Istriku Penipu

Istriku Penipu
Mencoba Jatuh Cinta


__ADS_3

Arki memandangi Gita yang memasang wajah kesal. Sepanjang perjalanan pulang perempuan itu terus mengomel karena serangan tiba-tibanya tadi. Cakaran dileher adalah hadiah spesial yang Gita berikan untuk perilaku tak tahu tempatnya itu.


Kini Gita sibuk mengunyah makan malamnya, meredakan amarah yang meledak-ledak. Pertemuannya dengan Mia terpotong dan Arki mencoba memaksanya ber cinta di dalam mobil di parkiran gelap sebuah mall. Hari paling gila dan menyebalkan. Laki-laki dihadapannya sudah tidak waras, otaknya hanya berisi hal-hal mesum.


“Kamu pake susuk atau pelet ya?” tanya Arki serius, masih memandang Gita dengan tatapan tajam.


Dia nyaris tidak bisa percaya bahwa penyakit anehnya itu belum sembuh juga. Padahal setiap kali melakukannya dengan Gita, tidak ada beban apapun yang dipikulnya. Tidak ada kenangan berkelebatan, tidak ada rasa jijik yang memuakan, dan tidak ada perasaan marah yang berkobar di dadanya.


Hanya Gita dan tubuh cantiknya yang mempesona.


“Kalau pun aku pake pelet dan susuk, gak mungkin targetnya kamu! Aku bakal pelet cowok yang lebih kaya, lebih baik, dan lebih waras,” balas Gita kesal.


“Gak ada yang kayak gitu di dunia ini. Masih mending kamu dapetin cowok kayak aku, dengan modal penipuan yang gak seberapa kayak gitu. Orang lain udah buang kamu pas tahu kamu cuma penipu gak tahu diuntung.”


“Kalau gitu buang aku kayak orang lain! Kamu tahu aku menipu dari awal, kan? Kenapa tetap memaksakan buat nikahin aku?”


Arki menghela napas, meredakan ketegangan di otaknya karena berpikir keras. “Aku tahu kamu bohong setelah lihat hasil USG palsu di kosanmu. Aku cari rekam medis di rumah sakit itu, tapi gak pernah ketemu nama kamu. Aku gak mungkin batalin pernikahan setelah meminta restu segitu sengitnya sama ibu. Lagipula aku juga pingin manfaatin kamu kok. Kita sama-sama saling memanfaatkan. Apa ruginya?” kata Arki santai.


“Apa ruginya? Kamu cuma kehilangan uang, tapi aku kehilangan harga diri.”


Arki terkekeh. “Banyak cewek yang menjajakan dirinya dan dibayar uang, banyak juga yang ngasih harga dirinya dengan gratis. Aku kasih kamu posisi paling tinggi yang diinginkan oleh cewek-cewek itu. Pernikahan. Harga diri yang kamu banggakan itu tetap utuh dalam pandangan orang.”


“Tapi nggak buat diriku sendiri. Aku ngerasa kehilangan diri aku sendiri karena menyerahkan hal yang paling berharga sama kamu.”


“Kalau begitu berhenti berpikir kayak gitu. Kamu cuma menderita dalam pikiran kamu sendiri. Aku gak pernah mempermasalahkan berapa banyak uang yang kamu habiskan. Meskipun aku tahu setiap rinciannya buat apa. Kenapa kamu juga gak mencoba buat gak ambil pusing masalah kayak gini? Cukup terima dan setelah itu selesai. Gak usah tiap hari ribut sama hal-hal kayak gini.”


“Maksudnya aku harus menerima semua pelecehan kamu? Kita bukan pasangan, aku gak pernah menganggap diriku itu istri kamu! Terus kamu bilang aku terima dan melayani kamu kayak pasangan pada umumnya. Aku bahkan gak cinta sama kamu!” teriak Gita emosi.


“Kalau gitu coba jatuh cinta sama aku. Biar kita sama-sama mudah buat menjalaninya.”


“Gak waras!”

__ADS_1


Gita melengos pergi, mengambil piring kotor dan mencucinya. Dia menggosok piring serta peralatan dapur bekas memasak dengan kasar, mencoba menghilangkan gusar yang tiba-tiba berputar tidak nyaman dihatinya.


