Istriku Penipu

Istriku Penipu
Satu Ranjang


__ADS_3

Gita menghela napas dan memandang ragu kasur besar yang telah rapi dan bersih dihadapannya. Pada akhirnya dia kalah dan harus tidur satu ranjang dengan Arki karena mertuanya menginap di kamar yang Gita tempati.


Ini bencana! Bagaimana jika laki-laki itu melakukan pelecehan padanya lagi saat tertidur? Meskipun dia sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Gita tidak serta merta mempercayainya.


Dua buah guling Gita tempatkan di tengah kasur, membatasi wilayah tidur masing-masing. Lekas saja Gita membaringkan diri, menyelimuti tubuh dengan selimutnya sendiri, dan mencoba memejamkan mata. Meskipun demikian, dia tetap harus waspada terhadap semua pergerakan Arki malam ini.


Tidak begitu lama Arki masuk ke kamar, setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Harum aroma mint tercium menguar saat laki-laki itu mendekat. Gita berpura-pura terlelap. Tidak mau membuka mata atau sekadar mengobrol dengan Arki.


“Kamu mau lampunya dinyalain atau dimatiin?” tanya Arki yang sudah naik ke ranjang. “Git? Aku tahu kamu belum tidur,” lanjutnya ketika tidak ada balasan dari Gita.


“Matiin aja. Aku gak suka tidur lampunya nyala,” balas Gita akhirnya menyerah.


Arki terkekeh, kemudian mematikan lampu kamar. Dia hanya menyalakan lampu tidur yang temaram di dekat nakas. Kemudian membaringkan diri di tempatnya. Dia melirik guling yang bertengger membentengi antara dirinya dan Gita, kemudian tersenyum tipis.


“Kamu segitu takutnya sama aku sampai pasang pembatas gini,” kata Arki membuka obrolan sebelum tidur, karena tahu Gita masih terjaga disebelahnya.


“Aku gak percaya sama kamu. Tidur satu ranjang sama kamu itu gak aman, kayak lagi mengumpankan diri sama penjahat.”


“Aku bukan penjahat, aku suami kamu.” Arki tertawa kecil mendengar penuturan Gita. “Tapi, aku juga kadang gak percaya sama diriku sendiri sih, bisa aja aku jadi jahat.”


“Kamu emang selalu jadi penjahat, bersikap kurang aja dan melecehkan perempuan.”


“Aku gak pernah melecehkan perempuan, waktu itu aku cuma lagi mabuk aja. Gak sengaja,” ucap Arki membela diri. “Lagian semua orang punya sisi jahatnya sendiri. Kamu juga gitu kan, Git?” lanjutnya tenang.


Gita tidak menjawab. Tidak mengerti maksud Arki mengatakan hal itu. Arki memang sudah menunjukkan sisi tidak terduganya pada Gita. Padahal dulu dia sempat mengira laki-laki ini hangat, pengertian, dan punya pikiran yang terbuka. Ternyata Gita salah. Ada banyak hal yang tidak Gita ketahui tentangnya, yang kian hari makin mengganggu.


Semua itu mendorongnya untuk segera mengakhiri pernikahan ini dengan cepat. Tidak peduli keuntungan yang akan hilang darinya jika bercerai dari Arki. Gita tahu ada bahaya yang akan menghadangnya jika sampai Arki mengetahui semua kebohongannya, maka semua itu harus segera disudahi.


“Aku gak mau ngomong lagi sama kamu. Udah malam, aku ngantuk. Jangan macam-macam pas aku tidur! Kamu udah janji kemarin gak akan macam-macam lagi.”

__ADS_1


Gita menyudahi percakapan mereka, menarik selimut hingga ke leher. Meskipun hatinya tidak tenang, tapi lelah sudah mencapai pelupuk matanya. Aneh sekali tiba-tiba sangat mengantuk. Padahal tadi dia setengah mati gugup karena harus satu ranjang dengan Arki.


Disebelahnya, Arki masih terjaga menatap langit-langit kamar. Dia sama sekali tidak bisa mengistirahatkan pikirannya. Berulang kali dia mencoba tertidur, tapi tetap terbangun kembali. Akhirnya Arki hanya memainkan ponselnya sambil berbaring. Melihat-lihat berita, video lucu, hingga sosial media yang sudah tidak pernah dibukanya.


Di beranda sosial medianya, Arki langsung melihat postingan dari Luna dengan latar belakang Menara Eiffel. Mereka memang masih berteman di sosial media, meskipun sudah lama berpisah. Tapi hingga sekarang mereka tidak pernah saling menghubungi. Selain tidak punya urusan apapun, Arki tidak mau terus mengenang hubungan mereka yang hancur berantakan.


Hal yang selalu Arki sesali hingga sekarang adalah mencintai gadis itu sepenuh hati, sampai membuatnya terjatuh dalam keterpurukan dan kebencian yang mendalam. Entah itu benci, terhina, atau cinta yang terus dia rasakan ketika melihat wajah cantik Luna.


Lama setelahnya, Arki tidak mampu lagi mencintai orang lain setulus itu. Pacar-pacar yang mengisi harinya juga tidak mampu mengisi hatinya.


Gita? Entahlah, Arki tidak tahu apa yang dia rasakan pada perempuan itu. Mungkin sejenis obsesi tidak wajar untuk menggaulinya. Semuanya hanya dorongan hasrat saja yang membuat Arki menginginkan keberadaan Gita disisinya.


Arki terus menjelajah di akun milik Luna, melihatnya tertawa dan bahagia dengan liburan dan pekerjaannya. Memuakan!


