
Aroma minyak aromaterapi yang menenangkan menyeruak saat Basuki memasuki ruang spa di rumah majikannya. Arya sedang menikmati setiap pijatan lembut yang dilakukan oleh terapis cantik dan molek.
Basuki sudah hapal apa yang akan terjadi setelah ini. Adegan pergulatan penuh keringat. Sejak dulu majikannya ini memang senang bermain perempuan. Hingga tidak terhitung berapa banyak gadis yang sudah Basuki persembahkan untuk melayani keinginannya.
“Gimana? Arkian udah hubungi kamu?”
Arya menyadari keberadaan Basuki yang baru saja masuk ke ruangan dan berdiri tidak jauh darinya. Dia mendongakan sedikit kepalanya untuk melihat bawahannya tersebut.
“Belum, Pak. Saya sama sekali belum menerima panggilan apa-apa dari Mas Arkian,” jawab Basuki sopan.
Arya terkekeh. “Udah gak doyan dia sama cewek dari keluarga kaya dan cakep-cakep, heh? Lama juga mau hampir tiga bulan belum dilepeh tuh cewek.”
“Saya dapat info dari orang dalam, kalau istrinya Mas Arki beberapa waktu lalu pernah keguguran. Tapi sampai saat ini saya gak menemukan rekam medis di rumah sakit manapun tentang kehamilannya.”
“Cewek itu pernah hamil? Hmm… jangan-jangan Arkian jadi lembek gara-gara cewek itu pernah hamil anaknya. Gak bisa dibiarin kalau kayak gini. Masa penerus Wibisana berasal dari cewek gak jelas? Bisa malu aku sama teman-teman bisnisku. Kalau buat pelarian doang sih boleh, tapi buat jadi istri dan melahirkan anak harus dari keluarga terpandang,” gerutu Arya tidak senang dengan kabar yang di dengarnya. “Si Adrian sama Aditya gimana?” lanjutnya penasaran dengan kabar anaknya yang lain.
“Mas Adrian sepertinya semakin dekat sama Mbak Nabila, kemarin baru pulang liburan berdua dari Bali. Kalau Mas Aditya belum ada yang terlalu dekat, tapi beberapa calon yang Pak Arya pilihkan sudah diajak bermalam di hotel dan apartemennya.”
Arya tertawa kencang. “Bener-bener si Aditya tuh! Bocah nakal. Ya udah pantau aja mereka buat sekarang dan jalankan rencana. Terutama masalah Arkian. Pokoknya awal tahun depan kalau bisa mereka udah pisah. Ya, Basuki?” perintah Arya.
“Baik, Pak. Nanti saya atur.”
Basuki keluar dari ruangan spa. Lekas dia menelepon seseorang dikejauhan sana. Dia sudah tidak aneh dengan pekerjaannya untuk mengawasi dan melaporkan kegiatan anak-anak Arya Wibisana. Anak-anak yang bagi majikannya hanya pion dan pelengkap hidup demi mewarisi kerajaan bisnisnya.
...****************...
“Git…”
“Gita!”
“Gita!”
“Ya?” Gita mengerjap terbangun dari tidur singkatnya yang tidak dia sengaja saat meeting divisinya. “Maaf, Pak. Saya ketiduran,” ucap Gita jujur dan merasa malu.
“Kamu kurang istirahat atau sakit?” tanya Usman.
Sebenarnya dia ingin memarahi Gita saat itu juga, jika tidak mengingat siapa suami Gita. Usman tidak ingin bermasalah dengan Arki. Meskipun adik tingkatnya itu mengatakan untuk memperlakukan Gita sama halnya seperti bawahannya lain, tapi mana mungkin dia berani macam-macam dengan orang yang berhubungan dengan keluarga Wibisana.
__ADS_1
Dia sudah melihat sendiri bagaimana Arki menghancurkan karir rekan kerjanya dan mantan tunangannya. Hanya karena Luna berasal dari keluarga berpengaruh pula lah alasan dia tetap bertahan. Orang-orang seperti dirinya yang tidak memiliki kekuasaan tidak boleh berani bermain api.