Mencoba jatuh cinta dengan Arki? Pikiran jahat apa lagi yang ada dikepala laki-laki itu? Bagaimana mungkin semua perilaku menyebalkannya membuat Gita jatuh cinta? Satu kata yang paling tepat disematkan kepada Arki adalah kebencian. Begitu dalam hingga dalam mimpi saja Gita merutuk keberadaannya.


Gita sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Dunianya sibuk dipenuhi oleh beban hidup dan utang disepanjang perjalanannya. Terakhir kali dia merasakan debar-debar indah di dadanya mungkin saat dia SMA. Mengagumi sosok laki-laki baik, tampang, pintar dan populer di angkatannya. Bukan orang seperti Arki.


Meskipun dalam keadaan berbeda bisa saja sosok sepertinya menggugah selera.


Tapi sekarang laki-laki rupawan itu adalah monster yang membelenggu hidupnya. Semua hal baik lenyap diliputi oleh perlakuan tidak senonoh dan gila yang telah dia lakukan pada Gita. Tidak ada lagi ruang untuknya mencoba jatuh cinta pada Arki. Hal yang paling diinginkannya adalah laki-laki itu lenyap dari muka bumi.


Gita kembali teringat dengan pertemuannya dengan Luna. Dia menemukan kembali cintanya, laki-laki hangat yang memahaminya, membebaskannya dari obsesi memuakan Arki. Gita pun ingin menemukan orang seperti itu. Jatuh cinta kembali dengan orang yang menyelamatkan hatinya dari hancur yang kini dirasakannya. Gita ingin berselingkuh saja, menyingkirkan Arki. Meskipun harus membayarnya dengan kegelapan sekalipun.


Arki menyandarkan punggung dan kepala di kursi ruang kerjanya. Menatap langit-langit dengan tanya berputar di benaknya. Kenapa semua kenangan mengenai Luna tidak bisa hilang dari pikirannya? Kenapa hanya dengan Gita semuanya tiba-tiba lenyap begitu saja.


Dia tidak ingin menggantungkan hidupnya pada Gita. Pada perempuan sulit diatur dan merepotkan yang selalu membuatnya kehilangan kesabaran. Arki sudah menetapkan hati untuk menjadikan Gita seperti tempat pengobatan sementara. Menghilangkan keanehan yang ada dalam dirinya, hingga kemudian dia bisa menjalin hubungan lagi dengan perempuan-perempuan cantik yang sesuai dengan keinginannya.


Tentu saja Arki juga tidak berniat menerima perjodohan ayahnya. Hari ini dia hanya ingin membuktikan apakah dia sudah sembuh atau belum. Ternyata kecewa yang di dapatkannya. Lagi-lagi dia terus bertanya, kenapa harus dengan Gita?


Apalagi dengan gilanya, dia mengatakan pada Gita untuk mencoba jatuh cinta padanya. Tidak waras! Memang seperti itu kenyataannya. Bahkan hatinya saja sudah tidak bisa merasakan cinta. Bagaimana mungkin dia menyuruh orang nomor satu yang paling membencinya untuk jatuh cinta padanya.


...****************...


Gita memandang dirinya sendiri di depan cermin. Berdandan terbaik untuk sahabatnya yang akan melangsungkan hari bahagia. Dia mencoba untuk terlihat bahagia juga untuk Mia. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan dengan cepat. Tapi tidak ada sekalipun dalam hidupnya kini yang membuat Gita merasa bahagia. Dia semakin larut dalam kubangan menjijikan antara hubungannya dengan Arki.


Hatinya benar-benar mati, cahanya redup, dan jiwanya kian temaram. Dia membenci setiap saat di dalam hidupnya ketika berada dalam pelukan Arki. Mengutuk bagaimana tubuhnya sendiri begitu lasak dengan sentuhan laki-laki itu. Bahkan nyatanya, semua pori-porinya mengingat bagaimana mereka berpadu, bergerak pacu menuju kenikmatan yang memabukan.


Gita sekarang benar-benar merasa telah melacurkan diri sepenuhnya pada Arki. Saking terbiasanya, dia sudah tahu bagaimana saat tubuh Arki membutuhkannya. Tanpa kata, tanpa kode. Hanya sebuah sentuhan dan dekapan mereka sudah menyatu dalam peleburan. Meskipun hati mereka masih tercerai-berai.


“Lama banget. Cepetan nanti keburu siang dan macet!” Arki mulai mengomel di ambang pintu. Memperhatikan Gita yang masih bersiap di depan meja rias.


