Istriku Penipu

Istriku Penipu
Tatapan Cinta


__ADS_3

Arki melepaskan belitannya dari Gita. Canggung terasa di ruangan sempit tersebut saat Luna masuk kesana. Setidaknya begitu perasaan Gita, yang sibuk merapikan roknya. Sementara Arki terlihat biasa saja. Malah menyandarkan diri dengan santainya ke dinding lift.


Mata Arki tidak bisa lepas dari pantulan dikaca yang menampilkan sosok Luna yang cantik dan bersinar. Padahal, sejak tadi laki-laki itu terus menatap Gita tanpa henti. Pandangannya teralih seketika saat Luna datang. Gita bisa menangkap hal tersebut.


Kenapa sekarang rasanya jauh lebih menyebalkan dibandingkan dengan perilaku kotor Arki tadi?


“Tolong jaga perilaku, ini kantor bukan tempat kamar pribadi!” sindir Luna dingin.


Arki terkekeh. “Jangan ngomong soal jaga perilaku di depanku. Emang kamu sendiri bisa?” balas Arki.


Gita hanya bungkam, masih menatap pantulan Arki yang berdiri disebelahnya. Mulutnya mungkin berkata tajam, tapi pandangan matanya terlihat berbeda. Gita tidak pernah melihat Arki menatapnya seperti itu. Lembut dan penuh cinta.


Arki memang terkadang berbicara lembut dan penuh perhatian padanya, sebelum semua kebohongannya terungkap. Tapi Arki tidak pernah melihatnya seperti dia menatap Luna saat ini. Penuh kerinduan. Penuh kasih sayang.


Gita tidak menyukai perasaan mengganggu yang menyerangnya tiba-tiba. Dadanya sesak. Praduga liar berkembang dipikirannya. Arki memang benar-benar mencintai Luna dan tidak bisa melupakannya. Dia hanya menjadikan Gita pelampiasan hasrat karena kebohongan yang sudah diperbuatnya, sebuah ganti rugi karena menyeretnya ke sebuah ikatan pernikahan.


Menyakitkan. Matanya terasa panas dan ingin menangis saat itu juga.


“Jangan bawa masalah pribadi kita ke bahasan ini! Aku cuma mengomentari perilaku kalian yang gak beradab di ruang publik seperti tadi,” balas Luna berang. “Kamu bisa dilaporkan karena bawa orang yang bukan karyawan ke dalam kantor,” lanjutnya menatap Gita penuh peringatan.


“Laporin aja Gita ke HR kalau kamu bisa, biar dia dipecat.”


“Arki!” protes Gita kaget.


“Aku juga bisa bikin kamu kehilangan kerjaan. Kamu pikir lagi mengancam siapa? Hah?!” geram Arki. Kini tatapan lembutnya pada Luna seketika menghilang. Dia menautkan alisnya dan menatap tajam pada gadis itu.


Luna berbalik dan menatap langsung pada Arki. “Dari dulu kamu selalu pakai pengaruh kamu buat mengancam, kan? Gak berubah sama sekali,” sindir Luna.


Arki tersenyum. “Tentu saja, aku pakai sesuai kebutuhan.”


Pintu lift berdenting terbuka. Luna langsung berjalan meninggalkan mereka cepat-cepat. Terlihat sekali kekesalan diwajahnya saat ini. Hatinya tidak rela melihat Arki begitu membela perempuan itu.


Padahal dulu Arki melepaskan semua perilaku manisnya karena kesalahan kecil yang dibuatnya. Kemudian membuat hidupnya seperti neraka karena belenggunya.


Selama perjalanan pulang hanya keheningan yang menemani Arki dan Gita. Keduanya dirundung perasaan-perasaan tidak nyaman yang merogol hati mereka.