“Saya gak apa-apa, Pak. Maaf.” Gita tidak bisa menyingkirkan rasa bersalahnya. Benar-benar tidak profesional.
“Beberapa minggu ini kayaknya sering kecapekan dan ketiduran. Jangan-jangan kamu hamil ya, Git?” sela Femy menggoda.
“Iya tuh. Kan dulu sempat muntah-muntah di kantor.” Gina menambahkan.
“Nggak kok. Aku gak hamil. Cuma kurang tidur aja.”
“Eheemm… Kurang tidur habis ngapain nih?” Rena mulai menggoda Gita.
“Nonton piala dunia kali,” kata Tama menengahi. Gita mengerling pada Tama, tersenyum dan mengangguk.
“Udah, udah. Fokus lagi ke meeting!” Pak Usman mulai mengarahkan lagi pembicaraan ke arah yang benar.
Pikiran rekan kerjanya tentang penyebab kelelahan dan mudahnya dia tertidur, bahkan saat meeting seperti saat ini memanglah benar. Arki membuatnya kekurangan jam tidur selama dua minggu kebelakang.
Setelah menyerahkan miliknya yang paling berharga, tidak ada ampun selepas itu. Meskipun mereka tidak melakukannya setiap hari, tapi Gita sangat kewalahan mengimbangi energi Arki. Belum lagi tekanan batin yang dialaminya setiap kali Arki menyentuh miliknya.
Tubuhnya rontok seperti daun kering. Apalagi ketika mulai beraksi, Gita hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Arki. Bukan berarti Gita menyukainya. Dia membenci dirinya sendiri, merasa terhina, kotor dan menjijikan. Tapi Arki bukan tandingannya.
“Nih. Minuman energi biar kamu lebih semangat.” Tama menyimpan sebotol minuman berenergi di hadapan Gita.
“Makasih ya,” balas Gita tersenyum canggung.
Tama terus menatap Gita yang belum menghabiskan makan siangnya. Sama sekali tidak berselera menyentuh makanan. Sekarang apapun yang masuk ke mulutnya terasa hambar. Padahal harusnya dia bersyukur bisa memakan makanan enak dan mahal seperti ini. Tidak seperti dulu saat masih miskin.
Gita menyadari tatapan Tama yang sejak tadi terus mengarah padanya. Tanpa disembunyikan. Merasa canggung dengan itu, Gita mengalihkan pandangan ke sekitar kantin yang sudah mulai ditinggalkan karyawan satu persatu. Menyelesaikan waktu istirahatnya.
“Kamu balik duluan aja ke ruangan,” kata Gita canggung.
“Are you okay, Git?” tanya Tama terlihat khawatir. Jemarinya menaikan sedikit lengan baju Gita yang panjang hingga terlihat lebam di pergelangan tangannya.
“I’m okay.”
Gita menarik tangannya, menyembunyikan di bawah meja. Luka yang diakibatkan perlawanannya pada Arki tadi malam. Saat Gita mencoba melukai Arki menggunakan cutter yang dia temukan di meja saat mereka ber cinta di ruang kerja rumahnya.
__ADS_1
Arki mencengkram lengan Gita hingga dia melepaskan cutter tersebut. Sekarang saja Arki tetap marah karena Gita menggunakan senjata berbahaya untuk melawannya.
“Kamu gak lagi mengelami KDRT kan, Git?” Alis Tama bertaut, memandang Gita dengan serius.
“Nggak kok. Suamiku gak pernah melakukan KDRT,” jawab Gita cepat.
Arki memang tidak pernah melakukannya. Memukul, menampar, atau dengan sengaja menyakiti Gita. Tapi dia memaksa Gita untuk melayaninya. Dia hanya melindungi diri dan menghentikan Gita yang mulai berontak. Apalagi mengambil benda apapun di dekatnya untuk dipukulkan pada Arki.
