Istriku Penipu

Istriku Penipu
Pertemuan Dengan Arya


__ADS_3

Arki memacu cepat mobilnya tanpa pikir panjang dan tanpa memikirkan keselamatan. Bayangan tentang Gita berada bersama Arya membuat dugaannya berlarian tak tentu arah. Bisa saja Gita sekarang berada dalam bahaya, mengingat betapa tidak sukanya Arya terhadap menantunya. Belum lagi jika Arya memberitahukan tentang Amanda. Gita pasti akan salah paham.


Atau mungkin dia tidak peduli sama sekali?


Beberapa hari lalu mereka bertengkar dan berakhir dengan Gita mengucapkan kata menakutkan itu. Cerai. Arki juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujuinya. Rupanya memang benar, kebencian terhadapnya mengakar dalam hingga Gita tidak pernah merasa resah saat mengucapkan kata cerai berulang-ulang.


Lain halnya dengan dirinya, Arki belum bisa menjatuhkan keputusan itu terhadap Gita. Dia hanya ingin mengulur waktu yang lama, menggenggam Gita dalam kuasanya. Hanya dengan melihatnya saja beredar disekitar sudah membuat hatinya tenang. Arki juga semakin gamang memikirkan mengganti Gita dengan orang lain adalah sebuah kegilaan.


Iya.


Dia bisa gila karena melakukannya.


Haruskah dia mengesampingkan semua kebenciannya juga untuk memulai dengan Gita? Itu artinya dia harus melupakan semua tindakan tidak masuk akal, menyebalkan, merepotkan, dan tidak tahu diri yang dilakukan oleh Gita padanya.


Gita selalu berkata bahwa Arki menyakitinya, memanfaatkannya. Dia tidak pernah sadar bahwa ada bagian dari Arki juga yang tersakiti karena sikap tidak menyenangkan Gita selama ini. Bahkan setelah Arki mencoba berbuat baik dan mentoleransi kebohongannya.


Belum lagi perilakunya yang semakin liar dan mengada-ada. Membiarkan laki-laki asing mendekatinya, hingga mengantarkan pulang ke rumah. Kemarin, Arki nyaris saja turun dari mobilnya, meyeret Juan keluar dan mematahkan lehernya ketika melihat mobil miliknya berada di depan rumah. Namun, urung.


Mungkin setelah berpisah darinya, Gita akan mengejar cintanya pada laki-laki lain. Pada Juan, yang setiap kali ditatap, mata Gita akan bersinar dengan senyum yang mengembang. Arki harus siap hal itu terjadi pada waktunya. Sedang membiasakan diri sekarang. Merelakan Gita pelan-pelan, meskipun kian hari hatinya semakin berantakan.


Mobil terparkir di area parkiran luas di sebuah rumah mewah layaknya istana. Kawasan elit tempat beberapa artis, pengusaha, dan politikus bermukim. Rumah yang dulu Arki tempati bersama ibunya, sebelum akhirnya perselingkuhan Arya terbongkar bertahun-tahun lamanya. Lucunya bukan hanya dengan satu perempuan, melainkan tiga orang sekaligus. Dua diantaranya sudah melahirkan anak dengan usia yang tidak terlalu jauh dengannya. Adrian dan Aditya.


“Mas Arkian, maaf Pak Arya sedang tidak bisa dikunjungi. Beliau sedang menerima tam—”


Pukulan langsung mendarat di wajah pengawal yang belum sempat selesai berbicara itu. Arki tidak mengerti sejak kapan ayahnya begitu senang menempatkan pengawal di kediamannya. Padahal dulu rumah tersebut hanya diisi oleh ART, tukang kebun, dan satpam saja. Apakah sekarang dia takut diculik, diracun, ditembak tiba-tiba? Memangnya dosa apa yang dia lakukan hingga begitu waspada?


