Istriku Penipu

Istriku Penipu
Kawan Lama


__ADS_3

Hari-hari damai akhirnya bisa dirasakan oleh Arki dan Gita. Sekarang Arki sudah mulai menerima keputusan ibunya untuk menikah kembali. Mungkin memang seharusnya hal itu terjadi, karena keberadaan Ela sangat membantu Arya yang kesehatannya naik turun semenjak sakit. Dia seperti layaknya bapak-bapak tua yang berpenyakit. Jauh dari image-nya dulu yang sangat gagah dan penuh stamina.


Sesekali mereka berkunjung ke kediaman Wibisana. Aditya yang awalnya sangat keras menolak pernikahan Ela dan Arya lebih daripada Arki, pada akhirnya luluh juga.


Dia baru-baru ini ikut tinggal di rumah tersebut atas permintaan Arya. Mungkin mengganti semua waktu yang terbuang karena tidak pernah bersama dengan anak bungsunya itu seumur hidupnya. Dibandingkan Arki dan Adrian yang sempat tinggal dan sering berinteraksi dengan Arya, hanya Aditya lah yang tidak pernah tinggal dan hidup bersamanya.


Arki sekarang lebih tenang karena Aditya berada di sana. Menjaga dan mengawasi ibunya, karena jujur saja, masih ada perasaan tidak rela dan ketakutan jika ibunya akan disakiti oleh ayahnya kembali. Meskipun kian hari Arki percaya, orang setua dan selemah Arya tidak akan bisa macam-macam lagi selain hidup tenang bersama istrinya.


“Git, udah siap belum? Lama banget sih!” Arki menanyakan hal tersebut untuk kelima kalinya, muncul di ambang pintu kamar sambil memperhatikan istrinya yang tampak sedang berhias di depan cermin.


“Sabar dulu dong! Acaranya juga masih lama, gak akan telat. Emang kamu mau aku dandannya asal-asalan dan gak cantik depan banyak orang?” balas Gita yang menyapukan kuas blush on ke pipinya.


“Kamu udah cantik kok. Gak harus pake make up juga udah cantik banget.”


“Jangan gombal! Kalau aku udah cantik gak pake make up, dari dulu kamu udah pacarin aku,” serang Gita. “Lagian aku cuma pingin kelihatan decent aja diacara kayak gitu. Kamu tahu kan yang datang orang kaya semua macem kamu dan mantan-mantanmu. Apalagi ada temen kantor lama juga yang pasti diundang. Masa aku gak boleh sedikit pamer dan kelihatan lebih baik sih?” lanjut Gita menggerutu.


Arki menghela napas dan menghampiri istrinya. Dia paham bahwa Gita sangat ingin tampil menarik dan tidak kalah dari orang-orang yang statusnya lebih tinggi darinya. Perasaan rendah diri seperti itu tidak mudah hilang. Apalagi Gita punya sejarah buruk tentang statusnya yang bukan berasal dari keluarga berada dan juga mengalami masa tidak menyenangkan bersama teman kantor lamanya.


Sedikit perasaan bersalah menggelanyar dihati Arki. Meskipun sudah lama berlalu dan Gita sudah memaafkan dirinya serta Arya. Pasti di alam bawah sadarnya, Gita masih merasa ada yang salah dengan dirinya yang tidak bisa diterima karena statusnya. Arki pernah berpikir meninggalkannya untuk perempuan yang sederajat dengannya. Cemoohan tante dan ayahnya juga pasti sangat membekas dihatinya. Tapi seharusnya Gita tahu, Arki akan selalu menyayanginya darimana pun dia berasal.


“Ya udah dandan yang cakep. Tapi jangan terlalu cantik, nanti ada yang kegoda. Aku gak suka kamu dilirik banyak cowok. Rasanya pingin baku hantam sama mereka yang lihatin kamu terus,” kata Arki melembut. Dia mengecup puncak kepala Gita dan menatapnya lewat pantulan cermin.


“Mana ada juga yang mau kali. Aku bentukannya udah menggelembung gini, perutnya udah gede banget. Cowok-cowok yang lihat juga udah pasti pada tahu aku ada pemiliknya,” balas Gita.


“Ya siapa tahu kan ada cowok kurang ajar yang tetap mau sama istri orang. Meskipun cewek itu lagi hamil gede dan bentar lagi lahiran. Pebinor datangnya bisa kapan aja.”


“Perebut suami orang juga gitu. Awas ya kamu jangan tebar pesona!” ancam Gita.


“Mana berani sih aku selingkuh dari Tuan Putri. Aku udah belajar dari kesalahan dan gak akan mengulangi lagi,” janji Arki.


