
Arki sudah bisa mengendalikan diri. Berusaha lebih tepatnya. Padahal seharusnya ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar menyentuh, menggenggam, dan mencium Gita saat ini. Hal-hal lain di luar pemaksaan melampiaskan hasratnya.
Arki harus lebih terlihat simpatik, baik hati dan lembut agar bisa memenangkan Gita kembali. Terutama karena Gita saat ini masih mengira bahwa Arki berselingkuh. Harus ada bukti yang menunjukkan kebenaran agar pikiran dan perasaan rumit istrinya bisa terurai.
Kondisi Gita saat ini juga sedang dalam keadaan yang sangat lemah. Hamil dan terluka cukup parah hingga kepalanya harus menerima jahitan. Luka menyakitkan yang membuat perempuan cantik itu meringis kesakitan dan mulai menangis saat perawat mengganti perbannya.
Arki bukannya ingin mensyukuri momen memilukan tersebut. Tapi, saat ini Gita sedang memeluknya tanpa sadar karena sedang digantikan perban. Arki sebenarnya ingin tersenyum karena mendapatkan kesempatan memeluk Gita tanpa protes dan berdebat terlebih dahulu. Namun, berhubung itu tidak sopan. Arki hanya mengelus lembut punggung Gita dan berbisik kata-kata menenangkan.
“Habis ini siap-siap ketemu Dokter Juwita ya, Pak. Nanti saya ambilkan dulu kursi rodanya,” kata perawat meninggalkan ruangan.
Tidak berapa lama dia datang kembali seperti yang dijanjikan. Membawa kursi roda yang akan mengantarkan Gita memeriksakan kandungannya di ruangan Dokter Juwita. Arki membantunya agar bisa duduk di sana. Kemudian mendorong kursi roda keluar ruang rawat inap.
“Lho? Amang tukang rujak?” kata Gita kaget melihat orang yang dikenalnya sedang duduk bersama temannya di depan pintu ruangannya.
Laki-laki itu tersenyum kemudian menunduk. Gita mengingat, Arki mengatakan ada yang berjaga di depan ruangannya. Tidak akan membiarkan orang asing masuk kecuali perawat. Jangan-jangan penjaga yang dimaksud adalah tukang rujak langganannya. Orang-orang Arki yang selama ini mengawasinya.
“Orang-orang itu suruhan kamu? Sejak kapan kamu tahu aku masih hidup?” kata Gita. Selama ini bukan hanya Arya yang mengawasinya, ternyata Arki juga tahu tentang keberadaannya.
“Nanti kita bicara lagi soal itu. Kamu sekarang periksa kandungan dulu ya,” ucap Arki terus mendorong kursi roda sepanjang koridor.
Setelah sampai di depan ruangan pemeriksaan Dokter Juwita, mereka dipersilakan masuk oleh salah satu perawat. Dokter tersebut menyambutnya sambil tersenyum.
“Gimana kondisinya, Bu Gita? Masih sakit sampai sekarang perutnya?” ucap Dokter Juwita menanyakan kondisi Gita.
“Udah gak kerasa sakit, Dok. Tapi masih ngerasa gak nyaman di perut bawah,” jawab Gita.
“Oke. Kita periksa dulu, ya!”
__ADS_1
Dokter Juwita mempersilakan Gita untuk berbaring. Dibantu Arki, sekarang dia sudah berada di ranjang pemeriksaan. Sambil mempersiapkan alat USG, Dokter Juwita banyak bertanya mengenai keluhan-keluhan selama kehamilan dan juga sedikit cerita tentang luka-luka yang diperoleh Gita di sekujur tubuhnya. Akhirnya Arki dan Gita berbohong tentang kasus pengeroyokan oleh preman di kedai milik mereka berdua, agar tidak terlalu panjang bercerita.
Arki juga mendengarkan dengan seksama semua hal yang diceritakan oleh Gita pada Dokter Juwita. Tentang mual muntahnya, nafsu makannya, penciumannya yang sensitif, frekuensi pingsannya, dan perasaan-perasaan tidak nyaman yang Gita alami selama kehamilan. Dada Arki merasa sesak, begitu khawatir dan sedih. Harusnya dia berada di sisi Gita mendampingi dan melindunginya. Padahal beberapa perempuan mengalami banyak ketidaknyamanan di trimester awal, apalagi ini adalah kehamilan pertama Gita.