“Kamu tahu gak? Kamu jadi lebih pendiam akhir-akhir ini. Aku kurang suka lihatnya, biasanya kamu banyak senyum. Tapi sekarang banyak melamun. Terus tiap makan juga gak habis.” Tama menunjuk bekal di hadapan Gita dengan dagunya.
“Gak selamanya oranng shiny and bright. Kadang-kadang ada masanya berkabut juga," balas Gita bercanda.
“Kalau kamu ada masalah cerita aja, Git. Meskipun itu masalah rumah tangga, tapi kalau udah membahayakan jiwa. Cari pertolongan dan orang yang bisa mendengarkan masalah kamu. Aku bersedia kok dengerinnya. Aku kan atasan kamu. I’m all ears.”
Gita tersenyum manis untuk meyakinkan Tama. “Makasih ya. Tapi aku beneran gak apa-apa. Cuma lagi butuh waktu sendiri dan berpikir aja.”
Gita sangat menghargai kebaikan Tama. Sebelumnya tidak ada yang seperti ini padanya, mempedulikannya saja tidak. Namun masalahnya dengan Arki teramat pelik untuk diceritakan. Dia juga berulang kali diancam untuk tutup mulut. Bahkan selama dua minggu ini Gita menghindari menjawab telepon dari Mia atau ajakannya untuk bertemu.
Dia takut tanpa sengaja akan menceritakan semua kesepakatannya dengan Arki pada sahabatnya. Gita sebenarnya sudah tidak tahan menyimpan ini sendiri. Hanya saja dia masih memikirkan bagaimana nasib Mia dan keluarganya. Gita mencoba berani menghadapi Arki. Meskipun sesuatu dalam dirinya mati setiap kali dia melayani laki-laki itu.
...****************...
Mobil Arki sudah menepi di tempat drop off kendaraan. Saat Gita akan berlari kecil menembus hujan yang turun karena lobby tidak terhalang kanopi, Arki sudah keluar lebih dulu dari mobilnya mengembangkan payung. Berjalan ke arah Gita dan memayunginya menaiki mobil.
Setelah duduk kembali di belakang kemudi, Arki menjalankan mobil ke luar area perkantoran. Mereka tidak berbicara, sudah seperti itu sejak lama. Tidak ada yang perlu mereka bicarakan layaknya pasangan. Perjalanan selalu berakhir dengan hening atau pertengkaran. Tidak ada hal lain diantara itu.
Sebelah tangan Arki membuka laci dashbord, mengeluarkan plastik putih dan menyerahkannya ke pangkuan Gita. Matanya masih menatap jalanan di depan dengan lihai. Takut laju kendaraannya menyimpang jalan.
“Tangan kamu masih memar, kan? Olesin salep itu sehabis mandi, sehari dua kali. Aku dapat resepnya dari Mbak Dina,” kata Arki berbicara tanpa melihat ke arah Gita.
Gita menegluarkan tube kecil dari plastik. Kemudian mengangguk pelan. “Hmm,” gumamnya singkat.
“Jangan kayak kemarin lagi! Udah aku bilang kan jangan melakukan hal berbahaya, apalagi pake senjata! Kamu yang bakalan terluka,” ucap Arki yang masih belum bisa melepaskan kekesalannya.
“Terserah,” balas Gita tidak peduli.
Dia sangat tahu tentang hal itu. Entahlah, Gita hanya panik kemarin saat Arki menelusupkan jemari kedalam wilayah rahasianya. Hingga refleks mengambil cutter yang tergeletak di meja dan menyerang Arki.
__ADS_1
Saat ini Gita sedang tidak ingin berdebat denga Arki. Tubuhnya begitu lelah. Gita hanya menyandarkan kepala dan punggungnya ke kursi, membiarkan kantuk menguasainya. Tak lama dia mulai terlelap tanpa peduli suara bising klakson di luar dan hujan yang turun semakin lebat.