__ADS_1


Arki merasakan perasaan aneh yang kini membingungkan dirinya. Kebencian dan cintanya pada Luna ternyata masih begitu kuat mengisi dirinya. Melihat perempuan itu dari dekat masih memberikan desiran berbunga-bunga yang tidak bisa dia jelaskan. Namun, juga beriringan dengan kekecewaan yang bertumbuk menyakitkan.


Beberapa minggu terakhir ini saat sosok Luna menyelia sekejap dari pandangannya saat mengantar Gita setiap pagi, hatinya terasa kembali hidup. Dipenuhi detakan cinta yang lama dirindukannya.


Tapi kenyataannya saat mereka berhadapan kembali seperti tadi, Arki tidak bisa mengendalikan diri untuk menyerang dan menyakitinya. Berharap perempuan itu tersiksa dan terluka seperti yang terjadi padanya.


Gita memandang jalanan yang gelap dan mulai sepi. Hatinya tidak nyaman melihat Arki memandang Luna seperti tadi. Walaupun laki-laki itu membelanya, sepertinya pembelaan tersebut bukan untuk menunjukkan kepedulian pada Gita. Tapi untuk menyerang Luna, untuk hal-hal pribadi yang tidak pernah Gita tahu tentang mereka.


Kenapa dia harus terjebak dengan pria yang menginginkan tubuhnya, tapi hatinya masih berada jauh ditempat lain? Keadaan yang membuat Gita semakin tersakiti dan ingin pergi atau mati saja saat ini juga.


Gita membenci Arki. Benci karena harus jadi pelampiasan hasratnya yang tidak tersampaikan pada Luna.


...****************...


“GITA! GITA!” teriak Arki sambil terus menggedor pintu kamar mandi dengan kencang. “Cepetan keluar! Kamu ngapain sih lama-lama di kamar mandi?!” lanjutnya terus berteriak dari luar.


Gita muncul tidak begitu lama. Menatap enggan pada Arki yang sejak 5 menit lalu meneriakkan namanya dengan tidak sabar. Membuat suara gaduh dengan memukul pintu kamar mandi.


“Berisik tahu gak?! Ini udah malam, ngapain teriak-teriak kayak gitu?” balas Gita kesal.


“Ya kamu tahu sekarang udah malam, kenapa mandi sampai 2 jam? Ini udah jam 12, Git. Kamu ngapain sih?!” serang Arki emosi.


Gita menyingkirkan Arki yang menghalanginya jalannya dan melangkah pergi ke kamar. Dia tidak ingin berdebat atau melihat wajah Arki untuk sementara waktu. Makanya dia menyembunyikan dirinya di kamar mandi. Pikirannya penuh dengan hal-hal buruk karena pertemuannya dengan Luna tadi. Gita butuh menenangkan diri.


“Kamu mandi malam-malam kayak gini bisa masuk angin. Apalagi sampai 2 jam,” ucap Arki kesal. Tidak mengerti apa yang dipikirkan Gita hingga melakukan hal seperti ini.


“Terus kenapa? Kalau aku sakit emangnya kenapa? Kamu takut aku gak bisa melayani kamu? Gak bisa kamu pake? Tenang aja, Ki. Orang miskin kaya aku kuat. Gak gampang masuk angin cuma karena mandi malam.”


Arki terperanjat dengan perkataan Gita. Padahal dia hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada Gita di dalam kamar mandi, atau lebih buruk dia melakukan hal-hal berbahaya seperti bunuh diri.


Jawaban sinis Gita membuat Arki kesal. Perempuan ini memang sulit dia kendalikan perilaku maupun ucapannya. Membuat Arki seringkali lepas kendali dan marah.


“Ya bagus kalau kamu gak gampang sakit. Jangan sampai jadi cewek lemah dan gak melayaniku dengan baik,” balas Arki kesal, terbawa emosi karena kesinisan Gita.