Tanpa sadar Arki menggenggam tangan Gita, mengelus pelan dengan ibu jarinya. Berharap kehadirannya sekarang bisa menggantikan semua waktu yang terbuang tanpanya. Arki ingin selalu mendampingi, tidak peduli Gita akan suka atau tidak.
Namun rupanya Gita tidak menyingkirkan genggaman tangan Arki, bukan karena dia memaafkan semua kesalahan suaminya. Gita hanya merasa nyaman dan aman sekarang. Biasanya dia akan berada di ruangan pemeriksaan sendirian, kecuali kalau Risa menemani. Menceritakan semua keluhan, mengkhawatirkan bayinya, dan berkonsultasi pada dokter tanpa suami.
Gita selalu iri saat melihat perempuan lain datang didampingi suami mereka. Penasaran bagaimana rasanya menggenggam tangan suaminya saat melihat hasil USG dimonitor. Melihat bayi mereka.
Sekarang Gita punya kesempatan itu. Meskipun hatinya takut dan diliputi ragu, juga luka-luka yang masih terus membayangi diantara hubungannya dengan Arki. Gita belum mampu percaya pada Arki. Apa yang dilihatnya tetap membekas dalam dan membuatnya begitu hancur berbulan-bulan. Gita menerima bantuan Arki yang sekarang mendampinginya. Tapi belum bisa memaafkannya.
“Bayinya sehat ya, Pak, Bu. Gak usah khawatir. Sekarang udah jalan 13 weeks 3 days. Perkembangannya sesuai dengan usia kehamilannya. Mungkin kram perut tadi pagi karena Bu Gita masih shock sama kejadian pengeroyokan kemarin. Tenangkan diri ya, Bu! Biar bayi dalam perutnya juga tenang. Dibantu jaga emosinya Bu Gita, ya, Pak!” ucap Dokter Juwita menjelaskan dan memberi nasehat. Sambil tangannya terus mengedar di perut Gita dengan alatnya.
Arki sejak tadi hanya mengangguk. Berdiri terpana dan terpesona sendiri dengan imagi hitam kecil di monitor. Dokter Juwita juga memperdengarkan suara detak jantung calon bayinya tersebut, yang sudah dikonfirmasi normal tanpa masalah. Perasaan Arki meletup-letup tidak kendali karena bahagia dan juga takjub sendiri. Ada makhluk kecil yang sedang tumbuh di perut Gita. Anaknya. Miliknya. Arki tidak tahu harus bersyukur seperti apalagi mendapatkan karunia seperti ini.
Setelah selesai pemeriksaan, Gita kembali ke ruangannya. Duduk lagi di ranjang dan menonton televisi sambil mengunyah roti bakar. Padahal perjalanan ke ruangan Dokter Juwita tidak jauh dan selama itu dia tidak berjalan sama sekali. Namun, rasanya tubuhnya menjadi lemas dan lapar tak terkira.
“Pantesan kamu tambah montok dan seksi. Makannya jago banget,” komentar Arki saat melihat Gita sudah menghabiskan setangkup roti bakar dan setengah porsi martabak telor.
“Bilang aja aku gendut sekarang, iya, kan? Sok-sok muji seksi. Aku gak mempan di gombalin,” balas Gita ketus.
Sebal karena Arki mengomentari penampilannya. Jelas saja karena dia memang mengalami kenaikan berat badan yang cukup signifikan akibat kehamilannya. Seringkali membuat Gita tidak pede saat mematut diri di cermin.
“Nggak kok. Kamu makin cantik. Aku jadi tambah sayang,” kata Arki sambil tersenyum menggoda.
“Jangan rusak selera makanku sama gombalan murahan kamu yang bikin enek itu ya! Stop! Gak usah ngomong lagi! Suara kamu jelek.”
__ADS_1
Arki mengulurkan tangannya kemudian mengelus perut Gita yang sudah sedikit menyembul. Hari ini untuk pertama kalinya dia melihat dan mendengar detak jantung calon bayinya. Kehangatan seketika melingkupi hatinya. Setelah berbulan-bulan hidupnya terasa begitu dingin dan menakutkan. Mendengar tentang kematian Gita dan melihat tubuh tercerai berai yang dulu dia anggap adalah istrinya. Sekarang dia berada disatu ruangan lagi dengan orang yang dirindukannya. Apalagi bukan hanya ada Gita saja. Tapi makhluk kecil yang kini menyertainya.
“Jangan pegang-pegang sembarangan!” Gita menyingkirkan tangan Arki dari perutnya.
