
“Hari ini aku lembur,” ucap Gita di sambungan telepon.
“Kamu sengaja ya ngasih tahunya jam segini? Aku pulang cepat hari ini, gak lembur. Sekarang udah sampai rumah,” balas Arki yang tidak bisa menyembunyikan nada kekesalannya.
“Nggak kok, beneran. Aku baru selesai meeting barusan, gak sempat hubungi kamu buat ngasih tahu lembur. Habis ini aku masih harus ngerjain kerjaanku yang belum selesai.”
“Emang gak bisa dilanjut besok?”
“Nggak bisa lah. Aku harus selesaikan hari ini. Nanti laporannya malah numpuk besok-besoknya. Kamu mau aku numpuk kerjaan dan jadi lembur terus?”
“Makanya kerja tuh yang efisien dan efektif. Jangan sambil ngegosip. Jadi kerjaannya gak tuntas, kan?”
“Sok tahu kamu! Kerjaannya emang lagi banyak aja. Sekarang kan udah mau akhir tahun, persiapan closing.”
“Ya udah, kamu selesai jam berapa?”
Hal yang paling dibenci Arki saat mengizinkan Gita bekerja adalah harus menyetujuinya lembur untuk closing di akhir tahun. Salah satu siklus akuntan yang tidak bisa dihindari. Untuk saat ini Arki akan mentoleransinya. Dia juga akan kembali sibuk dalam waktu dekat untuk persiapan audit quartal berikutnya.
Arki memarkirkan mobil di parkiran terbuka, kemudian turun sambil menenteng cup holder Starbucks menuju lobby. Gedung itu sudah sepi. Hanya beberapa lantai saja yang lampunya masih terlihat menyala.
“Malam, Pak!” ucap salah satu satpam menjegal langkah Arki masuk ke gedung. “Eh, Pak Arki. Perasaan udah lama gak kesini,” lanjutnya berubah ramah setelah menelisik tamu yang datang ke gedung tersebut adalah orang yang dikenalnya.
“Malam, Pak Agus. Gimana kabarnya nih? Masih shift malam aja? Gak ganti-ganti?” ucap Arki ramah sambil berjabat tangan dengan Agus. Mereka terlihat sudah sangat akrab.
“Ganti tiap 3 bulan sekali, Pak.”
“Pantes. Aku gak pernah lihat Pak Agus shift pagi, pas nganterin istri tiap pagi kesini.”
“Pak Arki udah nikah sama Bu Luna? Wah kok saya gak tahu ya?"
“Bukan. Aku sama Luna udah putus dari lama. Tapi istriku kerja disini, karyawan baru.”
Agus mempersilakan Arki untuk menunggu di sofa yang ada di lobby. Mereka terus berbincang santai sambil meminum kopi dan berbagi cerita. Hal yang sering Arki lakukan juga saat menjemput Luna pulang setelah lembur. Makanya Arki mengenal beberapa satpam yang berjaga di kantor tersebut.
__ADS_1
Pintu lift berdenting sejenak kemudian terbuka. Sosok perempuan dan laki-laki tampak sedang bercerita sambil tertawa keluar dari sana. Terlihat akrab dan larut dalam obrolan.
Arki langsung berdiri dari sofa dan menghampiri kedua orang yang sedang sibuk mengobrol itu. Ekspresinya tidak bisa ditutupi, terlihat tidak senang. Gita berbicara dan tersenyum seperti itu pada laki-laki lain membuatnya kesal. Padahal, jika bersamanya, perempuan itu hanya memasang wajah cemberut. Memusuhinya.
Tawa dan senyuman Gita langsung surut saat melihat Arki mendekat. Dia tidak mengira suaminya itu berada di lobby. Gita pikir Arki akan menunggunya di dalam mobil di tempat drop off seperti biasa. Jantungnya seperti akan melonjak dari rongganya, saat menatap ekspresi gelap dari Arki.
Tamatlah, Gita!
Arki pasti mengira dirinya sedang dekat dengan Tama, mengindahkan semua aturannya tentang interaksi dengan rekan dan atasan laki-laki yang tidak Arki sukai. Padahal Gita hanya sedikit beramah-tamah pada teman satu timnya, tidak mungkin dia dan Tama tidak saling berbicara.
Sepertinya Arki akan marah dan salah paham. Harinya sudah cukup buruk dan sibuk karena pertemuannya dengan Luna serta pekerjaan yang tidak ada habisnya. Sekarang Gita sedang tidak ingin membangkitkan kemarahan Arki.
“Kamu udah lama nungguinnya?” ucap Gita gugup.
Arki langsung mencengkram lengan Gita agar mendekat padanya. “Hmm ... Lumayan. Ayo pulang!” balasnya singkat.
“Oh ini suaminya Gita. Aku atasan langsungnya, Tama.” Tama mencoba bersikap ramah pada Arki dan mengajak berkenalan.
Kadang disaat seperti ini keramahan Tama malah sangat menyebalkan untuk Gita. Bisa-bisanya dia tidak menyadari Arki terlihat sangat tidak senang dengan keberadaannya. Gita saja bisa melihat ekspresi enggannya saat mencoba menjabat tangan Tama.
“Oh ya, aku lagi ngomongin soal rencana gathering sama beberapa gabungan divisi di Marvelook. Kemungkinan kita bakal ngadain acara tahun baruan di Lembang. Karyawan boleh bawa anggota keluarganya kok. Gratis! Kalian ikut, kan?” ucap Tama dengan semangat.