Tak begitu lama pengawal yang lain menghadang Arki. Kemarahan sudah berada diujung kepalanya, dengan membabi buta dia menghajar 7 orang yang berdatangan menyerang tanpa ampun. Ini dulu adalah rumahnya, sekarang dia diperlakukan layaknya penjahat karena ingin memasukinya.


“Gita!” teriak Arki saat berjalan memasuki rumah mewah tersebut, setelah menumbangkan orang-orang yang menahannya. Memanggil nama istrinya dengan hati yang kacau, karena amarah dan kekhawatiran yang tidak bisa lepas.


“Gita, dimana?” tanya Arki pada ART yang kebetulan menghampiri di ruang tamu.

__ADS_1


“Di ruang makan, Mas. Lagi sama Pak Arya,” balasnya takut-takut. Melihat kemarahan Arki menggelegak seperti ombak saat badai, ART tersebut hingga tidak berani menatapnya.


Lekas langkahnya ditujukan ke ruang makan. Bayangannya tentang Gita berseliweran. Menangis, terpurukk, melamun, terluka, dan menderita. Bersama ayahnya yang duduk jumawa dan tertawa. Kepalanya sakit hingga berjengit membayangkannya.


Saat sampai disana pemandangan yang diputar dikepalanya sirna. Gita berbincang santai dengan ayahnya, serta istri muda yang pernah ditemui Arki secara tidak sengaja. Arki bingung hingga mematung tidak bergerak melihatnya.


“Ayo makan, Git. Ini ikan kerapu goreng. Favorit Ayah,” kata Arya menyodorkan sepiring penuh ikan dihadapan Gita. Hanya senyuman dan anggukan saja yang Gita lakukan, merasa sangat sungkan.


Arya menangkap sosok Arki yang baru tiba. Keadaannya kacau, acak-acakan, dari atas kepala hingga ujung kaki. Seperti layaknya seorang yang habis berkelahi. Tatapannya masih sangat marah, sekaligus bingung yang tidak bisa dijelaskan.


“Arkian, kamu tuh kalau pulang ke rumah, jangan biasakan menghajar pengawal-pengawal yang udah Ayah tempatkan! Kamu ini emangnya gengster” kata Arya dengan tenang mengomentari. Dia tahu pengawalnya sudah tumbang dihajar anaknya.


“Ngapain kamu bawa Gita kesini?” tanya Arki dengan amarah yang belum mereda. “Gita, ayo pulang!” lanjutnya menatap Gita.


“Loh, Ayah cuma ngajakin Gita makan malam dan kenalan aja. Padahal udah berapa kali kamu disuruh datang kesini memperkenalkan istrimu. Masa kamu ga mau terus sih?” Arya tetap menjawab santai pertanyaan penuh amarah dari Arki.


“Jangan sok baik! Aku tahu pikiranmu busuk. Kamu ngomong apa sama Gita? Kamu mempengaruhi apa ke Gita?” tuduh Arki.


Arki langsung mengernyit, tahu bahwa ayahnya sedang mempermainkannya. “Gak usah pura-pura dan jangan ngomong sembarangan sama Gita!”


“Ck… Kamu itu emang dari dulu emosian. Cepetan duduk dan ikut makan malam!” perintah Arya.


“Gita, ayo pulang!” kata Arki membalas perintah Arya. Gita bergeming. Masih duduk di meja makan menatap Arki yang berdiri dan memandang sengit ayahnya sendiri.


“GITA CEPETAN PULANG!” teriak Arki tidak sabar karena melihat Gita yang tidak bergerak.


Akhirnya Gita berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Arki. Dengan cepat Arki meraih tangan Gita, menggenggamnya erat, setengah menyeretnya bergerak meninggalkan ruang makan. Arki bahkan tidak peduli untuk mengucapkan kata berpamitan pada ayahnya.


“Gita, nanti datang kesini lagi ya! Ayah tunggu kedatangan kamu,” seru Arya sambil menyeringai penuh kemenangan.