Tapi sebagian hatinya sangat merindukan perempuan itu. Bagaimana mereka saling memeluk dan mengecup. Hari-hari indah ketika merapatkan tubuh dan melenguh di apartemen yang mereka beli bersama. Arki benar-benar merindukan rasa itu lagi.


Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Tanpa sadar Arki terhanyut kembali mengenang Luna. Dia menutup ponsel dan menyimpannya di nakas. Meskipun sudah berhenti memainkan ponsel, Arki tetap belum ingin terlelap.


Arki menyingkirkan guling yang menghalangi mereka, melemparnya ke sembarang tempat hingga bergulung jatuh ke lantai. Tubuhnya merangsek mendekat, memeluk Gita dari belakang. Salah satu tangannya menjelajah perut dan mengelusnya terus kebawah, tapi berhenti tiba-tiba kemudian tersenyum. Apakah boleh melanjutkannya hingga kesana?


Hidungnya mengendus rambut Gita yang berurai panjang. Sangat wangi dan manis, menguar aroma shampoo, benar-benar menggodanya. Kecupan kecil Arki daratkan di tengkuk Gita yang tersibak dari rambut, kemudian bibir itu dia arahkan ke lehernya yang jenjang. Putih, lembut, dan hangat.


Arki terus merapatkan tubuhnya memeluk Gita, hingga punggung gadis itu berada di dadanya. Mengalirkan kehangatan yang sangat diinginkannya. Tangannya juga menggerapai liar ke dada. Menemukan jalannya untuk meraup salah satu bagian tubuh itu dengan nakal. Tidak hanya itu, sekarang tangannya mulai menelusup membuka barisan kancing piyama Gita.


Arki kehilangan kendali setelah menejelah tanpa sadar seperti itu. Menginginkan lebih daripada yang boleh dia dapatkan. Kemarin dan tadi pagi, dia sudah berjanji pada Gita untuk menjaga perilakunya. Tapi percuma, hasratnya memburu berlarian ketika menyentuhkan dirinya pada Gita. Benar-benar obsesi baru yang merepotkan!


Tubuh Gita dia dorong hingga terlentang. Anehnya gadis itu tidak terbangun sama sekali, mungkin dia sudah berada jauh ke dalam dunia mimpi. Hingga tidak sadar Arki sudah melucuti kancing piyama atasnya, bahkan menyingkap penutup dada dan menampilkan pemandangan paling memabukkan.


Bawahan piyama Gita juga sudah terhempas jauh entah kemana. Kini Arki sibuk mencerup bibir indah Gita yang terlentang pasrah tak berdaya.

__ADS_1


Tidak begitu lama setelah melancarkan aksinya meyesap dan mendaratkan ciuman, Gita terbangun. Bingung, kaget, takut, dan ngeri dengan keadaannya sendiri yang sudah hampir tidak berbusana. Laki-laki paling dibencinya berada diatas tubuhnya, sibut memagutkan bibir hingga teriakannya tenggelam dalam decapan riuh. Kantuk Gita tiba-tiba sirna saat itu juga. Mimpinya buyar beterbangan dihempas kepanikan.


Gita berontak, menendang marah, menangis dan mendorong tubuh Arki yang sudah menguasainya. Tapi tangisnya hanya hening, karena Arki kemudian melepaskan bibirnya, memandang Gita sekilas dengan tatapan paling menakutkan yang pernah Gita lihat, dan mendekatkan bibirnya ke telinga.


“Sssttt … Diam! Nanti ibu kebangun!”


Tubuhnya membeku seketika menerima peringatan dalam nada rendah suara Arki. Hanya air mata yang turun ketika bibir Arki mulai menyelingkit di antara kedua tungkainya. Gita merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Entah apa yang bergerak disana, mungkin lidah Arki yang berlarian liar membuatnya hilang kewarasan.


“Arkian … udah … “ mohon Gita dengan suara paling aneh yang pernah dia ucapkan.


Malah dia sekarang nyaris tidak mampu berkata-kata, selain menelusupkan nama Arki diantara desa hannya. Entah memohon untuk berhenti atau melanjutkan, hingga Gita tidak sanggup berpikir jernih.


Arki terus bergerak disana, hingga tubuh Gita menjadi kejat, kaku, dan mengangkat dengan sendirinya. Cengkraman kuat kedua tangannya dibantal dan perasaan puas setelah melepaskan, adalah pengalaman baru yang nikmat dan menakutkan. Bukan hanya air mata saja yang meleleh ditubuh Gita saat itu, tapi hal lain di kedua tungkainya melimpas keluar.


“Enak, Git?” tanya Arki tenang sambil tersenyum, melihat apa yang sudah dia lakukan pada istrinya. “Giliranku,” lanjutnya lagi bersemangat.


Arki menyusun bantal hingga beberapa tumpuk, menempatkan tubuh lunglai Gita disana. Beru kemudian menganggalkan satu persatu kain yang membalutnya. Gita terperangah saat Arki membimbing tangannya untuk menyentuh sesuatu yang aneh di tubuh laki-laki itu.


“Bangunin dia!” perintah Arki.


Tapi Gita bingung apa yang harus dilakukannya. Dia hanya mengikuti cengkraman tangan Arki di benda tersebut hingga dia berdiri sempurna dan membuat Gita ketakutan, sampai menarik tangannya dari sana.


Jelas Arki tidak kalah kuat untuk membiarkan Gita berhenti, tangan kecil dan mulus itu harus terus membelai ular paling mematikan disana. Teratur dan lama hingga memuntahkan bisa yang mengotori tubuh indah Gita yang tanpa busana.


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pelaku utama acara ular-ularan :

__ADS_1



__ADS_2