Istriku Penipu

Istriku Penipu
Membuatkan Sarapan


__ADS_3

Arki menambahkan beberapa bumbu ke dalam masakannya. Tidak yakin harus menaruh seberapa banyak garam dan penyedap. Hanya berdasarkan insting dan perkiraan yang sepertinya tidak begitu tepat. Entahlah.


Dia jarang menyentuh alat-alat dapur, pun memasak makanan. Selain menyeduh mie instant atau merebus telur, Arki tidak pernah melakukan apapun lagi di tempat itu. Dapurnya bersih dan masih baru semenjak pertama kali pindah ke rumah ini setahun lalu.


Hanya Gita yang pernah memakainya, bahkan istrinya itu membuat dapur yang tidak pernah tersentuh, menjadi sangat hidup. Setiap hari asap dan aroma masakan mengepul di sana. Beberapa peralatan masak dan barang-barang yang Arki tidak tahu fungsinya juga bertambah.


Gita pun membeli kumpulan kotak-kotak kaca dengan tutup kayu untuk menyimpan berbagai jenis pasta, bumbu, dan bahan lain agar tertata rapi. Dia benar-benar menggunakan dapur itu sebagaimana mestinya.


Sayangnya, hari ini Gita absen menyentuh dapur. Sejak kemarin menutup rapat kamar tidurnya dan tidak bersedia keluar. Pertengkaran mereka kemarin membuat Gita mengurung diri hingga pagi. Padahal biasanya dia sudah sibuk bergerak gesit membuatkan sarapan.


Arki yang sudah sangat bergantung pada masakan Gita selama sebulan ini, merasa amat kehilangan dan tentu saja kelaparan. Perutnya yang tidak pernah telat diberi asupan, kini berbunyi nyaring. Hingga pukul 08.00 Gita tidak juga muncul dari kamarnya.


Dengan pengetahuan seadanya tentang dunia memasak, Arki mencoba membuat nasi goreng dan telur dadar. Menu sarapan sederhana yang nyatanya masih saja harus Arki contek dari video di internet agar tidak salah masak. Tujuannya jelas untuh membujuk Gita keluar dari sarangnya. Sekalian meminta maaf karena perbuatannya kemarin.


“Kamu bilang sama ibu kalau aku hamil?” ucap Gita tiba-tiba dari belakang Arki.


Wajahnya terlihat marah, tangannya terkepal, dan dia terlihat berantakan. Rambut panjangnya mencuat kusut dengan mata yang sembap. Sudah dipastikan Gita menangis semalaman dan itu adalah salah Arki.


“Iya, kemarin ibu telepon. Terus aku kasih tahu kalau kamu udah hamil. Lagian kita udah nikah sebulan, kan? Jadi gak apa-apa ibu tahu. Nanti dia ngerasa aneh kalau tiba-tiba lihat perut kamu membesar,” jawab Arki tenang. Melihat sekilas ke arah Gita yang masih kesal, kemudian memfokuskan dirinya kembali memasak sarapan.


“Kenapa harus bilang sekarang sih, Ki?”


“Loh, bukannya sekarang waktu yang tepat buat bilang?”


Tidak. Bagi Gita sekarang adalah waktu terburuk untuk mengatakan kebohongan itu pada mertuanya. Tadi malam, Gita sudah menyusun rencana untuk membuat kehamilannya terlihat seperti keguguran.


Dalam beberapa hari kedepan, sudah jadwalnya untuk datang bulan. Dia akan berpura-pura mengalami keguguran, setelah itu meminta cerai pada Arki. Hidup jauh dari laki-laki mesum menyebalkan itu. Lagipula semua utangnya sudah lunas. Artinya Gita sudah tidak punya kepentingan apapun lagi untuk mempertahankan status pernikahannya.


Tapi semua rencananya gagal, setelah mendapatkan pesan dari ibu mertuanya tadi pagi, mengucapkan selamat dan berbaris-baris doa serta harapan yang panjang. Satu hal yang membuat Gita begitu kesal dan frustrasi saat ini adalah, dia tidak tega membohongi perempuan itu. Meskipun baru mengenal ibu dalam waktu sebulan, Gita sangat menyayanginya.


Sosoknya seperti seorang ibu yang sudah lama Gita nantikan dalam hidup. Bahkan Gita sangat rajin menghubungi dan mengirim pesan padanya. Awalnya mungkin hanya pencitraan, lama kelamaan timbul kasih sayang.