Gita menoleh sekejap dalam perjalanannya pergi, tanpa membalas apapun. Arki terus menyeretnya berjalan melewati koridor dan ruangan-ruangan yang berkelok menuju pintu keluar. Berbagai lukisan, patung, dan pajangan seni memenuhi ruangan yang Gita tidak tahu fungsinya apa.

__ADS_1


Saat mencapai pintu keluar, Gita kaget melihat beberapa orang terkapar dan dibantu oleh para ART dan pengwal lain berdiri. Para pengawal yang dilihatnya saat masuk terluka dan beberapanya tidak sadarkan diri. Sepertinya Arki benar-benar mengamuk tadi. Gita mengkerut takut.


Arki terus berjalan melewati keributan para pengawal yang terlihat ketakutan saat Arki melintas. Sesampainya di depan rumah, diantara taman luas sebelum parkiran, Arki berhenti. Dia menatap Gita lekat dengan kepanikan yang belum meninggalkan tatapannya. Seketika dia langsung memeluk Gita. Menenggelamkan kerisauan yang menyiksa dadanya hebat dalam dekapan erat.


“Kamu gak apa-apa kan, Git? Ayahku gak ngapa-ngapain kamu? Kamu gak terluka, kan?” kata Arki membredel pertanyaan.


Gita mendorong tubuh Arki menjauh karena sesak. Laki-laki itu seperti sedang meremukkannya dengan pelukan yang sangat kuat.


“Sakit!” keluh Gita. Arki baru menyadari pelukannya ternyata membahayakan istrinya. “Aku gak apa-apa,” lanjut Gita mengkonfirmasi.


Gita masih melihat tatapan itu dimata Arki. Tatapan yang sama saat dia tiba di IGD ketika dikabari bahwa Gita mengalami kecelakaan. Panik, kacau, marah, dan ketakutan yang bertumpuk-tumpuk membuat Arki terlihat sangat berantakan. Benarkah dia peduli padanya?


Apakah ini juga bagian dari kepura-puraannya? Nyaris sepanjang waktu selama beberapa dua bulan ini Arki mengacuhkannya. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah lagi dan membingungkannya? Mana Arki yang sebenarnya? Yang berkata untuk tidak usah saling perhatian dan mengikuti aturannya serta memandang hubungan mereka hanya sebatas teman ranjang? Ataukah Arki yang dilihatnya begitu khawatir sekarang?


Mereka sudah masuk ke dalam mobil. Tapi Arki belum menyalakan kendaraannya. Dia menyandarkan kepala di kursi kemudi, matanya terpejam. Dia terlihat seperti sedang mengatur napas, mengatur amarahnya agar segera mereda. Seluruh tubuhnya penuh rasanya tegang, bahkan setiap syarafnya saja menjadi waspada. Hal yang sering terjadi padanya saat mendapatkan kabar buruk terjadi pada Gita.


“Ayahku bilang apa sama kamu?” tanya Arki akhirnya, setelah amarahnya perlahan reda.


“Gak bilang apa-apa. Cuma kenalan aja sama Beliau dan istri barunya,” jawab Gita.


“Kamu gak lagi bohong sama aku kan, Git? Mustahil ayahku cuma kayak gitu doang,” desak Arki.


“Kamu gak percaya sama aku? Kamu terus menganggap aku pembohong, kan?”


“Arya Wibisana berbahaya. Jangan pernah dengarkan atau percaya kata-katanya!”


“Kamu juga gak gampang buat dipercaya,” gumam Gita nyaris tidak terdengar.


“Hah? Kamu ngomong apaan?”


“Gak apa-apa. Aku mengerti ucapan kamu. Cepetan jalan! Aku capek mau pulang,” balas Gita akhirnya.

__ADS_1


Arki akhirnya menyalakan mobil dan keluar dari rumah tersebut. Melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang. Tidak ada pembicaraan lagi disana. Hening dan dua orang yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Bila diingat kembali, ini pertama kalinya mereka berada satu mobil lagi setelah dua bulan saling mengasingkan dan mengacuhkan.


__ADS_2