Istriku Penipu

Istriku Penipu
Kenapa Gita?


__ADS_3

“Aku yang gantikan Mas Erza buat dinas sama Pak Arki,” kata Amanda saat tiba di lobby hotel tempat Arki menginap beberapa bari untuk perjalanan bisnisnya.


“Saya gak dikasih tahu sama Erza kalau dia gak jadi berangkat,” kata Arki kesal. Dia mengeluarkan ponsel dan membuat panggilan telepon.


“Mungkin lupa ngasih tahu.”


“Harusnya hal penting kayak gini dia gak lupa. Gimana sih?” Arki makin kesal karena Erza lama mengangkat panggilan.


“Halo, Pak Arki,” suara Erza terdengar disambungan telepon.


“Kenapa kamu gak ngasih tahu saya gak bisa berangkat ke Surabaya? Amanda belum bisa dikasih tugas buat ke luar kota kayak gini. Saya butuh orang yang udah ahli buat kerja bareng saya disini,” omel Arki.


“Waduh. Amanda bilang dia udah dapat izin Pak Arki buat gantikan saya. Katanya dia sudah paham juga prosedurnya, makanya saya kasih kerjaannya sama dia.” Erza menjelaskan duduk perkara ketidakhadirannya di Surabaya.


Arki menatap galak pada Amanda. Dia memalsukan izinnya untuk menukar tugas dengan Erza. Benar-benar menyebalkan. Arki tahu semakin hari Amanda memang semakin berani berbuat kurang ajar padanya. Menabrak batas atasan-bawahan, seakan mereka benar-benar sudah dekat dan menjalin hubungan.


Padahal Arki tidak pernah lagi menggubrisnya sekarang. Rasa penasarannya sudah tidak meluap seperti dulu. Seiring memburuknya pikiran karena terus diburu perpisahan dengan Gita. Arki menjadi sering mengasingkan diri dan mengasingkan hatinya, sama seperti saat dia patah hati karena perselingkuhan Luna.


“Kamu—“


“Aku mau diberi kesempatan sama Pak Arki untuk belajar audit di kantor cabang. Aku anak baru, jadi harus banyak belajar kayak gini, kan?” potong Amanda, tahu bahwa Arki akan murka.


“Tapi gak sekarang! Kamu masih harus belajar dulu handle laporan di kantor. Saya tahu tujuan kamu bukan cuma pekerjaan, kan?” tuduh Arki.


“Bukannya Pak Arki janji mau mempertimbangkan tentang hubungan kita?”


“Saya gak pernah janji soal itu. Lupakan semua yang pernah aku omongin sama kamu!”


“Pak Arki gak bisa kayak gitu. Aku udah merasa dikasih harapan dan Pak Arki udah menciumku dua kali,” ucap Amanda tidak terima.


“Itu ciuman doang. Gak ada yang spesial. Kalau kamu merasa hal kayak gitu aja sudah berpikir saya kasih harapan. Berarti yang salah adalah kamu. Kamu butuh penegasan? Saya gak akan kasih kamu ikatan apapun. Saya gak tertarik sama kamu,” ucap Arki meninggalkan Amanda dan berjalan menuju kamar hotelnya.


Hari ini sudah cukup buruk bagi Arki. Tadi pagi dia harus mengantar Gita ke Bandara untuk pergi berlibur bersama teman sekelasnya. Bersama Juan. Arki ingin mengamuk, marah, dan mengikat Gita di rumah. Tapi jelas tidak akan bisa dia lakukan.


Perempuan itu ingin bebas darinya. Arki masih mengingat bagaimana Gita terlihat terluka memintanya segera memutuskan hubungan. Kini kebebasan yang seperti inilah yang harus Gita nikmati. Arki mencoba berbesar hati dan belajar menerima, karena perpisahan mereka sudah di depan mata.


Arki melihat ponselnya berulang-ulang sambil berbaring di atas ranjang. Berharap Gita menghubunginya dan mengabarkan apa yang sedang dia lakukan. Tidak ada pesan apapun sampai ke perangkatnya.


Haruskah dia menghubungi Gita dan menanyakan kabarnya?


Tidak. Perempuan itu benci dihubungi dan diteror dengan panggilan atau pesan darinya. Dia pasti tidak mau Arki mengganggu waktunya mendekatkan diri dengan Juan.

__ADS_1


Iya. Juan. Sialan! Arki rasanya ingin meremukkan tengkoraknya karena mendekati Gita, membuatnya tersenyum, dan membuatnya gembira. Hal yang harusnya Arki lakukan untuk Gita. Tapi tidak akan pernah bisa. Gita tidak menyukainya. Membenci sepenuh hati.