Mereka sering bercerita, bertukar kabar, mengirim resep masakan, dan ibu sering memberikan nasehat-nasehat menyejukkan. Meskipun Gita membenci Arki, tapi lain lagi jika dihadapkan dengan ibunya.


Setelah ibu mengetahui tentang kehamilannya, yang tentu saja hanya dusta itu, Gita tidak tahu bagaimana harus melepaskan diri dari pernikahan dengan Arki. Pasti perempuan itu sudah sangat dilambungkan harapan untuk menimang cucu. Hati kecil Gita tidak tega untuk menghancurkannya.


“Cobain masakan aku!" kata Arki sambil tersenyum membawa sepiring nasi goreng dan telur dadar di atasnya.

__ADS_1


Gita yang sedang duduk di meja makan, memijat kening karena stres dan pusing mengenai rencananya yang gagal, langsung mendongak menatap laki-laki itu.


Wajahnya tampak ceria dan tanpa beban. Seperti tidak pernah terjadi sesuatu yang mengesalkan kemarin dengannya. Laki-laki kurang ajar, yang entah keberapa kali menyentuh dan menciumnya tanpa izin.


Sekarang dia duduk di hadapan Gita, dengan mata berbinar dan senyum yang lekat di bibirnya tak usai memudar. Menantikan Gita untuk menyuap sesendok makanan yang dengan sepenuh hati dibuatnya. Meskipun enggan kerena kebenciannya pada Arki, tapi Gita tetap menggapai sendok, memakan satu suapan makanan tersebut.


“Enak gak?” kata Arki penuh harap.


Gita mengunyah untuk beberapa saat. “Nasi gorengnya asin, telur dadarnya gak ada rasanya,” jawab Gita jujur memberi penilaian.


Arki kemudian menyendok juga nasi goreng tersebut. Benar saja, rasanya terlalu asin. Binar mata Arki langsung menghilang, juga senyumnya yang sekarang menjadi lengkungan sedih. Tubuhnya melorot di kursi karena kecewa.


“Kayaknya aku emang gak bakat masak, bikin nasi goreng kayak gini aja gak bisa.”


“Ya lagian ngapain sih bikin nasi goreng segala. Udah tahu gak bisa masak. Kan bisa beli nasi kuning di blok depan perumahan kalau lapar,” gerutu Gita.


“Tadinya aku mau bikinin sarapan spesial buat kamu. Soalnya sejak malam kamu gak makan, kan?” ucapnya sedih.


Gita hanya menghela napas. Aneh, meskipun dia membenci Arki, tapi melihatnya bertampang memelas sedih seperti kucing itu membuat hatinya tidak tega. Namun jelas dia tidak mau memakan nasi goreng keasinan itu. Bisa-bisa dia bertambah darah tinggi dan kesal setelahnya.


“Jangan mentang-mentang kamu orang kaya ya, jadi bisa buang makanan sembarangan. Lagian nasi gorengnya cuma keasinan bukan beracun. Masih bisa diperbaiki,” ucap Gita merebut piring dari tangan Arki.


Dia lantas membawanya ke dekat kompor, yang sudah bisa dipastikan berantakan karena digunakan Arki. Gita menghela napas sejenak, memikirkan harus membereskan kekacauan yang dibuat suaminya itu.


Dia melihat ada sisa nasi kemarin yang tidak Arki gunakan di rice cooker, kemudian mulai menambahkan dan memasak ulang nasi goreng yang dibuat Arki.


Tidak beberapa lama, nasi goreng yang rasanya hancur sudah berubah menjadi sajian yang lebih memanjakan lidah. Berkat sedikit kemahiran Gita dalam memasak. Dua porsi nasi goreng Gita sajikan di meja makan.


“Kamu belum sarapan, kan?” kata Gita sambil duduk di kursi depan Arki.


“Belum.” Arki menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Gita seperti itu.


Sangat manis. Meskipun dia sedang marah, tapi tetap memperhatikan Arki. Rasanya, hatinya tergerak dengan perlakuan sederhana tersebut. Benarkah tidak ada ruang untuknya dihati Gita?


Suapan pertama nasi goreng yang Gita buat masuk ke mulutnya, rasanya jauh berbeda dengan buatannya. Ini sangat enak. Bahkan masakan sederhana dan gagal saja, jika itu diperbaiki sedikit saja akan berubah menjadi luar biasa.