“Nggak. Gita gak akan datang,” ucap Arki cepat. Gita langsung kaget dengan jawaban Arki yang tanpa kompromi dengannya. Padahal Gita sangat ingin ikut acara tersebut.
“Yah, sayang banget. Padahal acaranya pasti seru kalau Gita ikutan.”
“Maksudnya gimana?”
Pintu lift berdenting kembali dan terbuka. Gita bisa melihat sosok Luna yang keluar dari sana bersama seseorang yang tidak dikenalnya. Tiba-tiba saja Gita menjadi panik dan memeluk Arki.
“Arki, ayo pulang! Aku lapar banget,” ucap Gita manja.
Arki terperanjat dengan tingkah Gita yang tidak biasanya. Tiba-tiba berperilaku manja dan memeluknya seperti sekarang. Dia juga langsung berpamitan dengan Tama, terus menggandeng Arki hingga mereka masuk ke mobil. Arki tanpa protes mengikutinya. Malah dia senang, sekarang jalan menuju mobil dengan Gita menggamitnya.
__ADS_1
Entah apa yang Gita pikirkan tadi, hingga panik dan melakukan hal seperti itu pada Arki. Memalukan! Menyebalkan! Kini Arki tidak bisa berhenti tersenyum di kursi kemudi dan menatap lekat pada Gita.
Rasanya ingin sekali membenturkan kepala ke dashboard mobil. Ini semua karena Gita melihat Luna yang tiba-tiba keluar dari lift. Entah kenapa dia tidak ingin Arki melihat mantannya itu. Bukan, ini bukan karena Gita cemburu. Hanya saja dia tidak suka dengan Luna. Itu saja.
“Kamu mau makan apa, Git? Katanya lapar banget,” ucap Arki sambil terus tersenyum. Dia baru melihat sikap manis Gita seperti ini semenjak menikah dengannya. Arki senang melihatnya manja dan menggemaskan seperti itu.
Gita ingin menjambak rambutnya sendiri, karena frustrasi dengan efek yang terjadi pada Arki akibat perilaku tidak masuk akalnya tadi.
“Steak,” jawab Gita kecut kembali.
Arki langsung menjalankan mobilnya menuju salah satu restoran steak terkenal di Jakarta. Setelah memarkirkan mobil, mereka masuk ke Wolfgang’s Steakhouse dan duduk disalah satu meja, kemudian memesan makanan.
Pesanan datang ke meja mereka tak begitu lama. Fried calamari, ribeye steak and mashed potato, Wolfgang salad, dan cheese cake. Gita memandang sejenak makanan yang dipesan oleh Arki. Seumur hidup dia tidak pernah memakan makanan mahal seperti ini.
Dia tidak menyangka Arki akan membawanya ke tempat seperti ini. Gita mengira, mereka akan makan steak di food court mall seperti yang selama ini Gita lakukan saat gajian, untuk mengapresiasi dirinya sendiri.
“Makan yang banyak,” kata Arki lembut. Semua ekspresi kesalnya hilang, yang tersisa hanya senyuman indah yang terus melengkung diwajahnya.
Seharusnya mereka terus seperti ini. Seharusnya Gita melihat wajah seperti ini dari Arki sepanjang pernikahan. Tapi kini dia lebih banyak melihat Arki yang marah dan kesal. Kenapa semuanya terasa begitu sulit dilakukan?
Gita memasukkan sepotong daging ke mulutnya. Rasa gurih perpaduan dari serat daging yang lembut dan lemak yang mencair dimulut begitu nikmat. Saat menggigit gigitan pertamanya, rasanya benar-benar tidak bisa dilupakan. Gita tidak tahan untuk tersenyum setelah memakannya. Jadi begini rasanya steak orang kaya.
“Enak?” tanya Arki yang tidak bisa berhenti memperhatikan gerak-gerik Gita.
Gita mengangguk dengan cepat tampak senang. “Hmm ... Enak banget. Aku suka,” jawabnya ceria.
“Maaf ya aku jarang ngajak kamu makan di luar kayak gini. Aku terlalu suka masakan kamu. Nanti kita sering-sering pergi makan di luar kayak sekarang.”
Gita tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkan oleh Arki. Dia tidak bisa berhenti mengunyah sambil tersenyum. Sepertinya orang-orang kaya bisa merasakan secuil rasa surga lewat makanan yang sangat lezat. Pantas saja orang-orang seperti itu berlomba-lomba untuk terus menjadi kaya dan tetap kaya. Siapa yang mau melepaskan salah satu kenikmatan dunia seperti sekarang?
Arki tidak banyak memakan makanannya. Sejak tadi dia hanya memandangi Gita yang sangat lahap dan senang dengan makanan di meja. Gadis itu terus memuji setiap makanan yang disuapkan ke mulut dengan penuh semangat. Senang melihat Gita yang ceria seperti itu, Arki terus menyuruhnya memesan makanan lain.
Semenjak menikah, mereka terus berselisih dan bertengkar. Sungguh hal yang melelahkan. Dia sempat melupakan betapa menariknya senyuman manis Gita yang sederhana. Sekarang dia bisa melihatnya kembali terukir diwajahnya, dengan versi yang lebih cantik dan menggoda.
__ADS_1
Arki sepertinya harus menarik kata-katanya tentang Gita. Gadis ini benar-benar menarik dan cantik, terutama saat sedang berbahagia seperti sekarang.