...****************...


Selama dua hari ini untungnya Amanda bersikap profesional di depannya. Tidak merengek atau membahas masalah hubungan mereka yang tidak jelas itu. Arki sudah cukup lelah dengan pekerjaan dan juga pikiran yang terus tertuju pada Gita.


Setelah makan siang dan penutupan audit di kantor cabang, mereka kembali ke hotel. Arki berniat akan pulang ke Jakarta lagi nanti malam. Dia ingin segera beristirahat di rumah.


“Pak Arki,” kata Amanda menarik lengan baju Arki saat mereka berjalan ke kamar masing-masing. “Aku gak enak badan,” lanjutnya terlihat lemah.


Arki menatap Amanda dan menghela napas berat. Dia menempelkan punggung tangan di dahi Amanda, merasakan suhu tubuhnya yang tinggi. Gadis ini tidak berpura-pura sakit sepertinya.


“Ya udah, masuk dulu ke kamar kamu. Nanti saya belikan obat.”


Arki masuk ke kamar hotel Amanda membawa obat dan cold pack untuk mengompresnya. Amanda tampak sangat lemah terbaring di tempat tidur. Makanan yang Arki pesankan lewat room service juga belum tersentuh. Arki menghela napas, enggan melakukan hal ini. Tapi dia tidak punya cara lain selain merawat Amanda hari ini, karena dia adalah bawahannya juga.


Bukan berarti Arki menyukainya. Dia tetap selalu waspada di dekat Amanda, karena mengetahui bahwa perempuan ini erat berhubungan dengan Arya. Mungkin salah satu kartu yang Arya siapkan untuk menjeratnya. Seandainya pun Arki benar-benar sembuh dan harus berpisah dengan Gita. Bukan Amanda yang akan menjadi tujuan hati berikutnya.


“Kamu makan dulu. Abis itu minum obat,” kata Arki duduk di pinggiran ranjang, membantu Amanda duduk untuk memakan bubur hangat.


“Aku mau disuapin sama Pak Arki,” ucap Amanda.


“Aku sakit bukan karena kecapekan perjalanan dinas dan kerja. Aku gak bisa tidur dan kepikiran sama omongan Pak Arki kemarin,” ucap Amanda jujur.


Matanya memerah, nyaris menangis. Dia terlihat pucat dan lemas. Memang sepanjang malam dia merasa sangat sedih dengan perkataan Arki. Menjatuhkan harapan yang sudah dia bangun begitu tinggi.


“Kamu masih muda dan cantik. Cari orang lain aja buat kamu sukai. Aku udah nikah dan gak mau sama kamu.”


“Tapi Kak Damar bilang Pak Arki akan segera bercerai. Kenapa gak memilihku? Aku sama sekali gak ada maksud apapun atau bekerjasama dengan Pak Arya!” Amanda begitu marah dan kesal.


Kalau Arki memang akan bercerai dengan istrinya, apa sulitnya membalas perasaannya atau mungkin sekedar mencoba dekat dengannya lebih dulu.


“Saya memang akan segera bercerai. Tapi aku belum tertarik menjalin hubungan dengan orang lain. Udah jangan banyak ngomong, cepetan minum obatnya dan tidur!”


Arki menyerahkan segelas air putih dan dua obat pereda demam pada Amanda. Dia memastikan gadis itu meminumnya hingga tandas.


“Telepon keluarga kamu, suruh orang dateng kesini jagain kamu. Saya mau balik ke Jakarta malam ini,” kata Arki yang kemudian bangkit dari tepian ranjang.


“Pak Arki mau ninggalin aku yang sakit sendirian disini?” Amanda lekas memegang lengan Arki dengan kuat, sambil bercucuran air mata. Wajahnya tampak panik dan terluka. Enggan laki-laki itu pergi.


“Kamu cuma demam doang. Gak akan sampai mati. Habis minum obat juga bakal sembuh,” kata Arki tidak peduli mencoba melepaskan tangan Amanda.

__ADS_1


“Aku gak mau! Aku gak mau Pak Arki pergi! Please, jangan tinggalin aku sendirian! Tolong temani aku malam ini aja!” Amanda menangis begitu putus asa.


Arki menepis dengan kasar tangan Amanda yang menjeratnya. “Jangan ngelunjak ya kamu!” bentak Arki marah.