Gita hanya menatap mata Arki sekilas dari pantulan. Kemudian mulai merapikan make up-nya kembali tanpa memberi balasan.


Setelah cukup lama merias diri, akhirnya Gita selesai juga. Make up sempurna yang terlihat flawless dan cantik. Menegaskan garis-garis wajahnya dan menampakan kesan dewasa serta elegan. Dipadukan dengan Calestial Ruched Midi Dress berwarna macadamia dari Zimmermann.


Gita tampak cantik hingga Arki tidak bisa melepaskan pandangan. Bahkan saat mengemudi kendaraan pun, sesekali dia melihat ke sampingnya untuk menatap istrinya.

__ADS_1


Mereka sampai di ballroom hotel yang sudah didekorasi dengan nuansa putih yang elegan. Rio dan pasangannya tampak berbahagia menyambut kedatangan saudara, sahabat, dan temannya di resepsinya kali ini.


Beberapa kali Gita bertemu dengan orang dari kantor lamanya saat masih bekerja bersama Arki. Mereka tampak takjub melihat perubahan Gita yang layaknya itik buruk rupa menjadi angsa jelita. Mereka iri dan berbisik-bisik di belakangnya.


Gita tidak peduli. Dia malah sangat senang jika orang-orang yang selalu menghinanya dulu terlihat iri. Meskipun semua perilakunya ini bukanlah hal yang baik. Tapi Gita merasa puas dan berbangga diri.


Apalagi di sampingnya ada Arki, tampak keren dan berwibawa. Tidak ada lagi yang Gita takutkan. Dia bahkan ingin sekali pamer karena banyak menerima hal-hal menakjubkan. Meskipun berulangkali Gita mengucapkan untuk tetap rendah hati, kenyataannya kebanggaan diri membumbung tinggi.


“Aku ambilin kamu mocktail dulu ya, Git. Kamu pasti haus, kan? Heran si Rio di acara begini hampir semua miras. Ini kawinan apa tempat clubbing sih,” komentar Arki. Gita hanya mengangguk dan duduk di salah satu kursi sendirian. Dia lelah berjalan karena perutnya yang semakin membesar.


Arki mengambil deretan minuman yang disediakan di sebuah bar khusus. Lengkap dengan bartender yang siap melayani. Benar-benar seperti dugaannya, tempat clubbing yang disamarkan menjadi acara resepsi pernikahan. Arki hanya geleng-geleng kepala sambil menunggu honey blackberry mint mocktail-nya disiapkan.


“Katanya sekarang lo nganggur,” sapa seseorang sambil menepuk pundak Arki, kemudian dia duduk bergabung di kursi bar setelah memesan dua Pina Colada untuknya.


“Anjing! Udah lama banget gak ketemu lo, Vin! Berapa taun gue gak lihat lo?” balas Arki yang tampak senang melihat kawan lamanya. “Gue denger perusahaan bokap lo kena kasus penggelapan uang, gimana tuh? Udah kelar masalahnya?” lanjutnya tanpa basa-basi.


“Udah kelar dari lama. Sekarang lagi berbenah, nyari orang yang qualified buat gabung di tempat gue. Makanya gue nanya lo sekarang nganggur, kan?” balas Arvin langsung pada intinya.


“Yaa … nganggur sih. Headhunter mah tiap saat ngirim undangan gabung kali. Belum ada yang menantang aja kerjaannya. Kenapa? Lo mau gue masuk perusahaan lo? Berani gaji gue berapa?”


Arvin tertawa mendapat tantangan seperti itu. Tahu bahwa untuk Senior Manager sekelas Arki pasti bukan perkara mudah untuk menentukan harga. Selain kompetensi yang dia miliki, Arki pasti berpikir ulang untuk mengambil sebuah pekerjaan. Dia bahkan mungkin tidak membutuhkan pekerjaan apapun untuk menghidupi anak hingga cucunya bergenerasi-generasi kemudian.


Arki tergelak. “Orang kaya yang doyan duit dan jahat juga banyak kali, Vin. Memperkaya diri dan gak bisa berhenti. Makin kaya, makin haus harta. Lagian gue karirnya di jalur audit. kalau buat ambil CFO mungkin need to adjust beberapa lama.”


“Tapi lo kan gak gitu, Ki. Grup gede sekelas perusahaan bokap lo aja ditinggalin buat adek tiri lo. Masa lo mau nyedot perusahaan kecil sekelas gue sih? Btw, share saham lo berapa di sana?”