Mereka makan tanpa suara. Hening. Tidak ada diantaranya yang ingin berkata apa-apa. Arki yang tenggelam dalam kekagumannya pada Gita, sedangkan Gita yang tenggelam dalam kebenciannya pada Arki. Sungguh suasana sarapan yang aneh.

__ADS_1


“Gita, aku minta maaf buat yang tadi malam. Tolong jangan bilang cerai semudah itu. Kita bisa memperbaikinya,” ucap Arki mencoba membuka percakapan setelah piring mereka kosong di meja.


Gita tidak menanggapi. Dia hanya menatap gelas berisi air dingin yang setengah kosong di meja dengan tatapan kesal. Kemarahan masih berada di rongga dadanya.


“Aku tahu aku salah. Gak paham perasaan kamu soal kejadian malam itu. Aku juga gak pernah ngerasain gimana dilecehkan sampai bikin masa depanku hilang. Tapi kita sekarang udah suami istri, Git. Ada hal-hal yang harus kita selesaikan, bukan malah didiamkan dan dianggap wajar. Kamu butuh aku kayak gimana, biar bisa bantu hilangin trauma kamu?”


“Menjauh dari aku,” jawab Gita tidak peduli.


“Gita, Please. Kita udah dewasa, cara menyelesaikan masalah tuh bukan kayak gini. Apalagi kita berumah tangga, harus banyak yang diobrolin bareng-bareng. Disetujui sama-sama, biar kita bisa terus hidup sampai tua dengan anak-anak kita.”


Gita mengalihkan tatapannya dari gelas ke arah Arki, yang sekarang juga sedang memandang lekat dirinya. Anak? Anak yang mana maksudnya? Dia tidak punya alasan apapun untuk mempertahankan pernikahan dengan Arki lagi. Misinya sudah selesai. Waktunya mencerabut keberadaannya di sini. Meskipun hati Gita gamang, karena sangat takut mengecewakan ibu mertuanya. Tiba-tiba saja dia merasa begitu bersalah dan resah.


“Kamu tahu, Git? Di dunia ini kayaknya banyak hal yang kelihatan gak bisa diperbaiki. Tapi ketika kita nyoba buat memperbaiki hal yang kelihatannya rusak itu, mungkin itu bisa jadi sesuatu yang berbeda dan bernilai. Sama halnya kayak nasi goreng tadi. Aku pikir karena keasinan jadi gak bisa dimakan lagi. Tapi ternyata bisa diperbaiki, nasi gorengnya jadi beneran beda dan enak banget. Hubungan kita juga bisa kayak gitu, Git. Aku melakukan kesalahan fatal. Aku mau memperbaikinya sama kamu. Mungkin kita bisa menemukan diri kita jadi orang yang baru dan hubungan kita jadi lebih baik.”


Gita menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata, dan berpikir. Apakah memperbaiki kesalahan dan memulai hubungan yang lebih baik juga berlaku saat Gita mengungkapkan kebenaran pada Arki? Haruskah dia mengatakannya? Apakah setelah mengetahui bahwa Gita hanya berpura-pura hamil, Arki akan memaafkannya dan mereka bisa memperbaiki hubungan?


Gita memang tidak mencintai Arki. Tapi jika bersamanya, hidupnya akan terjamin. Untuk mencapai hal itu Gita harus menyingkirkan beberapa hal. Kebohongannya terhadap Arki dan keengganannya disentuh oleh Arki. Atau haruskah dia melanjutkan rencananya kemudian memilih pergi?


“Aku gak tahu. Aku pusing dan capek,” ucap Gita lantas berdiri dari kursi. Dia ingin beristirahat kembali di kamar. Memikirkan tindakan selanjutnya. Lagi pula sekarang hari libur. Waktunya bermalas-malasan.


“Gita, kayaknya kamu harus beresin barang-barang kamu di kamar depan. Aku lupa bilang, nanti siang ibu mau datang ke sini dan menginap sehari,” ucap Arki tiba-tiba.


“Hah? Ibu mau nginep disini? Di kamar depan? Terus nanti malam aku tidur di mana?” seru Gita kaget dengan kabar tersebut.


“Ya di kamar aku lah.”


“HAH?!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arki yang lagi mencoba masak 😆




 

__ADS_1


__ADS_2