Gita segera bangkit dan berjalan melewati Arki yang bersedekap kesal. Mereka kini sudah terlihat seperti pasangan asli. Cocok, pantas, harmonis. Begitu puji-pujian tetangga yang kebetulan berpapasan di depan rumah. Juga begitu rupa yang tergambar disela obrolan Pak RT yang menagih iuaran setiap bulan. Pasangan muda yang bahagia. Jauh di dalam diri mereka ada kosong yang menganga.

__ADS_1


Mereka kira dengan terbiasa bersama akan ada perubahan di hati masing-masing. Ternyata salah. Menginjak 5 bulan pernikahan di depan mata, hati mereka masih dipasung keraguan, kebencian, dan ketakutan. Tidak ada yang benar-benar jatuh kemudian tumbuh menjadi benih perasaan. Hanya dua orang yang terikat dan saling memanfaatkan.


Gita iri pada Mia. Dia terlihat berseri dan bahagia, berdampingan dengan orang yang dicintainya dari lama. Sementara dirinya menjalani pernikahan kosong yang memuakan. Gita juga ingin dicintai dan ingin mencintai seseorang. Dia tahu bukan Arki orangnya. Laki-laki itu tidak pernah mewujudkan diri sebagai belahan jiwa. Dia jauh, angkuh, dan menakutkan untuk digapai. Gita merindukan sosok lembut yang membuat hatinya berdebar.


“Aku mau nyari minuman dulu,” kata Gita jengah terus berada di samping Arki.


Lagipula tidak ada obrolan hangat yang bisa mereka bicarakan. Laki-laki itu sibuk berkirim pesan, mungkin atasan, kolega bisnis, atau bisa selingkuhan. Gita tidak peduli. Malah bagus saja dia begitu, agar lekas ikatannya terlepas.


“Gita, ya?” sapa seorang pemuda tampan dengan senyum sumringah.


“Juan. Hai!” balas Gita tidak kalah gembira.


“Udah lama gak ketemu ya? Terakhir pas kelulusan SMA. Gimana kabar kamu?” Juan merangkum tangan Gita penuh kerinduan. Mereka saling berpegangan dan tersenyum riang.


“Baik. Kamu sendiri gimana? Sekarang kerja di Jakarta? Kok kayaknya aku jarang denger kabar kamu ya?”


“Aku baru pindah bulan ini ke Jakarta. Dulu kerja di Bali, jadi developer bareng orang Aussie. Kamu sekarang kerja dimana? Reuni dong! Kangen nih sama temen SMA.”


“Aku kerja di Marvelook, sebagai akuntan. Beberapa orang juga pernah menyarankan reuni angkatan loh di grup, tapi cuma wacana aja. Kamu gak masuk grup chat angkatan emangnya?”


“Nggak. Udah lost contact sama banyak orang. Ini aja diundang sama si Mia lewat IG. Save dong nomor aku dan undang ke grup!”


Gita mengeluarkan ponselnya dari tas dan menyimpan nomor Juan. Mereka terus berbincang hangat, mengenang masa muda saat sama-sama masih pelajar. Dia tidak mengira akan bertemu kembali dengan teman-teman lama yang dirindukannya di pernikahan Mia. Dulu Gita tidak mengundang siapapun ke acaranya yang sangat tiba-tiba.


“Siapa, Git? Kok gak dikenalin sama aku?” kata Arki yang entah muncul dari mana, menyingkirkan genggaman tangan Juan dari Gita. Dia dengan posesif menempatkan dirinya diantara mereka.


Gita terperanjat dan malu karena perlaku tidak sopan Arki pada temannya. Tapi sekarang Gita semakin ahli membaca situasi. Arki si posesit dan suka mengatur sedang membayangi.


“Suamiku, Arkian.” Gita memperkenalkan.


“Kamu udah nikah? Aku kok gak tahu ya?” kata Juan kaget. Dia mengalihkan pandangan pada dari Gita ke Arki yang menjulang dihadapannya. “Aku Juan. Temen sekelasnya Gita pas SMA,” katanya lagi sambil mengulurkan tangan pada Arki.

__ADS_1


“Arkian Wibisana,” balas Arki menjabat tangan Juan. Meskipun enggan.


Mendengar nama itu membuat Juan tertegun sejenak, hingga lupa melepaskan tangannya dari Arki. Ekspresinya menggelap dan senyum menghilang dari wajahnya. Dia tidak menyangka dunia begitu sempit mempertemukan mereka.


__ADS_2