“Gita, jangan teriak-teriak kayak gitu! Kamu gak denger dokter bilang harus jaga emosi kamu?” kata Arki memperingatkan dengan tegas. Terkadang dia tidak tahan untuk mengendalikan perilaku Gita yang terlewat batas.
“Kamu juga jangan marah-marah dan ngebentak. Dokter bilang bilang harus bantu aku jaga emosi. Gak usah pegang-pegang gak jelas apalagi ngebentak! Aku gak suka!”
Arki memejamkan matanya sejenak, menelan rasa kesal yang mulai naik membakar emosinya. Perdebatan dengan Gita tidak akan ada habisnya. Dia selalu punya cara agar Arki digulung amarah. Terkadang dia bingung sendiri, kenapa begitu mencintai perempuan merepotkan dan sulit diatur ini. Kesabarannya setiap saat seperti sedang diuji.
“Ibu pasti senang banget kalau tahu kamu hamil. Setelah pulang nanti, kita langsung kasih tahu ibu, ya?” Arki mengalihkan pembicaraan dan berusaha berbicara lembut kembali pada Gita.
Saat itu juga Gita langsung terdiam. Berhenti mengunyah makanannya dan terlihat merenung. Tiba-tiba saja hatinya dihantam rasa bersalah. Gita mengingat sosok Ela yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Pasti dia begitu kecewa ketika tahu Gita kabur dan berpura-pura meninggal. Menguburkan tubuh yang bukan dirinya, diiringi tangis dan doa tak berkesudahan. Gita tidak siap. Dia takut. Dia tidak mau menemui Ela.
“Aku gak mau pulang,” ucap Gita. Dia membereskan makanan dan mendorong overbed table menjauh. Kemudian berbaring sambil menyelimuti diri.
“Git, tolong jangan kayak gini! Kamu harus mikirin bayi dalam perutmu. Dia gak mungkin kamu besarkan sendiri. Kamu gak tahu rasanya tumbuh dengan single parent, kan? Cuma dapat kasih sayang dari ibu doang. Kamu mau, kalau dia kehilangan sosok ayah dan keluarga? Setelah kamu dibolehin keluar rumah sakit, kita langsung pulang ke Jakarta. Gak ada tawar menawar lagi!”
“Arki, please. Tinggalin aku sendirian. Aku udah gak mau hidup bareng kamu. Aku bisa besarin anak aku sendiri. Jangan pernah ngomongin aku lagi di depan ibu kamu!Aku gak akan pernah balik ke Jakarta!”
“Gita, jangan keras kepala dan bikin aku emosi! Apa sih masalah kamu? Kamu masih gak percaya sama aku? Masih anggap aku selingkuh? Aku lagi nyari bukti yang bisa memperlihatkan kalau kamu itu cuma salah sangka.”
“Aku gak perlu bukti. Kamu memang punya niat buat selingkuh dan udah melakukannya, kan?”
“Iya. Aku kepikiran buat selingkuh dan nyari cewek yang lebih baik dari kamu. Puas? Karena aku gak pernah ngerasa kamu punya perasaan apa-apa sama aku. Setiap hari yang kamu lakukan itu cuma marah-marah dan menuduhku melakukan hal jahat sama kamu. Kalau jadi aku, memangnya kamu gak pernah terpikir buat nyari perempuan yang bakal menghargai perasaan kamu?! Aku suami kamu, Git. Aku udah berusaha memperlakukan kamu dengan baik. Kamu menipuku, menggugat cerai, dan pergi ninggalin aku sampai aku hampir gila. Kamu pikir cowok bodoh mana yang bakal tetap mohon-mohon kayak gini sama kamu? Cuma aku, Git!”
Arki sudah tidak bisa berpura-pura lagi untuk tidak emosi. Dia tahu seharusnya tidak mengatakan itu smua pada Gita. Menekannya dan membuat semua hal terlihat seperti salah Gita. Ada bagian darinya yang salah juga dihubungan ini. Tapi Arki ingin memperbaikinya. Demi masa depan anaknya.
__ADS_1
Arki beranjak dari tempat duduknya. Segera keluar dari ruangan untuk menenangkan pikiran yang riuh dipenuhi emosi dan rasa bersalah yang saling bersahutan.
Gita terpaku di ranjangnya. Menangis dalam diam, merasakan emosi bercampur aduk di dadanya. Dia tahu bahwa semua perilakunya juga menyakiti Arki. Dia merasa bersalah dan terluka karena semua hal yang terjadi diantara mereka.