama keluarganya tanpa peduli apapun sama nasib Bunda. Aku udah gak mau lagi bahas soal dia, oke? Aku udah dapat tanda tangannya di surat perceraian dan pembagian warisan. Tadi sore dia udah sadarkan diri dan menyetujui semuanya.”
“Adrian, ini bukan hal yang—"
“Bunda, bisa gak kita hidup kayak dulu lagi sebelum kita ketemu Arya?” ucap Adrian dengan suara bergetar, air matanya luruh. Dia menangis layaknya anak kecil. “Aku cuma mau hidup kayak waktu kita tinggal berdua di Jogja. Pas waktu aku masih kecil. Bedanya sekarang kita punya lebih banyak uang. Kita gak usah takut lagi orang-orangnya kakek mengancam dan menganiaya Bunda. Kita gak usah takut lagi sama telepon Nenek yang selalu bilang Bunda anak yang gak berguna. Sekarang kita lebih kaya, lebih kuat, lebih hebat dari mereka dan juga Arya. Kita bakal menjalani hidup yang lebih damai,” lanjut Adrian pilu dengan air mata yang terus meleleh jatuh.
Salma memeluk anak laki-lakinya yang kini menangis sendu. Mendekap sosok yang selama ini menjadi penguatnya agar terus bertahan dalam pernikahan seperti neraka yang diciptkan Arya. Selama ini dia ingin terus menutupi dan mengajari Adrian dengan mengatakan tidak boleh membenci Arya. Tapi rupanya tidak bisa. Adrian juga merasakan sendiri bagaimana sulitnya hidup dengan ayah yang tidak menyayanginya sedikitpun.
Selama ini Adrian berpura-pura kuat, bersikap patuh, dan mencoba selalu bisa menjadi anak yang diandalkan. Ingin rasanya melupakan bahwa Arya sama sekali tidak akan melihatnya seperti layaknya dia melihat Arki. Bagi Arya, Adrian dan Salma hanyalah duri yang merusak pernikahannya dengan Ela. Orang antah berantah yang datang kembali setelah 8 tahun berpisah. Bagi Arya, kedatangan mereka hanyalah batu besar yang dilemparkan ditengah kedamaian rumah tangganya.
Kini mereka tidak perlu lagi berpura-pura tidak terluka. Secepatnya akan segera melepas ikatan yang bertahun-tahun membelenggu tanpa ampun ataupun celah. Mereka sekarang bisa pergi sesuka hati dan menikmati waktu berdua. Hal yang sangat Adrian inginkan dibandingkan dengan menguasai perusahaan Arya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maafin baru sempat bikin extra-nya. Nyicil yaa~ hehe
__ADS_1
Btw, ada yang mau berteman di Instagram?
Follow aku ya "authorlian". Siapa tahu ada info update cerita selanjutnya disana hehe