Sebelum Arki sempat berdiri kembali, Amanda memeluk dan mengalungkan tangannya ke leher Arki. Dia mendaratkan ciuman pada laki-laki itu, bibir mereka bertemu, lidah mereka menari dengan liar dan bebas. Amanda menyerang dengan ganas, Arki terperanjat sendiri tidak mengira dia seagresif ini. Selalu mengira gadis ini polos dan tidak berpengalaman seperti Gita. Tapi dia cukup ahli memainkan kecupannya.


Hawa panas mulai saling bertukar. Sialnya Arki mudah terbuai. Kecupan dan dekapan Amanda membuatnya terlena. Gadis itu mulai membuka kemejanya, menuntut tangan Arki untuk bergerilya di dadanya. Sambil membaringkan tubuhnya, dia memperlihatkan pemandangan indah aset yang tidak pernah terjamah. Khusus dia persembahkan untuk Arki. Kali ini dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pujaan hatinya.


Amanda merasakan sensasi aneh saat tangan besar dan hangat milik Arki mempermainkan asetnya. Serta kecupan antara bibir yang belum lepas sejak tadi. Begitu menyenangkan bisa berada sedekat ini dengan orang yang dikaguminya sejak lama.


Begitupun Arki yang kini mulai menikmati. Perasaan yang lebih dari sebulan tidak dia rasakan. Menyentuh tubuh perempuan, karena dia sudah berhenti melakukannya dengan Gita. Istrinya itu memilih tidur terpisah, membuatnya haus akan pelukan dan sentuhan. Arki menyadari dia sekarang sudah sembuh sepenuhnya. Tidak ada bayangan Luna lagi yang muncul berseliweran.


Tapi saat kemudian Arki mulai semakin jatuh terbuai. Pandangannya seakan dihantam sesuatu hingga dadanya berpacu keras dan napasnya sesak. Bayangan tentang Gita bermunculan.


Perasaan sedih dan takut berkumpul membuat perasaannya tidak nyaman. Dalam pandangannya kini, wajah Gita terus menari. Ekspresi sedih dan tangis saat dia meminta Arki untuk melepaskannya pergi, seakan membuat Arki dihujam perasaan bersalah yang menyakitkan.


Arki segera mendorong tubuh Amanda, melepas semua sentuhan darinya, dan langsung berdiri. Dia melihat kedua tangannya gemetar dan air mata yang lolos ke pipi. Kenapa dia begitu sedih? Kenapa dia merasa sangat bersalah? Kenapa semua tentang Gita kini berputar dikepalanya?


“Pak Arki—”


“KAMU DIPECAT!” Bentak Arki.


Dia lekas berlari keluar dan menuju kamarnya sendiri. tergesa memasuki toilet dan mengguyur kepalanya di wastafel. Air dingin membantunya sedikit tenang setelah beberapa saat. Meskipun setelah mengangkat wajah dengan air bercucuran hingga ke baju, Arki masih tetap gemetar panik. Dia memandang dirinya sendiri di cermin besar di depan wastafel. Air mata tidak berhenti mengalir.


Kenapa sekarang dia begitu terikat dengan kenangan tentang Gita?


Setelah mengatur napasnya agar tenang. Arki mendengar suara ponselnya yang berdering kencang dari saku celana. Di layar gawai tersemat nomor Patra, salah satu bawahannya. Segera dia menerima panggilan tersebut.


“Halo, Pak Arki. Saya dan Agus sudah memantau aktivitas Bu Gita selama di Bali. Beliau sudah menyelesaikan acara reuni yang disusun panitia dan kembali ke hotel pukul 3 sore ini. Kemungkinan tidak ada acara lagi nanti malam hingga besok pagi berangkat kembali ke Jakarta,” kata Patra melaporkan tentang Gita pada Arki.


Meskipun Arki mengizinkan Gita beraktivitas bebas tanpa dirinya. Selama ini dia selalu menempatkan Patra dan Agus untuk mengawasinya diam-diam. Kegiatan Gita memang tidak jauh dari berkunjung ke warung makan Mia saja. Juga bertemu Juan disana. Makanya Arki cepat tahu bahwa keduanya semakin dekat karena pertemuan-pertemuan di warung makan Mia itu.


“Ada lagi laporannya?”


“Agus tadi siang baru dapat informasi tentang Juan. Dia punya seorang kakak yang setahun lalu bercerai dari istrinya kemudian tidak lama ditemukan bunuh diri. Rumornya karena stres dan tertekan karena ditinggal istri, dipecat dari pekerjaan, serta nama baiknya hancur akibat video asusilanya tersebar. Nama kakaknya adalah Hadi Prayoga, mantan pacar Luna.”


Arki tertegun sejenak. Pikiran buruk berlarian tidak terkendali.


“B a n g s a t!”


Kepanikan kini mengaliri tubuhnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2