Mereka tidak saling berbicara lagi. Hanya membaringkan diri di atas ranjang, saling membelakangi. Arki tidak mengerti kenapa Gita bisa seberani ini padanya. Selalu saja menantangnya, padahal posisinya tidak lebih dari penipu yang memanfaatkannya.

__ADS_1


Dia sangat berbeda dengan Luna, atau kekasihnya yang lain. Mereka patuh dan tunduk padanya. Meskipun Luna pada akhirnya berkhianat, dia tidak pernah berani menantangnya dan berbicara seenaknya atau membantahnya. Berulangkali Arki dibuat emosi oleh Gita.


Gita kini tidak menyukai bagaimana cara Arki melihatnya. Penuh amarah dan pikiran liciknya berkeliaran bebas di ujung matanya. Melihatnya saja membuat Gita muak. Padahal dia bisa saja dia lebih lembut padanya, seperti saat dia pura-pura dulu.


Gita tahu, dia tidak akan mendapatkan lagi kesempatan diperlakukan dengan baik oleh Arki setelah kebohongannya terbongkar. Bagi laki-laki itu sekarang Gita hanyalah boneka untuk memuaskannya saja hingga dia bosan. Tidak mungkin ada perhatian dan kasih sayang lagi didirinya. Semua memang salah Gita. Tapi kenapa hatinya tidak bisa menerimanya?


Apalagi setelah melihat laki-laki itu memandang perempuan lain dengan cara yang berbeda, memandang Luna dengan tatapan penuh cinta.


Saat Gita masih muda dan naif, dia selalu bermimpi akan menghabiskan sisa hidupnya dengan laki-laki yang melihatnya dengan tatapan cinta yang menenggelamkannya. Sekarang dia malah terjebak dengan laki-laki yang memandangnya dengan pikiran kotor dan menjadikannya objek untuk memuaskannya.


...****************...


Arki terbangun karena suara panggilan telepon yang begitu nyaring di telinga. Sebelum mengangkatnya, Arki duduk sebentar mengumpulkan nyawa dan melirik ke sisi ranjang di sebelahnya. Gita sudah tidak ada di kasur. Jam di nakas menunjukkan pukul 04.41. Pasti Gita sudah bangun dan berada di dapur untuk memasak.


“Ya halo. Kenapa, Zal?” tanya Arki ditelepon.


“Maaf ganggu pagi-pagi, Pak. Saya mau izin tidak bisa hadir di Bandung untuk audit kantor cabang disana. Istri saya sedang melahirkan, baru masuk rumah sakit jam 3 subuh tadi,” jawab Rizal.


“Ya udah, suruh Erza aja yang gantikan.”


“Saya sudah menghubungi Erza, tapi dia katanya disuruh Pak Arki buat handle yang di Surabaya. Sekarang belum pulang ke Jakarta.”


“Oh iya, saya lupa. Ya udah kalau gitu saya aja yang berangkat pagi ini ke Bandung.”


Rizal menutup telepon dengan terus mengucapkan terimakasih dan meminta doa untuk kelancaran persalinan istrinya.


Arki bangkit dari tempat tidur dengan berat hati. Dia melihat Gita yang sedang sibuk memotong sayuran di dapur. Menyiapkan sarapan pagi dan bekal yang biasa Arki bawa ke kantor.


“Hari ini aku harus ke Bandung, gantikan bawahanku audit di kantor cabang. Gak usah bikinin bekal.”


Gita menatap Arki sejenak dan mengangguk.


“Kita tunda dulu malam pertamanya 3 hari lagi,” lanjut Arki tampak tidak rela.


Padahal malam ini dia bisa menggauli istrinya setelah menunggu seminggu penuh karena jadwal bulanannya. Sekarang Arki harus menunggu lagi selama 3 hari untuk melepaskan hasrat dan membuktikan kejantanannya masih punya kekuatan hebat. Apa seharusnya sekarang saja dia menerkam Gita?

__ADS_1


Benar-benar ujian berat.


Sial!


__ADS_2