“Sekitar 7% lah. 50% dijual ke luar negeri. 29% sama direksi. Bokap gue cuma pegang 21% dan dibagi 3 bareng Adrian dan Aditya,” jelas Arki.


“T a i! Kaya banget lo, Setan! Pantes gak mau kerja. Udah lah, lo masuk aja ke perusahaan gue. Asal jangan minta gaji nembak melebihi gaji gue. Butuh banget orang kaya yang iseng kerja macem lo, Ki.”


Arki terkekeh. “Tapi gue gak bisa gabung sekarang, Vin. Gue mau temenin istri gue lahiran dan ngurus baby beberapa bulan sampe bisa ditinggal. Terus gue gak mau ya jam kerjanya ngabrut banget sampe gue gak ada waktu buat istirahat sama anak dan istri. Work life balance lah.”


“Gila sih banyak mau bener. Tapi gimana ya, gue butuh otak lo sih,” kata Arvin mempertimbangkan. “Hubungi secepatnya deh kalau lo udah ready. Istri lo kapan lahirannya? Jangan bilang dia masih hamil sebiji kacang doang? Bisa jamuran gue nungguin lo gabung.”


“Bulan depan. Kalau semuanya lancar, bulan depan Gita udah lahiran.”

__ADS_1


Perbincangan mereka terputus karena pesanan mocktail sudah disajikan oleh bartender di meja. Mereka berjanji akan saling menghubungi lagi dan berpisah untuk kembali pada istri masing-masing. Namun dua orang yang sedang mereka cari justru telah akrab dan duduk berbincang di sebuah kursi yang tadi Gita tempati.


Padahal mereka baru saja bertemu. Tapi Gita dan Nara tampak seru saling bercerita. Terutama menceritakan pengalaman melahirkan dan mengurus bayi. Nara tampak bersemangat memberikan wejangan.


Sementara Gita dengan antusias mendengarkan sambil menggendong Radhika dipangkuan. Kedua laki-laki yang baru saja muncul itu tampak tidak menduga istri mereka yang sedang bercengkrama. Mereka hanya mengulas senyum sambil tertawa.


“Lihat nih, Radhika gemes banget. Jadi pingin cepet lahiran dan ketemu bayi kita juga,” ucap Gita yang masih menggendong Radhika dipangkuannya. Meskipun Nara terus membujuk bayinya untuk melepaskan pelukan, Radhika tampak senang dan lekat pada Gita.


“Anak lo pasti ngincer anak gue bahkan sebelum lahir, Vin!” kata Arki pura-pura kesal.


“Emang anak lo cewek?” tampak bingung.


“Kata hasil USG-nya sih cewek. Ogah ya gue harus besanan sama lo! Apalagi punya mertua kacau kayak lo!”


“Gue kali yang gak mau besanan sama lo! Kasihan anak gue punya mertua galak macem lo!”


“Kalian temenan? Kok kebetulan banget ya? Aku sama Gita baru ketemu udah akrab aja. Ternyata kalian udah kenalan duluan,” kata Nara tampak antusias sekaligus bingung ketika dua orang laki-laki yang berdiri di depannya saling ejek.


“Aku, Arkian dan Rio temen dari TK,” jawab Arvin santai kemudian duduk bergabung bersama istrinya.


Mereka akhirnya saling berbincang malam itu. Berbagi pengalaman hidup, saling mengejek, dan bergosip seperti layaknya kawan lama. Anehnya Arki dan Arvin sudah tidak bertemu hampir belasan tahun karena nasib serta jalan hidup yang berbeda. Meskipun satu sama lain sering mendengar kabar dari para teman-teman lama lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Janjinya sekarang bab terakhir. Tapi ternyata gak sempat. Jadi besok aja terakhirnya hehe 😆


Ayo siapa yang kangen Arvin dan Nara? (Gak ada woyy!)


Kenapa mereka muncul? Karena Arki lagi nyari kerja, masih nganggur dia tuh. Jadinya disuruh gabung aja sama perusahaan Arvin yang lagi bangkit dari keterpurukan 😂


Sebenarnya buat ploting aja sih, karena ada lanjutan cerita anaknya Arvin dan Arki yang genre-nya remaja.


Kapan dibikinnya? Gak tahu. Tapi draftnya udah ada hahaha


Banyak banget lah draft ceritanya aku tuh. Tapi gak tahu kapan dibikinnya.

__ADS_1


Btw, anaknya Arkian itu cewek. Di bab selanjutnya akan sedikit diceritakan. Kemungkinan ada bonus chapter juga buat itu.


Nantikan yaaa 😘❤️❤️


__ADS_2